Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
Rasa pedas di tengah rasa manis


__ADS_3

Gadis itu duduk kemudian kembali mengenakan pakaiannya, dilihatnya Fredian masih terbaring di sebelahnya.


"Kenapa Nyonya Derrose tidak menghubungiku?" Bisik Irna sambil mengancingkan bajunya.


"Barusan dia dari sini." Sahut Fredian dengan sangat santai, beringsut memeluk erat pinggang Irna dari belakang dan menciumnya.


"Apa maksudmu?" Irna berbalik melihat wajah suaminya.


"Dia barusan dari sini.." Ujarnya lagi sambil tersenyum melihat wajah Irna yang masih kebingungan.


"Tapi aku tidak mendengarnya datang?" Ujar Irna sambil menggaruk keningnya.


"Kamu terlalu sibuk merintih, mana bisa dengar." Gumam Fredian membuat wajah istrinya berubah menjadi merah padam.


"Astaga! pria ini! ah sudahlah aku tidak akan bicara lagi padamu!" Teriak Irna sambil beringsut turun dari tempat tidur.


Irna bergegas membersihkan diri di kamar mandi, kemudian menjemur pakaian.


Fredian duduk menopang dagunya menggigit ilalang memainkan dengan bibirnya, di tengah pintu melihat Irna tanpa berkedip.


Irna meliriknya sebentar, dia hanya menggelengkan kepalanya sambil mengibaskan pakaian ke arah wajah Fredian.


"Ah, kamu membuatku basah!" Sergahnya sambil melihat wajah Irna yang sedikit tersenyum kearahnya.


"Akhirnya aku melihat senyuman itu kembali, walaupun cuma sedikit." Bisik hati Fredian.


Pria itu kemudian berdiri membantu Irna menjemur pakaian.


"Apa kamu tidak akan pergi ke kantor?" Tanya Irna padanya tanpa menoleh.


"Aku ingin tinggal di rumah lebih lama." Ujarnya pada Irna.


"Biasanya dia selalu sibuk kenapa tiba-tiba malah ingin tinggal di rumah?" Bisik Irna pada dirinya sendiri.


"Apa kamu tidak akan pernah kembali?" Tanya Fredian lagi.


"Kembali ke mana?" Tanya gadis itu.


"London." Bisik Fredian di telinga Irna sambil memeluknya dari belakang.


Irna menjauhkan kepalanya, dari bibir Fredian.


"Kenapa selalu berbisik seperti ini sih? kamu mirip kucing kecil yang terus mengendus tanpa ingin berhenti!" Ujar Irna sambil berlari masuk ke dalam dapur.


"Kamu bilang apa tadi! ayo coba katakan lagi!" Teriak Fredian sambil terus mengejar Irna, mendapatkannya lalu mengangkat tubuhnya.


Irna melihat wajah Fredian lekat-lekat, gadis itu tersenyum kemudian berbisik.

__ADS_1


"Bolehkah aku mencium pipimu?"


Fredian mendekatkan pipinya tanpa menjawabnya.


"Apa kamu sudah memafkanku?" Tanyanya pada Fredian.


Fredian tidak menjawab, tapi malah langsung mengulum bibirnya. Beberapa menit kemudian melepaskannya.


Irna beranjak turun dari pelukan Fredian, gadis itu mengambil topi sulam, keranjang kecil dan gunting.


"Kamu mau kemana?" Tanyanya melihat Irna pergi keluar pintu dapur.


Irna menunjuk bukit yang agak jauh dari rumahnya, kemudian berjalan pergi meninggalkan Fredian.


"Aku ikut!" Fredian mengambil jaket yang memiliki tudung kepala. Dia menutupi kepalanya dengan itu.


Setelah berjalan agak lama mereka sampai di sebuah kebun, terletak di dalam rumah kaca.


Irna membuka kuncinya dan masuk ke dalam.


"Wah sejak kapan kamu berkebun?" Tanya Fredian takjub melihat aneka buah ada di dalam sana.


"Sejak awal aku ke sini, aku lebih banyak menghabiskan hari-hari di sini."


Irna mengambil beberapa buah memotong dengan gunting kemudian memasukkan ke dalam keranjang.


"Ini kuncinya, setelah selesai nanti antar ke rumah saja." Ujarnya pada salah seorang pekerja.


Pekerja itu hanya mengangguk, mereka membawa gerobak untuk mengangkut buah segar setelah dijual mereka akan menyetorkan uangnya ke rumah Irna.


"Wah ini keren, selain menjadi arsitek kamu juga masih bisa berkebun." Fredian menggigit sebuah apel segar.


"Lagipula aku juga tidak tahu apakah aku masih akan bersamamu, jadi aku memutuskan untuk memulai segalanya sendirian." Gumam Irna sambil berjalan keluar dari rumah kaca, kembali menuju rumahnya.


"Aku ingin kita bersama lagi seperti dulu." Ujarnya seraya memegang kedua lengan Irna.


"Antarkan aku ke rumah ibumu." Irna kembali melangkah masuk ke dalam rumah.


Gadis itu mengganti pakaian, bersiap untuk pergi ke rumah keluarga Derrose.


Setelah sampai di sana, Irna melihat Alfred tersenyum riang. Anak itu berlarian sambil membawa bola bersama ayah Fredian.


Melihat kedatangan mereka berdua Ayah Fredian berdiri, menggendong cucunya mengajak Irna dan Fredian masuk ke dalam rumah.


Ibu Fredian sibuk di dapur membuatkan kue dan bubur untuk cucu kesayangannya. Melihat mereka berdua datang, Nyonya Derrose mengentikan pekerjaannya dan menghampiri putra satu-satunya itu menghambur memeluknya.


"Mama, aku memaafkannya, bisakah mama menerimanya kembali?" Ujar Fredian masih memeluk erat ibunya, sambil terisak. Membuat bahu Nyonya Derrose ikut terguncang.

__ADS_1


"Aku tidak tahan kehilangan dia lagi, aku tidak bisa hidup tanpa dia di sisiku.. Ibu, aku merasa tidak memiliki kehidupan di tiga tahun terakhir." Ujar Fredian lagi, membuat ibunya ikut menangis.


Nyonya Derrose mengangguk sambil memeluk erat putra kesayangannya itu. Kemudian melepaskan pelukannya melihat ke arah Irna yang sejak tadi hanya menundukkan kepalanya tanpa berani melihat ke arah ibunya Fredian.


"Aku mengijinkannya bersamamu! tapi ingat, aku belum bisa memaafkanmu. Dan cucuku biarkan dia tinggal di sini, aku sangat kesepian karena kamu mengambil putraku satu-satunya." Menatap ke arah Irna.


"Baik Nyonya." Ujar Irna sambil terus menunduk, tangan gadis itu terlihat gemetar.


"Badanmu sangat kurus! apa kamu tidak cukup makan? aku tidak ingin putraku sibuk merawatmu jika kamu sakit-sakitan. Dan pakaianmu itu, ganti dengan pakaian yang lebih layak! agar kamu terlihat pantas berdiri di sebelah putraku! jangan lakukan hal yang akan mencemari nama keluarga kami lagi! jika tidak, aku tidak akan segan-segan menghancurkan hidupmu!" Teriak Nyonya Derrose sambil menunjuk-nunjuk ke wajah Irna.


Fredian memegang bahu ibunya.


"Mama... sudah, dia masih istriku. Mama jangan berkata seperti itu, dia yang telah mengandung cucu untuk penerus keluarga Derrose." Ujar Fredian sambil memeluk ibunya kembali.


Irna tidak tahan untuk tidak menangis, gadis itu menangis tanpa suara.


"Inikah yang aku inginkan? aku terus menerus direndahkan karena setitik tinta yang telah aku goreskan di wajah mereka. Aku memang pantas mendapatkan hinaan dan cacian. Aku memang pantas mendapatkannya. Tapi bukan ini yang aku inginkan untuk seumur hidupku." Ujarnya dalam hati.


"Jika Nyonya Derrose tidak berkenan dengan saya berada di sisi putra anda, saya akan pergi dan tidak akan kembali lagi. Dan saya akan meninggalkan Alfred di sini, karena dia memang putra dari Fredian. Saya merasa tidak pantas untuk hidup di antara keluarga kalian. Saya memang wanita rendahan yang tidak pantas!"


"Saya harap anda menjaga putra anda satu-satunya agar tidak terus mencari saya. Dan saya juga sudah mengusirnya dari rumah saya yang kumuh itu, tapi dia bersikeras tidak mau pergi. Kalau begitu saya permisi, dan ini saya kembalikan."


Irna menarik paksa kalungnya hingga membuat lehernya berdarah. Gadis itu meletakkan kalung berlumur darah di atas meja.


"Kamu benar-benar wanita yang keras kepala! aku sudah merelakan putraku satu-satunya untukmu tapi kamu malah berkata seperti itu?!" Teriak Nyonya Derrose melihat Irna bersikukuh pada pendiriannya.


"Ya saya memang tidak pantas untuknya, jadi saya yang akan meninggalkannya, saya yang akan pergi darinya." Tambah Irna sambil tersenyum di tengah air mata yang terus mengalir membasahi kedua pipinya.


Kepalanya masih mendongak menatap langit-langit rumah megah itu menahan air matanya. Irna membalik badannya dan pergi keluar dari rumah keluarga Derrose.


"Aku tidak akan pernah memohon untuk hidup di antara mereka! tidak akan pernah! aku tidak hidup untuk diinjak-injak, berapa kali ibunya bilang kalau aku tidak pantas untuk putranya, ya sudah jika tidak pantas akan aku lepas!" Ujar Irna menahan kesedihan dalam hatinya.


Irna melangkah gontai sambil terus tersenyum dalam derai air mata.


"Walaupun aku mencintaimu wahai Presdir Fredian.. tapi aku tidak akan pernah hidup berada dibawah kaki keluargamu untuk terus diinjak-injak." Bisiknya sambil melangkah menuju halte terdekat.


"Aku memang sudah salah! tapi dia terus mengungkitnya! apa hebatnya memiliki suami Presdir sepertinya! bukan hanya dia yang jadi Presdir di seluruh dunia ini! aku sudah mengembalikan anakmu dan juga cucumu! Aaaakkkkkkkh aku kesal sekali! Hidupku sudah berantakan! akh aku tidak peduli lagi! aku tidak ingin melihat mukanya yang tampan itu! aku tidak peduli!" Irna terus menggerutu di sepanjang jalan menuju halte.


Fredian berlari mengejarnya meraih tangannya. Tapi Irna mengibaskannya.


"Irna maklumilah ibuku, dia hanya tidak ingin aku terluka lagi."


"Kembalilah pada ibumu, aku tidak menginginkanmu lagi! aku sudah membuangmu! segera kirimkan surat cerainya! mulai hari ini aku akan membuang kopermu keluar dari rumahku." Ujar Irna dengan wajah kesal sekali.


"Gadis ini merajuk lagi, padahal tadi pagi baru saja mencium pipiku! kepalaku jadi ikut pusing sekali!" Gerutu Fredian sambil mengusap tengkuknya yang merasa gerah tiba-tiba.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2