Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
Perjodohan


__ADS_3

"Ya anggap saja kita bekerja sama dan saling membantu satu sama lain." Ujar Arya sambil tersenyum lalu mengulurkan tangannya ke wajah Irna.


"Apa yang kamu lakukan?" Irna terkejut, dan memegang tangan Arya, menghentikannya untuk tidak menyentuh pipinya.


Gadis itu tidak ingin terlibat masalah dengan pria yang dirasakannya agak aneh belakangan ini.


"Aku hanya ingin mengambil ini." Pria itu mengambil dua butir nasi yang menempel di pipi Irna.


"Ha ha ha ha! kamu lucu sekali apa yang kamu pikirkan?" Ujar Arya sambil menertawakan Irna.


"Tidak ada yang aku pikirkan, aku hanya harus waspada! ya aku harus waspada walaupun kamu sedikit tidak normal tapi kamu tetap saja seorang pria." Ujar Irna sambil membereskan piring di atas meja.


Dia buru-buru ingin segera membawanya ke dapur untuk membereskannya. Dan menjauh dari Arya.


"Tunggu sebentar sepertinya aku mendengar sesuatu kata yang salah, kamu bilang tadi aku tidak normal dan aku pria?" Ujar Arya memegang tangan Irna, membuat gadis itu meletakkan piringnya kembali.


Irna menatap wajah pria di depannya itu, pria itu tidak jelek sama sekali. Hanya saja tingkahnya sedikit mengejutkannya. Tingkahnya selalu berada di luar dugaan pikirannya.


"Ya aku memang sedikit selalu terburu-buru, tapi aku pria normal dan memiliki banyak wanita cantik, tapi kewaspadaan mu itu? apakah masih perlu?" Tanyanya lagi tanpa tersenyum sama sekali.


Dia tidak tanggung-tanggung menyatakan hal-hal yang seharusnya tidak diucapkan di depan wanita. Tapi dia selalu mengucapkan apa saja yang harus di ucapkan tanpa rasa canggung sama sekali di hadapan Irna.


"Laki-laki mana yang akan tertarik melihat wanita di depan matanya yang sudah tidur dengan suaminya, lalu masih tertarik mendekatinya? kecuali pria itu gila! lagi pula kamu sama sekali bukan tipeku!" Ujarnya sambil tersenyum mengangkat kedua alisnya.


"Astaga dia bahkan mengungkit hubunganku dengan Fredian! aku tidak bisa berkata-kata dengan pria model seperti ini." Gumam Irna.


"Tapi tetap saja kamu seorang pria! ah sudahlah untuk apa aku memikirkan perkataanmu itu!" Ujar Irna pada Arya.


"Perkataannya membuatku ingat peristiwa tiga tahun lalu, pria itu seperti keluarga bagiku tapi tetap saja dia seorang pria! dan aku akan lebih waspada sekarang!" Ujar Irna dalam hati sambil membawa piringnya ke dapur dan mencucinya.


"Ya lakukanlah sesukamu aku akan kembali ke hotel." Ujar Arya sambil mengemasi berkasnya dan pergi.


"Eh, skemaku akan selesai dalam waktu tiga hari. Kenapa kamu malah tinggal selama tujuh hari?" Tanyanya pada Arya membuat pria itu berbalik menatap ke arahnya.


Dia menghentikan langkahnya dan berjalan mendekat ke arahnya. Dia menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya. Pria itu berdiri di sebelahnya.


"Ah, itu ada sesuatu yang harus aku selesaikan di sini. Dan kita tidak cukup dekat untuk saling membicarakannya!" Ujarnya membuat Irna tiba-tiba mengernyitkan keningnya.


"Ha ha ha, memangnya apa yang membuatnya dekat? barusan saja bertingkah sok dekat, sekarang dia membuat jaraknya sendiri." Gerutu Irna membalikkan badannya kembali mencuci piringnya.


"Aku mendengarnya." Bisiknya lirih di telinga Irna, Arya tiba-tiba berdiri di belakang punggungnya.


"Astaga! Byur!" Irna sangat terkejut sampai melemparkan air sabun ke wajah Arya. Membuat pria itu mengibaskan wajahnya menghalau bekas sabun dari wajahnya.


Kemudian mencuci wajahnya di westafel di depan Irna, sambil berpegangan di tepi westafel.


"Apa kamu selalu seperti itu?" Tanya Arya sambil melirik ke arah Irna yang masih memegangi dadanya dengan kedua tangannya karena terkejut.


Irna hanya menggelengkan kepalanya masih terus memegangi dadanya sendiri.


"Jangan coba-coba menyalahkanku! itu salahmu kenapa selalu mendekat tanpa suara sama sekali, membuatku terkejut setengah mati! tahu?" Gerutu Irna sambil melempar spons ke dalam air di depannya, kemudian mencuci tangannya.


"Pria ini membuatku gila!" Gerutunya lagi sambil berjalan keluar dari rumah, melalui pintu dapur.


"Barusan dia bilang aku membuatnya gila? tentu saja pria tampan sepertiku ini akan membuat banyak gadis tergila-gila." Ujarnya tanpa malu.


"Kamu bisa tidak berhenti mengataiku?!" Teriak Arya masih mengikutinya dari belakang.


"Kamu tidak jadi pergi?" Tanya Irna sambil memakai topi rajutnya, melihat wajah Arya.


"Kamu terus menerus mengataiku apa kamu tidak bosan?" Ujar Arya lagi.


"Iya aku terus mengataimu, karena sikapmu yang tidak menentu, dan kamu kenapa terus menerus membuntutiku?." Ujar Irna sambil terus berjalan.


Sampai di kebunnya Irna membuka pintunya, dan menyerahkan kunci pada pekerja di sana.


"Aku akan mulai mengerjakan skemaku, kamu bisa kembali ke hotel." Saat Irna menoleh pria itu sudah mengemudikan mobilnya dan pergi.


Irna masuk ke dalam rumahnya, dan mulai mengerjakan skemanya.

__ADS_1


"Ah sudah empat jam aku duduk di sini." Irna beranjak berdiri dan menyeduh kopi di dapur.


"Rumah ini sangat lenggang." Bisiknya pada dirinya sendiri sambil menghirup kopinya.


Tak lama kemudian terdengar suara mobil berhenti.


Irna tidak berniat untuk melihat ke depan. Dia malah menyelonjorkan kakinya di atas kursi ruang tengah.


Fredian masuk ke dalam rumah, melepaskan dasinya dan jasnya di dalam kamar.


Irna masih bersandar pada sandaran kursi. Setelah berganti pakaian Fredian berjalan ke belakang mencari Irna.


Dilihatnya Irna sedang memejamkan matanya sambil berselonjor di kursi. Kemudian dia duduk di samping Irna.


Irna tahu Fredian sudah pulang dan duduk disebelahnya sekarang. Tercium aroma parfumnya sejak kedatangannya. Tapi dia mengacuhkannya dan terus memejamkan matanya.


Fredian tidak ingin mengganggunya dan berjalan ke kamar mandi membersihkan badannya. Saat dia keluar dari dalam kamar mandi, Irna sudah tidak duduk di sana.


Fredian mengeringkan rambutnya dengan handuk. Menoleh ke arah ruang kerja Irna, gadis itu sedang sibuk mengerjakan skemanya.


"Apa ada yang ingin kamu bicarakan?" Irna melirik Fredian yang berdiri bersandar di ambang pintu.


Dia melihat wajah pria itu sedang menyimpan sesuatu tapi masih menunggu Irna untuk menanyakan terlebih dahulu kepada dirinya.


Pria itu melangkah masuk ke dalam. Dan duduk di tepi meja kerja Irna. Memunggunginya.


"Malam ini aku ada jadwal makan malam sekaligus meeting dengan Erlia." Ujar Fredian sambil menengadahkan kepalanya ke langit-langit ruang kerja Irna.


"Lalu?" Tanya Irna sambil menekuni skemanya tanpa ingin mengangkat kepalanya.


"Aku ingin kamu ikut denganku." Fredian berbalik menunggu jawaban dari Irna.


"Kamu tidak lihat aku sangat sibuk sekarang?"


Ujar Irna dengan cuek.


Irna menjerit sedih di dalam hatinya. Kenapa pria ini selalu buta! dia tidak tahu bahwa dirinya sekarang bukanlah apa-apa di mata keluarga besarnya itu! jika dia sampai hadir di sana hanya akan menjadi bahan olokan serta cemoohan.


"Itu, ibuku yang mengundang Erlia datang dari Spanyol. Dia sengaja memperkenalkan anak dari sahabatnya denganku."


Fredian merasa gerah berkali-kali pria itu mengusap tengkuknya.


Irna berdiri menyentuh bahu kanan Fredian dengan tangan kanannya.


"Pria duda, masih muda, dan juga tampan, pergilah temui dia siapa tahu ada kecocokan di antara kalian." Ucapnya langsung sambil tersenyum tipis.


Setelah berkata demikian Irna duduk kembali di meja kerjanya, kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Apakah kamu tidak sakit hati?!" Sergah Fredian sambil menyentuh kedua pipi milik Irna.


"Apa yang bisa dilakukan oleh gadis biasa sepertiku? aku adalah orang yang paling tidak diinginkan untuk berada di sana! orang tuamu sudah jelas menjodohkan putranya dengan wanita lain!"


"Lalu bagaimana menurutmu jika tiba-tiba aku muncul di antara pertemuan kedua keluarga kalian?! apa aku masih harus mempermalukan diriku sendiri dengan datang ke sana tanpa diundang?! Lalu merusak pertemuan kalian?"


Tanya Irna pada Fredian sambil menghela nafas panjang. Dadanya terasa sesak melihat wajah memohon dari seorang Fredian, pria itu sekarang sedang memohon padanya untuk membantunya.


"Kamu Irna Damayanti! kamu yang bisa melakukan segalanya untukku, untuk hubungan antara kita!" Ujar Fredian sambil memegang kedua bahunya.


"Itu tiga tahun yang lalu. Aku bukan kekasihmu ataupun istrimu lagi, aku sudah tidak ada hubungan apapun dengan keluarga Derrose." Ujar Irna sambil menunjuk lehernya yang terluka menunjukkan kalungnya sudah tidak ada di sana.


"Selesaikan masalahmu sendiri dan jangan menghubungkannya denganku. Kita sudah selesai, kamu hanya memikirkan dirimu sendiri, kamu sangat egois!"


Ujar Irna sambil mengepalkan tangannya meremas jemarinya menahan amarah berjalan mengambil sebotol air kemudian meneguknya sampai habis.


"Ya sudah, aku akan pergi sekarang. Jika aku tidak pulang malam ini kamu tidak perlu menunggu kedatanganku besok, mungkin aku tidak akan kembali ke rumah ini." Ujar Fredian mengambil kopernya dan mulai merapikan bajunya.


"Pergilah, dan buat harimu nyaman! aku tidak akan menunggumu. Tidak akan pernah! Kraaak!" Irna dengan wajah geram meremas botol air mineral di tangannya.


"Dia selalu menginginkan sesuatu jika tidak dipenuhi selalu merajuk seperti anak kecil. Dan selalu bersembunyi di belakang punggungku. Apa dia tidak tahu aku sudah mengalami banyak hal sulit sampai aku tidak mengenali wajahku sendiri di depan cermin selama tiga tahun ini!" Gerutu Irna terus menerus.

__ADS_1


"Aku sudah memutuskan untuk meninggalkan pria itu! aku benar-benar sudah memutuskannya!" Ujar Irna lagi sambil duduk di kursi ruang tengah.


Fredian menyeret kopernya keluar rumah dan memasukkan ke dalam bagasi mobil.


Lalu mengemudikan mobilnya pergi meninggalkan rumah Irna.


"Ha ha ha ha! aku tidak akan menangis! tidak akan menangis! aku sudah terlalu banyak menangis! keluarganya hanya akan menginjakku jika aku benar-benar merusak perjodohan antara mereka! biarkan saja dia pergi! aku tidak akan menangis!"


Ujar Irna sambil terus mengusap air matanya yang terus menerus mengalir tanpa henti.


Gadis itu memeluk lututnya, membenamkan kepalanya di dalam pangkuanya. Dia duduk di beranda rumah malam itu.


"Kenapa air mataku tidak mau berhenti! dasar Irna yang bodoh! kenapa kamu mencintai orang yang keluarganya terus menerus menyakiti hatimu! dasar wanita bodoh!" Irna terus bergumam sambil mengusap pipinya yang basah.


Matanya mendongak menatap banyak bintang di atas langit yang cerah malam itu.


"Aku berterima kasih kepada kalian karena sudah menemaniku malam ini dan tidak membiarkan aku sendirian."


Ujarnya menengadah sambil tersenyum pahit mengulurkan tangannya seolah meraih bintang di atas sana.


"Haruskah aku pergi lagi, dan berlari lagi? ke tempat di mana dia tidak bisa menemukanku?" Bisik Irna sambil tersenyum.


Irna berdiri berjalan masuk ke dalam rumah. Dan hendak menutup pintunya. Sebuah tangan menghentikannya menahan pintu.


"Siapa?" Irna membuka pintunya dan melihat seseorang berdiri di tengah pintu. Rambutnya tampak acak-acakan seperti habis terkena angin beliung.


"Apa kamu ingin mengambil skemanya sekarang?" Ujar Irna sambil masuk menuju ruang kerjanya.


"Aku tadi dari restoran, dan aku melihat pertemuan dua keluarga, suamimu. Aku sebenarnya tidak ingin ikut campur di antara kalian. Tapi bagaimana mungkin pagi tadi kalian baru saja melakukanya dan pada malam harinya dia melakukan perjodohan dengan wanita lain?! apa kamu tidak keberatan, dan tidak ingin pergi menghentikannya?!" Cerocosnya tanpa henti sambil terus mengikuti Irna dari belakang.


"Untuk apa? dia bukan suamiku lagi sejak kemarin." Ujar Irna sambil tersenyum padanya.


"Lalu tadi pagi apa yang aku lihat itu?" Tanya Arya masih tidak mengerti.


"Sebuah hubungan yang rumit dan aku tidak bisa menjelaskan semuanya padamu." Ujar Irna sambil mengulurkan skemanya pada Arya.


"Tapi aku lihat kalian saling mencintai." Ujar Arya lagi.


"Berhentilah mengomel dan bawa skemanya pergi, aku ingin sendirian malam ini." Ujar Irna seraya meletakkan kertas skema di dada Arya, kemudian mendorong punggung Arya keluar dari rumahnya. Kemudian menutup pintu rumahnya.


Irna tidur lumayan lelap malam itu dia terbangun kemudian membereskan rumahnya. Sambil melihat televisi.


Ada berita eksklusif tentang seorang Presdir Reshort, yang sedang membina hubungan dengan keluarga besar dari Spanyol.


Irna mengabaikannya, dan kembali membersihkan rumah.


"Akh! aku benci sekali mengingat wajahnya itu! kenapa dadaku rasanya nyeri sekali setiap mendengar nama pria itu!" Ujarnya sambil membuang sapunya sambil menekan dadanya yang tiba-tiba terasa nyeri.


"Kriiiing!" Suara ponsel Irna berdering.


"Ya halo?" Jawab Irna.


"Kamu sudah melihatnya bukan, putraku sudah menjalin hubungan antara dua keluarga! jadi jangan sampai kamu menunjukkan wajah miskinmu itu di hadapan keluarga Derrose lagi!" Ujar Ibunya Fredian dari seberang.


"Nyonya tidak perlu hawatir, sebaiknya anda menjaga putra anda satu-satunya itu dengan ketat. Aku hawatir dia akan kabur untuk mengejarku kembali!" Irna langsung memutuskan percakapan itu.


"Halo! halo! dasar wanita miskin beraninya dia menutup telepon dariku!" Teriak Nyonya Derrose sangat kesal


"Aku sudah melepaskan putranya, tapi dia masih ketakutan jika aku mencurinya lagi? kenapa tidak dia rantai sekalian supaya tidak bisa kabur lagi! putranya yang mengejarku, tapi ibunya terus-menerus menyalahkanku!" Gerutunya lagi.


Fredian sedang duduk di dalam kantornya, menandatangani setumpuk berkas. Dan Erlia gadis yang dijodohkan dengan dirinya duduk menunggunya di sofa ruang kerjanya sambil memainkan ponselnya.


"Kapan kamu akan menyelesaikan berkasmu?" Beranjak berdiri melangkah mendekat memegang bahu Fredian sambil mencium pipi kanannya.


"Sebentar lagi." Ujar Fredian sambil menepis tangannya dari bahunya.


"Apa kamu menolakku?" Ujar Erlia sambil meletakkan dagunya di bahu Fredian berbisik di telinganya.


Fredian masih terus mencermati berkasnya tanpa memperdulikan wanita cantik di belakang punggungnya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2