Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
Asing


__ADS_3

David sedikit terkejut melihat Kania memencet bel pintu gerbang. Dia segera membuka pintu untuknya.


Kania memarkir mobil di halaman yang sangat luas itu, kemudian turun dari mobilnya menuju pintu rumah.


Belum sempat mengetuk David sudah berdiri di depannya sambil menikmati sebungkus makanan ringan.


"Apa yang terjadi? apa ada yang mendesak sekali? tumben ke sini malam-malam?" Bertanya tanpa henti.


"Kaka Alfred kemana?"


"Kantor, seperti dugaanmu kemarin. Mama juga lembur mungkin tengah malam baru pulang." Tersenyum manis sambil mengunyah makanannya.


"Nira?"


"Masih di London, kayaknya bakal menetap di sana." Ujarnya lagi.


"Aku tidur di kamar Nira ya malam ini? aku malas pulang ke apartemen."


Gadis itu mencoba tersenyum menutupi hal yang sebenarnya. Dia tidak ingin David terlibat masalah dengan Royd Carney. Situasi sulit itu ingin dia hadapi sendiri.


"Ya, tidurlah di sana. Lagi pula sudah kosong lama." Tersenyum mempersilahkan Kania.


Malam itu Kania tidak bisa tidur, lalu dia menghubungi papanya.


"Halo pa?"


"Ada apa? apa ada masalah di kampus?" Tanya Rian seraya mengambil cairan dari dalam tabung mencampurkan ke tabung lain.


"Pa mama mana?" Pertanyaan Kania membuat Rian menghela nafas panjang.


"Kalian bertengkar lagi ya? hah!" Dengus Kania kesal.


"Mamamu sudah papa kembalikan sama pemiliknya." Ujarnya sangat santai.


"Pa, Kania tahu semuanya. Tapi seharusnya kan papa pertahankan cinta papa."


"Sudah berpuluh-puluh tahun juga hasilnya sama. Dia bertahan bersamaku bukan karena cinta, tapi karena ingin menjaga perasaanku."


"Mamamu itu sudah lama bersama papa.. tapi ya begitulah."


"Mama menduakan papa?" Sergah Kania mulai tidak terima.


"Bukan, mamamu tidak menduakan papa. Tapi papa yang memaksanya tinggal, dan pada akhirnya kita tinggal bersama." Rian tersenyum mendengar suara putrinya mengeluh.


"Bagaimana kabarmu di sana?"


"Kania baik-baik saja, sekarang Kania menginap di rumah kak Alfred." Jelasnya lagi.


"Apa Royd Carney masih mengganggumu?" Rian tahu kenapa putri kecilnya kabur dari apartemen malam itu. Sebelumnya dia sudah mendapatkan informasi melalui pengawal yang dia tugaskan untuk mengawasi Kania.

__ADS_1


"Papa selalu tahu lebih dahulu." Kania tersenyum kecil mengingat wajah khawatir papanya.


"Wah putri papa hampir punya pacar, tapi kalau bisa jangan sama Royd Carney." Gumam Rian lagi.


"Tapi sepertinya Kania belum memikirkan untuk pacaran pa, Kania masih ingin jadi dokter hebat seperti mama."


"Ya mamamu memang sangat hebat, bahkan tidak ada yang bisa meraih popularitas melampauinya di London."


Rian kembali mengingat Irna, gadis manis yang selalu tersenyum simpul dan manja saat dia mengganggunya.


"Aku sudah melepaskan dirinya tapi tetap saja aku tidak bisa membohongi diriku sendiri kalau aku masih mencintainya."


Sesaat pria itu melamun dalam ingatan yang telah lalu.


"Pa, sudah hampir pagi. Papa jangan terlalu lelah juga jangan terlalu sering lembur, cobalah cari wanita cantik lainnya." Goda Kania pada papanya.


"Sepertinya itu akan sulit." Gumam Rian setelah putrinya memutuskan panggilan telepon darinya.


Keesokan harinya..


Irna berjalan di lorong rumah sakit, Rian berjalan bersimpangan dengannya. Tatapan mata Irna lurus ke depan seolah tidak bersimpangan dengannya.


Rian tersenyum tipis melihat Irna memperlakukan dirinya demikian, seperti orang asing.


"Sepertinya dia begitu membenciku." Gumamnya lirih sambil memegang tepi meja ruang kerjanya.


"Bukankah itu tugas dokter Kaila?" Rian mengernyit heran.


"Masalahnya terjadi komplikasi pada pasien, liver dan ususnya keduanya bermasalah, nyawa pasien terancam bahaya sekarang." Rian segera beranjak berdiri dari kursinya melangkah cepat menuju ruang operasi.


Setelah memakai baju steril, Rian masuk ke dalam ruangan. Irna terlihat sangat sibuk menangani operasi. Pria itu berdiri di depannya membantunya. Sekitar tiga jam operasi berhasil diselesaikan.


Irna melepaskan bajunya, begitu halnya Rian. Terasa sangat canggung bagi Irna untuk menegurnya. Pria itu pun memilih untuk diam dan tidak bertanya sama sekali.


Seseorang wali pasien berjalan tergopoh-gopoh menyongsong Irna dan Rian, ternyata yang mereka operasi adalah salah satu keluarga pejabat di London.


Setelah kondisi pasien membaik, dan pulih. Irna dan Rian mendapatkan undangan untuk makan malam bersama.


"Mau kemana kamu?" Fredian mencium pipinya sambil memeluk pinggangnya.


Irna sedang bersiap-siap di depan cermin memakai perhiasannya.


"Ah aku akan pergi menghadiri undangan makan malam dari keluarga pasien. Mungkin juga Rian akan datang ke sana."


Terangnya tanpa basa-basi sama sekali pada pria di belakang punggungnya.


"Hem." Gumamnya, masih memeluk pinggangnya erat.


"Apakah kamu akan mengantarkan aku ke sana? atau aku pergi bersamanya?" Tanyanya sambil berbalik memutar posisi tubuhnya menatap wajah Fredian.

__ADS_1


"Terserah padamu." Pria itu melangkah menuju sofa dan duduk di sana.


"Ya sudah aku bawa mobil sendiri saja." Mengambil tasnya dan pergi.


Rian merasa tidak nyaman karena Irna bukan lagi istrinya. Dan saat dia ditelepon pria itu menjawab tidak bisa datang karena ada urusan mendadak.


"Bukannya kalian suami istri? seharusnya kalian datang bersama." Ujar Bu Mina istri dari pasien yang berhasil ditangani olehnya.


"Ah iya, lain kali kami akan bersama-sama." Irna sedikit gugup buru-buru meminum minumannya.


Status perceraian mereka berdua masih dalam rahasia. Juga pernikahannya dengan Fredian tidak bisa diungkapkan di depan publik.


Selesai acara Irna segera berpamitan pada keluarga tersebut, juga rekan satu timnya. Mereka berpisah pulang ke rumah masing-masing.


Saat turun dari mobilnya Irna melihat putrinya sedang menunggunya di lobby Reshort sendirian.


"Kania? kenapa tidak masuk ke dalam?" Tanya Irna padanya.


"Tidak tahukah mama kalau papa Fredian sangat membenciku?" Menyilangkan kedua tangannya di depan dada, sambil cemberut.


"Ah? iyakah? ayo masuk coba mama tanyakan." Irna tersenyum menggamit lengan putrinya menuju ruang kerja Fredian.


Saat membuka pintu Fredian sedang sibuk menandatangani berkasnya.


"Apa kamu mengacuhkan putriku?"


"Ah, aku masih menyelesaikan berkasku. Nanti aku temani kalian makan malam dua puluh menit lagi." Ujarnya sambil tersenyum menatap wajah Kania.


"Ma! bagaimana mungkin dia berubah ramah tiba-tiba?"


"Hahaha! apakah dia terlihat sangat menakutkan beberapa waktu lalu?"


Irna tersenyum mendengar pernyataan dari Kania tentang penilaiannya terhadap Fredian.


"Sebetulnya tidak, hanya saja terlihat sangat dingin."


"Kalian sedang membicarakanku? ayo kita makan bersama. Di sini atau di restoran lain?" Tawarnya pada Kania Aditama.


"Di sini saja pa." Gadis itu tersenyum lembut menatap papa tirinya.


"Dia sangat mirip dengannya." Bisik hati Fredian saat melihat wajah Kania Aditama.


Mereka makan bersama-sama di Reshort Fredian. Gadis itu tidak berhenti bertanya pada Fredian. Selalu ada yang ingin dia ketahui mengenai pria tersebut.


"Makan kok gak ngundang aku?" Nira menarik kursi dan duduk bersama mereka bertiga.


"Aku dengar satu minggu lalu kamu nginap di rumah papaku?" Cetusnya saat semua diam.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2