
"Kalian bisa lihat rekaman cctv di dalam ruangan sekurity, bukan keinginanku sendiri masuk ke mari." Jelas Kania pada mereka bertiga. Kali ini Tari datang bersama Eva, dan Lela.
Kania melangkah meninggalkan mereka bertiga, menuju ke dalam kamarnya sendiri. "Mau kemana??! aku belum selesai bicara!" Teriaknya pada Kania, sambil menarik lengannya.
Royd melihat Kania di tarik-tarik, pria itu segera keluar dari dalam kamar menghampiri mereka berempat.
"Ini orangnya, kalian tanya saja padanya! aku benar-benar tidak pernah memiliki hubungan apapun dengannya! apalagi menerobos masuk ke dalam kamarnya." Jelas gadis itu lagi seraya melepaskan genggaman tangan Tari.
"Aku dan Kania, apapun yang terjadi di antara kami berdua apa hubungannya dengan kalian?" Kania menganga tidak percaya mendengar peryataan tersebut keluar dari bibir Royd. Benar-benar membuatnya semakin kesal setengah mati.
Tari menatap tajam ke arah Kania, dia sangat marah mendengar pernyataan tersebut. "Aku benar-benar tidak menyukainya! kalian harus percaya padaku!" Kania masih berusaha menjelaskan kebenaran tentang hubungan antara mereka berdua.
"Haruskah aku mempercayaimu?" Tari begitu kecewa karena Royd mengakui bahwa mereka berdua memiliki hubungan khusus.
"Aku sungguh-sungguh, aku dan dosen ini tidak memiliki hubungan apa-apa." Jelasnya lagi.
"Kenapa kamu menjelaskan bahwa kita tidak memiliki hubungan? aku sudah bilang kalau aku.."
"Tutup mulutmu!" Sahut Kania kesal sekali, dia segera pergi dari hadapan mereka semua. Kania membatalkan niatnya untuk masuk ke dalam kamarnya. Gadis itu berbalik menuju lift.
"Kenapa kalian ikut campur dengan urusan pribadiku?" Royd berkacak pinggang menatap tajam ke arah mereka bertiga.
"Pak Roy, pak Roy tahu kan kalau aku sangat mencintaimu?" Tari meraih tangan Royd Carney.
"Aku tahu, tapi aku sama sekali tidak pernah tertarik denganmu. Bagiku kamu adalah mahasiswi di kelasku." Ujarnya seraya masuk ke dalam kamarnya, kemudian menutup pintunya.
"Semua ini gara-gara Kania! jika dia tidak masuk di tengah hubungan kami! Roy tidak mungkin bersikap seperti ini padaku!" Gerutunya seraya menggertakan giginya menahan marah.
Mereka bertiga kemudian pergi dari depan kamar Royd Carney.
"Kamu di mana?" Royd Carney menghubungi Kania melalui ponselnya.
"Bukan urusanmu! Tuuut! tuut!" Memutuskan panggilan telepon darinya begitu saja.
Kania sedang duduk di sebuah kafe. Gadis itu menikmati camilan, juga secangkir late hangat. Dia tidak ingin pulang ke apartemen. Apalagi bertemu dengan pria itu lagi.
Royd masuk ke dalam kafe dimana Kania sedang duduk menikmati camilannya. Dia sangat terkejut melihat pria itu tersenyum menghenyakkan tubuhnya di kursi tepat di depannya.
"Bagaimana kamu bisa tahu aku berada di sini?!" Desisnya penuh amarah. Royd menunjukkan kompas di genggaman tangannya di depan wajahnya.
"Dasar sinting! dia menggunakan alat pemburu vampir untuk menemukanku! pria licik ini!" Mengumpat terang-terangan di depannya.
Royd tersenyum mendengar kata-kata kasar meluncur dari bibir Kania. Dia juga tidak marah sama sekali, dia terus-menerus tersenyum sepanjang waktu.
"Apa kamu benar-benar tidak waras??!"
"Seperti yang kamu lihat, aku bahagia saat menemanimu." Bicara jujur, tapi malah membuat Kania semakin kesal.
"Kamu membuatku terlibat dalam kesulitan, wanitamu akan terus mengejarku! mereka pikir aku telah merebutmu darinya." Jelas Kania padanya.
"Begitukah? rupanya aku begitu populer di kalangan wanita." Sahutnya enteng tanpa beban sama sekali.
"Tingkat percaya dirimu melebihi batas normal! kamu membuatku berada dalam masalah gara-gara kamu terus berada di sekitarku!"
Kania merasa tidak memiliki jalan untuk menghindarinya, sama sekali tidak memiliki jalan. Dia bahkan mengikutinya pergi ke London waktu itu, dan sepanjang waktu berada di sekitarnya.
"Kamu mau kemana?" Melihat Kania berdiri dari kursinya, Royd menggenggam jemari tangannya.
"Menjauh darimu! kemana lagi?" Menarik tangannya dari genggaman Royd pergi menuju ke arah mobilnya.
Kania mengendarai mobilnya menuju apartemen, dia sangat lelah. Dia harap Royd tidak mengganggunya lagi malam itu. Dan saat membuka pintu kamarnya, Royd menerobos mendahului dirinya masuk ke dalam.
"Rooyyyd! keluar dari dalam kamarku!" Teriaknya sudah tidak sabar lagi. Kania berdiri di ambang pintu kamarnya, membuka pintu kamarnya lebar-lebar mencoba mengusir pria itu agar segera keluar dari dalam kamarnya.
"Akh, kakiku lemas sekali, aku terlalu jauh berlari. Sepertinya kakiku kram." Duduk di tepi tempat tidur Kania.
Kania menghentakkan kakinya, kemudian menarik tangannya agar keluar dari dalam kamarnya.
"Kania.. Kania!" Bisiknya kemudian menarik lengannya hingga tubuhnya jatuh di atas pangkuanya. " Akkkh! bruuuuk!"
"Royd lepaskan aku!" Mencoba melepaskan kedua lengannya dari pinggangnya. Pria itu mencium tengkuknya, Kania tidak pernah dekat dengan seorang pria manapun. Dan sekarang diperlakukan seperti itu tubuhnya mendadak meremang seketika.
__ADS_1
"Kamu gila Royd." Ujarnya lirih karena Royd memeluknya dengan sangat erat.
"Diamlah seperti ini sebentar, aku ingin memelukmu sebentar saja." Bisiknya lagi, kemudian meletakkan dagunya di atas bahu kanan Kania.
"Aku tidak akan pernah melepaskanmu Kania, aku telah jatuh hati padamu. Aku bisa mati jika tidak melihatmu sehari saja." Bisiknya lagi, Royd menarik tubuh Kania ke atas tempat tidurnya.
"Lepaskan aku brengsek!!" Teriaknya lagi ketika pria itu merengkuhnya di atas tempat tidurnya.
"Kenapa? kamu sangat membenciku?" Memutar tubuhnya menatap lekat-lekat wajah Kania di bawah tubuhnya.
"Apa maksudmu? kamu memperlakukanku seperti wanita simpananmu sekarang! aku bukan pacarmu! kita bukan sepasang kekasih!" Teriaknya lagi dengan sangat marah pada pria yang tengah menahan tubuhnya.
"Kenapa kekuatan tubuhku tidak berfungsi, jangan-jangan pria ini menggunakan segel! dasar licik sekali." Gerutu Kania dalam hatinya.
Royd mendekatkan wajahnya hendak mencium bibirnya. Kania mencoba melepaskan tangannya, tapi dia tidak memiliki kekuatan sama sekali.
"Kenapa kamu menyegel tubuhku?!" Mendengar pertanyaan itu, Royd membatalkan niatnya untuk menciumnya.
"Karena itu tidak adil bagiku, Kania. Kamu bisa menghindariku, tapi aku akan terus mendapatkanmu." Bisiknya di telinga gadis itu.
"Royd kamu memaksaku untuk mencintaimu?"
"Aku mendengar suara debaran jantungmu. Aku tahu kamu juga menyukaiku." Bisiknya lagi sambil mencium keningnya.
"Tentu saja aku berdebar-debar, itu bukan karena aku menyukaimu! tapi karena aku takut kamu bertindak lebih jauh dari ini! aku sama sekali tidak pernah tertarik padamu." Mengerjapkan matanya berkali-kali, berharap pria di atas tubuhnya itu mengerti ucapannya.
"Benarkah?" Tersenyum manis menatap wajah Kania. Mendekatkan bibirnya mulai mencium bibirnya dengan lembut.
Kania berusaha meronta mencoba melepaskan diri. Tubuh Kania mendadak seperti tersengat aliran listrik dan lemas karena pagutan bibirnya begitu lembut.
Terlalu lembut untuk seorang Royd. Terlalu lembut untuk seorang raja pemburu.
Royd melepaskan genggaman tangannya pada tangan Kania. Karena gadis itu sudah tidak meronta-ronta. Kania memejamkan matanya rapat-rapat. Ada rasa takut menjalar ke dalam hatinya.
"Perasaan apa ini? aku benar-benar tidak tertarik dengannya, tapi kenapa aku tidak bisa menjauhkannya dariku?" Pria itu terus memagut bibirnya, Kania memukuli bahunya tapi dia tidak mau melepaskan ciumannya.
"Jangan, jangan lakukan ini.." Pintanya lirih di telinga Royd ketika pria itu menelusuri tubuhnya dengan jemari tangannya.
Kania kembali merapikan bajunya yang sudah compang-camping dan hampir terbuka seluruhnya.
"Keluar dari dalam kamarku! atau aku akan menghabisi nyawamu!" Kania berdiri memunggunginya, menggigit bibir bawahnya menahan malu. Pria itu sudah melihat hampir seluruh tubuhnya.
"Bunuhlah aku!" Royd kembali mendekat merengkuhnya dalam pelukan.
"Kamu benar-benar tidak takut mati! Braaakkkk!" Desis Kania lagi, mengibaskan pelukan tangannya. Membuatnya terpental lagi jatuh terhempas.
"Uhk! uhk!" Royd terhuyung, dia hampir tidak bisa berdiri. Pria itu merangkak di bawah kakinya, air matanya meleleh tapi bibirnya menyunggingkan senyum.
"Cuuur!" Darah keluar dari bibirnya, Royd terluka parah. Pria itu dengan sengaja menyerahkan dirinya pada Kania. Dia sengaja membuatnya marah, merasa lebih baik mati di tangan gadis yang dia cintai.
Kania tertegun melihatnya benar-benar terluka, gadis itu segera berjongkok dan memapahnya berjalan.
"Kenapa kamu benar-benar menyerahkan nyawamu?!" Teriakan Kania sudah tidak didengarnya, Royd ambruk di dalam pelukannya.
Sepanjang malam Kania menjaganya, tapi pria itu masih pingsan dan belum sadarkan diri.
Kania tertidur saat waktu menunjukkan pukul dua dini hari. Royd membuka matanya dia mendapati Kania terlelap di sebelahnya.
Royd membelai rambutnya, Kania perlahan membuka matanya menatap Royd sudah terjaga. "Kamu sudah bangun? aku membuatmu terluka sangat parah." Ujarnya sambil menarik tangan Royd dari atas kepalanya.
"Kenapa kamu membiarkanku hidup? aku bisa saja melakukan sesuatu yang lebih jauh dari tadi padamu di lain waktu." Desisnya lirih dengan suara parau.
"Pada waktu itu aku akan menghabisi nyawamu." Gerutu Kania masih kesal sekali. Gadis itu mengambil air hangat kemudian membuka kancing baju Royd Carney.
Pria itu menggenggam erat tangannya. "Royd, aku ingin mengompres lukamu, apa yang kamu pikirkan?" Kania tidak mengerti kenapa dia menggenggam tangannya seerat itu.
"Akhhh, bruuuk!" Kania jatuh menimpa tubuhnya. Wajah mereka berdua begitu dekat, "Royd, jangan berulah! kamu masih sakit!" Teriaknya saat jemari tangannya masuk di balik shirt menelusuri punggungnya.
"Aku sangat kuat!" Meraih kepala Kania memagut bibir tipisnya lagi.
"Bagaimana ini! dia benar-benar ingin mati!" Meremas bahu pria itu, menahan remasan lembut pada bongkahan dadanya.
__ADS_1
"Royd... jangan..." Desisnya mulai tidak tahan dengan cumbuan pria itu. "Aku ingin menikahimu.." Bisiknya di telinga Kania, menelusuri belahan pahanya.
"Akkhhh.. " Desahan Kania memenuhi kamarnya. Royd tidak menahan dirinya lagi, mulai melepaskan seluruh pakaian yang membalut tubuhnya satu persatu.
Keringat mengucur deras membasahi tubuh kedua sejoli itu. Hentakan, hujaman bertubi-tubi, membuat Kania memekik berkali-kali memukuli lengannya.
"Akkhhh! Pelanlah sedikit! sakit!" Teriakannya menggema di seluruh ruangan apartemen miliknya.
Permainan berakhir, Royd masih berada di atas tubuhnya. "Apakah kamu masih menolakku?"
Kania tidak segera menjawabnya, dia tahu dia juga tidak akan hamil karena hubungan intim tersebut. Mengingat dirinya bukan manusia gadis itu hanya menghela nafas panjang menjawab pertanyaan darinya. Kania beranjak bangun, memunguti pakaiannya dan memakainya kembali.
"Kania! aku mohon!" Mulai putus asa memeluk tubuhnya dari belakang.
"Royd, sekalipun kita menikah, aku tidak bisa memberikan keturunan padamu." Jelasnya lagi.
"Aku hanya menginginkan dirimu, ijinkan aku tetap menemanimu sepanjang sisa usiaku." Pria itu melelehkan air matanya.
"Aku akan memikirkanya nanti, kembalilah ke kamarmu. Aku rasa kamu masih sangat kuat, kamu pasti hanya pura-pura terluka." Usirnya pada Royd.
"Aku ingin tidur di sini.." Memeluk pinggangnya semakin erat.
"Aku tidak mau! cepat keluar!" Kania menyeretnya keluar, kemudian melempar shirt lengan panjang milik Royd ke wajah pria itu. "Braaakkkk!" Membanting pintu di depan wajahnya.
"Akh! memalukan sekali! bagaimana aku bisa melakukan hubungan itu dengan dosen yang mengajar di kelasku!" Kania memukuli kepalanya sendiri, merasa telah melakukan tindakan yang sama sekali tidak masuk akal.
"Aku pasti sudah gila!" Mengingat segala hal yang baru saja terjadi, dia bahkan meresponnya mengimbangi permainannya.
"Bagaimana caranya besok aku menunjukkan wajahku di depannya! sangat memalukan!" Gerutunya merasa sangat kesal.
Di rumah sakit...
Irna melakukan jadwal operasi yang ke dua kalinya, operasi darurat.
"Pasien mengeluarkan terlalu banyak darah! Naikkan transfusi darahnya!" Perintahnya pada timnya di dalam ruangan operasi tersebut.
Irna mulai mengatasi masalah perdarahan, dan memperbaiki salah satu penyebab kebocoran pada pembuluh arteri pasien.
"Bypass?" Ujar salah seorang asisten pada Irna.
Irna tersenyum dan mulai melakukan pencangkokan, mengalihkan saluran pembuluh arteri pada pembuluh vena, karena terjadi penyumbatan hingga menyebabkan kebocoran pada pembuluh darah tersebut.
Gadis itu kemudian memasang ICD, membuat sayatan kecil. Kemudian mengarahkan kawat kecil dari alat tersebut melalui pembuluh darah ke jantung untuk mengendalikan ritme jantung pasien dari abnormal menjadi normal.
Operasi kedua berlangsung setengah jam lebih lama dari operasi pertama. Rian kembali tersenyum melihat kesuksesan operasi Irna.
Irna keluar dari dalam ruangan operasi sekitar pukul empat pagi. Dia benar-benar lembur hari itu. Saat mengganti bajunya, dan tiba-tiba ponselnya berdering nyaring.
"Kenapa kamu tidak mengangkat ponselmu? sejak tadi aku menghubungimu!" Tanya Fredian dari seberang.
"Ah, aku ada jadwal operasi dadakan pukul dua tadi. Aku berada di dalam ruangan operasi saat kamu menghubungiku." Jelasnya sambil memakai jas dokternya.
"Lalu apakah kamu tidak akan pulang?" Tanyanya lagi.
"Aku akan pulang setelah menikmati segelas kopi." Ujarnya sambil tersenyum menjawab pertanyaan Fredian.
"Aku masih di resort,"
"Aku tahu kamu menungguku."
Fredian mengakhiri panggilan teleponnya, dia meluruskan otot-otot punggungnya. Semalam penuh pria itu sibuk mencermati berkas di atas meja kerjanya.
Irna menuju ruangan kerjanya, dia membuat secangkir kopi kemudian bersandar di sofa seraya memejamkan matanya.
"Kenapa belum pulang?" Rian membuka pintu berdiri di ambang pintu.
"Apa aku merepotkanmu? membuatmu menjadi penjaga ketika aku masih lembur. Seharusnya kamu bisa terlebih dahulu pulang, tidak perlu repot-repot menungguku pulang." Ungkapnya masih tetap bersandar di sandaran sofa.
"Kebetulan aku juga masih sibuk dan lembur juga." Masih berdiri bersandar di ambang pintu ruangan kerja Irna memejamkan matanya sambil menarik nafas dalam-dalam.
Dua orang kelelahan di saat yang sama. "Ah, aku akan pulang sekarang, kamu tahu dia menelepon. Fredian pikir aku tidur bersamamu malam ini!" Kelakar Irna membuat Rian mengangkat kedua alisnya, pria itu kemudian melangkah pergi tanpa berkata apa-apa.
__ADS_1
Bersambung....