
"Fred hentikan, aku bisa terlambat sayang." Bisiknya seraya membalas ciuman bibir suaminya dengan mesra.
"Aku sangat menyukai ini." Bisiknya di telinga Irna, sambil tersenyum nakal masih mengusap-usap area sensitif Irna, agar basah lagi. Menciumi lehernya seraya terus mencoba membuatnya merintih lagi.
"Fred jangan begini ah!" Desak Irna mencoba menarik tangannya dari area terlarang miliknya.
"Kamu berani menolakku?!" Nada bicara Fredian mulai terdengar tidak senang, dia merasa Irna tidak menginginkan cumbuan-nya lagi. Pria itu mendengus kesal seraya melepaskan pelukannya dari tubuh Irna.
"Fredian, aku tidak bermaksud untuk menolaknya." Irna mencoba untuk menjelaskan bahwa dia benar-benar sudah terlambat pergi bekerja, tapi sepertinya Fredian benar-benar marah padanya. Dia tidak mau mendengar penjelasan apapun.
Fredian merapikan bajunya kembali, lalu keluar dari dalam kamar meninggalkan Irna sendirian di sana.
Irna sendiri sudah merapikan pakaian dalamnya, lalu berusaha menyusulnya. Dia sangat terkejut karena Fredian sedang berdiri berhadapan dengan Karin, wanita itu sedang bergelayut mesra pada leher suaminya itu.
"Haruskah aku memarahinya? aku benar-benar sudah sangat terlambat sekarang!" Gumam Irna sambil mengepalkan jemari tangannya, betapa geramnya dia melihat Fredian bersama wanita lain. Apalagi pria itu tidak menepis tangan wanita tersebut.
Fredian menyeringai menatap ke arah Irna, sepertinya dia dengan sengaja membuatnya marah pagi itu.
"Maafkan aku Fred, hari ini aku harus pergi." Irna menggigit bibir bawahnya, gadis itu berbalik lalu melangkah pergi menuju lobby hotel.
Melihat Irna mengabaikannya Fredian merasa sangat tidak senang, amarahnya semakin berkembang. Pria itu segera menyentakkan genggaman tangan Karin dari lehernya. Lalu berusaha mengejar Irna.
Terlambat! gadis itu sudah melajukan mobilnya keluar dari halaman Resort miliknya.
Irna sedang dalam perjalanan menuju ke rumah sakit. Sesampainya di sana dia langsung di hadang oleh sekretaris Rian yang sudah menunggunya di luar pintu ruang kerjanya.
"Ada apa?" Tanya Irna seraya meletakkan tasnya di atas meja kerjanya, gadis itu menatap wajah sekretaris Rian, yang terlihat ketakutan.
"Dokter Kaila, presdir marah besar hari ini." Pria itu menatap ke arah jam yang tergantung di dinding, waktu sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh pagi.
Irna ingat jadwal operasi yang harus ditangani olehnya lagi itu. "Iya aku tahu aku terlambat." Ujarnya padanya.
__ADS_1
"Saya akan ke ruangannya sekarang, kamu tidak usah khawatir." Irna menepuk bahunya lalu melangkah keluar dari dalam ruangan kerjanya menuju ke ruangan Rian.
Irna tidak mengetuk pintu, gadis itu langsung masuk ke dalam ruangannya. Dia melihat Rian sedang berdiri di depan jendela, pria itu menatap pemandangan yang ada di luar rumah sakit.
Irna melihat berkas-berkas berserakan memenuhi lantai ruangannya, "Aku minta maaf." Ucapnya sambil memunguti berkasnya dari atas lantai satu-persatu.
"Siapa yang menyuruhmu masuk ke mari?!" Tanyanya dengan nada dingin.
"Tidak ada Presdir, saya berinisiatif untuk datang ke mari." Ucap Irna dengan nada datar. Dia tahu dia sudah membuat kesalahan dan mungkin itu fatal, karena Rian tidak pernah se-marah ini.
"Keluar dari dalam ruangan-ku! besok tidak usah datang lagi! masih banyak dokter hebat selain dirimu! mereka lebih menghargai nyawa pasien, daripada mengurusi urusan pribadinya!" Ujarnya tanpa menoleh ke arahnya, pria itu masih tetap menghadap ke luar kaca jendela.
Irna diam saja, gadis itu masih terus memunguti berkasnya dari atas lantai, meletakkan sedikit demi sedikit di atas meja kerja Rian.
Ada rasa getir di dalam hatinya, pikirnya pria itu akan selalu memaafkan kesalahannya. Akan terus mentolelir dirinya. Ternyata tidak! Sebagai seorang dokter tentu dia tahu bahwa dirinya memang tidak cukup berkualifikasi dalam ketepatan waktu.
Berkas di tangan Irna sekarang adalah berkas terakhir yang dipungutnya dari lantai. Gadis itu meletakkan berkas tersebut di atas meja kerjanya.
Irna tidak menjawab apapun, atau melakukan pembelaan terhadap dirinya sendiri. Dia tahu itu adalah kesalahannya. Gadis itu segera berbalik dan melangkah keluar dari dalam ruangannya.
Irna masuk ke dalam ruangan kerjanya, gadis itu masih duduk berdiam diri. Dia menelungkupkan wajahnya di atas meja kerjanya. Beberapa menit kemudian dia mendengar suara langkah kaki mendekat.
Gadis itu mendongakan kepalanya menatap siapa yang datang, Rian melangkah mendekat meletakkan surat resign di atas meja. "Kamu sungguh-sungguh ingin menepisku dari sekitarmu?!" Irna tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang.
Setengah jam sebelumnya Fredian menghubungi Rian, dia bilang padanya kalau Irna menolak berhubungan intim gara-gara harus segera pergi ke rumah sakit.
"Apa dia sangat merindukanmu!? sampai-sampai harus menolakku?! apa kamu lebih memuaskan dirinya dari pada aku? hingga dia tidak ingin berlama-lama berada di dekatku!?" Ucapan Fredian tersebut benar-benar membuatnya sangat marah.
"Apakah pengorbananku selama ini tidak cukup untuk membayar kesalahanku di masa lalu Fred?!" Gumam Rian dalam hatinya, pria itu benar-benar tidak habis pikir.
Rian merasa tidak tahu apa-apa, tapi pria itu malah marah-marah padanya. Karena itulah pria itu mengobrak-abrik berkasnya. Dan mencari alasan untuk mengusir Irna dari rumah sakit miliknya.
__ADS_1
"Iya, kemasi barang-barangmu! dan segera keluar dari sini." Ujarnya lalu berbalik melangkah pergi meninggalkan Irna dengan segudang tanya dalam pikirannya.
"Ini tidak benar, sebenarnya apa yang sudah terjadi?! jika hanya terlambat aku dulu juga pernah terlambat tapi dia tidak se-marah ini." Gumam Irna pada dirinya sendiri.
"Rian tunggu!" Irna segera berlari menyusulnya, Rian melangkah lebar menuju ke kantin. Irna berlari terburu-buru, dan dia tidak sempat mengerem ketika pria itu tiba-tiba saja berhenti dan berbalik menghadap ke arahnya.
Irna yang sudah berlari kencang, meluncur bebas menabraknya sampai Rian kehilangan keseimbangan tubuhnya.
Mereka berdua jatuh terjembab di lantai, Irna berada di atas tubuhnya. "Kenapa?" Rian berusaha menopang tubuh Irna agar tidak menyentuh tubuhnya, dengan cara memegangi pinggang gadis itu dengan kedua tangannya.
"Aku hanya, hanya, hanya.." Irna sedikit tergagap karena pria itu tidak pernah menyentuhnya, dan kini malah dirinya sendiri yang jatuh ke dalam pelukannya tanpa sengaja.
"Hanya apa?" Rian masih terus menahan tubuhnya agar tidak menghimpit dadanya, tapi Irna malah tidak segera bangkit berdiri. Gadis itu masih tengkurap di atas tubuhnya.
"Aku hanya ingin meminta kepastian, kenapa kamu tiba-tiba memberhentikanku?" Tanyanya pada pria itu.
"Bisakah kamu bangun dari atas tubuhku?" Tanya Rian padanya. Irna belum sempat bangkit dari atas tubuhnya tapi seseorang menarik tubuhnya bangun dengan sangat kasar.
Lalu melemparnya ke samping. "Braaakkkk!" Tubuh Irna menabrak dinding, lalu terhempas jatuh ke lantai.
Bersambung.....
Siapa yang menarik tubuh Irna, dan melemparkannya ke lantai?
a. Pembaca
b. Arvina
c. Author
d. Fredian
__ADS_1
e. No komen
Tinggalkan like + komentar sebelum pergi, vote juga ya? terima kasih...