Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
Holland


__ADS_3

Irna sudah sampai di Belanda, gadis itu menyeret kopernya di airport. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Akhirnya dia memutuskan untuk menuju ke sebuah penginapan dengan mengendarai sebuah taksi.


"Selamat datang nona Kaila, silahkan masuk." Ujar seorang pelayan hotel padanya, Irna menatap sekilas ke arah pelayan tersebut dia tahu bahwa orang itu adalah bangsa vampir yang ditugaskan untuk menjaga dirinya selama berada di negeri Holland tersebut.


Irna masuk ke dalam kamarnya, pelayan tersebut membawakan kopernya menuju kamarnya. "Jika nona membutuhkan sesuatu hubungi saja saya." Ujarnya dengan sopan sambil menundukkan kepalanya, lalu meninggalkan kamar Irna.


"Banyak sekali hantu di sini! apa aku salah memilih hotel?!" Gerutunya sambil menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidurnya.


Irna tertidur pulas, gadis itu benar-benar melepaskan penatnya hari itu. Dia seharian tertidur pulas di dalam ruangan tersebut. Pada dini hari Irna mendengar sebuah langkah kaki melangkah mendekat ke kamarnya.


"Langkah-langkah berat, pria memakai sepatu boot." Gumam Irna sambil berusaha bangkit dari tempat tidurnya. Irna mengerjapkan matanya, seluruh kamar tersebut sangat gelap.


Ada kaca jendela di sisi kamarnya, gadis itu menatap ke luar kaca tersebut. Tidak ada apapun di sana. Seseorang yang telah sampai di depan kamarnya mengetuk pintu.


"Tok! tok! tok!"


"Masuklah!" Perintahnya tanpa menoleh ke belakang, gadis itu masih melipat kedua tangannya di depan dadanya. Menatap ke luar jendela kamarnya.


Pria itu meletakkan lilin di meja, sebagian di gantung di tengah ruangan. Irna tidak tahu kenapa tidak ada lampu yang menyala malam itu di kamarnya.


Entah memang itu adalah model romantis sebagai ciri khas hotel tersebut atau memang sedang ada pemadaman listrik di sana.


"Maafkan saya nona Kaila, saya melihat lampu kamar anda tidak dinyalakan. Apa nona kurang menyukai sinar lampu?" Tanyanya hati-hati pada Irna.


"Bukankah itu adalah tugas dari petugas hotel?" Tanyanya pada pria tersebut, karena biasanya Irna memang tidak pernah menyalakan lampu kamar di mana dia tinggal. Segalanya serba dilayani oleh pelayan. Lagi pula hari itu dia juga sengaja untuk tidak menyalakan lampu kamarnya.


"Oh saya mengerti, maafkan kami yang kurang memperhatikan masalah tersebut." Pria tersebut menekan tombol lampu. Seluruh kamar menjadi terang benderang, dia melihat Irna dengan gaun modern warna hijau cerah.


Kulit betisnya begitu halus mulus terpampang jelas, ada gelang kaki berlian yang bertengger cantik di pergelangan kaki kanannya.

__ADS_1


Rambutnya bergelombang hitam terurai sampai ke bawah punggungnya. Gadis itu masih menatap ke luar jendela.


Pria yang membawa lampu tersebut masih berdiri di sana, Irna tahu pria itu ingin melihat dirinya.


Belum pernah dia menemukan pelayan repot-repot masuk ke kamar tamu gara-gara tamu tersebut tidak menyalakan lampu kamarnya. "Sangat mencurigakan!"


"Apakah nona membutuhkan sesuatu, saya lihat anda juga tidak keluar dari dalam kamar sama sekali. Apakah anda menginginkan jamuan?" Ujarnya lagi dengan sikap hormat, masih mengawasi kaki mulus Irna.


"Begitu cantik, pantas saja dia pangeran berebutan untuk mendapatkan cintanya! bahkan desas-desus mengatakan pangeran William dan Welrent tergoda hingga bertekuk lutut di bawah kakinya!" Welrent adalah panggilan Fredian pada kalangan bangsa vampir, Wiliam adalah nama Rian yang sebenarnya.


Pria itu terus bergumam dalam hatinya, dia menunggu Irna menoleh ke arahnya.


"Tidak perlu pangeran! saya akan mencari makanan saya sendiri. Anda tidak perlu repot-repot menjamu saya. Dan juga untuk masalah kerajaan yang dilaporkan kepada saya beberapa minggu lalu, besok malam saya akan datang ke sana. Saya harap pelayan anda bisa menjemput saya tepat waktu."


Irna bisa menebak siapa pria di belakang punggungnya sekarang ini. Pria itu begitu perhatian dengannya, serta sangat sopan kepadanya. Jika pelayan mungkin akan segera pergi keluar setelah menyatakan maksud kedatangannya.


Selain orang berkedudukan tinggi, tidak ada yang berani berlama-lama berada di sekitarnya.


Pria itu kini berdiri di sebelahnya, dia menoleh menatap wajah Irna yang terus menatap ke arah luar kaca jendela. Wajah Irna terlihat datar tanpa ekspresi apapun.


Walaupun begitu, ekspresi datarnya tidak dapat mengusir kecantikan dirinya.


"Perkenalkan saya pangeran Derent." Ujarnya seraya mengulurkan tangannya.


"Kaila Elzana." Menyambut uluran tangannya.


Kali itu Irna menoleh menatap wajah pria tampan di depannya. Wajah pria Belanda, khas dengan hidung mancung, rambut kemerahan, wajah putih berseri. Bibirnya tersenyum lembut menatap wajah Irna.


"Bolehkah saya mengundang anda untuk makan malam bersama?" Tanyanya pada Irna.

__ADS_1


Terlihat jelas dia begitu mengagumi sosok Irna di depannya, diapun rela menyerahkannya dirinya bulat-bulat jika Irna menggodanya saat itu.


Dia tidak berani menatap wajah cantik Irna lama-lama, dia takut melakukan hal yang buruk hingga membuat nama kerajaannya tercoreng. Kecantikan Irna benar-benar seperti magnet yang menarik dirinya begitu kuat memaksanya untuk tinggal berada di dekatnya.


Dilihat olenya sedemikian rupa Irna tersenyum lembut, "Apakah anda juga merasakan hipnotis dari bunga kristal es?" Tanyanya pada pria di sampingnya itu.


Disindir seperti itu dia segera mengalihkan pandangannya ke arah lain, "Maafkan saya nona, tapi jujur anda memang sangat cantik dan memikat." Ucapnya sambil menundukkan kepalanya.


"Mengenai undangan untuk makan malam, saya akan keluar satu jam lagi. Saya ingin membersihkan tubuh, sejak pagi saya tertidur pulas." Ujarnya terang-terangan pada pria itu.


Irna melangkah menuju kopernya, gadis itu merundukkan badannya, hingga pahanya terpampang jelas di depan mata Derent. Pria itu buru-buru mengusap dadanya sendiri karena jantungnya mendadak berdetak kencang sekali.


"Saya akan menunggu anda di luar kamar." Ucapnya sambil memberi hormat lalu ke luar dari dalam kamarnya.


Irna tersenyum kecil sambil mengambil gaunnya, membawanya masuk ke dalam kamar mandi.


Derent sudah berada di luar pintu kamarnya, hatinya kebat-kebit membayangkan bagaimana Irna melepas gaunnya satu persatu. Tubuh mulus tanpa seutas benang, lalu melangkah di bawah pancaran air shower hingga seluruh tubuhnya basah kuyup.


Kemudian mengoleskan shower puff penuh busa di kulit mulusnya. Derent mengaduk rambutnya sendiri, dia merasa pikirannya begitu kotor, lebih kotor dari air comberan.


Pria bangsawan sepertinya tentu saja tidak akan melakukan tindakan gila seperti itu. Dimana dia akan menunjukkan wajahnya? sedang kerajaannya sekarang sangat membutuhkan kehadiran Irna untuk mengatasi masalah yang sangat penting tersebut.


Satu jam kemudian Irna keluar dari dalam kamarnya, gadis itu terlihat semakin cantik dengan gaun warna merah jambu tanpa lengan ada tali kecil di mengikat di tas kedua bahunya.


Gaun transparan berlapis, leher bagian dadanya sedikit rendah menampilkan sisi sebagian bulatan kenyal dadanya, dengan rok sebatas lutut.


Derent menatap dua bola kenyalnya, begitu mulus dan berisi. Derent tak henti-hentinya memaksakan diri melotot ke arah lain demi menghindari Irna.


*Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa untuk like sebelum pergi, +komentar, vote juga ya!? terima kasih sudah membaca... jangan lupa masukkan ke daftar list favorit ya, untuk mengetahui episode selanjutnya....


__ADS_2