
"Kamu mau kemana?" Fredian mencekal lengannya dengan kuat. Matanya menatap tajam ke arah Rian.
"Ke ruangan kerjaku, kemana lagi memangnya?" Sahutnya tanpa ekspresi apapun.
"Kamu belum menjawab pertanyaan dariku!" Sergahnya pada Rian, dia menahan lengannya di lobby rumah sakit. Rian melihat karyawan berlalu-lalang sedang melihat ke arahnya.
Mereka berdua kini menjadi pusat perhatian seluruh karyawan rumah sakitnya.
"Ikut aku," Rian menariknya agar mengikutinya menuju ke ruangan kerjanya. Rian tidak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh pria itu.
Selain Irna tidak ada yang akan membuatnya sekesal sekarang. Rian membukakan pintu, menyuruhnya masuk ke dalam ruangan kerjanya.
"Apa yang ingin kamu tanyakan?" Ujarnya sambil menghenyakkan tubuhnya di atas sofa.
"Jawab saja pertanyaanku yang tadi!" Fredian masih terlihat begitu murung. Dia sama sekali tidak bersemangat, begitu muram sekali wajahnya. Dia berjalan mondar-mandir dengan gusar.
"Kencan?" Rian mengulang pertanyaan Fredian sambil tersenyum.
Melihat Fredian segera menoleh ke arahnya, dia tahu pria itu sedang mencurigainya.
"Iya, aku kencan sepanjang malam di laboratorium." Jelasnya pada Fredian.
"Irna?" Tanya Fredian padanya.
"Apa kamu pikir aku bersamanya sepanjang malam?" Kini Rian mengernyitkan keningnya, dia melihat mereka berdua bersama saat dia pergi meninggalkan Resort miliknya.
Jadi tidak mungkin Irna berada di sisinya, dia tahu Irna bisa berpindah tempat dalam sekejap mata. Tapi bukan untuk membelah diri seperti amoeba, berada di dua tempat sekaligus dalam waktu yang sama.
"Dia tidak bersamamu? Maksudku pagi ini." Fredian akhirnya melontarkan pertanyaan itu.
"Tidak, aku belum melihatnya lagi sejak kemarin sore." Jelasnya pada Fredian.
__ADS_1
"Apa kamu membuatnya pergi?! Jangan bodoh! Dia terancam bahaya sekarang! Gunakan otakmu! Apa kamu pikir aku gila??! Apa kamu pikir aku diam-diam merebutnya darimu??! Kamu lupa aku menolaknya saat kamu memintaku lagi, saat dia tengah hidup dan mati kemarin!?" Rian kali ini berdiri dari tempat duduknya. Pria itu memegangi kedua bahu Fredian.
Dia sama sekali tidak percaya jika Fredian membuat Irna pergi hanya dalam waktu semalam.
"Apa sebenarnya yang kamu pikirkan!?" Rian mencengkeram erat kedua bahu sahabatnya itu. Dia bahkan kehabisan kata-kata untuk menjelaskan bahwa mereka berdua tidak memiliki hubungan apapun lagi.
"Dia merelakan dirinya untukmu! Dia mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkan dirimu! Apakah dia tidak berpikir bagaimana denganku jika dia benar-benar pergi!? Apakah dia tidak pernah berpikir bagaimana dengan perasaanku! Melihatnya mati demi pria lain?!"
Mendengar ucapan Fredian, Rian melangkah mundur tubuhnya terasa tidak bertulang, dia tidak bisa mengucapkan kata-kata apapun.
"Satu hal yang kamu lupa Fred. Kami selalu bersama-sama, aku malah merasa sakit kamu menyatakan bahwa diriku adalah pria lain! Aku bukan pria lain bagi Kaila.. baginya aku adalah keluarga." Rian tersenyum getir, dia tahu dirinya bukanlah siapa-siapa lagi bagi Irna.
"Ternyata kamu berpikir dia melakukannya karena mencintaiku? Jika aku mau aku akan merebutnya darimu! Untuk apa aku mengembalikannya pada pria bodoh yang terus meragukannya!" Rian menopang tubuhnya dengan kedua tangannya pada ambang jendela.
Pria itu melelehkan air matanya, dia menyembunyikan kesedihannya di belakang Fredian.
"Tapi teriakannya membuat hatiku sakit! Dia pagi ini mengakuinya! Dia mengakui perasaannya!" Sergah Fredian lagi.
"Dia menangis, lalu pergi. Dan aku pikir dia datang padamu."
"Dasar bodoh! Dia jelas-jelas marah karena kamu menuduhnya. Kamu pikir kenapa dia berada di sisimu? Apa demi menyimpan cintanya untukku? Untuk apa dia menyimpan perasaan pada orang lain, sedangkan dia terus berada dalam pelukanmu?"
Rian terus berusaha membuat pikiran laki-laki itu kembali jernih. Agar dia tidak berprasangka kepada Irna. Rian ingin Fredian berbaikan kembali dengan Irna.
Sampai kapanpun dia sejak awal sudah tahu bahwa Irna tidak pernah berpaling sekalipun untuk menaruh hati pada dirinya. Oleh karenanya Rian terus berusaha agar fredian tidak salah paham terhadap dirinya seperti sekarang.
Fredian terdiam mendengar penjelasan darinya. Dia mencoba mencerna apa yang telah diucapkan oleh sahabat karibnya tersebut. Dia merasa semua yang diucapkan olehnya adalah benar.
Tapi dia juga merasa kesal karena Irna tidak menampik semua yang dia tuduhkan padanya. Tapi malah pergi dan mengiyakan segala tuduhan darinya.
Fredian tidak habis pikir, jika Irna sungguh tidak ingin menjelaskan semua yang telah terjadi pada dirinya, hingga membuat dia berpikir bahwa dia masih memiliki perasaan kepada Rian.
__ADS_1
Karena bagi Irna segalanya sudah sangat jelas, seharusnya tanpa dia mengatakan kalau dia tidak mencintai Rian, Fredian sudah mengetahuinya.
Seharusnya dia sudah tahu karena Irna telah memilihnya. tidak mungkin dia bersamanya sekarang ketika menaruh hati kepada pria lain selain dirinya.
Pikiran Fredian saat itu sudah buntu karena melihat Irna berteriak histeris demi menyelamatkan nyawa Rian. Dia tidak berpikir jika Irna akan melakukan hal yang sama ketika itu menimpa dirinya.
"Lalu aku harus bagaimana sekarang?" Tanyanya pada Rian.
"Bagaimana aku tahu? aku sendiri tidak berbicara sepatah katapun dengannya, sejak kembali kemarin sore dari hotel." Ujarnya gamblang.
"Dia pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun padaku, Gadis itu pasti sangat sedih karena aku telah menuduhnya kembali memiliki hubungan denganmu."
Ungkap Fredian pada Rian dia berharap itu memiliki penyelesaian dan bisa menemukan keberadaan Irna sekarang.
Rian berpikir keras untuk menemukan keberadaan Irna. Dia tidak tahu kemana Irna akan pergi ketika sedang merasa tidak nyaman, karena sudah lama sekali mereka tidak pernah bersama-sama lagi.
Jika dahulu dia pasti berpikir Irna akan pergi ke rumah lamanya. Tapi sekarang rumah tersebut sudah dijual bertahun-tahun lamanya.
"Mungkin dia pergi ke Belanda?" Ujar Rian dengan sungguh-sungguh. Dia begitu khawatir takut terjadi sesuatu jika Irna benar-benar telah pergi ke sana.
"Tidak mungkin! Dia tidak mungkin pergi ke sana kan sekarang?" Fredian seakan tercekat mendengar pernyataan tersebut dari sahabat karibnya itu. Dia tidak bisa berpikir jernih jika sampai terjadi sesuatu pada Irna akibat ulah kecurigaan dari dirinya.
Pria itu sekarang sangat menyesal akibat ulahnya, dia merasa tertipu dengan perasaan dirinya sendiri. Tidak pernah berpikir jika Irna selalu bertahan di sisi-nya karena dialah yang dicintai oleh gadis itu.
Sekarang nasi sudah menjadi bubur, Irna yang sudah pergi meninggalkannya. Satu-satunya harapan adalah gadis itu selamat dari penyerangan monster yang sempat ingin merenggut nyawanya.
"Kita berdua harus menyusulnya!" Sergah Rian tiba-tiba sambil menjinjing tas-nya keluar dari ruangan kerjanya.
"Bagaimana jika dia tidak berada di sana?" Sahut Fredian untuk menghentikan langkah Rian agar tidak terburu-buru pergi.
Bersambung...
__ADS_1
Tinggalkan like sebelum pergi, jangan lupa vote juga ya, untuk dukung author terus berkarya? I love you Readers...❤️❤️