Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
다시 태어난- dasi taeeonan- Reborn


__ADS_3

Irna melangkah keluar dari dalam ruangan bawah tanah.


"Cring! cring! cring!" Suara gelang kakinya memenuhi seluruh penjuru ruangan.


Rambutnya terurai jatuh di atas punggungnya. Rambut panjang hitam dan berombak. Mata gadis itu berubah semakin tajam, pada waktu tertentu bersinar merah membara berkilat-kilat saat tertimpa cahaya bulan.


Gaun cerah warna merah jambu penuh robekan berubah menjadi biru terang berkilauan menyilaukan mata tepat saat bunga itu merekah di atas telapak tangannya.


Pakaian tersebut akan muncul tiba-tiba, saat bulan purnama. Bunga kristal es merekah setiap bulan purnama dari waktu ke waktu. Sekarang bunga tersebut telah bangkit di dalam dirinya.


Dan akan terus tumbuh membesar, gadis itu merasakan aura yang sangat kuat tertanam di dalam tubuhnya.


Beberapa bayangan hitam muncul di depannya saat Irna berada di luar ruangan bawah tanah. Ruangan tersebut terletak jauh di tengah-tengah hutan bunga sakura di belakang gedung.


Mereka turun dan tunduk di hadapannya. Mereka siap melayani Irna. Irna memberikan isyarat kepada mereka agar mereka pergi dari hadapannya. Para mahluk itu segera terbang melayang dan menjauh darinya.


Irna mengambil sebuah jubah hitam untuk menutupi bagian tubuhnya yang jenjang. Dan bajunya akan menghilang seiring bulan purnama berakhir malam itu.


Irna melesat dan muncul tiba-tiba di luar gerbang. Tuan Jend tersenyum melihat kedatangan Irna dengan penampilan barunya.


Tatapan matanya yang dingin, sedingin bunga kristal es yang tertanam di dalam tubuhnya. Pandangan matanya terjatuh pada pria di sebelah tuan Jend.


Saat melihat wajah Irna dia berlari menghambur memeluknya. Tepat saat itu muncul kembali mahluk hitam berterbangan mengitari tubuhnya. Mereka datang setiap saat tubuh tuannya terancam bahaya. Saat melihat tatapan mata Irna mereka kembali terbang menjauh.


Irna membeku dalam pelukan Fredian, tubuh Irna saat itu sedingin es. Fredian merasakan saat menyentuhnya seperti menyentuh bongkahan es.


Pria itu tidak tahan merasakan dinginnya. Aura dingin pada tubuh Irna merayap pada tubuhnya ketika dia menyentuhnya.


Fredian juga melihat sosok gadis yang selama ini dikenalnya, gadis yang selalu ceria. Berhati hangat telah lenyap dari pandangan matanya.


Gadis itu masih terdiam menatap Fredian, tali temali dalam ingatan gadis itu terpecah saat bunga kristal es menguasai tubuh dan jiwanya.


Dia berusaha untuk mengingat segalanya, tatapan mata penuh kesedihan Fredian.


"Siapa kamu?" Tanyanya pada Fredian dengan tatapan mata kosong.


"Aku, suamimu. Kita sudah menikah dan memiliki seorang putra." Ujar Fredian dengan mata berkaca-kaca.


Tuan Jend menyentuh bahu Fredian.


"Kamu tidak perlu khawatir, ingatannya akan segera kembali setelah bulan purnama berakhir. Bunga kristal es dalam tubuhnya saat ini telah membelenggu ingatannya." Jelas pria paruh baya itu pada Fredian.


"Bolehkah saya menemaninya tinggal di sini bersamanya?" Tanyanya kepada tuan Jend.


Tuan Jend menggelengkan kepalanya sambil menepuk bahunya.


"Kamu tidak akan bisa bertahan selama satu jam, berada dekat dengannya. Darahmu akan membeku." Ujar tuan Jend lagi.


Irna masih menatap lekat-lekat wajah mereka berdua, lalu sejenak pandangan matanya jatuh pada bulan purnama di atas langit.


Kepalanya mendongak dan tubuhnya melesat tinggi ke udara. Lenyap tertelan cahaya bulan.


Fredian melihat bekas-bekas jejak kaki istrinya itu. Lantai di sana menjadi putih dingin membeku.


"Kemana dia pergi? apakah kita tidak bisa membawanya pulang ke London?" Tanya Fredian kebingungan melihat istrinya tiba-tiba menghilang begitu saja.


"Dia akan kembali ke London kapanpun dia mau. Ayo kita kembali, dia akan baik-baik saja." Ujarnya sambil tersenyum menarik lengan Fredian masuk ke dalam mobil.


Reno menyalakan mesin mobilnya dan mulai menjalankan mobil tersebut menuju hotel tempat mereka menginap.


Irna berdiri di atas atap, jubah hitamnya berkibar-kibar tertiup angin malam. Gadis itu menatap kepergian mereka bertiga.


Saat bulan purnama menghilang perlahan-lahan tubuhnya merosot jatuh terbaring.


Keesokan harinya Irna terjaga di atas atap gedung.


"Aku berada di atap gedung? bagaimana caranya aku bisa turun kebawah? astaga! siapa yang melemparkan tubuhku ke atas sini?!" Irna kebingungan dan tidak tahu harus berbuat apa.


Tiba-tiba kakinya tergelincir dan jatuh ke bawah.


"Akh! akh! tolooong!" Teriaknya sambil memejamkan matanya. Anehnya tubuhnya terhenti melayang di atas udara.


"Apa ini? apa aku mendadak menjadi manusia super?!" Lalu dia memusatkan pikirannya dan berkeinginan untuk turun dan saat itu juga tubuhnya jatuh ke atas tanah.


"Braaak! akkkh! sakitnya!" Irna memegangi pinggulnya dan berusaha bangkit berdiri melangkah masuk ke dalam gedung.


Irna mematung di depan cermin, dia kebingungan saat melihat aura wajah dan rambutnya berubah.


"Di mana wajah hangatku? mataku? Kenapa kadang-kadang korneanya berubah merah??!" Irna mengaduk rambutnya kebingungan.

__ADS_1


Gadis itu kembali mengingat peristiwa semalam. Sebuah upacara, dan pertempuran dirinya dengan manusia vampir.


"Bunga kristal es?!" Bisiknya dalam hati. Dia ingat Fredian dan tuan Jend semalam datang menemuinya tapi dia merasa saat itu dirinya tengah tertidur.


"Seandainya aku bertemu Alfred saat ini di London pasti aku sangat bahagia." Bisiknya sambil menatap wajah di depan cermin.


Perlahan-lahan tubuhnya bersinar terang berubah sedikit demi sedikit menjadi serpihan-serpihan kristal dan menghilang saat itu juga.


Kristal tersebut menyatu kembali sedikit demi sedikit di sebuah ruangan, kantor kepolisian tempat Alfred bekerja. Pria muda itu tertegun melihat cahaya yang muncul di hadapannya.


Seolah-olah bidadari telah turun dari langit jatuh di atas pangkuannya.


"Mama? ini benar mama kan?" Alfred sangat gembira melihat ibunya berada di atas pangkuannya.


"Bagaimana mungkin aku bisa menembus jarak begitu jauh dalam sekejap mata?!" Irna masih mematung di atas pangkuan putranya. Merasa aneh dengan perubahan pada tubuhnya.


"Iya ini mama!" Irna memeluknya dengan erat.


"Ah, mama tinggalah bersama Alfred dan papa." Ujarnya sambil merajuk.


"Mama akan tinggal bersama kalian jangan hawatir." Ujar Irna sambil tersenyum menatap wajah Alfred.


Alfred melihat banyak perubahan pada ibunya, terkadang sinar di mata Irna mendadak berubah merah menyala seperti manusia setengah iblis yang tengah siap menerkam mangsanya, tapi dia tidak peduli dengan semuanya itu. Baginya apapun itu, Irna adalah satu-satunya ibu yang sangat dicintainya.


Hari itu Fredian baru tiba di London. Alfred sudah mengirimkan pesan padanya jika ibunya sudah bersamanya sekarang.


Fredian tersenyum melihat pesan dari putra satu-satunya itu. Lalu bergegas menuju apartemen Alfred.


Irna duduk di lobi apartemen putranya, sengaja menunggu Fredian di sana. Sebetulnya dia ingin muncul di hadapan suaminya itu dengan tiba-tiba seperti sebelumnya muncul di hadapan Alfred.


Tapi dia khawatir jika pria itu mengusirnya dan tidak mengakui keberadaan dirinya. Dan lebih buruknya lagi jika suaminya tiba-tiba ketakutan melihat keanehan itu.


Irna duduk santai di sana sambil memakai kacamata hitamnya. Dan sebuah mantel tebal berwarna cokelat tua membalut gaun sepanjang lutut berwarna merah.


Irna dengan rambut panjang bergelombang sampai ke pinggang. Bibir merahnya tersenyum melihat kedatangan suaminya. Pria itu berjalan menuju lift melaluinya begitu saja.


Melihat itu Irna segera melepaskan kacamata hitamnya dan berdiri penuh amarah.


"Suamiku tidak mengenaliku?!" Gerutu gadis itu kesal sekali.


"Jika aku menghilang di sini, petugas keamanan itu bakal berfikir aku mahluk jadi-jadian!" Irna melangkah menuju tangga darurat dan menghilang di sana.


"Bagaimana mungkin kamu tidak mengenaliku?!" Berkacak pinggang menatap marah ke arah Fredian.


"Astaga! Irna? kenapa penampilanmu menjadi berubah seperti gadis vampir dan muncul di siang bolong!?" Ujarnya melihat Irna dari ujung kepala sampai ujung kaki.


"Sudah jangan bicara sembarangan ayo kita pulang. Ah tunggu sebentar, aku melupakan sesuatu!"


"Apa itu?" Tanya Fredian tidak mengerti.


Gadis itu tersenyum menatap cctv di dalam lift. Lalu menunjuk dengan ujung jarinya, tiba-tiba cctv tersebut meledak dan monitor yang terhubung dengannya seketika itu padam.


"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Fredian sambil melotot melihat tindakan menakutkan istrinya itu.


"Menghapus jejak kakiku." Tersenyum renyah menggamit lengan suaminya keluar dari lift menuju mobilnya.


"Kenapa? kamu tidak ingin menciumku? atau memelukku? apa yang terjadi selama aku pergi? kamu punya gadis lain?" Teriaknya sambil menatap wajah Fredian.


"Kamu takut padaku?" Tanyanya lagi saat melihat Fredian terdiam tanpa berkata-kata. Bahkan dia tidak ingin melihat sinar merah pada mata Irna.


"Ya sudah sepertinya kehadiranku kali ini tidak kamu harapkan lagi. Aku tidak akan membiarkan dirimu ketakutan, apalagi saat melihat wajahku yang seperti ini."


Irna memejamkan matanya dan tubuhnya berubah menjadi butiran kristal perlahan lenyap dari pandangan mata Fredian.


Saat sadar bahwa gadis itu pergi Fredian berteriak sekencang-kencangnya.


"Tidaaaaaak! Irnaaaa! jangan tinggalkan aku sendiri! aku mencintaimu! aku tidak mungkin mencintai wanita lain!"


Fredian menjatuhkan keningnya di kemudi mobilnya. Mobil tersebut mendadak berjalan sendiri menuju ke arah Reshort.


"Apa ini? kenapa mobilku berjalan sendiri?!" Fredian ketakutan. Kemudian dia melihat Irna tersenyum duduk di kursi belakang melalui kaca spion mobilnya.


Gadis itu menyilangkan kakinya hingga terlihat sebagian paha mulusnya.


Irna menggunakan jari telunjuknya untuk mengatur kemudi mobil Fredian.


"Teriakanmu begitu berisik, jadi aku kembali ke sini." Tersenyum sambil mengangkat kedua alisnya.


"Apakah aku boleh duduk di kursi belakang bersamamu?" Tanyanya sambil melangkahkan kakinya menuju kursi belakang.

__ADS_1


"Sudah diam saja di sana, aku sedang mengemudi." Ujarnya sambil terus menatap ke arah jalan raya di depan.


Fredian tidak mau dengar, pria itu ikut duduk di sebelahnya. Dan hendak mencium bibirnya.


"Kamu menghalangi pandangan mataku." Keluh Irna padanya.


Irna terpaksa menepikan mobilnya dan berhenti di tepi jalan. Suaminya sudah tidak bisa menahan gejolak asmara di dalam hatinya.


Satu jam kemudian mobil tersebut kembali meluncur melintasi jalan raya. Irna menyadarkan kepalanya di bahu suaminya.


"Kamu kuat sekali!" Keluh Fredian sambil mengusap keringat yang mengalir di kedua pelipisnya.


"Apa maksudmu? kamu yang memintanya kenapa sekarang malah mengeluh?!" Masih menyadarkan kepalanya dengan sangat nyaman.


Fredian tersenyum mendengar kelakar Irna. Mereka berdua melintasi jalan raya yang perlahan-lahan semakin gelap karena selimut senja.


"Wajahmu semakin cantik, tapi sedikit menakutkan." Gumam Fredian pada Irna.


"Aku juga bingung saat melihatnya di depan cermin." Ujarnya kemudian memejamkan matanya.


Irna turun dari mobil Fredian, bersamanya masuk ke dalam Reshort. Saat gadis itu tiba seorang wanita berpenampilan hampir mirip dengan dirinya menyambut kedatangan Fredian.


Irna menatap Fredian dengan tatapan mata tajam.


"Dia klienku!" Ujarnya segera saat Irna melirik ke arahnya.


"Siapa dia Fred?" Tanya wanita itu menatap ke arah Irna dengan tatapan mata tidak senang.


Karena selama ini Fredian menyandang status sebagai pria duda di depan publik. Seluruh orang tidak tahu keberadaan Irna yang masih hidup.


Irna menyilangkan kedua tangannya, gadis itu melenggang santai berdiri di depan meja resepsionis. Melihat buku daftar kamar dan service kamar.


Irna memesan sebuah kamar atas nama Kaila Elzana. Dia melewati Fredian begitu saja sambil tersenyum dingin.


"Naira, jangan begini." Fredian melepas tangan Naira saat gadis itu menggamit lengannya.


"Siapa sih wanita itu? wajah pucat seperti mayat begitu, tidak mungkin kamu menyukai wanita seperti itu kan?" Ujarnya tanpa memelankan suaranya sedikitpun.


Irna mengarahkan jari telunjuknya ke arah sepatu wanita itu sambil terus berjalan santai.


"Klak! braaak!" Mendadak high heelsnya patah dan tubuhnya jatuh terjembab di atas lantai.


"Astaga sepatu baruku! ini tidak mungkin! sepatu keluaran terbaru dari luar negeri kenapa bisa patah begini sih?!" Naira bersungut-sungut sambil melempar sepatunya.


Fredian tersenyum menatap punggung Irna, gadis itu mengancungkan jari tangan kanannya membentuk lingkaran dengan ibu jarinya dan telunjuknya.


Seolah-olah punggung Irna memiliki sepasang mata, dia tahu Fredian telah berterima kasih padanya. Dan tetap melangkah santai menuju kamarnya yang ada di lantai atas.


Lima tahun kemudian..


Kehadiran Irna kembali menjadi sosok gadis misterius di London. Dia telah mengulang pernikahannya kembali dengan Fredian ke empat kalinya menggunakan identitas barunya Kaila Elzana.


Irna sedang berada di lokasi kejadian pembunuhan, dia menemani putranya Alfred. Irna memakai jas putih, dia sekarang menyandang status barunya sebagai dokter ahli bedah forensik.


Irna masih menggunakan nama Kaila Elzana. Dokter Kaila, begitulah nama gadis itu dikenal sekarang di London.


Irna berada di dalam ruang kerjanya meneliti hasil pemeriksaan mayat wanita yang di temukan tenggelam di sungai dengan luka goresan pada lehernya.


Saat menyentuh kulit mayat tersebut, kening gadis itu kembali bersinar. Menyibak ingatan tentang proses pembunuhan yang di alami oleh wanita tersebut.


"Slaaaar! craaashh! byuuuuur!" Sebuah goresan pisau tajam menggores leher wanita itu. Darah mengalir dari lehernya, lalu tubuhnya di dorong jatuh ke dalam air.


Pria memakai masker hitam, dengan alis sebelah kiri memiliki goresan bekas benda tajam.


"Hah! hah! hah!" Irna terhuyung-huyung, darah mengalir dari lehernya seakan-akan dirinya mengalami kejadian seperti yang dialami oleh mayat wanita tersebut.


Irna segera mengambil tissue. Tidak lama luka tersebut mengeluarkan asap dan lenyap tanpa bekas dari tubuhnya.


Irna melihat jelas wajah pembunuh itu, dia segera menghubungi Alfred. Satu jam kemudian Alfred datang ke kantor Irna bersama Rian.


"Kamu sudah menemukan pembunuhnya?" Tanya Rian sambil mencermati mayat tersebut.


Irna menganggukkan kepalanya, dan memberikan keterangan pada putranya.


"Pria itu memiliki luka di alis kirinya, melihat lukanya, hanya dengan satu goresan berhasil memutuskan urat pembuluh darah di lehernya, pisau yang digunakan olehnya adalah pisau bedah."


"Kemungkinan besar pria itu adalah seorang yang biasa memegang pisau bedah. Dan satu lagi, mayat wanita itu, dia sedang hamil. Usia kandungannya sekitar dua bulan."


Irna menyerahkan hasil pemeriksaan medis kepada Alfred dan Rian.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2