Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
Salah faham


__ADS_3

Fredian mengunyah makanannya. Pandangannya kosong menatap mangkuk di atas meja. Setelah menunggu Irna hampir satu jam.


"Gadis itu belum melupakannya, lalu untuk apa aku tetap berada di sini?" Bisiknya dalam hati.


Fredian beranjak berdiri, mengambil jasnya. Memakainya, melangkah ke luar rumah. Pria itu pergi meninggalkan Irna.


Irna mendengar suara mobil Fredian pergi meninggalkan rumahnya. Irna membuka pintu kamar mandi dan keluar. Dilihatnya sisa mangkuk Fredian makan, dia hanya memakan beberapa suap.


"Astaga apa yang sudah aku lakukan? dia menolongku tanpa meminta apapun. Dan aku malah mengacuhkannya. Tapi aku tidak bermaksud melukai hatinya. Aku hanya masih ingin sendiri... aku ingin sendiri"


Di loteng di atap setelah Irna dibawa Fredian pergi.


"Kakak, apa benar yang kamu katakan barusan?" Tanya Rian pada Reyfarno.


"Itu benar!" Reyfarno menjawab dengan jujur.


"Kalian lanjutkan percakapan, aku pergi dulu" Reynaldi meninggalkan kakak beradik itu beradu mulut.


"Aku tidak percaya bahkan kakakku sendiri menjadi rival dalam percintaanku?! apa maksudmu melakukan semua ini? bukankah hidupmu selama ini tidak pernah sepi dari wanita??!" Sergah Rian sudah tidak sabar.


"Aku sendiri juga tidak tahu, sejak bertemu dengannya di tengah hujan, aku tertarik dengan gadis itu. Padahal ketika aku melihat wajahnya di berita aku biasa saja. Itu jadi berbeda saat kami bertemu secara langsung." Ujar Reyfarno menyentuh bahu adiknya.


"Tapi sepertinya dia sangat membenciku.." Setelah berujar demikian Reyfarno meninggalkan Rian termenung seorang diri.


Rian tahu kelakuan kakaknya, meski dia sangat menyayangi adiknya. Dia tidak akan memandang siapa yang jadi rival dalam cintanya.


Dia juga tahu Irna tidak menyukai kakaknya. Irna sengaja menggores luka agar dia mau melepaskan genggaman cintanya.


"Jika gadis itu mencintai salah satu di antara kami, bukankah seharusnya dia menggenggam tangan salah satu dari kami. Kemudian mengatakan dengan berterus terang?! Dia bahkan tidak melakukan itu."


"Sejak aku merebutnya dari Fredian aku lebih sering melihat wajahnya yang murung, bahkan ketika kita selalu bersama di rumah dia lebih melihatku seperti teman ngobrol. Dia tidak pernah berinisiatif untuk mendekatiku."


Ungkap Rian bicara pada dirinya sendiri.


Irna duduk termenung di ruang tengah, entah berapa lama hingga dia tertidur.


Ketika terjaga dia sudah berada di tempat tidur, tubuhnya terbalut selimut.


Terdengar suara berisik dari dapur.


"Aku seperti mencium aroma kopi. Siapa yang mengangkat tubuhku ke kamar?" Irna berjingkat-jingkat menuju ke dapur.


"Tidak ada siapapun di sini? apa telingaku sudah rusak karena terlalu banyak berteriak kemarin! bahkan aku mengancam akan membunuh mereka semua?!" Bisik Irna pada dirinya sendiri.


"Hei" Seseorang memegang bahunya dari belakang.


"Astaga! kamu mengejutkanku!" Bentak Irna terkejut.


"Kamu sejak kapan kembali ke sini? bukannya semalam kamu sudah pulang ke rumahmu? kamu tahu jika ini masuk berita lagi, aku sama sekali tidak akan bisa bekerja lagi.... mereka akan bicara hal buruk tentangku.."


"Mudah saja, kamu tidak usah bekerja. Aku yang akan menanggung biaya hidupmu. Kita menikah kembali saja" Ujar Fredian dengan sangat santai.


"Aku tidak ingin menikah." Ujar Irna lagi.


"Bukankah kita sama-sama mencintai?" Fredian meletakkan cangkir kopi di atas meja kemudian mendekat ke arah Irna.

__ADS_1


"Aku tidak pernah bilang mencintaimu sejak saat itu! itu sudah lama sekali." Tandas Irna lagi seraya melangkah mundur.


"Bukankah kamu harus menentukan pilihan segera? atau kamu masih menikmati dikejar para Presdir? sehingga terus mengulur waktu?" Fredian mendekat meraih pinggang Irna ke dalam pelukannya.


"Konyol sekali! aku hampir gila menghadapi kalian semua! kamu malah bilang aku menikmatinya??" Ujar Irna tertawa tidak percaya.


"Lalu pilihlah.." Ujar Fredian membisikkan ke telinga Irna.


"Aku tidak ingin memilih di antara kalian, aku ingin melajang! jadi apa salahnya?" Jawab Irna segera, sambil mencoba melepaskan diri.


Dengan tidak sabar Fredian mengangkat tubuh Irna ke dalam kamar mandi. Mengguyur tubuh gadis itu dengan air shower.


"Hei apa yang kamu lakukan?! hentikan!" Teriak Irna ketika Fredian melepaskan seluruh bajunya.


Fredian segera mengambil sabun untuk memandikannya.


"Aku bisa sendiri!" Ujar Irna marah merebut sabun dari tangannya.


"Kalau kamu bisa mandi dengan baik kenapa kemarin aku harus menunggumu sampai satu jam? bahkan kamu tidur tidak mengganti baju dan masih belum mandi." Ujar Fredian sambil tersenyum.


"Ei! kenapa kamu juga melepas bajumu??!" Ujar Irna terkejut melihat Fredian tiba-tiba melepas baju, telanjang di depan matanya.


"Tentu saja aku juga akan mandi" Bisiknya membuat Irna bergidik.


"Aku akan keluar, aku sudah selesai." Ujar Irna buru-buru mengambil selembar handuk untuk membalut tubuhnya.


"Kenapa wajahmu merah begitu? lucu sekali. Ini bukan yang pertama kalinya kamu melihatnya" Menghadang pintu.


"Jangan gila, kita bukan anak-anak berumur sepuluh tahun!" Menarik tangan Fredian agar tidak menghalanginya.


"Akh! aduuuh!" Irna terpeleset lantai karena terburu-buru menghindari Fredian.


Irna berusaha berdiri.


"Akh! aduh! kakiku!" Irna masih terus memegang lengan Fredian sambil menggigit bibir bawahnya menahan sakit.


"Apakah kamu sedang merayuku?!" Gurau Fredian mengerling ke arahnya.


"Jangan bercanda kamu, aku serius!!" Hardik Irna mendelik ke arah Fredian.


"Lalu aku harus bagaimana?" Fredian pura-pura bodoh.


"Ah sudahlah aku bisa sendiri merangkak ke luar!" Ujarnya tanpa menunggu Fredian, memegang dinding keluar dari kamar mandi.


Setelah membalut pinggang dengan sehelai handuk, pria itu segera mengangkat tubuh Irna ke atas sofa.


"Kenapa kamu selalu mempersulit dirimu sendiri? kamu bisa meminta tolong padaku untuk menggendongmu sepanjang hari jika kamu mau.."


Fredian tersenyum, dia meletakkan kaki Irna di atas pangkuannya, memijitnya perlahan.


"Ah! aduh! pelanlah sedikit! kamu sengaja melakukannya agar aku kesakitan??!" Irna berteriak keras karena tidak bisa menahan kakinya yang nyeri.


"Tahanlah sebentar, sebentar lagi juga pasti membaik!" Teriak Fredian kembali.


Di luar pintu rumah Irna,

__ADS_1


"Ngapain kalian kemari?!" Hardik Reynaldi menghalangi pintu masuk menatap Rian dan Reyfarno.


Reynaldi mendengar pekikan Irna, dan suara Fredian di dalam. Entah apa yang ada di pikiran pria itu sejak tadi.


"Ah aduh! sakit! aku sudah tidak tahan!" Teriak Irna lagi, membuat Rian jatuh terduduk lemas di lantai depan rumah Irna.


"Tahanlah sebentar lagi!" Teriak Fredian kembali.


"Apakah mereka berdua sudah gila?!" Teriak Refarno menahan marah kemudian berbalik pergi.


"Braaak!" Reyfarno membanting pintu mobilnya dengan kasar. Melaju kencang meninggalkan rumah Irna.


"Kamu tidak akan pergi?!" Tanya Reynaldi pada Rian yang masih duduk di lantai.


"Bantu aku berdiri!" Rian mengulurkan tangannya.


Dengan bibir mencibir Reynaldi mengulurkan tangan mencoba membantu Rian berdiri.


Mendengar suara berisik di luar rumah Fredian melangkah membuka pintu, dia lupa jika masih menggunakan sehelai handuk yang melilit di pinggang.


"Astaga! Apa yang kamu lakukan?! kau sengaja ingin pamer?!" Teriak Rian dan Reynaldi dengan wajah marah.


"Seharusnya aku yang bertanya kalian kenapa berpelukan di depan pintu? apa kalian begitu frustasi sampai tidak bisa menemukan seorang gadis lagi??!"


"Astaga!" Rian terkejut langsung melepaskan pelukan Reynaldi.


"Kamu! kamu sudah salah faham!" Reynaldi tidak terima jika Fredian mengira dirinya gay.


"Hei! kamu berhentilah berteriak! apa kamu tidak takut jika penutup badanmu satu-satunya itu terlepas?!" Tunjuk Reynaldi pada handuk di pinggang Fredian.


"Astaga bagaimana aku bisa lupa?! Braak!" Fredian membanting pintu meninggalkan wajah bengong Rian dan Reynaldi di luar pintu, kemudian berlari masuk ke dalam kamar mandi.


"Ada apa di luar sana Fred?" Tanya Irna ketika Fredian sudah selesai mandi.


Irna mengambil pakaian dari dalam lemari, kemudian pergi ke dalam kamar.


"Ha ha itu pemulung yang ngajak berantem!" Ujar Fredian asal sambil pura-pura tertawa.


"Tapi kok pemulung bawa mobil!" Mendekatkan wajahnya ke wajah Fredian.


Fredian tersenyum, dia tahu jika Irna tidak sebodoh dalam fikirannya. Dia bahkan tidak bisa berbohong sedikitpun walaupun sudah berusaha sekuat tenaga.


"Ah itu ketiga rivalku!" Ujarnya segera, karena melihat Irna melotot padanya.


"Aku sudah mengusirnya, jadi kamu tidak perlu hawatir." Tambahnya lagi.


"Ya, tentu saja mereka pergi. Melihat tubuh telanjangmu itu apa yang mereka harapkan lagi? bukankah begitu!?" Irna menatap wajah Fredian dengan serius.


"Ya kamu benar, mereka melihatku seperti tadi lalu pergi." Ujarnya sambil meneguk segelas air untuk membasahi tenggorokan yang tiba-tiba terasa kering.


"Apa kakimu sudah baikan?" Tanyanya ketika melihat Irna melangkah dengan agak tertatih-tatih.


"Sudah mendingan dari pada sebelumnya, kamu pergilah ke kantor. Aku tidak akan ke kantor hari ini." Perintahnya pada Fredian.


"Ya memang ada berkas yang perlu aku tanda tangani, tapi pelayanku sedang membawa semua berkasnya menuju kemari." Fredian tersenyum nyengir ke arah Irna.

__ADS_1


"Bagaimana bisa tiba-tiba meminta pelayannya mengantarkan berkasnya kemari, setelah mendengarku tidak pergi ke kantor?! Dia dengan sengaja melakukannya!" Gerutu Irna kesal.


bersambung....


__ADS_2