
"Kamu tetap ingin bersama wanita ingusan itu?! Aku tebak dia hanya pemain pasif di atas ranjang-mu!" Ejek Laura sambil menyentuh pipi Royd Carney dengan telapak tangan kanannya.
Kania berdiri di ujung lorong apartemen, gadis itu melihat mereka sedang berdiri berdua di depan pintu kamarnya. Dia berpikir wanita itu sedang berciuman dengan Royd.
"Secepat itukah? Ya, itu lebih baik Royd!" Kania ingin mengambil beberapa barang miliknya yang tertinggal di dalam kamarnya. Dia tidak tahu jika wanita yang dibawa oleh tuan Carney secepat itu menempati apartemen miliknya.
Bahkan mereka tidak memberikan kesempatan padanya untuk mengambil barang-barang miliknya yang masih tertinggal di sana.
"Ternyata begini rasanya sakit hati itu?" Gadis itu tersenyum lalu melangkah pergi meninggalkan apartemen miliknya begitu saja.
"Selamat tinggal Royd Carney! Selamat jalan cintaku." Gadis itu masih tetap menyunggingkan senyuman, dia tidak ingin menangis ataupun meratapi nasib sialnya. Dia masih berharap kalau Royd akan tetap hidup dan baik-baik saja tanpa terluka.
Laura melihat kepergian Kania, wanita itu tersenyum penuh kemenangan. Segera melepaskan kedua pipi Royd Carney. Lalu melangkah pergi meninggalkannya sendiri di sana.
Wanita itu ingin menyusul Kania yang masih berada di parkiran apartemen tersebut. Dan benar dia menemukannya. Gadis itu belum menyalakan mesin mobilnya masih terdiam di belakang kemudi. Memikirkan kejadian yang barusan terjadi menimpa dirinya dan juga kekasihnya.
"Harusnya aku bahagia melihat dia bahagia tapi kenapa rasanya malah sakit begini?" Gumam Kania pada dirinya sendiri.
"Astaga apa yang sedang aku pikirkan sekarang? Aku tidak mungkin kembali padanya atau merengek mengajaknya berlari dari kenyataan yang harus kami hadapi sekarang!!"
"Tok! Tok! Tok!" Terdengar suara kaca mobilnya diketuk dari luar. Atur segera menurunkan kaca jendela mobilnya.
"Apa?" Tanyanya pada Laura yang sedang berada di luar pintu mobilnya.
"Kamu sudah lihat sendiri kan bagaimana Royd mencintaiku?" Ucapnya, dia ingin menambah rasa yakin pada hati Kania agar gadis itu segera menyingkir dari pria yang dia inginkan.
"Untuk apa kamu mengucapkan itu kepadaku? Apa kamu merasa tidak yakin bisa mendapatkan hatinya!" Ejek Kania dengan nada jujur.
__ADS_1
Kania segera menaikkan kaca mobilnya kembali, dan berlalu dari parkiran tersebut. Laura terlihat sangat kesal sekali mendengar ucapan terakhir gadis itu. Sindirannya begitu terasa menghina dirinya.
"Awas kamu gadis ingusan! Berani-beraninya bicara seperti itu padaku!" Gerutunya dengan kesal kembali masuk ke dalam ruangan apartemen.
Tepat didepan pintu parkiran tersebut Royd Carney sudah berdiri di sana menunggu kedatangannya.
"Royd sayang? Kenapa kamu tiba-tiba berdiri di sini?" Tanyanya dengan nada merayu, dia ingin cintanya segera disambut olehnya.
Pria itu berdiri di sana karena tadi baru saja dia mendengar sinyal keberadaan vampire di apartemen tersebut.
Dia pikir itu Kania, melihat dari mobilnya yang baru saja berlalu dari lokasi parkiran tersebut dia tidak salah lagi! Kania benar-benar barusan dari sana.
Dan beberapa saat yang lalu dia juga melihat Laura sedang berbicara dengannya. Dia pikir wanita di depannya itu sedang menyusun beberapa skenario untuk menyingkirkan Kania dari sisinya.
Royd masih menyelidiki kebenaran dugaannya tentang hal tersebut. Dia tidak ingin menuduh Laura hingga menyebabkan masalah antara dirinya dengan keluarga besar Carney.
karena setahu dia hanya wanita itulah satu-satunya yang mendapatkan kepercayaan oleh ayahnya. Laura adalah salah satu pemegang saham 20% dari perusahaan yang dikelola oleh ayahnya. Kemajuan dan kemunduran perusahaan keluarga Carney juga tergantung pada gadis di depannya itu.
Demi keluarganya dia tidak pernah menolak kelembutan Laura. Dan tetap menganggapnya sebagai teman.
"Royd kenapa kamu terus menerus melamun?" Tanya gadis itu karena tak mendapatkan sambutan hangat dari pria yang dia inginkan. Royd sepanjang waktu hanya melamun memikirkan Kania. Mungkin raganya bersama Laura sekarang tapi tidak hatinya.
Kania sudah pindah, dia memilih tinggal di sebuah rumah yang tak jauh dari rumah Mira. Dengan begitu mereka bisa bersama-sama untuk pergi ke kampus.
"Sriiing!" Tiba-tiba ada sebuah bayangan hitam berkelebat di belakang punggungnya. Kania langsung menoleh ke belakang, tapi tidak ada siapa-siapa di sana.
Rumah berukuran tujuh meter, berlantai dua. Dinding kaca gelap, hingga cahaya matahari tidak mampu menerobos masuk ke dalam ruangan.
__ADS_1
Harga yang dibayarkan olehnya untuk membeli rumah tersebut terbilang murah, karena sudah sekitar lima tahun rumah tersebut tidak dihuni oleh manusia. Bahkan Mira juga melarang gadis itu agar tidak tinggal di sana.
Mira bilang rumah itu adalah rumah hantu, tiap malam terlihat seorang memakai pakaian serba hitam naik ke atas di lantai dua.
Dan sore ini waktu sudah mulai senja, kira-kira orang tersebut muncul saat senja berakhir. Hanya tempat itu yang bisa ditempati oleh dirinya pada saat ini. Selain dekat dengan rumah Mira, juga sangat dia inginkan untuk tinggal sekarang, rumah tersebut akan dia jadikan sebagai kastil. Tempat yang aman untuk dia bersembunyi.
Tapi melihat bayang-bayang barusan sepertinya dugaan Mira tidak salah. Rumah tersebut sepertinya memang berpenghuni tapi tidak tahu siapa yang menghuninya selamanya ini.
Kania sempat merasa desiran udara dingin menerpa kulitnya tubuhnya. "Apa ini kenapa aku tiba-tiba menggigil?" Gadis itu mengusap tengkuknya yang telah meremang sekarang.
"Hantu? Aku juga bukan manusia! Kenapa harus takut dengan hantu? yang benar saja?" Gadis itu menggelengkan kepalanya dan kembali berbenah membersihkan beberapa ruangan. Awalnya dia sudah meminta beberapa orang untuk membantu membersihkan rumah tersebut.
Tapi ternyata mereka semua menolak dengan alasan rumah tersebut adalah rumah hantu. beberapa orang pernah mencoba menempatinya sebelum dirinya tapi tidak pernah bertahan lebih dari 1 bulan.
Berapa orang yang dimintainya untuk bekerja membersihkan rumah itu langsung menolak walaupun dia menawarkan imbalan gaji yang besar.
Mira teman sebangkunya juga tidak berani masuk ke dalam rumah itu, dan uang yang dibayarkan Kania hanya melalui daftar rekening yang tertera di depan rumah, untuk membeli rumah itu. Pemilik rumah juga tidak berniat untuk menemui dirinya sama sekali.
Hanya sekali saja Kania menghubungi pemilik rumah tersebut untuk membuat kesepakatan bahwa dirinya ingin membeli rumah itu. tanpa tawar-menawar pemilik rumah tersebut langsung mengiyakan permintaannya dan juga harga yang diminta oleh Kania.
Kania sendiri sempat heran, pemilik Rumah tersebut dirasanya sangat misterius bagi gadis itu. Langsung menyetujui permintaannya ketika ingin membeli rumahnya.
Kan dia pikir rumah itu akan sangat kotor sekali karena sudah 5 tahun tidak ditempati seorang manusiapun. Tapi dugaannya sangat salah, rumah tersebut sangat indah nyaman dan tertata rapi selain itu semua sprei dan kaca terlihat mengkilap seperti sudah dibersihkan oleh pemiliknya.
Jadi dia hanya membereskan pakaiannya masukkan ke dalam lemari di dalam kamar yang ada di lantai atas.
Bersambung...
__ADS_1
like woi! like ! woi woi! like.. thank you Readers...