
Irna sampai di restoran sudah hampir senja. Gadis itu melangkah masuk ke dalam restoran.
Irna melihat sekilas suasana di sekitarnya, sangat sepi. Gadis itu kemudian menuju ke dapur.
"Kemana perginya semua pelayan?"
"Ah mereka pulang, Si bos yang meliburkan semuanya hari ini." Jelas Eryan salah satu koki restoran Arya.
"Ini kunci mobilnya di taruh di mana?" Tanya Irna pada pria itu lagi. Eryan tersenyum dan menunjuk kantor Arya.
Irna mengetuk pintu ruangan Arya, tapi tidak ada jawaban dari dalam.
"Tok! tok! tok!" Masih tidak terdengar jawaban apapun dari dalam ruangan Arya.
"Apakah aku masuk saja? tapi nanti aku diteriaki pencuri?!" Gumam Irna bingung. Dan akhirnya dia memilih untuk membuka pintu ruangan tersebut.
Tidak ada siapapun di sana, terdengar sayup-sayup suara gemericik air di dalam kamar mandi yang terletak di sudut ruangan kerja tersebut.
Irna segera meletakkan kunci mobil Arya di meja kerja pria itu. Lalu gadis itu melangkah keluar dari dalam ruangan.
"Kaila Elzana!" Panggilnya sambil mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk. Mendadak langkah kaki Irna terhenti mendengar teriakan pria gila itu.
Irna membalikkan badannya menghadap ke arah Arya Ardiansyah.
"Ada apa pak?" Tanyanya dari balik masker hitamnya.
"Kenapa kamu terlambat sekali?! kamu tidak tahu jika banyak pesanan hari ini yang ditolak?!" Pria itu berteriak dan menudingnya tepat di depan wajahnya.
"Maaf pak, tadi itu, anu." Ujar Irna pura-pura tergagap.
"Apa itu anu?!" Hardiknya sambil melotot.
"Pak jangan melotot seperti itu, nanti jika bola mata bapak copot saya yang repot!" Ujar Irna pura-pura bodoh.
"Aku bertanya kenapa kamu terlambat?!"
"Apakah saya akan dipecat pak? baiklah saya akan segera pergi dari sini. Terima kasih selama ini sudah memperkerjakan saya. Permisi pak."
Ujar Irna bertubi-tubi tanpa memberikan kesempatan pada Arya untuk berbicara. Irna bergegas menuju ke pintu. Arya melangkah cepat-cepat pergi mengejarnya.
Pria itu menarik tangannya dan mendorongnya bersandar ke pintu memegang bahunya. Menatap matanya lekat-lekat. Terdengar suara nafasnya tidak teratur.
"Apa bapak sedang sakit?!" Tanyanya lagi.
"Astaga! aku ini adalah atasanmu!"
"Iya saya tahu, anda atasanku."
"Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaanku? kenapa malah
memutuskan untuk berhenti bekerja, sebelum aku memutuskannya?!" Tanyanya lagi.
Jarak wajah antara mereka berdua tinggal dua puluh lima sentimeter.
"Jarak ini, terlalu dekat! jika aku tidak segera menjawab pertanyaan darinya, dia akan terus memburuku."
"Jika aku bilang jalanan macet, dia tidak akan percaya karena jalur ke sana adalah jalur bebas hambatan."
"Jika aku bilang, bannya tiba-tiba kempes dia juga tidak akan percaya, lalu aku harus menjawab apa?? ah pusing sekali memikirkanya!" Irna menggaruk kepalanya sambil terus bergumam.
"Kenapa malah bicara sendiri? kamu anggap aku mahluk halus yang tidak bisa mendengar???!" Tanyanya lagi.
"Itu, anu, lepaskan saya dulu. Saya merasa jarak antara anda dan saya terlalu dekat." Irna menepis tangan Arya dari bahunya.
Irna melotot melihat baju mandi dengan dada setengah terbuka di depan matanya itu. Dia ingin mendorong tubuhnya agar menjauh tapi tidak jadi karena dia bisa salah sentuh.
Dan bagi Arya mungkin dirinya adalah gadis berusia sekitar dua puluhan. Sedang Arya sendiri sudah hampir empat puluh tahun.
"Saya tidak bisa memberikan alasan, saya minta maaf." Ujar Irna lagi.
Pria di depannya itu berjongkok mencermati wajah Irna. Wajahnya tidak terlihat karena tertutup dengan topi dan masker.
"Bolehkah saya pergi sekarang?" Tanyanya lagi, tapi Arya tidak menjawab pertanyaan darinya.
Pria itu semakin mendekatkan wajahnya, sangat beruntung ada topi yang menghalanginya untuk lebih dekat lagi. Irna refleks segera menjauhkan wajahnya seperti saat pria itu mendekat tiba-tiba beberapa tahun lalu.
"Aroma ini..." Bisik Arya Ardiansyah tiba-tiba. Mendengar bisikan pria itu Irna terpaksa mendorongnya agar menjauh. Gadis itu segera membuka pintu dan berlari keluar.
Arya berlari mengejarnya, Irna bersembunyi di dekat semak-semak. Menunggu pria itu pergi ke dalam.
Setelah keadaan aman barulah dia keluar dan ternyata Arya Ardiansyah sudah berdiri sambil tersenyum di belakang punggungnya.
"Astaga!" Irna terlonjak kaget sambil memegangi dadanya.
"Kamu mau kemana? urusan kita belum selesai." Arya menghalangi langkah kaki Irna.
__ADS_1
"Bukankah anda meminta jawaban dari saya, tapi saya tidak bisa menjawabnya." Jelasnya pada Arya sambil mengernyitkan dahinya.
"Dia sudah mengatakan semuanya." Mengancungkan ponsel di tangannya. Irna terbelalak melihat nama Fredian pada layar ponsel Arya.
Irna berdiri mematung sambil meremas jemari tangannya. Irna khawatir jika Fredian mengungkapkan identitas dirinya.
Akan tetapi melihat sikap Arya masih dibatas kewajaran, sepertinya Fredian tidak menceritakan tentang kebenaran dirinya.
"Kamu masuk ke dalam." Perintahnya pada Irna.
"Apa pria gila ini berniat menahanku di sini?" Umpatnya dalam hati.
"Tapi pak, saya masih ada pekerjaan lain. Maaf saya harus segera pergi." Irna membungkuk menaruh hormat lalu berjalan menuju motornya.
"Besok kamu harus kembali!" Teriaknya pada Irna sambil memegangi boncengan motornya.
"Saya tidak bisa janji. Permisi pak." Menarik tangan Arya dari motornya. Arya tiba-tiba meloncat menaiki boncengan Irna.
"Anda ngapain?! Turun!" Teriak Irna tidak jadi menyalakan mesin motornya.
"Kamu harus datang besok! aku akan turun setelah kamu berjanji." Tukasnya tanpa peduli.
"Baik besok saya akan datang." Akhirnya Irna mengalah dan menyetujui permintaannya.
Karyawan di dapur mengintip kelakuan Presdirnya itu dari pintu samping. Mereka berbicara dengan suara berbisik.
Irna sangat malu sekali, apa yang akan mereka pikirkan padanya. Irna sekarang berpenampilan tomboy, dan juga miskin. Dia memakai baju ala kadarnya.
Setiap hari dia selalu memakai setelan warna gelap dengan celana jeans robek di bagian lutut.
"Masuklah dulu, ambil slip gajimu." Perintahnya sambil menarik tangan Irna masuk ke dalam restoran miliknya.
Arya mengambil sejumlah uang dari dalam lacinya, dan memberikan kepada Irna.
Irna melihat isi dalam amplop tersebut, dia sangat terkejut melihat jumlah uang yang melebihi gajinya.
"Ini terlalu banyak pak." Ujarnya sambil mengurangi jumlah uang dari dalam amplop lalu menyodorkan pada Arya.
"Saya memang pekerja part time, tapi saya tidak bisa menerima gaji melebihi perjanjian yang sudah ditentukan. Terima kasih." Irna berbalik dan melangkah keluar.
Arya menatap kepergian Irna, pria itu tersenyum menatap gadis itu melangkah keluar pintu restoran.
"Irna, benarkah itu kamu.. aku mencium aroma tubuhmu yang tidak pernah dimiliki siapapun selain dirimu." Arya terduduk lemas di kursi ruang kerjanya.
Dia tidak mengerti jika itu adalah Irna, kenapa dia tetap terlihat muda dan tidak menua sama sekali.
"Duk! Duk! Duk! aku sangat merindukanmu sahabatku!" Teriaknya sambil membenturkan kepalanya di atas meja.
"Aku pasti sudah tidak waras, Irna sudah lama meninggal dunia." Bisiknya lagi sambil mengeluarkan selembar foto dirinya bersama Irna saat dia berada di luar mobil Irna.
Saat itu Irna sedang berpose untuk dikirimkan kepada suaminya Fredian. Waktu itu adalah pernikahan kedua kalinya dengan Fredian. Itu adalah ikatan kerja sama antara mereka berdua untuk pertama kalinya.
Irna telah sampai di perusahaan milik Tuan Jend ayahnya Reno, perusahaan tersebut terletak jauh dari kota. Gadis itu memasukkan motornya ke dalam garasi.
Tuan Jend juga menyewakan jasa sopir panggilan.
Irna melepas jaket, masker, dan topinya, menaruh helmnya di kantor tuan Jend.
"Ayah!" Irna berjalan mendekat ke arah tuan Jend mengambil telapak tangannya dan menciumnya.
Baginya dia adalah seorang ayah yang sudah merawatnya.
"Ayah ini gajiku hari ini." Meletakkan amplop di telapak tangan ayah angkatnya itu.
"Tidak, ini untukmu. Simpanlah sendiri." Tuan Jend menolaknya. Tapi Irna bersikeras tetap memberikan uang tersebut pada ayah angkatnya itu.
Akhirnya ayah angkatnya mau menerimanya, dia tersenyum dan memeluknya. Reno menitikkan air matanya melihat kebersamaan mereka berdua. Pria itu berdiri di sudut, tidak berani mengganggu.
Dari kejauhan ada mobil terparkir di tepi jalan agak jauh dari perusahaan tersebut. Alfred menitikkan air matanya melihat kehidupan ibu kandungnya.
Tidak sampai hati dia melihat pelipis ibunya basah dengan peluh bercucuran. Irna memakai kaos lengan panjang longgar, dan celana jeans robek bagian lutut berwarna hitam.
Gadis itu masih tetap memakai maskernya membalikkan topinya menghadap ke belakang, rambut panjangnya tetap tersembunyi dengan baik di bawah topi.
Beberapa kali gadis itu mengusap keringat di keningnya.
Irna mengangkat beberapa barang dari dalam rumah, dia meletakkan kardus-kardus di sebuah mobil pick up. Barang tersebut adalah barang yang harus diantarnya pada pelanggan.
Alfred turun dari mobilnya menghampiri ibunya, dia membantunya mengangkati barang-barang dari dalam rumah tuan Jend.
Irna melongo melihat putranya tersenyum sangat manis dan menawan ke arahnya. Dia melihat kebahagiaan terpancar dari wajah Alfred.
"Apa yang tuan lakukan?!" Irna menarik tubuh atletis putranya itu menepi di bawah rerimbunan pohon. Mereka berdua duduk di bangku kayu.
"Minumlah! setelah selesai pergilah, dan jangan kemari lagi." Irna menyodorkan minuman ringan padanya.
__ADS_1
Alfred tidak meminumnya, pria muda itu tersenyum senang mendapatkan minuman ringan dari Irna. Dia malah mengantonginya sambil terus tersenyum menatap mata ibu yang sangat dicintainya itu.
Jika seseorang melihat kebersamaan mereka berdua, pasti sudah berfikir jika Alfred sedang tergila-gila pada Irna.
Orang akan melihat kebersamaan mereka seperti sepasang kekasih.
"Mama!" Bisik Alfred, pria muda itu berlari memeluk ibunya. Sekejap Irna ingin mengangkat kedua tangannya membalas pelukannya tapi segera diurungkan niatnya.
Irna segera menepisnya dengan sangat berat hati.
"Jangan begini!" Bentak Irna padanya lalu berlari masuk ke dalam rumah meninggalkan putranya berdiri mematung sendirian di halaman.
Irna melihat air mata putra tercintanya mengalir membasahi kedua pipinya, Alfred melangkah gontai keluar dari halaman rumahnya menuju ke mobilnya.
"Siapa dia?" Tanya Reno yang sudah berdiri di belakang punggungnya.
"Ah itu pelanggan yang kemarin memesan makanan." Ujar Irna sambil menyembunyikan air matanya yang terus menerus mengalir tanpa henti.
"Kenapa kamu menangis? dan wajah pria itu juga terlihat sangat sedih." Tanyanya lagi sambil menggaruk keningnya tidak mengerti hubungan antara mereka berdua.
"Ah aku menolak cintanya, lagi pula siapa yang mau setelah melihat wajah rusak terbakar seperti ini. Dia juga pasti akan jijik pada akhirnya." Jelasnya berbohong pada Reno.
Setelah Alfred pergi Irna keluar dan menaiki mobil pick up tersebut untuk mengantarkan barang ke kota.
Irna kembali mengingat kejadian tadi pagi, saat kebersamaan dengan Fredian. Begitu agresifnya pria yang berstatus sebagai suaminya itu, setelah bertahun-tahun lamanya berpisah darinya.
Irna mendapatkan kalung dari tuan Jend, almarhum istrinya juga memiliki kelainan darah seperti Irna.
Nyonya Jend meninggal saat menyelamatkan Reno dari kebakaran. Tubuhnya tertimpa tangga kayu yang terjatuh karena atapnya dilalap api.
Saat menemukan Irna, banyak sekali mahluk haus darah mengerikan yang mengerubungi gadis itu.
Tuan Jend mengambil kalung kristal dari lehernya, kalung tersebut sebelumnya adalah milik istrinya, dia memakaikan kepada Irna.
Kalung tersebut memiliki bandul kristal putih berbentuk bintang. Dan kristal tersebut mampu mengusir mahluk misterius yang selalu mengejarnya karena aroma darahnya yang mengalir keluar dari tubuhnya.
Dan itu juga yang membuatnya bebas melakukan pekerjaannya tanpa harus memakai parfum dari Rian bertahun-tahun.
Irna menghentikan mobilnya di depan sebuah toko kelontong. Lalu mengangkat kardus satu persatu menurunkannya, kardus tersebut berisi botol limun. Irna meletakkan semuanya di depan toko.
Irna melangkah ke dalam mengambil ongkosnya di kasir toko tersebut. Gadis itu kemudian menyeduh kopi dan duduk di kursi yang tersedia di sana.
Toko tersebut adalah tempat pertemuan dengan Fredian saat hujan turun.
Irna melihat mendung semakin gelap. Gadis itu melepaskan maskernya dan menikmati cairan hitam beraroma harum di atas meja di depannya.
"Astaga hujan lagi, untungnya barang-barang sudah masuk semua ke dalam toko." Gumam Irna pada dirinya sendiri.
Seseorang tiba-tiba berlari ke dalam toko tersebut, jas putihnya setengah basah dengan air hujan.
Tampak pria itu mengusap lengannya karena merasa kedinginan. Dia membawa sebuah payung dan membayar pada kasir.
Irna tidak tahu jika pria tersebut tengah terbengong menatap dirinya. Irna masih belum menutupi wajahnya dengan maskernya.
Pria itu melangkah mendekat dan duduk di sebelahnya sambil menopang kepalanya menatap mencermati wajahnya. Luka bakar di bawah mata kirinya sampai ke leher menghiasi wajah cantik Irna.
Irna masih menikmati keindahan rintik hujan di depan toko melalui dinding kaca di depannya.
Pria tersebut mengambil gelas kopi di depannya dan meneguknya sedikit.
Irna ingin meminumnya dan melihat gelas kopinya tidak ada di depannya. Dia menoleh ke arah pria yang duduk sambil tersenyum mengerling menatap wajahnya. Gelas kopinya berada di tangannya.
Irna buru-buru berdiri dan memakai maskernya kembali. Irna tidak ingin melihat kembali ke arahnya. Saat hendak menjalankan mobilnya pria itu menghadang tepat di depan mobilnya.
"Tuan! tolong minggir!" Teriaknya pada pria itu, seluruh bajunya basah kuyup karena hujan semakin deras.
Dia tetap menghalangi mobil Irna. Irna kemudian turun dan menarik tangannya agar melangkah ke samping. Tapi pria itu tetap bersikeras tetap berdiri di tempatnya.
Tatapan matanya terlihat sangat sedih, dia masih terus menatap ke arah Irna.
Pria itu menarik tubuhnya ke dalam pelukannya.
Dia mendongak menatap langit sambil menangis, langit yang terus menumpahkan air membasahi tubuh mereka berdua. Irna mencoba melepaskan diri dari pelukannya tapi dia tetap menahannya.
Bersambung...
**Siapakah pria yang memeluknya itu?***
A. Fredian Derrose
B. Arya Ardiansyah
C. Reynaldi
D. Rian Aditama
__ADS_1
E. Alfred
F. Reyfarno