
"Kamu memikirkan sesuatu? kamu bahkan mengabaikan keberadaanku di sini." Fredian duduk berjongkok di sebelah bath up tempat Irna berendam.
"Bukankah kamu setiap hari sudah melihat seluruhnya? memangnya kenapa kalau ada kamu di sini?" Elaknya sambil mengusap lehernya sendiri dengan air sabun.
"Kenapa? apa kamu kecewa aku tidak seromantis dua puluh tahun lalu??" Tanyanya sambil menarik ujung sudut bibirnya.
"Kamu bukan Irna yang aku kenal dulu." Gumamnya lirih, lalu beranjak berdiri dan melangkah keluar dari dalam kamar mandi.
Irna tidak menyadari perubahan besar pada dirinya sendiri. Dia juga merasa sangat dingin ketika bersama dengan Fredian saat ini. Bahkan ketika dia berpura-pura hangat, itu juga sudah tidak mempan lagi untuk menutupi kekurangan-kekurangan yang ada pada dirinya sekarang.
Setelah selesai mandi Irna mengambil selembar gaun tidurnya, gadis itu melenggang santai menuju meja makan. Dia melihat Fredian sedang duduk menikmati secangkir kopi.
"Apa kamu memancingku dengan gaun tidurmu?" Beranjak berdiri menghampiri Irna, gadis itu sedang membalikkan piring untuk makan malamnya.
"Ah! rupanya kamu menyukai gaun yang seperti ini?" Irna tersenyum sambil menyuap makanan ke dalam bibirnya lalu mengunyahnya perlahan-lahan. Fredian menundukkan kepalanya di atas bahu kanan Irna kemudian mencium pipinya.
"Aku melihatmu sedang memikirkan sesuatu hal, apakah kamu tidak ingin memberitahukan hal itu padaku?" Bisiknya di telinga Irna.
"Aku akan menceritakan segalanya ketika aku sudah yakin tentang itu. Aku masih perlu memastikan bahwa semua itu benar adanya." Jelasnya sambil mengusap rambut Fredian di atas bahunya.
"Selesaikanlah makanmu, aku akan ke ruang kerja untuk menyelesaikan berkasku. Jika kamu membutuhkan sesuatu, pergilah ke sana. Oke?" Irna hanya menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan dari Fredian.
Setelah menyelesaikan makan malamnya, Irna melangkah menuju ruang belajar Fredian. Gadis itu melangkah menyusuri rak buku yang berjajar rapi di sana.
Matanya tertuju pada sebuah buku bersampul kuno. Tulisan di luar sampul tersebut menggunakan tinta warna emas. Irna mengambil buku tersebut dan membawanya menuju ke meja Fredian.
"Buku apa ini?" Tanya Irna padanya, karena dia tidak mengerti bahasa yang tertera pada sampul luar buku tersebut.
"Itu buku pilihan, buku suara. Dia akan bersuara untuk menyatakan isinya. Dan dia tidak akan berbicara pada sembarang orang." Fredian tersenyum melihat wajah heran di depannya. Irna terlihat bingung tidak mengerti.
"Apa kamu pernah mendengar suaranya?" Tanya Irna padanya.
"Tidak pernah, tapi Rian pernah melemparkan buku itu ke tempat sampah karena dia begitu terkejut!" Ujarnya sambil menahan gelak tawa.
"Siapa yang memberikan buku ini padamu? Apakah seorang pesulap? atau wanita penyihir?" Kejar Irna tanpa henti.
"Duduklah di sini." Fredian melambaikan tangannya agar Irna duduk di atas pangkuannya.
Karena sangat penasaran Irna menurut dan duduk memunggunginya di atas pangkuannya.
"Buku ini terbawa saat aku masih bayi, buku ini yang ada di bawah selimutku saat awal aku dan Wilson diadopsi oleh keluarga Derrose."
"Buku ini mungkin akan menyatakan asal-usul kehidupanku, selama ini aku selalu membukanya setiap bulan purnama tapi tetap saja tidak tahu apa isinya. Sepertinya buku ini bukan ditujukan kepadaku." Bisik Fredian lagi sambil mencium pipinya.
"Tapi kamu bilang Rian bisa mendengar suara dari dalam buku ini?" Tanya Irna lagi.
"Hem, itu aneh sekali. Aku juga tidak mengerti kenapa buku ini mau bicara padanya." Fredian mengangkat kedua bahunya.
"Bagaimana jika aku mencobanya?" Tanya Irna padanya.
"Ya, cobalah. Kita lihat apa yang akan dibicarakan oleh buku tua ini."
Irna membuka sampul pertama. Di sana muncul suara serta tulisan berupa gambar aneh.
*"Selamat datang pemilik keduaku..."
Irna melanjutkan membuka halaman selanjutnya.
__ADS_1
"Kamu adalah orang kedua yang mendengar suaraku, mencium dari aroma darahmu kamu adalah pemilih bunga kristal es yang turun ke bumi seribu tahun sekali.."
"Siapa pemilikmu sebelum aku?" Irna mencoba bertanya padanya.
"Satu pertanyaan, akan di jawab setelah satu tetes darah!" Sahut buku tersebut.
Tanpa ragu Irna menggores sedikit jarinya dan meneteskannya pada halaman di mana dia melontarkan pertanyaan pada buku tersebut.
"Dia adalah pangeran William ras serigala.."
Irna menoleh cepat ke arah Fredian, pria itu juga terkejut mendengar suara itu menyatakan bahwa pemilik buku sebelumnya adalah pangeran William.
Irna melanjutkan membuka halaman buku tersebut.
"Kamu adalah pemilik kedua setelah dia."
"Darahmu sudah menyatu denganku, kamu harus menyimpanku bersamamu."
"Apa hubunganmu dengan bayi kembar beberapa tahun lalu?" Tanya Irna lagi.
"Dua bayi vampir, putra Raja Vertose. Raja iblis meninggal, saya menjaga dua bayi kembar."
"Lalu apa hubungannya dengan pangeran William?"
"Pangeran William putra Raja Vampir ras serigala, vampir yang telah bermutasi menjadi manusia. Dia memiliki hubungan dengan raja vampir sebelumnya. Dia yang membunuh raja Vertos."
Fredian tercekat mendengar isi buku tersebut, buku tersebut kunci dari semua kejadian silam.
Irna kembali mebuka lembaran selanjutnya.
"Pangeran William berusia lima tahun pencipta ramuan dan racun. Saat terjadi perang antara kedua ras Vampir hingga menyebabkan terbunuhnya raja Vertos, dia pergi ke dunia manusia.. dia hidup bersama manusia."
Buku tersebut menampakan sebuah potret perlahan-lahan, wajah pangeran William.
"Rian!" Irna berteriak kencang sambil mengalihkan pandangannya menatap wajah Fredian.
Fredian tidak terkejut dengan hal itu, seolah dia sudah tahu segala seluk-beluk sahabat karibnya itu.
Irna segera menutup sampul buku tersebut.
"Jangan bilang kamu sudah tahu sejak awal?" Tanya Irna padanya.
"Tentu saja, aku sudah merasa aneh sejak awal." Gumam Fredian santai.
"Bukankah kamu sudah hidup bersamanya selama lebih dari lima belas tahun? Hampir dua puluh tahun? Atau tiga puluh tahun? kamu masih tetap tidak bisa mengetahuinya?" Fredian pura-pura cemburu melengos menatap dinding.
"Fred! aku pikir dia manusia, karena aku tidak merasa aneh dengan dirinya. Sejak awal sikapnya sama seperti itu, tidak berubah sama sekali." Irna menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kamu tidak dendam sama sekali padanya? setelah tahu dia yang membunuh orang tuamu?" Tanya Irna padanya.
"Aku berhutang padanya, aku rasa yang menyegel kekuatanku waktu itu bukan pastor gereja tempat bayiku dulu dirawat. Tapi yang menyegelnya adalah anak berusia lima tahun itu. Dia mencoba menghentikan generasi vampir."
"Sekarang aku tahu kenapa dia memilih hidup sebagai manusia. Dia ingin menghentikan generasi penghisap darah!"
"Menarik sekali bukan?" Fredian tersenyum lebar. Irna juga kembali ingat saat Peter mengunjungi ruang kerjanya tadi pagi. Dia ingat ucapan Peter, kalau selama ini pangeran Williamlah yang sudah membuat ramuan untuk menghentikan rasa haus mereka.
Dan sejak kepergian sang pangeran, vampir ras serigala kembali memburu darah manusia.
__ADS_1
"Sepertinya waktunya sudah hampir habis, itulah alasannya dia menyerahkan dirimu kembali padaku."
"Jadi maksudmu Rian tidak ingin aku melihat dirinya berubah kembali seperti semula?"
Fredian hanya menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Irna.
"Apakah kita bisa membantunya?" Tanya Irna lagi.
"Kamu lupa? dia pencipta ramuan? menurutmu dia membutuhkan bantuan kita? kalau sebelumnya dialah yang menyelesaikan segala persoalan yang kita hadapi, apakah mungkin kita bisa menolongnya?" Fredian sendiri juga bingung, hal tersebut begitu tiba-tiba terjadi pada Rian.
"Lalu kita harus bagaimana?" Tanya Irna lagi.
"Kita tunggu saja. Kita lihat apakah ada sesuatu yang bisa menolongnya."
Fredian mengantarkan Irna ke rumah sakit keesokan paginya. Dia terkejut saat melihat Peter sudah berdiri di luar pintu ruang kerjanya.
"Apa yang membawa anda kembali kemari?" Tanya Irna padanya.
"Raja kami mengundang anda untuk datang ke acara pengangkatan pangeran kedua, untuk menggantikan posisi raja."
Irna menerima undangan tersebut, dia tahu bahwa dia tidak boleh sembarangan hadir di acara tersebut. Jika sebelumnya terjadi perang antara dua penguasa karena perebutan kekuasaan perburuan. Sekarangpun tidak mustahil hal tersebut akan terjadi lagi dan membuat nyawanya terancam.
"Apakah ini sebuah jebakan?" Gumam Irna dalam hatinya, tapi gadis itu tetap tersenyum menatap ke arah Peter untuk menyembunyikan rasa paniknya.
"Saya tidak bisa janji untuk hadir, tapi akan tetap saya usahakan untuk datang."
"Baiklah, saya lega mendengar nona akan mengusahakan untuk datang ke acara kerajaan Interure. Kalau begitu saya pamit undur diri dulu."
Peter menundukkan kepalanya seraya melepas topi fedora miliknya memberikan hormat sebelum beranjak pergi.
Saat membuka pintu ruang kerjanya Irna lebih terkejut lagi melihat Rian duduk menunggunya di sofa.
"Kamu? kenapa pagi-pagi sudah berada di sini?" Irna sedikit gugup lalu segera meletakkan tasnya di atas meja beserta surat undangan dari Peter.
"Untuk mendapatkan laporan pagi." Rian meletakkan berkas di atas meja. Irna segera mencekal pergelangan tangannya, untuk memastikan suhu tubuhnya.
"Kenapa? apa kamu merindukanku?" Tanyanya sambil menyeringai ke arahnya.
"Dasar gila! aku hanya ingin memastikan bahwa suhu tubuhmu sudah normal kembali." Gerutu Irna kesal.
"Ya tentu saja, siapa yang bisa menerima vampir sepertiku, kecuali dia juga vampir sama denganku." Gumam Irna dalam hatinya mengingat Rian begitu saja menerimanya walaupun saat itu dirinya adalah vampir pemimpin pasukan iblis.
"Kenapa kamu tidak meminta sekretarismu untuk mengantarkan ini padaku? belakangan ini kamu lebih sering pergi keluar masuk kantorku." Ungkapnya lagi pada pria yang masih berdiri di sebelah meja kerjanya.
"Kenapa? apa wajahku sangat membosankan?" Kelakarnya sebelum pergi.
"Ah, aku mendapatkan undangan dari kerajaan Interure. Apa kamu tidak tertarik untuk melihat ini?" Irna mengancungkan kartu undangan tersebut pada Rian.
Pria itu terdiam sejenak, lalu menatap Irna sambil tersenyum.
"Aku tidak tertarik." Berkata demikian kemudian menghilang di balik pintu.
"Haruskah aku mengajak Fredian pergi? tidak! ini terlalu berbahaya untuknya! jika mereka tahu Fredian adalah putra dari raja Vertos yang masih tersisa, bisa-bisa mereka akan menghabisinya." Irna berfikir keras untuk mencari penyelesaian tentang undangan tersebut.
Rian sengaja mengunci kekuatan tubuh Fredian agar dia selamat dari indera penciuman vampir ras serigala saat masa peperangan kedua ras. Pria itu mencoba yang terbaik untuk semuanya.
Tapi keserakahan kedua belah ras telah membulat seperti air dengan minyak. Masing-masing bersikeras pada keputusan sendiri-sendiri. Akhirnya ajang saling membunuh dan saling merebut menjadi warna gelap hari itu.
__ADS_1
Hari Rian terpisah dengan ras serigala,. memilih untuk menjadi manusia. Juga Fredian yang kehilangan ayahnya.
Bersambung..