Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
Behind sincerity


__ADS_3

"Apa yang kamu pikirkan? semua temanmu sudah bubar sejak tadi!" Royd Carney tersenyum, pria itu sudah duduk di sebelahnya. Melihatnya duduk di sebelahnya Kania terpaksa menenggelamkan kepalanya di atas mejanya.


"Kenapa? apa ada masalah?" Bisiknya pelan sekali di telinga Kania sambil merangkul bahunya.


Kania menepis tangan Royd dari bahunya, kemudian dia berkata, "Bisakah pak dosen menjaga jarak denganku?! bisakah jangan sedekat ini di tempat umum?" Kania merasa telah kehabisan kata-kata. Dia tidak tahu bagaimana cara mengahalau pria gila itu agar tidak menempelnya sepanjang waktu.


"Apa kamu ingin menyingkirkan-ku?" Wajahnya mulai terlihat marah, pria itu mendengus seraya bersandar pada sandaran kursi.


Mendengar dia berkata demikian, Kania menoleh ke arahnya. Kepalanya masih berada di atas meja. "Apa kamu bilang? aku menyingkirkan-mu?! jika saja aku bisa melakukannya, aku pasti sangat menikmatinya!" Tersenyum menatap wajah marah Royd.


"Jadi haruskah aku menjaga jarak denganmu?!" Ikut meletakkan kepalanya di atas meja menatap wajah Kania di depan wajahnya.


Kania sedikit canggung, dia buru-buru mengangkat wajahnya dari atas meja. Gadis itu mengambil tasnya mulai mengemasi barang-barang yang ada di atas meja.


"Kamu mau pergi?" Tanyanya pada Kania, pikir Kania pertanyaan darinya sama sekali tidak perlu untuk dia jawab.


"Aku pulang dulu pak Dosen, akhhhh! bruuuuk!" Royd menarik lengannya hingga tubuhnya jatuh ke belakang, tepat di atas pangkuannya.


Pria itu mengangkat dagu Kania dengan jemari tangan kanannya. Membuatnya mendongakkan kepalanya. "Royd apa yang kamu lakukan?!" Kania ingin bangkit berdiri tapi pria itu menahan pinggangnya dengan lengan kirinya.


"Memohonlah padaku?" Bisiknya sambil menelusuri pahanya dengan tangan kirinya.


"Royd!" Pekiknya sambil meronta-ronta.


"Aku tidak lama lagi bisa masuk ke sini.. ayo memohonlah padaku Kania.." Mengusap-usap area sensitif Kania yang masih berada di balik celana dalam. Tangan Royd sudah berada di balik rok mininya.


"Kamu benar-benar pria kurang ajar! Akkkkhhh! Akkkkhhh! jangan! emmhhh!" Royd menerobos masuk melalui celah-celah di kedua pahanya.


Kania memukuli lengannya, nafas gadis itu mulai tidak beraturan. "Royd.. mmmhhh.. ahhh... hentikan.. akkhh! akkkhhh!" Kini bibirnya sudah berada dalam pagutan pria di belakang punggungnya itu.


"Sudah basah sayang..." Bisiknya lagi di telinganya, membuat Kania terpaksa membuka pahanya lebar-lebar. Membiarkannya melancarkan permainan jemari tangannya.


"Akkkhh, Royyd... akkkhhh.. mmmhh.. ahhh.." Royd membuka resleting miliknya, dan mengangkat pinggulnya naik turun di atas pangkuannya.

__ADS_1


"Akhh! akkh! akkh! akkh!"


"Mmmhh! ahh, mmhhh, ahhh!" Kania terus mendesah karena Royd memainkannya dengan cepat, menaik turunkan pinggulnya ke atas dan kebawah. Membuatnya gadis itu terus tertusuk-tusuk dengan senjata miliknya.


Kania meremas-remas lengannya. "Akkkhhhh... akkkhhh.. Rooyyd... mmmhhhh akkkhhhh!" Gadis itu meraih klimaksnya, Royd kemudian mendorong tubuhnya agar menelungkup di atas meja, melancarkan aksinya dari belakang.


Kania meremas-remas tepi meja, merasakan hujaman bertubi-tubi dari belakang punggungnya, "akkkhh, akkhh, akkh, emmmh, akkh." Royd semakin gencar menghujami area sensitifnya dengan hentakan-hentakan cepat.


"Akkkhhh! Kania...!" Pria itu meraih klimaksnya, menumpahkan cairan kental miliknya ke area sensitifnya dengan hentakan-hentakan cepat.


"Sudah?" Tanya Kania sambil berusaha menepi, tapi Royd tetap menahan pinggangnya. Membiarkan miliknya di sana.


"Royd! jangan lupa kita di kampus sekarang!" Memukul tangannya yang memegangi pinggulnya.


"Oke! aku akan melepaskanmu, kita pulang sama-sama." Tersenyum mencabut miliknya dari area terlarang gadis itu menarik resleting celananya, kemudian membetulkan letak celana dalam Kania.


"Kamu kan membawa mobil sendiri? kenapa harus pulang bersamaku, pak dosen?" Tanyanya pada pria yang masih berdiri menempel di belakang punggungnya itu.


"Karena aku ingin.." Menyibakkan rambut Kania ke samping bahunya, mencium lehernya.


Kampus tersebut benar-benar sepi penghuni setelah para mahasiswa dan mahasiswi lainnya membubarkan diri, Kania sedikit merasa heran. "Ada yang tidak beres di sini!" Bisik gadis itu seraya berjongkok di luar pintu kelasnya, mencermati bubuk merah yang tersebar di seluruh lorong membentuk garis merah.


Royd membawa tasnya keluar, dia melihat Kania mengamati lorong universitas tersebut. Pria itu menguap sambil mengusap tengkuknya sendiri.


Kania menatap ke arahnya dengan tatapan mata curiga, "Kamu! jangan bilang ini semua kamu yang melakukanya?!" Tuduh Kania padanya.


"Untuk apa aku melakukan hal itu? memangnya kapan aku punya waktu untuk melakukannya? bukankah kamu tahu sepanjang pagi aku di mana?" Mengangkat alisnya menggoda gadis itu.


"Benar juga! sejak pukul empat pagi dia berada di dalam apartemen milikku!" Gumam gadis itu pada dirinya sendiri, Royd melihat ke arah temannya yang sedang berdiri di ujung lorong. Bersembunyi di balik dinding. Dia mengangkat ibu jarinya, tanda tugas sudah selesai dan dia boleh meninggalkan universitas kedokteran tersebut.


"Royd, mungkin ini bukan kamu yang melakukannya! tapi temanmu mungkin saja yang melakukannya! apa aku perlu membawanya ke depan wajahmu?!" Geram Kania seraya menggenggam serbuk merah di tangan kirinya.


Dia tahu serbuk tersebut adalah senjata milik pemburu vampir, digunakan untuk menghalau manusia. Membuat mereka tanpa sadar meninggalkan bahkan menjauhi lokasi yang tersebar serbuk merah tersebut. Serbuk tersebut berfungsi untuk memainkan naluri alami manusia.

__ADS_1


Pada saat pemburu sedang beroperasi, akan sangat sulit jika manusia ikut membaur ke area terlarang tersebut. Jadi sebelum beroperasi mereka menebarkan serbuk tersebut di lokasi seraya berlari mengejar buruan.


Kania sebagai bangsa vampir tentu saja tahu seluk-beluk mengenai hal yang sangat familiar baginya. Segala macam senjata lawannya, dan anehnya Royd menggunakannya untuk menghalau manusia karena dia sedang bercinta dengan dirinya! Bukan karena ingin menangkapnya!


Kania kesal sekali, "Pantas saja pria gila itu begitu tenang!" Gerutu gadis itu sambil melangkah meninggalkan Royd di lorong, pria itu tersenyum melihat Kania mengetahui akal bulusnya.


Kania sampai di parkiran, gadis itu membuka pintu mobilnya, "Astaga! dasar menyebalkan! bakkkk! bakkkk!" Kania menimpukinya dengan tas miliknya. Dia kesal sekali pria itu sudah ada di dalam mobilnya, mengejutkan dirinya.


"Kamu ngapain tidak berada di dalam mobilmu sendiri?" Gerutunya seraya cemberut kesal.


Royd membelai rambut panjangnya, pria itu terus-menerus mengulum senyum menatap wajah cemberut di depannya itu.


"Kania?" Panggilnya sambil mengusap pipinya.


"Dasar menyebalkan!" Melengos menatap ke luar kaca mobilnya.


"Jangan merajuk, atau.." Mulai mencium pipinya.


"Kamu kapan ke luar kota?" Kania menoleh menatap wajahnya, yang sejak tadi menciumi pipinya.


"Kamu ingin aku pergi?" Menciumi wajahnya bertubi-tubi, juga menciumi bibirnya.


"Aku cuma bertanya." Ujarnya lirih setelah melepaskan pagutan bibir pria itu.


"Pak dosen, yakin meninggalkan mobil di sini?" Tanya Kania lagi padanya. Gadis itu sebenarnya ingin melemparkan tubuh pria itu keluar dari dalam mobilnya. Tapi dia juga akan mengambil ganti rugi akibat perlakuannya padanya.


Kania memilih diam dan mulai menyerah, karena dia diam-diam juga menyukainya! menyukai keganasan dan keberaniannya! Pria di sampingnya itu diam-diam melindungi dirinya dari para pemburu lain, karena dia adalah raja pemburu! Kania mengetahuinya, mengetahui pengorbanan dirinya.


Dan tiga hari terakhir dia pergi juga demi meyakinkan pada para pemburu yang mengadakan pertemuan, dia meyakinkan mereka bahwa tidak ada vampir di kawasan yang sedang dia tinggali sekarang. Tapi Kania tidak tahu apakah pria itu memiliki sesuatu yang tengah dia sembunyikan.


Memiliki sesuatu, hingga mengorbankan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu! memiliki rahasia tersembunyi dibalik sifat manisnya, di balik cucuran air matanya!


*Bersambung...

__ADS_1


Tinggalkan like sebelum pergi + komentar dan vote juga ya?? terima kasih sudah membaca, tunggu episode selanjutnya ya*?...


__ADS_2