Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
I Miss you


__ADS_3

"Kemana perginya Irna? astaga! aku tidak akan membiarkan diriku kehilangan dia untuk kesekian kalinya..." Fredian mengusap wajahnya dengan putus asa.


Malam itu Juan masih berada di atap gedung kantor Irna. Dia berada di sana bersama lima orang pegawai.


Dari atas dia melihat seorang gadis keluar dari gedung, dia mirip dengan Irna. Juan segera turun dan mengikutinya.


Mobil gadis itu menuju ke arah gudang di tengah hutan.


Tanpa curiga seseorang mengikutinya dari belakang gadis itu langsung masuk ke dalam.


Juan mengendap-endap, dia bermaksud ingin mengejutkan Irna.


Dan dia mengintip ke dalam gudang melalui celah di dinding. Irna dengan tangan dan kaki terikat duduk di lantai.


"Astaga bukannya itu nona cantik?! Dia di sekap di sini? lalu wanita tadi siapa?"


"Plaaaakkkk!"


Juan kembali mencermati wajah wanita yang menampar Irna, dan mengangkat dagu Irna.


"Apa hanya ini yang bisa kamu lakukan? kamu adalah wanita yang sangat menjijikkan!" Ujar Irna tersenyum sinis menatap Jesy.


"Heh kamu sebaiknya menjaga mulutmu! kalau kamu bosan hidup aku bisa mengakhiri hidupmu sekarang juga!" Ujar Jesy mengoleskan ujung pisau tajam di wajah Irna.


"Huh! kamu pikir aku takut dengan ancamanmu? kamu bukanlah apa-apa!" Ujar Irna lagi tanpa rasa takut sama sekali.


"Wanita itu mirip dengan Irna, tapi dia bukan Irna!" Ujar Juan kembali.


Di belakang Jesy ada empat pria yang bertubuh besar.


Juan ingin menghubungi polisi tapi tiba-tiba ponselnya berdering membuat preman yang sedang menjaga mengetahui keberadaan dirinya.


"Ah sialan! ponselku!" Umpat pria itu kesal.


Dan pada akhirnya dia ikut tertangkap.


Melihat preman itu membawa Juan masuk ke dalam Irna mendelik ke arahnya.


"Dasar pria merepotkan! ngapain dia ikut-ikutan kemari? apa dia sudah bosan hidup!" Gerutu Irna melihat Juan diikat tepat di sebelahnya.


"Aku akan membuat petisi dengan suamimu! Jika dia mau menukarkan pernikahan kalian, aku akan membebaskan dirimu!"


"Tentu dia akan memilih menyelamatkan gadis yang sangat dicintainya! dan aku akan menggantikan tempatnya!" Jesy kembali tersenyum puas, mengarahkan pisau di leher Irna.


"Ha ha ha ha!!" Irna tertawa terbahak-bahak membuat Jesy dan para preman itu terkejut.


"Apa kamu begitu putus asa, karena akan kehilangan suamimu?!" Bentak Jesy pada Irna.


"Kalian jangan biarkan wanita ini melarikan diri atau aku akan menukarnya dengan nyawa kalian!" Perintah Jesy lalu meninggalkan Irna dan Juan.


Setelah gadis itu pergi Irna mencoba beringsut mencoba mencari sesuatu untuk membebaskan dirinya.


Juan hanya terus menerus tersenyum melihat Irna di sebelahnya.


"Heh apa kamu sudah tidak waras?! ngapain ikut-ikutan kemari?!" Bisik Irna melihat Juan terus menatap wajah Irna dengan bibir tersenyum.


"Aku merasa sangat senang di sini karena kita duduk sangat dekat!" Juan menyandarkan kepalanya di bahu Irna.


"Dasar bodoh! kamu tidak mendengar aku sudah menikah??" Tanya Irna pada pria di sebelahnya.


"Walaupun nona cantik sudah menikah tapi aku tidak berniat buruk, aku hanya merasa sangat senang bisa dekat dengan nona cantik yang baik!" Juan sangat bersemangat sambil tersenyum.


"Dasar bodoh!" Gerutu Irna kesal sekali.


Jesy pergi ke Club malam. Menunggu kedatangan Fredian.


"Hai sayang!" Sambut Jesy sambil mengalungkan tangannya di leher Fredian.

__ADS_1


Fredian mencium aroma alkohol dari bibir gadis di depannya.


"Cepat katakan apa maumu?!" Ujar Fredian.


"Kamu ceraikan Irna, dan kita menikah!" Jawab Jesy tanpa rasa malu sama sekali.


Gadis itu berjinjit hendak mencium bibir Fredian, tapi Fredian melengos menjauhkan wajahnya.


"Apa kamu tidak ingin menyelamatkan Irna Damayanti?" Bisik Jesy di telinga Fredian.


Mendengar hal itu Fredian terkejut setengah mati. Dia hampir tidak percaya jika gadis yang memiliki wajah mirip dengan istrinya ini hendak mengambil tempat Irna sebagai istrinya.


"Ternyata tebakan Irna memang benar! dan gadis di depanku sekarang ini sangat licik!" Ujar Fredian dalam hatinya.


"Baiklah aku akan menikah denganmu, lagi pula kamu lebih cantik darinya!" Ujar Fredian mencoba meyakinkan wanita di depannya agar tidak melukai Irna. Fredian dengan sengaja mencium pipi Jesy.


"Aku akan pergi ke toilet sebentar tunggu aku sebentar." Ujar Fredian berbohong dia langsung menuju pintu keluar.


"Triiing!" Fredian menghubungi Rian.


"Ada apa?" Tanya Rian dari seberang.


"Jesy menculik Irna, dia ingin menukar dengan pernikahan kami. Bagaimana menurutmu? bukankah ini konyol sekali? kenapa dia tidak menukarnya denganmu saja! kamu kan pria lajang?!" Ujar Fredian pada Rian.


"Ha ha ha! itu karena kamu tidak bisa bersikap tegas! masa kamu masih melihat gadis yang hanya mirip itu istrimu? aku saja yang hanya sebentar bersamanya bisa langsung membedakan mereka!"


"Gadis itu merasa punya peluang jadi dia meminta dirimu bukan diriku, sejak awal aku sudah menjauh dari Jesy! walaupun wajahnya hampir mirip dengan Irna tapi tindakan gadis itu terlalu ekstrim dan tidak terkendali!" Rian kembali mengusap tengkuknya yang bergidik mengingat tindakan Jesy ketika berada di dalam kantornya.


"Lalu apa yang bisa kita lakukan sekarang?!" Ujar Fredian lagi meminta pendapat Rian.


"Kamu kan punya banyak pengawal, suruh mereka mengikuti gadis itu kemanapun. Nanti juga akan ketemu, atau pasang alat penyadap di ponselnya! kamu bisa membuatnya mabuk dan mengambil ponselnya sebentar. Atau kamu mau aku yang melakukannya, tapi Irna jadi milikku lagi? ha ha ha!" Ujar Rian berkelakar menggoda Fredian.


"Kamu bilang menyukainya tapi malah terus bercanda, kamu tidak takut dia kehilangan nyawanya?!" Bentak Fredian sudah tidak sabar lagi.


"Menurutku kita akan terlambat, dia sudah bisa melarikan diri sebelum kita sampai di sana! kamu tahu Irna beberapa waktu lalu kecelakaan, dan punggungnya terluka!? Itu adalah ulah kakakku! dan kakakku sekarang menjauhi Irna karena dia takut pada istrimu!"


"Bagaimana bisa?" tanya Fredian tidak mengerti.


"Dia sengaja tidak menceritakan hal ini padaku karena tidak ingin aku hawatir padanya." Balas Fredian pada Rian kemudian mengakhiri teleponnya.


Irna mencoba mengambil sesuatu benda yang tak jauh dari tempatnya.


"Kamu ingin selamat atau lebih suka mati?" Tanya Irna pada Juan di sebelahnya.


"Aku ingin tetap melihat nona cantik!" Ujarnya sambil tersenyum.


Irna melihat para preman itu sudah mendengkur di luar ruangan.


"Kamu bawa mobil kan?" Tanya Irna lagi.


Pria itu segera menganggukkan kepalanya.


Irna beringsut mengambil pecahan kaca yang tak jauh dari tempatnya duduk. Gadis itu kemudian menggesekkan pada ikatan tangannya.


Tak lama kemudian tali yang mengikat dirinya putus.


"Kita harus bekerja sama! dan keluar dari sini!" Ujar Irna sambil melepaskan ikatan pada kakinya.


"Di mana kunci mobilmu?!" Tanya Irna pada Juan.


"Di kantongku!" Ujarnya berbisik pada Irna.


Irna kemudian melepaskan ikatan Juan. Gadis itu duduk kembali pura-pura dalam keadaan terikat.


"Pejamkan matamu! kita pura-pura tidur!" Ujar Irna, tanpa menunggu Juan mengikuti Irna memejamkan matanya sambil menyandarkan kepalanya di atas bahu Irna dengan sengaja.


"Dasar pria ini! mengambil kesempatan di dalam kesempitan!" Gerutu Irna sambil berbisik.

__ADS_1


Mendengar Irna menggerutu membuatnya tersenyum.


Irna memijit alarm mobil, hingga menimbulkan suara berisik dari luar. Para preman segera membuka pintu melihat Irna dan Juan tertidur pulas dengan keadaan masih terikat.


Mereka kemudian pergi ke arah suara berasal. Mendengar mereka pergi, Irna segera beranjak berdiri. Hingga menyebabkan kepala Juan terjembab ke lantai.


"Dasar pria merepotkan!" Irna segera menarik tangan Juan berdiri dan mengajaknya berlari keluar. Irna dan Juan mengendap-endap di sekitar semak.


Mereka melihat preman itu sedang kebingungan melihat tidak ada siapapun di sekitar mobilnya Juan.


Lalu preman itu berlari kembali ke dalam gudang melihat Irna dan Juan.


Irna segera membuka pintu mobil masuk di belakang kemudi, Juan mengikutinya duduk di sebelahnya.


"Wah nona cantik benar-benar cerdas!" Ujarnya sambil tersenyum.


Mereka berhasil kabur malam itu. Irna masih bingung harus menuju ke mana. Lalu dia memutuskan untuk pergi ke kediaman lama Fredian ketika merawat dirinya.


Juan mengantarkan Irna ke sana. Irna berfikir di sana banyak pengawal dan pelayan jadi dia tidak akan merasa hawatir.


Fredian sudah menemukan lokasi Irna, dengan melacak nomor panggilan terakhir pada ponsel Jesy.


Sesampainya di sana dia terkejut karena hanya ada para preman dan istrinya sudah tidak ada di sana.


Fredian melihat jejak-jejak tali, yang terputus ada pecahan kaca kecil di sana. Fredian melihat empat tali, dan dia tahu ada satu orang lagi ada di sana, ikut tersekap bersama Irna sebelumnya.


Fredian menangkap seluruh preman, dia membawa sepuluh pengawal ke tempat kejadian.


Fredian menghubungi polisi untuk mengurus sisanya.


"Tebakan Rian benar, Irna sudah pergi sebelum kedatanganku!"


Irna di dalam rumah lama Fredian dengan santai berendam di dalam air hangat menyandarkan kepalanya di dalam bath up.


Fredian masih memutar otaknya, kemana Irna pergi setelah keluar dari tempat tersebut.


"Triiing!"


"Halo iya saya akan segera menuju ke rumah!" Teriaknya sambil tersenyum menerima kabar dari pelayannya di rumah tinggalnya yang lama.


Rumah Fredian terletak di tengah pegunungan, banyak tanaman dan bunga di sana.


Karena Fredian tahu sejak kecil Irna suka sekali melihat kupu-kupu.


Pria itu segera mengemudikan mobilnya ke sana.


Irna sudah selesai mandi, dia memakai baju mandi dengan tali di ikat ke pinggang.


Irna melihat ke dalam cermin, ada bekas lebam di ujung bibirnya karena tamparan keras Jesy.


Gadis itu dengan santai mengeringkan rambutnya yang masih basah lalu berjalan ke dapur membuat secangkir kopi.


Irna menyandarkan kepalanya di sofa ruang tengah, sambil memegang cangkirnya.


Fredian segera berlari ketika sampai di rumah. Menerobos masuk mencari Irna.


Dia melihat Irna sedang duduk berselonjor kaki, sambil memejamkan matanya. Dan di tangannya ada sebuah cangkir beraroma kopi.


Mendengar langkah kaki mendekat, dan dari aroma parfumnya yang sudah tercium dari jarak satu meter. Dia tahu itu adalah suaminya.


Irna tersenyum membuka matanya, kemudian menghirup kopi di cangkirnya.


"Aku terlambat.." Ujar Fredian menatap Irna dengan mata berkaca-kaca.


Melihat Fredian ingin mengahambur memeluknya dia segera meletakkan kopinya di atas meja.


Dibiarkan pria itu memeluknya dengan sangat erat.

__ADS_1


Irna diculik ketika Jesy menahan Fredian di dalam Reshort sore itu. Hingga menyebabkan dia terlambat menjemput Irna.


Bersambung..


__ADS_2