
"Sejak kapan kamu berada di sini?" Tanya Irna setelah menikmati makan malamnya. Berdiri di depan meja kerja Fredian.
Fredian mengacuhkannya dan tidak melihat ke arahnya sama sekali.
"Dia mengacuhkanku! jadi dia ingin terus diam! ya biarkan saja dia bekerja, aku akan menikmati tidur malamku." Gumam Irna sambil naik ke lantai atas.
Irna masuk ke dalam kolam, entah kenapa dia ingin berenang sebentar melepas kepenatannya. Satu jam kemudian dia keluar dari kolam dan berganti pakaian lalu naik ke atas tempat tidurnya.
Irna sudah terlelap, dia tidak tahu jika Fredian sudah masuk ke dalam kamarnya.
Dua jam kemudian Irna terjaga, dia melihat ke arah jam di atas meja. Masih pukul dua dini hari.
"Dia tidur bersamaku lagi?" Melirik Fredian yang tidur memunggunginya.
Irna beranjak turun dari tempat tidurnya, kembali tidur di kamar yang ada di lantai bawah.
Fredian membalik tubuhnya, meraba di sebelahnya. Gadis itu tidak ada di sana. Dia hawatir terjadi sesuatu pada Irna. Dan dia mencarinya kembali, dia menemukan Irna terlelap dalam tidurnya di kamar yang kemarin.
"Dia menghindariku, dia tidak menginginkanku lagi." Fredian menutup kembali pintu kamarnya dan berbaring di atas sofa.
Saat Irna terjaga Fredian sudah tidak ada di rumahnya. Irna bersiap-siap untuk pergi ke Reshort untuk melakukan pemotretan.
Irna mengemudikan mobilnya dan terlambat sepuluh menit karena jalanan macet.
"Bagaimana mungkin seorang Irna Damayanti bersikap tidak profesional di saat bekerja dan terlambat sepuluh menit?!" Ujar Fredian memasang wajah marah, sambil melirik arloji di tangannya.
"Dia memarahiku sekarang?" Bisik Irna dalam hatinya.
Gadis itu berjalan mendekat ke arah Fredian.
"Maaf Presdir jalanan macet jadi saya sedikit terlambat hari ini." Ujar Irna sambil menundukkan kepalanya meminta maaf pada Fredian.
"Aku tidak akan bertoleransi untuk yang kedua kalinya!" Ujar Fredian sambil berjalan menuju lokasi kru berkumpul untuk melaksanakan proses pemotretan.
"Ubah posisi itu, tidak cocok! dan itu juga tidak sesuai dengan tema Reshort ubah juga! Ganti warnanya itu sangat norak!" Fredian terus cerewet selama dua jam. Irna hanya bisa memijit keningnya menahan emosi.
"Pria ini sengaja mempersulit pekerjaanku! dan terus membuat masalah!" Geram Irna melihat tingkah Fredian.
Irna berjalan mendekat, berdiri di sebelahnya.
"Kalian beristirahatlah dulu, ayo bubar!" Perintah Irna melihat para kru yang sudah lelah selama dua jam di perintah Fredian tanpa henti.
"Presdir jika anda tidak menyukainya maka pilihlah mana yang anda sukai! jangan mengganggu orang yang sedang bekerja!" Ujar Irna sambil berkacak pinggang di depan Fredian.
"Woah, kamu keterlaluan. Aku berhak menentukan apapun! karena aku pemilik Reshort ini! dan aku yang menjadikan dirimu bintang iklanku, jadi jika ada yang tidak sesuai aku berhak menggantinya!" Teriak Fredian sambil marah-marah.
"Oh! jadi begitu! oke aku akan mempermudahnya! kenapa tidak kamu ganti juga bintang iklanmu! aku akan mengakhiri kontrak iklan dan akan membayar pinaltinya! selamat tinggal!" Irna melemparkan surat kontrak di depan muka Fredian sambil tersenyum sinis.
"Ayo kita bereskan semua peralatannya, pekerjaan hari ini sudah selesai dan kita akan menikmati pesta makan-makan silahkan kalian pilih sendiri tempatnya! dan gunakan kartu ini untuk membayar tagihannya!" Teriak Irna melemparkan kartu sambil tersenyum cerah, diiringi sorak riuh para pekerja.
"Dia begitu peduli dengan para karyawan, padahal dia harus membayar biaya pinalti dua kali lipat dari harga kontrak! sepuluh milyar bukan uang yang sedikit! tapi wajahnya terlihat bahagia melihat para kru bahagia." Bisik Fredian dalam hatinya.
Fredian menarik tangan Irna menuju ke kantor yang ada di Reshort barunya.
Irna berusaha melepas tangannya dari genggaman Fredian tapi pria itu sepertinya sudah kehilangan kewarasannya.
Fredian melemparkan tubuh Irna di atas sofa. Mengurungnya dengan kedua lengannya.
"Kenapa kamu terus bersikap keras kepala dan memancing kemarahanku?!" Tanya Fredian sudah tidak sabar.
"Apa maksudmu? aku tidak mengerti?" Irna beringsut meluruskan badannya dan duduk tegak.
"Kamu terus menerus memancing emosiku belakangan ini!" Teriak Fredian lagi.
"Bagian mana? coba jelaskan, bagian mana yang membuatmu emosi?" Tanya Irna dengan sangat santai.
"Kamu terus mengacuhkanku, kamu juga terus mengabaikanku, kamu terus menghindariku!" Teriak Fredian pada Irna.
"Jadi semuanya tidak ada hubungannya dengan pekerjaan?" Tanya Irna lagi.
"Kenapa kamu memasukkan masalah pribadi ke dalam pekerjaan yang tidak ada sangkut pautnya?!" Tanya Irna sambil tersenyum melihat wajah malu Fredian.
"Kenapa kamu malah menyalahkanku!" Ujar Fredian kembali.
"Ya baiklah jadi semua salahku, dan aku akan membayar pinaltinya. Besok, oh tidak setelah pulang dari sini aku akan segera menstransfer uangnya ke rekeningmu." Ujar Irna sambil melepaskan tangan Fredian yang mengurung badannya di sofa.
"Tidak! bukan ini yang aku inginkan!" Teriaknya tidak mau menerima keputusan dari Irna. Fredian berdiri berjalan menutup pintu dan menguncinya.
"Lalu apa yang kamu inginkan? kamu ingin menukar kekesalanmu dengan tubuhku lagi?! kamu pikir aku wanita seperti apa tuan Presdir!?" Teriak Irna sudah tidak bisa menahan perasaannya lagi.
__ADS_1
"Tidak begitu juga!" Teriak Fredian lagi.
"Lalu bagaimana cepat katakan dan aku akan segera pergi dari sini." Ujar Irna lagi sambil melihat jam di pergelangan tangannya.
"Duduklah." Perintah Fredian pada Irna.
Irna menghela nafas panjang dan duduk seperti yang diperintahkan olehnya.
Tapi Fredian malah diam dan duduk termenung selama dua puluh menit tidak bicara apapun sama sekali.
"Presdir!" Teriak Irna lagi.
"Kenapa?" Tanya Fredian pura-pura tidak tahu.
"Cepat katakan." Ujar Irna lagi dengan wajah marah dan geram.
"Aku tidak ingin mengakhiri kontrak kerja di antara kita." Ujarnya sambil menunggu reaksi dari Irna.
"Ya sudah aku akan pulang." Ujar Irna sambil tersenyum dan berdiri.
"Tunggu aku belum selesai bicara!" Ujarnya lagi.
"Bukankah kamu barusan bilang tidak ingin mengakhiri kontraknya, lalu bagian mana lagi yang belum dibicarakan?!" Tanya Irna lagi.
"Temani aku di sini sebentar." Fredian kembali menarik tangan Irna agar kembali duduk.
Dan dia merebahkan dirinya meletakkan kepalanya di atas pangkuan Irna sambil memeluk pinggangnya.
Entah sudah berapa lama waktu berlalu, mereka tertidur dalam keadaan seperti itu. Yang satu kelelahan dan yang satunya merasa nyaman tidur di pangkuan wanita yang dicintainya.
Fredian terjaga masih memeluk pinggangnya, melihat Irna tidur bersandar di sofa.
Pria itu menggendongnya membawa masuk ke dalam kamar di salah satu kamar yang ada di Reshort miliknya.
Fredian membaringkan tubuh Irna di sana. Melepaskan kemeja kerjanya, merengkuhnya di bawah selimut.
Dua jam berlalu.
"Jam berapa sekarang?" Tanya Irna pada Fredian yang masih merengkuhnya tanpa baju.
"Aku tidak tahu kenapa pria ini selalu melepaskan bajunya ketika tidur." Gumam Irna lagi.
"Hem." Ujarnya tanpa ingin membuka matanya.
"Jam berapa sekarang?" Tanyanya sambil melepaskan pelukan Fredian.
"Tidurlah, istirahat hari ini. Aku sudah menghubungi managermu, dia bilang tidak ada pemotretan sore ini." Ujar Fredian masih menahan tangan Irna.
"Memang tidak ada, tapi aku ada jadwal syuting!" Gadis itu melepaskan genggaman Fredian lalu turun merapikan kembali pakaiannya.
"Temani aku hari ini!" Teriaknya tidak mau Irna pergi.
"Kamu jangan kekanak-kanakan! aku punya pekerjaan yang harus aku selesaikan." Ujar Irna sambil menata kembali rambutnya di depan cermin.
"Aku akan mengantarkan kamu ke lokasi syuting, hari sudah hampir larut." Ujar Fredian sambil memakai kembali kemejanya dan juga jasnya.
Irna melongo menatap Fredian yang langsung mengambil kunci mobilnya tanpa menunggu persetujuan dari Irna.
"Aku punya pengawal yang akan menjagaku, lagi pula bukankah kamu harus memeriksa berkasmu malam ini? karena sepanjang pagi sudah ribut tanpa henti." Ujar Irna sambil mengikuti langkah Fredian dari belakang.
"Tunjukkan di mana lokasinya?" Ujar Fredian sambil membuka pintu mobil Irna.
"Aku tidak ingin mengambil skandal denganmu, besok pasti akan ada berita lagi, seorang Presdir Fredian membopong tubuh Irna ke dalam kamar di Reshort dan lain lain. Aku bosan membaca berita yang sama." Irna merebut kembali kunci mobilnya.
Fredian menghalangi Irna yang hendak masuk ke dalam mobilnya.
"Braaakkkk! kalau aku ingin mengantar ya aku akan mengantarmu! kenapa selalu mempersulitnya? Kamu masuk di berita bersama Reyfarno dan Rian beberapa hari terakhir tapi kamu tidak protes! dan baik-baik saja bersama dengan mereka! kamu tidak adil denganku!" Sergahnya sambil berkacak pinggang.
"Kamu lihat berita apa yang diungkapkan di antara kami? beberapa hari lalu?" Tanya Irna sambil menelungkupkan wajahnya di pintu luar mobilnya pusing sekali.
"Kalian sedang berbicara membahas kerja sama di restoran." Ujar Fredian pada Irna.
"Lalu berita apa yang tersebar jika aku terlibat denganmu! menghabiskan malam bersama di kamar hotel? kenapa bedanya jauh sekali? lalu apa yang kamu permasalahkan?"
"Aku akan pergi dulu, berhenti berfikir rumit tentang aku dan mereka, aku tidak sedang membuatmu cemburu. Tidak sama sekali." Ujar Irna sambil meremas bahu Fredian.
"Pokoknya aku akan mengantarmu!" Membuka pintu mobilnya dan naik di belakang kemudi. Tidak perduli pendapat Irna sama sekali.
"Dasar keras kepala! beberapa tahun lalu dia sedikit lebih banyak dewasa dan lebih sering tersenyum, tapi sekarang kembali menjadi anak kecil yang rewel sekali!" Ujar Irna sambil melirik pria di sebelahnya.
__ADS_1
Fredian tersenyum mendengar Irna menggerutu sepanjang jalan.
"Halo? apa! acara syutingnya dibatalkan? iya terima kasih informasinya aku akan pulang ke rumah."
Fredian tersenyum penuh misteri, mendengar percakapan Irna di telepon.
"Kenapa kamu tersenyum sejak tadi? apa kamu yang sudah mengatur semuanya?"
"Mana mungkin? bukankah sejak tadi kita bersama sepanjang hari?" Ujar Fredian lagi mencoba untuk meyakinkan Irna.
"Kita makan malam dulu, aku lapar." Ujar Irna pada Fredian.
Fredian menghentikan mobilnya di sebuah restoran.
Fredian menggandeng tangan Irna masuk ke dalam. Dan memesan tempat pada resepsionis restoran megah itu.
"Wah apakah ini istri Presdir Fredian? bukan, dia bukan Erlia gadis Spanyol itu. Dia adalah mantan istrinya Irna Damayanti."
"Artis cantik yang naik daun belakangan ini. Bukankah pernikahan Presdir tinggal lima hari lagi? lalu apakah Irna Damayanti merusak acara pernikahan yang akan diadakannya lagi?" Suara orang di sekitar membicarakan hubungan antara keduanya.
"Pada akhirnya aku lagi yang disalahkan karena pernikahanmu batal." Ujar Irna sambil menyuap makanan ke dalam mulutnya.
"Apa aku harus mengadakan konferensi pers, untuk menyatakan aku kembali pada mantan istriku?" Ujar Fredian sambil mengunyah makanan.
"Apa kamu bercanda? siapa kembali pada siapa? ha ha ha lucu sekali." Irna tergelak mendengar kelakar Fredian.
"Apa kamu ingin membeli sesuatu aku bisa mengantarkan kamu untuk pergi berbelanja." Ujar Fredian sambil meneguk segelas air.
"Kamu ingin membuat berapa banyak berita besok? di Reshort, restoran, dan mall? kamu ingin memenuhi surat kabar?" Irna kembali terkekeh mendengar tawaran mantan suaminya itu.
"Kenapa aku tidak bisa menikmati hari-hari bersamamu? kita bisa kemana saja tanpa menghawatirkan orang lain." Ujar Fredian lagi seolah-olah ingin protes karena Irna selalu lebih menjaga hubungan selain masalah pekerjaan dia pasti menolak pergi.
"Ya jika kamu ingin menemaniku ke mall kita akan pergi setelah ini, aku ingin tahu apa yang akan kamu lakukan di sana? sedangkan aku tidak suka membeli apapun kecuali benar-benar diperlukan. Dan pakaian dan perlengkapanku, aku selalu memilih desainerku yang membuatnya untukku jadi tidak akan dijual di pasaran." Ujar Irna sambil menatap lekat-lekat wajah Fredian.
Fredian tersenyum kemudian menyibakkan rambutnya ke atas.
"Apakah aku sudah tidak tampan lagi jika seperti ini?" Mencoba mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum menggoda.
"Sudah jangan bertingkah konyol, ambil bilnya dan segera keluar dari tempat ini." Ujar Irna.
"Kamu benar-benar sudah tidak melihatku lagi." Ujar Fredian merasa tidak bisa menggunakan wajah tampannya lagi untuk merayu Irna.
"Aku setiap hari melihatmu berada di mana-mana sudah terasa sangat membosankan, ha ha ha." Irna mencoba menahan tawanya melihat wajah putus asa di depannya tapi tidak bisa.
"Sampai kapan kamu akan terus meledekku?" Tanya Fredian di belakang kemudi mobilnya menuju mall terbesar di sana.
"Sepertinya aku akan kelelahan jika harus masuk ke mall sebesar ini, dan juga aku tidak ingin membeli apapun." Ujar Irna ragu-ragu ketika Fredian menarik tangannya masuk ke dalam.
"Ah! jangan menarik tanganku seperti ini, aku memakai high heels. Aku tidak suka jika kakiku lecet." Ujar Irna mencoba melepaskan genggaman tangan Fredian.
"Biarkan aku jalan sendiri saja, tidak perlu berpegangan tangan seperti ini." Ujarnya sambil tersenyum.
Melihat Irna tersenyum hatinya sedikit lega.
Mereka berjalan masuk melihat barang-barang yang di pajang di sana.
Seseorang tiba-tiba berlari dan menabrak Irna membuatnya hilang keseimbangan, melihat itu Fredian segera menangkap pinggangnya.
Membuat mereka saling bertukar pandang walau sesaat.
Wajah Fredian tiba-tiba memerah.
"Ha ha ha kamu lucu sekali, padahal kamu sering memelukku tapi wajahmu tidak pernah berubah merah. Apa yang membuatnya jadi berbeda?" Seloroh Irna sambil terus tertawa mengibaskan tangannya di depan wajah Fredian.
"Karena aku tidak pernah memelukmu di depan umum." Ujar Fredian sambil melihat ke arah lain, masih memegangi pinggang Irna.
"Kamu harus membersihkan namaku, karena kamu membatalkan pernikahanmu. Aku tidak ingin disalahkan lagi." Ujar Irna seraya melepaskan tangan Fredian dari pinggangnya.
"Apa lagi?" Kembali memeluk tanpa peduli berbisik di telinga Irna.
"Wah! kamu membuatku terkejut, jangan sedekat ini!" Ujar Irna kebingungan menahan dada Fredian menatap ke arah pria itu dengan gugup.
"Aku mencintaimu wanitaku, katakan apa lagi yang kamu mau aku akan memberikannya untukmu." Kembali berbisik sambil menempelkan ujung hidungnya di pipi Irna.
"Aku tidak tahu bagaimana aku bisa menghadapi hari esok setelah hari ini! Fredian benar-benar tidak bosan membuat masalah. Dia melakukannya di depan umum!" Bisik Irna dalam hatinya.
"Akh! aduh sakit!" Fredian memekik, dan Irna tersenyum dingin menatap wajah nakal di depannya itu.
Irna sengaja memelintir pinggangnya, dan akhirnya Fredian melepaskan pelukannya.
__ADS_1
Bersambung....