Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
Contention


__ADS_3

Irna mencoba bangkit berdiri, pria yang melemparkan tubuhnya kini menarik krah baju Rian. "Jroooot!" Sebuah tinju melayang ke pipi kanan Rian, bibir pria itu berdarah sekarang.


"Cih!" Rian meludah ke samping, pria itu tersenyum ke arah Fredian. Dia seperti melihat dirinya sendiri, dia ingat saat dia sedang sangat cemburu. Ingat saat dia bertingkah lebih buruk dibandingkan dengan Fredian.


"Fredian! hentikan! jangan mencari masalah di sini!" Teriak Irna pada pria itu. Gadis itu menyeret lengannya agar segera meninggalkan tempat tersebut, membawanya masuk ke dalam ruangan kerjanya.


"Kenapa?!" Fredian menyentakkan genggaman tangan Irna pada lengannya.


"Kenapa apa maksudnya? tentu saja itu akan mempermalukan-mu! kamu adalah Presdir Resort! dan Rian adalah pemilik rumah sakit ini! dan tadi itu aku yang menabraknya sampai dia jatuh!" Irna mencoba mengatakan kejadian yang sebenarnya.


Fredian mengangkat tangan kanannya, dia mengingat permainan gilanya di rumah lama Irna bersama Rian saat perceraian kedua mereka.


"Aku tidak ingin mempercayaimu!" Ujarnya dengan nada ketus.


"Fred, apakah ini saatnya kita bertengkar lagi?! kamu lupa dengan kejadian bertahun-tahun lalu? kamu menyusulku ke Jerman waktu itu!" Irna memegangi tangan Fredian.


"Aku baru tahu ternyata kamu lebih senang berada di sisinya dibandingkan dengan bersamaku! buktinya sepanjang waktu kamu lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sakit." Sergahnya lagi, pria itu benar-benar tidak ingin memberikan celah sedikitpun pada Irna.


Dia tahu, Irna sangat memperhatikan Rian sejak dulu. Istrinya itu tidak ingin Rian kenapa-kenapa atau sesuatu yang buruk menimpanya.


"Jika semua yang kamu tuduhkan barusan itu, aku anggap benar! dan aku tidak memberikan penjelasan apapun padamu! lalu apa yang akan kamu lakukan? memangnya kamu bisa menceraikanku! kamu lupa setatusku? siapa aku?!" Irna berkacak pinggang mendekat ke arahnya.


Dia sudah kelelahan pagi ini melayaninya. Kini di tambah lagi surat pemecatan yang tidak masuk akal! lalu kemarahan Fredian yang tiba-tiba muncul membuat masalah di rumah sakit. Benar-benar sepiring porsi menu yang sangat lengkap untuk sarapan paginya.


"Kau! kamu mengancamku!?" Tanya Fredian dengan nada tinggi.


"Iya! memangnya kenapa kalau aku marah! bukankah kamu hanyalah pria simpananku???! lalu kenapa aku tidak boleh mencari selir pria lain! lagi pula pagi tadi kamu juga sedang bermesraan dengan Karin!" Tandasnya tegas membalas kemarahannya.


"Oh jadi begitu?!" Menghardik Irna sambil mendorongnya dengan langkah kakinya.

__ADS_1


"Tok! tok! tok!" Seseorang mengetuk pintu ruangan kerjanya.


"Masuklah!" Perintah Irna pada asistennya.


Posisi Irna sekarang sedang bersandar di meja kerjanya, sambil menahan dada Fredian.


"Tak!" Dokumen yang ada di tangan asistennya tiba-tiba terjatuh di lantai melihat posisi mereka berdua.


"Maaf dokter Kaila, saya akan kembali nanti saja." Memungut dokumen yang terjatuh lalu kembali menutup pintu ruang kerjanya.


Irna hanya terbengong, dia tidak mengerti kenapa Riska pergi setelah melihat mereka berdua. "Fred? apa make up ku berantakan?" Tanya Irna pada Fredian yang masih menghimpit tubuhnya di tepi meja.


"Tidak, kamu terlihat sangat cantik!" Ujarnya sambil menatap wajah Irna.


"Lalu kenapa asistenku pergi dengan wajah gugup begitu?" Tanyanya lagi pada suaminya.


"Mungkin karena dia tidak ingin mengganggu kita berdua." Ujarnya seraya meraba paha Irna. Membuat Irna tersadar jika Fredian tengah menghimpit tubuhnya sekarang.


"Kenapa?" Fredian tidak peduli, bahkan dia siap-siap melabuhkan bibirnya pada bibir tipis Irna.


Benar saja pria itu sudah memagut lembut bibir Irna, terus memagutnya. Irna masih menahan dadanya, yang kini telah berubah meremas-remas jas hitam suaminya itu.


"Mmmhhhh.. mmmmm... mmmhh!" Irna bergumam tidak jelas, karena bibirnya masih berada dalam pagutan lembut Fredian.


"Kalau ingin bercinta kenapa tidak pulang saja? kalian berdua selalu melakukan hubungan di sembarang tempat!" Rian sudah berdiri di ambang pintu menatap mereka berdua.


"Kamu sudah memecatku! dan sekarang mengusirku! sebenarnya apa alasannya? apa hanya karena datang terlambat? bukankah biasanya selalu ada dokter cadangan yang menggantikanku?! dan kita juga sudah sepakat akan bekerja sama dengan berbagi intensif dengan dokter cadanganku saat pekerjaanku dialihkan."


Ucapnya panjang lebar pada Rian. Fredian tahu itu adalah kesalahannya yang menyuruh istrinya agar dipecat dari pekerjaannya.

__ADS_1


Rian tidak bisa berkata-kata, dia hanya menggenggam surat pemecatan Irna.


"Ya sudah kalau kamu tidak mau menjelaskan segalanya! aku juga harus pergi ke Belanda hari ini. Kebetulan sekali aku resign jadi aku tidak perlu meminta izin padamu."


Irna mengambil tasnya, lalu mendorong tubuh Fredian agar menjauh. Gadis itu menyambar surat pemecatan dari tangan Rian lalu melenggang pergi keluar dari dalam ruangan kerjanya.


"Kenapa kamu memecatnya!!!!?" Fredian mengacak-acak rambutnya sendiri karena kesal sekali.


Rian bingung melihat Fredian marah karena dia memecat Irna. Dia pikir itu yang diinginkan olehnya karena marah-marah pada Irna, gadis itu memang banyak menghabiskan waktunya untuk berada di rumah sakit.


"Bukankah itu yang kamu mau? kamu bilang dia banyak menghabiskan waktunya bersama denganku? jadi aku memecatnya agar dia terus menemanimu sepanjang waktu." Rian merasa tindakannya tidak ada yang salah sama sekali.


"Kamu lihat? dia malah pergi ke luar negeri?! gadis itu pasti akan berlama-lama di Belanda!" Gerutu Fredian pada Rian.


"Kalau kamu tidak menginginkan dia keluar dari rumah sakit, kenapa malah marah-marah ketika dia terlambat pulang? kamu seharusnya tahu gadis itu sangat sibuk sekarang."


"Menjadi seorang dokter hebat sepertinya bukan hal yang mudah! banyak para petinggi yang ingin ditangani oleh Kaila Elzana! aku sendiri sebenarnya tidak ingin melepaskan dirinya dari rumah sakitku!" Rian memijit keningnya. Mendadak merasa pusing karena Irna telah keluar dari rumah sakitnya.


"Aku tidak berpikir sejauh itu! aku pikir dia menemanimu sepanjang hari!" Fredian menilik wajah Rian, pria itu mencari kebenaran tentang yang sebenarnya terjadi. Melihat wajah Rian begitu geram mendengar ucapannya itu. Dia tahu bahwa dugaannya tidak benar.


"Dasar picik!" Umpat Rian sambil menyeringai tersenyum sinis menatap tajam ke arah Fredian.


"Kamu pikir aku lelaki macam apa?!" Sergah Rian lagi padanya.


"Pria macam apa?! hah! pria macam apa yang memaksa istriku tidur dengannya?? pada saat sebelum aku menceraikan dia yang kedua kalinya waktu itu?!"


"Kamu tidak berpikir?! kenapa dia pergi malam itu ke rumah lamanya?! kamu membuatnya sangat tertekan! kamu terus menerus mencurigainya!" Desak Rian pada Fredian. Karena dia tahu Irna tidak pernah berbelok pada dirinya, walaupun telah bersamanya bertahun-tahun lamanya.


"Kamu lupa Fred! di Jerman kita berdua tinggal bersama! aku dan Irna! kenapa baru sekarang kamu mengungkitnya!!!!? dasar picik!" Umpat Rian seraya meraih krah baju sahabat lamanya itu.

__ADS_1


*Bersambung..


Tinggalkan like dan komentar, vote juga ya?? karena author akan update gila-gilaan bulan Juni ini! terima kasih Readers...❤️❤️❤️❤️👍👍👍*


__ADS_2