Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
Hold at home


__ADS_3

Irna melihat suaminya sudah selesai mandi di kamar mandi sebelah, seluruh tubuhnya masih basah. Terlihat jelas butiran-butiran air masih menempel pada kulit tubuhnya. Pria itu mengenakan kimono warna putih, menampilkan sebagian dada atletisnya.


Saat melihat Irna melenggang melaluinya, pria itu meraih pinggangnya dengan satu tangan kanannya, menciumi tengkuknya.


"Kamu mau kemana? sampai-sampai mengabaikanku dan lewat begitu saja." Desahnya pada telinga Irna, hembusan hangat nafasnya menggelitik leher jenjangnya.


"Aku ingin pergi ke dapur, apa kamu ingin secangkir kopi?" Tawarnya seraya menggenggam lengan kanan suaminya dengan tangan kanannya. Pikiran liarnya kembali bangkit menggelitik hasrat dalam hatinya, ketika jemari tangan kiri Fredian menelusup pada celah-celah bajunya.


"Akkkkhhhh.. aaahhh, kamu nakal sekali." Desahnya saat jemari tangannya memilin, memainkan ujung bongkahan kenyal dadanya. Membuatnya mencuat, dan mengeras menunggu permainan lidahnya.


Fredian sudah tidak sabar lagi ingin membenamkan wajahnya pada daging kenyal miliknya yang kini keduanya berada pada genggaman tangannya.


"Freeedd... mmmhhhh, akkkhhh..." Irna mendesah seraya menikmati bibirnya dalam pagutan bibir Fredian. Sementara kedua tangan suaminya masih sibuk memilin kedua bola daging yang telah mencuat keluar dari baju kimono miliknya.


Fredian masih berada di belakang punggungnya, kemudian ia mengangkat sebelah kaki Irna, meletakkan di sofa, untuk membuka belahan pahanya. Tangannya beralih memilin daging kecil yang tersembunyi di sana. Membuat Irna merintih merajuk padanya. "Akkkkhhhhh, freeedd.. aah... mmmhhhh.." Irna merasakan cairan hangat mulai membasahi pangkal pahanya. Hingga permainan jemari Fredian menimbulkan suara berdecak-decak. Irna membuka semakin lebar pahanya. Gadis itu sangat menikmati permainan Fredian.


Suhu tubuhnya semakin meningkat, deru nafas Fredian juga semakin tidak beraturan. "Freddd.. akkkhhh.. aku tidak tahan sayang..." Desisnya pada telinga suaminya, Fredian begitu menikmati suara decakan-decakan basah pada belahan sensitifnya karena permainan jarinya, baginya itu adalah melodi yang wajib dia dengar lama-lama sebelum mulai permainannya.


Ditambah desahan rintihan Irna, yang sejak awal merajuk memintanya untuk segera memulainya membuatnya semakin menggila memainkan jemarinya pada area sensitifnya, sampai gadis itu memekik, meremas lengannya karena sudah tidak tahan lagi.


"Fredddd.. akkhh..... auuuuhh.. ngghhhh.. ayolah.. aku menginginkannya.. aahkkkh.."


Irna menarik tali kimono milik Fredian menampilkan dadanya hingga seluruh bagian tubuhnya, senjatanya telah mencuat bersiap menerobos miliknya yang sudah basah sejak tadi.


Irna membelainya dengan lembut, permainan lidah Irna hinggap di sana. Membuat pria itu mendesis, mendesah karena ulahnya. Fredian tidak tahan di buatnya.


Pria itu segera mendorong tubuh Irna untuk memunggunginya, memulai permainannya dari belakang punggungnya.


"Akkkkhhhh! akkkkh!! ahhhh!! mmhhh!" Irna mendesah setiap kali hujaman bertubi-tubi menelusup ke dalam area sensitifnya. Tubuhnya terguncaang hebat akibat permainan suaminya. Ciuman lembut bibir Fredian menyapa seluruh punggung mulusnya. Irna meremas-remas sandaran sofa di depannya. Seraya menggigit bibir bawahnya, menahan tusukan-tusukan dan hentakan permainan Fredian.


Jemari tangan kanan Fredian, kembali bermain memilin-milin daging kecil di area sensitifnya bagian depan, "aakkkhh, freeedd, akkhhh kamu curang...akkhh ahhh!" Pekik Irna karena Fredian masih terus melaju menambah kecepatan tinggi. Lebih cepat dari sebelumnya.


Irna sudah tidak bisa menahannya lebih lama lagi, kepalanya mendongak ke atas meraih klimaks. Fredian masih terus menghujam tanpa henti, membuat Irna memohon untuk segera mengakhiri permainannya.


"Fredd... akkkhhh.. lama sekali...."


"Baru dua jam sayang..." Bisiknya lirih masih tetap mendayung.


"Fred, akhiri sekarang sayang, kakiku tidak bisa berdiri lagi...akkkhh, aahh! ahhh!" Memukul kepala Fredian, pria itu menciumi pipinya, belum ingin mengakhiri permainannya.


"Freeedddd!" Irna berteriak kencang sekali, karena Fredian tidak mau mendengarkan ucapannya.


"Apa sayang..." Jawabnya lembut sekali, terlalu lembut. Sedangkan permainannya semakin cepat mengguncang-guncang tubuh Irna ke depan sampai kelelahan.


"Ampuni aku.. fredd... akkhhh, cepat akhiri ini.. kamu membuatku takut pulang ke rumah... akkkhhh.. ahhh..mmmhhh..." Kembali memekik karena Fredian memilin-milin daging kecil di belahan sensitifnya.


"Coba bilang sekali lagi? kalau kamu tidak akan pulang... hemmm..." Memilin lebih cepat, melajukan lebih kencang menghentak-hentak tubuh rampingnya.


"Akkkhh, akkkhhh, aduuhh.. akkkhh tidak, aku pasti pulang.. akkhh.. fredd... akkhhh.. adduhh... freddd akkhhh.. kamu benar-benar menghukumku...akkhh ampun..." Pekik Irna lagi karena Fredian semakin menggila mengerjainya.


"Fredd, ini mau sampai kapan kita begini? sudah hampir pukul tiga pagi..." Desah Irna yang kini tengah berubah posisi menjadi telentang setengah duduk di sofa. Fredian masih memilin miliknya dengan ibu jarinya, sambil memainkan ritme pelan dan lembut, membuat Irna menggigit bibir bawahnya.


"Aku masih menginginkannya.. karena kamu bilang tidak akan pulang ke rumah! aku akan membuatmu terus berada di rumah besok.." Melajukan lagi, "Akkkhhh! fredd..ampunnn.. akhh.. aku pasti pulang.. mmmhhh.." Fredian memagut bibirnya, menghentikan teriakannya.


Irna membuka pahanya lebar-lebar menikmati hujaman bertubi-tubi dari Fredian. Gesekan kulit senjata milik pria itu begitu menggelitik area sensitifnya. Membuatnya terus menikmati setiap tikaman, dan membuatnya terus ingin mendesah tak tertahankan.


"Irnaaaa akkkhhhh....bruuuk!" Tubuhnya terjatuh di atas tubuh Irna, Irna melirik jam di dinding. Pukul lima pagi, hampir pingsan Irna di hajar habis-habisan olehnya.


"Fredian.. tubuhku lemas sekali, aku ingin tinggal di rumah hari ini. Kamu hubungi Rian untukku." Ujarnya seraya mengusap lembut pipi suaminya yang berada di atas dada kenyalnya.


"Hemm.." Bisiknya lirih masih enggan bangun dari posisi tidurnya.


"Freddd, tubuhmu berat sekali. Bangunlah dan angkat tubuhku ke kamar sekarang, sepertinya aku tidak bisa menggunakan lututku untuk berjalan." Pintanya lagi sambil memukuli punggung suaminya. Setelah memakai kembali bajunya.

__ADS_1


Fredian tersenyum mendengarnya, dia kemudian mengangkat tubuhnya membawanya ke dalam kamarnya, merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya. Saat pria itu beranjak pergi Irna menahan pergelangan tangannya. "Kamu mau kemana?" Irna merajuk karena tidak bisa berjalan sendiri.


"Aku akan meminta pelayan membuatkan sarapan untukmu." Memencet ujung hidungnya dengan wajah gemas.


"Kamu tidak akan meninggalkanku sendirian kan? aku tidak ingin kamu menemui Karin di kantor!" Rajuknya lagi sambil memeluk erat lengannya.


"Irna, aku ada meeting nanti pukul sembilan di restoran Cetyse dengan klien Australia." Berkata lembut sambil kembali duduk di tepi tempat tidurnya.


"Kamu bahkan tidak tidur semalaman Fred, kamu tidak mengantuk sama sekali? atau lelah sedikit saja?" Bicara seraya menunjukkan ujung kukunya di depan wajah Fredian. Berharap pria itu sedikit kelelahan sedikit saja.


"Tidak sama sekali." Ujarnya sambil tersenyum lalu mendekatkan wajahnya hendak mencium bibirnya.


"Tut! tunggu! aku tidak bermaksud memancingmu lagi, aku hanya..mmmmmhhh!" Irna memukuli bahunya dengan kesal, karena pria itu sudah menyumbat bibirnya hingga tidak bisa mengeluarkan kata-kata sama sekali.


"mmmhh.." Fredian melepaskan pagutan bibirnya.


Pria itu tersenyum sambil menopang dagunya dengan kedua tangannya, berbaring di sebelahnya. "Bagaimana mungkin wajahnya tetap setampan ini, ketika semalaman tidak istirahat sama sekali?" Keceplosan bicara, kemudian buru-buru menutupi wajahnya dengan selimut. Merasa sangat malu sekali.


"Irna...?" Panggilnya seraya menahan tawa menatap wajah Irna.


"Apa kamu berniat sembunyi dariku? sampai kapan?" Menarik selimut yang menutupi wajahnya dengan perlahan.


Irna bangkit kemudian meletakkan kepalanya di pangkuannya, menyembunyikan wajahnya di pinggang Fredian.


"Kamu kenapa sih?" Tanyanya, sambil membelai rambut Irna dengan lembut.


"Aku malu sekali.." Merajuk memeluk pinggangnya dengan erat sekali.


"Aku akan meminta pelayan untuk menyiapkan sarapan, kamu tunggu sebentar di sini oke?" Bisiknya di telinga Irna.


Irna mengangguk kecil, kemudian bangkit duduk. Fredian melangkah keluar dari dalam kamar menuju ke dapur untuk membuatkan menu makanan kesukaan Irna.


Irna berusaha turun dari tempat tidurnya, merangkak perlahan, berpegangan pada tepi tempat tidurnya, tubuhnya terasa remuk redam.


"Bagaimana mungkin dia bisa semalaman penuh, tanpa istirahat sama sekali. Ketahanan tubuhnya benar-benar luar biasa... bruuuk! akhh! lututku!" Pekik Irna sambil berusaha bangkit berdiri.


Irna masuk ke dalam kamar mandi melepaskan kimono tidurnya, kemudian memasukkan satu kakinya ke dalam bath up berisi air hangat. Merebahkan tubuhnya, "Akkhhh nyamannya..." Memejamkan matanya merasakan kehangatan air di dalam bath up.


"Akkh! astaga kamu menakutiku!" Irna terkejut mencekal erat tangan Fredian, yang hinggap meremas lembut gundukan kenyal dadanya.


"Kamu su.. dah menyiapkan sarapannya.." Suara Irna kembali terdengar parau, karena Fredian semakin lembut meremasnya, Irna menggigit bibir bawahnya merasakan permainan Fredian.


Pria itu melepas bajunya, ikut masuk ke dalam bath up. Bermain slow di dalam bak mandi. Paha Irna dibukanya lebar-lebar ke tepi bath up, yang kemudian melilit di belakang punggungnya merasakan hentakan lembut ayunan permainan Fredian.


"Fred.."


"Hemmm.." Sibuk menciumi lehernya.


"Akkkhhh... ngghhhh.." Kembali mendesah merasakan gigitan kecil pada lehernya.


"Kamu akan terlambat ke kantor pagi ini.." Bisik Irna pada telinganya, meremas-remas lengannya karena Fredian menambah kecepatan lagi. Sepertinya dia tidak senang Irna mengatakan hal itu.


"Kamu berani mengusirku?" Bisiknya melajukan semakin cepat menghentak-hentak hingga air dalam bath up tinggal setengah bak, karena berhamburan kemana-mana.


"Akkkhhhh! fredddd... ahhhh... aaakkkhh!" Irna memekik meremas punggungnya.


"Freddd, kamu ingin membunuhku... akkhhh ahhh.. ahhh.." Tangan Fredian benar-benar tidak mau berhenti, terus memilin menggelitik ujung benjolan kecil miliknya membuatnya megap-megap kesulitan mengatur nafasnya.


"Kamu begitu menikmatinya, bagaimana mungkin ini disebut pembunuhan sayang..." Desisnya di telinganya.


"Fred, berhenti mempermainkanku, akh.. akh..akkhhhhhhh.. aku tidak tahan lagi... akkhhh!" Memekik melepaskan klimaks, meremas kepala Fredian di atas dadanya.


"Sudah cukup, akhh cepat selesaikan..ngghhh." Fredian kali ini menurutinya menyelesaikannya. Setelah itu dia bangkit mengambil handuk membalut tubuhnya, kemudian membalut tubuh Irna. Membawanya ke dalam kamar.

__ADS_1


"Kamu ingin memakai baju yang mana?" Tanyanya pada Irna seraya memilih gaun dari dalam lemari.


"Yang biru tua." Ujarnya sambil tersenyum.


Fredian menyerahkan gaunnya, kemudian memilih sepasang pakaian dalam untuknya dengan warna senada.


Irna memakainya satu persatu, Fredian masih terus menatap ke arahnya. Irna mengerjapkan matanya, merasa sedikit canggung memperlihatkan lekuk tubuhnya di balutan pakaian dalam miliknya.


"Kenapa kamu tidak memakai bajumu, sampai kapan akan terus menatapku seperti itu!?" Mulai cemberut, dan memunggunginya kemudian memakai gaunnya.


"Kenapa aku tidak boleh melihat istriku sendiri?" Melangkah mendekat.


"Sial! apa aku membuatnya marah lagi? berapa lama dia akan melakukannya lagi?!!! rasanya sedikit pedih! jika dia melakukannya sekali lagi aku bakal pingsan!" Gumam Irna pada dirinya sendiri.


Irna melangkah tertatih-tatih mengambilkan pakaian untuknya, dia ingin Fredian segera memakai bajunya agar tidak melakukannya lagi.


Fredian sudah memeluk pinggangnya dari belakang punggungnya sambil mendaratkan ciuman di pipinya.


Irna berbalik dan memakaikan baju lengan panjang warna hitam miliknya, kemudian memilih dasi.


Fredian membetulkan letak celananya, Irna menghela nafas lega melihatnya memakai pakaian lengkap.


"Kenapa kamu terlihat bahagia aku memakai semua bajuku, kamu lucu sekali, hahhahaha!" Terpingkal-pingkal melihat wajah Irna memerah.


"Apa kamu pikir aku tidak bisa melakukannya dengan pakaian lengkap begini?" Mengangkat kedua alisnya menggoda Irna. Irna kembali teringat permainan panas mereka berdua di restoran Resort kemarin siang.


"Hahaha? apa aku terlihat sangat bahagia? aku biasa saja. Cepat angkat tubuhku ke meja makan!" Mulai menghardik karena Fredian menertawakannya.


Fredian terdiam seketika, melihat Irna sedikit membentaknya nyalinya tiba-tiba saja menciut. Dia adalah raja di atas ranjang, tapi begitu melihat wajah marah Irna, tetap saja tidak bisa berbuat apa-apa.


Mereka menikmati sarapan pagi sekitar pukul tujuh. "Aku akan berangkat ke kantor, kamu yakin tetap tinggal di rumah?" Tanyanya lagi sambil mengusap sudut bibir Irna.


"Aku ingin pergi ke rumah sakit."


"Aku kira kamu tidak bisa berdiri, apa aku kurang lama bermain?" Menyeringai lebar menatap wajah Irna.


"Bermain?! bermain?!" Irna mengepalkan tangan kanannya mengancungkan ke depan Fredian dengan wajah geram.


"Ini tidak adil! aku ratu Vertos kenapa tidak bisa lebih kuat darimu? juga cincin pelepas jiwa yang masih berada di jariku! sepertinya tidak berfungsi sama sekali untuk menambah kekuatan." Gerutunya karena selalu berhasil di acak-acak Fredian berulang kali.


Fredian hanya tersenyum, pura-pura tidak mendengar suara apapun.


"Fredian!"


"Akh! Irna! hentikan! akh!" Pekiknya karena Irna memelintir pinggangnya.


Irna berhenti ketika Fredian mencekal kedua tangannya. "Cup!" Mendaratkan ciuman di keningnya kemudian turun di hidungnya, lalu ke bibirnya.


Pria itu tersenyum lembut menatap wajah cemberutnya. "Kamu ingin ke rumah sakit?" Desisnya seraya meraba pahanya kembali.


"Tidak! tidak!" Irna buru-buru meralat ucapannya kembali.


"Lalu aku akan pergi untuk meeting, baik-baik di rumah sayangku..." Mencium lembut pipinya lalu beranjak berdiri, meninggalkan Irna sendirian di meja makan.


"Aku akan pulang setelah meeting, jika sampai aku tidak mendapatimu berada di rumah. Awas saja!" Berdiri di ambang pintu samping, sambil menatap tajam ke arah Irna.


"Hehehe! aku tidak akan kemana-mana, jangan khawatir!" Serunya secepat mungkin menyahut ucapan Fredian. Jika tidak bisa-bisa dia membatalkan meetingnya.


Irna menatap kepergian suaminya, gadis itu melambaikan tangannya. "Apa yang bisa aku lakukan di rumah? membosankan sekali sendirian di sini."


Irna duduk di bangku ayunan yang berada di tengah taman, ada banyak kupu-kupu berterbangan di sana. Dia ingat seorang pria masih berusia tujuh tahun, dia mendorong ayunannya sampai membumbung tinggi sekali.


Irna tertawa-tawa bersamanya, Irna kemudian mendesah menghela nafas berat. Siapa sangka masa itu adalah saat dirinya bersama dengan Wilson. Vampir kejam yang hampir merenggut nyawanya karena mendapatkan penolakan darinya.

__ADS_1


*Bersambung....


Jangan lupa like+ faforit+ vote ya \=\=\=> thanks for reading. 😍😍😘😘😘❤️❤️❤️*


__ADS_2