Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
Long time..


__ADS_3

"Apakah pesta malam ini tidak dibatalkan oleh Ruina?" Tanya Irna pada malam itu.


"Kamu tidak mendengar suara bising di luar kamar?" Tanya Fredian pada Irna yang masih telungkup di bawah selimutnya.


"Aku rasa kita akan mendapatkan masalah lagi! gadis itu tidak akan pernah menyerah sebelum aku membuatnya jera!" Ujar Irna menatap wajah Fredian penuh semangat.


"Akh tapi kakiku! seharusnya kamu melakukan ini sekali saja! Aku jadi sedikit sulit berdiri." Gerutu Irna menatap pria itu masih terkekeh.


"Kita harus datang ke pesta! Ruina akan membuat masalah lagi sepertinya!" Ujar Fredian membantu Irna berdiri.


"Tentu kamu tidak akan ingin melihat aku sendirian menghadapi gadis itu kan?" Tanya Fredian.


"Ha ha ha ha, bagaimana mungkin seorang Fredian memilih kabur dan bersembunyi di belakang punggungku hanya karena seorang gadis kecil?!" Irna tertawa melihat wajah Fredian yang tidak ingin terlibat dalam masalah wanita.


"Kamu lupa siapa yang melempar sepatu ke muka gadis gendut itu dan membuatnya menangis ketakutan ketika melihatmu berdiri di sebelahku?" Ujar Fredian kembali mengingatkan Irna di masa kecilnya.


"Itu aku." Ujar Irna pendek.


"Jika dipikir-pikir sejak awal kamu hanya memanfaatkan mereka para gadis yang menyukaimu!"


"Kamu menerima cokelat dari si gendut tapi bersembunyi di belakangku ketika dia ingin menciummu! dan aku terpaksa memukul mukanya dengan sepatuku!" Ucap Irna mengingat masa kecilnya.


"Kamu menerima tawaran Siska untuk bertunangan denganmu demi alamat rumahku di London!" Irna menghitung dengan jarinya.


"Kamu bahkan menukar istrimu dengan vaksin!" Kembali menghitung.


"Kamu juga bersembunyi di belakang punggungku ketika Clarisa ingin menikah denganmu, kamu menggunakan dia untuk membuatku cemburu karena akhirnya tidak berhasil kamu membuangnya melalui diriku!!"


"Dan Ruina??? apa yang kamu inginkan darinya???!" Wajah Irna berubah drastis, tersenyum mengerikan menarik dasi Fredian ke arahnya.


"Aku sungguh tidak punya niat apapun pada gadis muda itu! maksudku gadis kecil! ya gadis kecil!" Fredian menarik kata-katanya kembali.


"Apa kamu akan ke pesta hanya memakai gaun setipis ini?!" Fredian menyibakkan rok Irna pura-pura berjongkok memijit betisnya.


"Aku akan memijitmu jika kamu lelah!" Ujar Fredian menyembunyikan wajahnya di bawah rok Irna.


"Kamu sedang apa?! Fredian!" Irna menahan tangan Fredian yang singgah mendadak di balik gaun malamnya.


Fredian tersenyum nakal melihat Irna menghindar.


"Kamu tunggu aku di sini, aku akan berganti pakaian!" Ujar Irna tiba-tiba.

__ADS_1


"Dasar pria itu! dia selalu mengambil kesempatan! aku tidak akan bisa berdiri jika dia melakukannya lagi!" Gerutu Irna kesal sekali.


Irna mengenakan gaun warna merah darah, senada dengan warna lipstiknya. Gaun itu memiliki belahan samping setinggi paha. Rambutnya dibiarkan jatuh bergelombang ke punggung mulusnya.


Anting kecil sepanjang sepuluh sentimeter menggantung manis di ujung telinga gadis itu.


"Tak! tak! tak!" Suara sepatunya menggema memukul lantai di setiap langkahnya yang anggun.


Fredian tersenyum melihat Irna yang sangat cantik malam itu. Gadis itu menggamit lengan suaminya masuk ke dalam pesta.


Ruina tersenyum melihat Fredian masuk ke dalam pesta bersama dengan Irna.


Gadis itu memberikan dua gelas minuman untuk menyambut mereka berdua.


Irna tersenyum penuh misteri melihat Ruina sangat antusias berharap mereka berdua meminumnya.


Irna sengaja mengambil gelas di depan Fredian dan meneguk minumannya sampai habis. Dan Fredian mengambil gelas Irna meneguknya sampai habis.


Ruina agak terkejut karena Fredian yang meminum minuman Irna.


"Kenapa kepalaku tiba-tiba sedikit pusing?" Fredian menghambur memeluk Irna.


"Gadis ini tadinya hendak mempermalukan aku di pesta, tapi malah Fredian yang meminumnya!" Geram Irna melihat ke arah Ruina.


"Sepertinya suamiku kurang sehat jadi aku akan kembali bersamanya ke dalam." Ujar Irna hendak memapah Fredian kembali ke dalam.


"Ah tunggu, aku hanya pura-pura sakit! kamu tidak perlu hawatir seperti itu istriku!" Tersenyum ke arah Irna.


Gadis itu sedikit bingung,


"Bukankah tadi author sudah mencatat skenarionya. Aku memapah Fredian masuk kembali ke dalam kamar dan pria itu kembali...."


"Apakah author begitu mesum?!" Fredian melihat author sambil berkacak pinggang.


"Ini bukan salahku tapi salah kalian sendiri." Ujar Author menggigit kue, sambil terus mengetik.


"Lalu kenapa dia datang ke mari?! bukankah kontraknya sudah habis di tengah episode novel ini???!" Fredian menghardik Author. Menggigit ujung dasinya dengan tatapan mata tidak percaya.


"Hallo Readers tercintaku muach! muach!" Dion masuk ke dalam pesta tiba-tiba menyapa Readers.


"Kenapa kamu ikut hadir di sini?! kamu ingin merebut Irna dariku lagi?!" Fredian mendelik dengan wajah tidak senang. Mendorong kepala Dion ke samping kiri.

__ADS_1


"Kamu terus mencuri perhatian di hati pembaca dalam beberapa episode terakhir! jadi biarkan aku sedikit menyapa kali ini!" Dion mendesak Fredian ke samping kanan.


Tidak mau kalah, Dion mengerling ke arah pembaca, melepaskan jasnya menenteng di atas bahu kanannya.


"Hai Readers, aku tahu kalian telah jatuh cinta padaku! aku adalah pria yang sangat tampan satu dua dengan Fredian. Aku muncul tiga episode di tengah kisah novel ini."


"Jika saja penulis tidak menendangku, karena aktor baru Reynaldi!" Pura-pura mengusap air matanya dengan ujung jasnya, melihat ke arah Readers.


"Apa kamu barusan memanggilku?!" Reynaldi ikut nimbrung merangkul bahu Dion. Melambaikan tangannya ke arah Readers.


"Aku juga bingung sebetulnya, kenapa Author sengaja membuatku jadi pemeran antagonis di sini? jika saja dia menukar peranku dengan Fredian pasti akan sangat senang berada setiap waktu di sisi Irna! dia gadis yang sangat populer sejak awal di novel ini....." Reyfarno menatap ke arah langit berharap bintang jatuh mengabulkan keinginannya.


"Apakah kamu tidak ingin melirik ke arahku? aku juga sangat cantik?! hai Readers... apa kabar kalian??" Siska tersenyum melambaikan tangan menatap pembaca yang penuh wajah semangat mengikuti kisah ini sejak awal.


"Aku ingin masuk kembali ke dalam cerita ini, tapi aku tidak tahu apakah pembaca menginginkan aku???" Ujar Siska dengan wajah sedihnya...


"Aku juga mau! aku harap aku berperan sebagai pria yang baik untuk episode selanjutnya... tapi apakah penulis akan memakaiku atau mengganti dengan orang lain lagi!" Teriak Dion marah dengan author.


"Aku tidak tahu kenapa kalian tiba-tiba menerjang masuk ke dalam pesta Ruina!" Author berlari kabur menutup kepala dengan laptopnya.


"Kenapa kalian selalu muncul dan merusak sekenarioku! berhentilah menggangguku! kalau tidak ingin aku gantikan dengan aktor dan artis lain!!!" Ujar Author dengan wajah serius menatap marah ke arah mereka semua.


Tapi mereka sepertinya tidak peduli dengan author.


Mereka saling merangkul bahu satu sama lain berdiri berjajar.


Fredian merangkul bahu Irna, disebelahnya lagi Siska, kemudian Ruina, Reynaldi, Dion, Reyfarno. Mereka menatap bahagia ke arah Readers!


"Eh bukankah masih kurang satu? pemeran utama di sini?!" Tanya Irna mendelik pada Author!


Author menutup kepalanya dengan selimut kemudian menyerahkan satu orang lagi.


"Maaf aku sedikit terlambat, aku masih mengambil berkas tadi!" Rian tersenyum ikut berbaris merangkul bahu Reyfarno.


"Kami semua mengucapkan kepada para Readers, selamat merayakan hari valentine bagi yang merayakannya! maaf kami terlambat karena author memforsir kami untuk terus bekerja di dalam novel! Tapi kami memihakmu Readers jadi abaikan author sebentar saja! biarkan dia menggigit kerupuk dan kue! sampai jumpa di episode selanjutnya.... I love you!"


Rian berlari ke depan layar membentuk pistol dengan jari jempol dan telunjuknya, menembakkan pistol ke arah Readers!


"Dooor! cetak! fuuuh!" Meniup ujung telunjuk jarinya seraya mengedipkan sebelah matanya. Tersenyum menggoda.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2