
Irna melangkah keluar dari dalam ruangan, mereka bertiga melangkah bersama-sama. Irna berada di antara kedua pria tampan itu. Jas kedua pria itu berkibar-kibar seiring dengan langkah kakinya.
Fredian tersenyum dan Rian juga sama tersenyum, "Plak!" Kedua telapak tangan dua pria itu beradu di belakang punggung Irna. Gadis cantik itu terus melangkah dengan anggunnya.
Mereka bertiga melangkah menuju ke arah pintu keluar. Semua penghuni kerajaan tersebut tengah tertidur pulas.
Irna, Rian, dan Fredian langsung menuju ke bandara Schiphol bagian selatan Amsterdam, mereka mengendarai mobilnya dari Casteels Doorwerth Fonteinallee 2, 6865 ND Doorwerth Belanda.
Setelah sampai di Schiphol mereka segera mengambil penerbangan menuju ke London, Fredian sudah menyiapkan tiket pesawat mereka bertiga.
Perjalanan berlangsung selama lima puluh lima menit. Mereka bertiga sudah tiba di Heathrow airport London.
"Kita berpisah di sini." Rian melambaikan tangannya pada mereka berdua, langsung menuju ke sebuah taksi yang sudah di pesannya satu jam yang lalu saat mereka masih berada di Belanda.
Irna tersenyum cerah melihat Rian masuk ke dalam taksinya. "Kamu merindukannya?" Celetuk Fredian tiba-tiba.
"Apa? apa maksudmu?" Tanya Irna sambil mengerjapkan matanya berkali-kali.
"Hahhahaha! dasar pencemburu!" Tambah Irna sambil berlari menuju ke arah mobilnya. Irna sengaja meninggalkan mobilnya di penitipan ketika dia berangkat ke negeri Holland kemarin.
Fredian mengikutinya dari belakang, pria itu masuk ke dalam mobilnya, duduk di kursi sebelah kiri, Irna segera menginjak pedal gasnya. Melaju meninggalkan airport tersebut menuju ke Resort Fredian.
"Kenapa menuju ke Resort?" Tanya Fredian padanya.
"Ah? bukannya kamu ingin langsung menuju ke sana?" Tanya Irna karena tidak tahu jika suaminya sedang tidak ingin pergi ke sana.
Irna segera menepikan mobilnya di tepi jalan, menunggu Fredian bicara. "Kita mau kemana? kamu ingin menuju ke suatu tempat?" Tanya Irna pada Fredian.
"Ke rumah kita saja.." Bisiknya di telinga Irna. Irna tahu apa yang dimaksud oleh suaminya itu dengan kata rumah.
Irna mengehela nafas panjang, dia tahu kenapa pria itu mengajaknya pulang ke rumah. Karena sekarang dia sudah sibuk meremas-remas bongkahan kenyal di balik gaunnya.
"Aku sedang menyetir Fred!" Irna menepis tangannya dari atas dadanya.
"Aku tahu!" Kembali meremas-remas.
"Jangan keterlaluan Fred! akkkh! cccciit!!" Irna berteriak karena roda depan mobilnya hampir masuk ke selokan tepi jalan. Bunyi rem mobilnya berdecit nyaring bersamaan dengan diinjaknya kuat-kuat pedal rem mobilnya.
__ADS_1
"Kamu menolakku?" Bisiknya semakin menggila meremas-remas.
"Tunggu kita sampai di rumah!" Pekik Irna, sambil mendorong tubuhnya menjauh.
"Apa seharusnya aku tidak menunjukkan padamu wajahku? aku penasaran seperti apa wajahmu ketika berhubungan dengan pria itu!" Gerutu Fredian padanya, berkali-kali pria itu mendengus kesal karena Irna menolaknya.
"Jika kamu tidak menunjukkan wajahmu! pasti aku sudah membunuhmu!" Geram Irna.
"Tapi aku tidak yakin, bukankah kamu selalu menikmati setiap cumbuan?" Masih bertanya dengan nada mengejek.
"Ciiiit! braaakkk!" Irna menginjak pedal remnya tiba-tiba. Gadis itu keluar dari dalam mobilnya, sambil membanting pintu. Dia sangat kesal sekali pada suaminya itu.
"Apa sebenarnya yang ada di dalam kepalanya! kenapa dia berubah sepicik itu?! Benar-benar menjengkelkan sekali!" Gerutu Irna sambil terus berjalan tanpa menoleh lagi ke belakang.
Waktu sudah dini hari, Irna menjentikkan jarinya satu detik kemudian dia sudah berada di dalam ruangan kamarnya.
Lima menit kemudian suara mobilnya sudah terdengar masuk di halaman depan rumahnya. Fredian keluar dari dalam mobilnya masuk ke dalam rumah.
Pria itu masih tersenyum mengingat wajah kesal istrinya. Dia senang sekali melihatnya merajuk, meminta terus dicumbui olehnya. Dan karena itulah dia terus membuatnya kesal dan marah.
Lain sebaliknya dengan Irna, gadis itu semakin jengkel karena Fredian terus menerus membuatnya marah. Terus menyindir dan juga mengejeknya. "Sebenarnya apa yang diinginkan pria itu?" Gumam Irna sambil tengkurap di atas tempat tidurnya.
Dia mendekati Irna sambil tersenyum, Irna segera berbalik memunggungi Fredian. Menutupi kepalanya dengan bantal. Otaknya tidak bisa berpikir jernih sekarang, semakin di dekati olehnya dia hanya akan semakin kesal.
"Kenapa kamu menyembunyikan wajahmu?" Bisik Fredian sambil mengusap punggungnya.
"Kamu menyebalkan Fred! aku tidak ingin bicara apapun denganmu!" Masih tetap menyembunyikan kepalanya di bawah bantal.
"Irna, sayang..." Bisiknya lagi, sembari menciumi punggungnya. Gadis itu tidak mau menjawab, nafasnya terdengar sudah teratur.
"Dia sudah tertidur? lalu bagaimana denganku?" Gumam Fredian pada dirinya sendiri sambil melihat ke bagian bawah tubuhnya, ada sesuatu yang telah tegak berdiri, tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata di sana.
Pria itu kemudian berbaring di belakang punggungnya, rebahan sambil menopang kepalanya dengan kedua tangannya.
"Kamu benar-benar sudah terlelap?" Ujar Fredian lagi. Dan tidak ada jawaban apapun dari Irna. Dia meraba pahanya, menelusuri kulit mulusnya sambil menciuminya.
Irna meremas bantal yang sejak tadi dia gunakan untuk menutupi kepalanya. Fredian merasakan suhu tubuh Irna sedikit demi sedikit meningkat ketika dia mengelus lembut bibir di antara kedua belah pahanya.
__ADS_1
Paha mulus Irna ditariknya hingga menopang di atas pinggang Fredian, agar dia leluasa mengocok-ngocok area sensitif Irna dengan jemari tangannya.
"Fredddddd!!! uuuuhhhhhh! akkkhhhh!" Irna mendesah merasakan area sensitifnya di aduk-aduk hingga basah dan berdecak-decak karena kocokan jemari Fredian semakin cepat.
Gadis itu melemparkan bantal dari atas kepalanya, lalu mengubah posisi tubuhnya, hingga terlentang sambil membuka kedua pahanya lebar-lebar.
"Akkkhhhh.. emmmhhh.. akkhhh.." Pinggul Irna ikut meliuk-liuk menikmati kocokan jemari tangan Fredian.
Pria itu begitu puas mendengar desahannya semakin membuat pikirannya menggila terus mencumbuinya dengan brutal.
Fredian menarik gaunnya hingga terhempas ke lantai, lalu memagut daging kecil di antara kedua pahanya yang sudah basah kuyup dengan lendir.
"Fred akkkhh.. akkkhhh.. akkkhhh.. mmmhhh
... awhhh.... aaahhh.. awwhhhh... uuuhhh.. aauuwwhh.. akkhh."
Jemari tangan Irna meremas-remas bongkahan kenyal miliknya sendiri, dia tidak bisa menahannya lagi.
"Freed.. akkkhhhh... Akkkkhhhhhh.." Fredian terus memagutnya hingga cairan kental tumpah keluar dari belahan paha mulus Irna. Gadis itu telah melepaskan klimaksnya.
Fredian tersenyum lalu mulai menerobos, mengayun ke depan ke belakang.
"Clak! clak! clak! clak! clak! clak!" Suara dua organ beradu, Fredian menghentak-hentakan mendorong masuk keluar bertubi-tubi.
Irna meremas punggung Fredian, merasakan kenikmatan permainan pria itu.
"Fredd.. akkh.. emmhh.. akkhh.. ouuwwhh!" Desisnya membuat Fredian semakin liar menggigit ujung dua bola kenyal dadanya.
"Akkhhhh! Fred.."
"Hemm... clak! clak! clak! clak!."
"Jangan gigit.. akkk.."
"Aku suka mendengarmu merintih, dan merajuk.. clak! clak! clak!" Pria itu mempercepat laju permainannya hingga mencapai klimaksnya.
"Akkkhhh, akkkhhhh!" Lenguhan panjang Fredian, lalu ambruk di atas tubuh Irna. Wajah mereka berdua basah kuyup dengan keringat.
__ADS_1
*Bersambung....
Tinggalkan like sebelum pergi+ vote juga ya? Thanks for reading*..