Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
Keluarga Derrose dan Keluarga Aditama


__ADS_3

"Antoni! aku tahu kamu masih di luar pintu! cepat masuk" Teriak Fredian dari dalam ruangan.


"Iya Presdir." Berjalan masuk ke dalam ruangan, jejak-jejak Irna sudah lenyap sama sekali. Celingukan mencari Irna tidak ada di sudut manapun.


"Apa jangan-jangan tadi aku cuma berhalusinasi ya?" Gumamnya pelan sambil meletakkan berkas di atas meja kerja Fredian.


"Presdir saya permisi dulu." Antoni undur diri dan menutup pintu kantor Fredian dengan sangat perlahan.


Setelah mendengar pintu tertutup Irna keluar dari persembunyiannya, gadis itu bersembunyi di bawah meja kerja Fredian. Irna melongok keluar dari bawah meja dan kembali memeluk suaminya.


"Berkas-berkasmu banyak sekali? apa setiap hari selalu seperti ini?" Tanya gadis itu sambil duduk memunggungi Fredian, masih berada di atas pangkuannya.


Irna masih melihat berkas berjibun di atas meja. Fredian mengangkat tubuh Irna masuk ke dalam kamar agar gadis itu beristirahat.


Membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur dan menyelimutinya.


"Kamu tidak jadi memesan makanan?" Tanya Fredian sambil duduk di tepi tempat tidur.


Wajah pria di hadapannya itu kembali teduh, seteduh awal pertemuan mereka beberapa tahun lalu.


"Apakah mungkin karena darahku pria itu tetap tampil seperti itu?" Bisik Irna dalam lamunannya.


"Hei! malah melamun!" Suaminya menyentuh ujung hidung Irna dengan jari telunjuknya.


"Ah iya, pilih apa saja, aku mau makan apa saja. Jangan terlalu banyak, ada sayuran dan jus buah, juga buah segar."


Ujar gadis itu kembali memeluk pinggangnya dengan nyaman.


"Kamu semakin lengket, apa ada sesuatu yang membuat dirimu gelisah?" Tanyanya sambil melepaskan pelukan istri tercintanya.


Irna hanya menggelengkan kepalanya, gadis itu menitikkan air matanya, kesedihan yang dia rasakan di dalam komanya. Perpisahan yang sangat menyakitkan dia tidak menginginkan itu.


Apapun itu Irna akan terus berjalan melalui segalanya, tanpa ingin membuat orang yang menyanyangi dan disayangi terluka olehnya.


Fredian mengangkat wajah Irna dengan kedua telapak tangannya. Dilihatnya air mata gadis itu merembes melalui celah-celah bulu mata lentiknya.


Pria itu mengecup keningnya dan memeluknya.


"Aku tidak akan pernah meninggalkan dirimu.. jika kamu menghawatirkan aku pergi dari sisimu, itu tidak akan pernah terjadi Irna." Jelasnya terus memeluknya erat.


"Aku tahu, kamu tidak akan pernah pergi. Tapi aku?" Ujarnya sambil menatap wajah Fredian tanpa bisa melanjutkan perkataannya.


"Memangnya kamu mau pergi kemana?" Tanyanya lagi sambil menatap wajahnya lekat-lekat.


Gadis itu hanya menggelengkan kepalanya berkali-kali dan berusaha tersenyum, tapi bagaimanapun dia menyembunyikan sesuatu Fredian tahu apa yang sedang difikirkan oleh Irna.


Tatapan matanya menyiratkan segalanya, sebuah insting yang menjadi percakapan batin antara keduanya.


Isyarat mata yang tajam dan menguak segala rahasia di dalam hati Irna tanpa ingin dikatakannya.


Tatapan matanya menyatakan bahwa..


"Aku tidak tahu, tapi aku merasa bahwa aku akan pergi ke tempat yang sangat jauh. Aku tidak tahu itu di mana."


"Aku sudah mencoba menghindari takdir yang satu, apakah aku akan kembali masuk ke dalam kejadian yang lainnya, lalu menggoreskan tinta takdir yang tidak kalah menyakitkan..." Ungkap Irna dalam hatinya.


Gadis itu terus melamun, tapi dia tidak ingin membuat Fredian sedih jadi dia memilih untuk tidak mengatakan apapun padanya.


Fredian tersenyum lalu dia segera berkata pada Irna sambil membelai rambut panjangnya.


"Takdir akan tetap terjadi sebagaimana mestinya, jika kita sebagai manusia menghindari satu takdir maka kita akan masuk kembali ke dalam takdir yang lainnya."


"Karena begitulah sebenarnya manusia, kita diciptakan untuk melaluinya, entah itu pahit atau manis."


"Menyenangkan atau menyedihkan, kita diciptakan dan terus berjalan melalui kehidupan dengan tinta-tinta takdir Illahi.."


Ucapan Fredian membuat hati gadis itu sedikit tenang.


"Aku akan memesan makanan untukmu, istirahatlah."


Irna menurutinya dan berbaring di atas tempat tidur. Fredian melangkah keluar dari dalam kamar menuju ruang kerjanya dan menghubungi pelayanan untuk segera menyiapkan makanan.


Irna memeriksa ponselnya di dalam laci kamar tersebut.


Sepuluh panggilan telepon dari Rian. Irna segera menghubungi dokter pribadinya itu kembali.


"Halo Rian?" Ujar Irna setelah Rian mengangkat ponselnya.


Fredian membawa nampan berisi makanan masuk ke dalam kamar. Dia melihat Irna dengan wajah serius sedang menghubungi seseorang.


Fredian meletakkan nampan di atas meja di depan Irna. Gadis itu melihat ekspresi yang tidak diinginkan olehnya, kemudian menahan lengannya agar duduk di sebelahnya.

__ADS_1


"Ada apa?" Tanya Irna masih berbicara melalui ponselnya.


"Tadi pagi aku mengantarkan kamu ke perusahaan Erlando, tidak ada sesuatu yang mencurigakan, tapi kenapa mendadak jadi serumit ini?!" Tanya pria itu sambil memijit pelipisnya.


"Maafkan aku, aku tidak tahu ini akan terjadi. Aku pikir semuanya akan baik-baik saja." Jelas Rian pada Irna.


"Oh, berita tadi pagi? ya kamu juga mengantarkan aku ke sana, dan semuanya tidak seperti yang ada di dalam layar berita." Jelas Irna pada Rian.


"Apakah dia melakukan sesuatu yang lebih dari itu padamu?" Pertanyaan Rian sedikit membuat Irna tidak nyaman.


Bagaimanapun juga pertanyaan itu selain melukiskan rasa hawatir seorang yang sudah menemaninya bertahun-tahun juga melukiskan seseorang yang masih memiliki cinta di dalam hatinya.


Rasa hawatir dan rasa ingin menghancurkan jika orang tersebut melukai atau menyentuh wanita yang memiliki hatinya sepenuhnya.


Rian Aditama, hatinya ada di genggaman Irna Damayanti. Mau bagaimanapun gadis itu menolak tapi pria itu tetap tegar berdiri di sana dengan bibir tersenyum.


Dia tetap tersenyum merasakan hatinya teriris, dia pria normal yang memiliki rasa cemburu.


"Tidak! dia sama sekali tidak melakukan apapun selain yang ada di foto itu." Ujar Irna sambil melirik Fredian yang sedang meremas jemarinya.


"Aku baik-baik saja, kamu tidak perlu hawatir. Besok aku akan pulang ke rumah." Ujar Irna lagi lalu mengakhiri panggilan telepon.


"Kamu cemburu pada Rian?" Tanya Irna sambil melihat wajah sedikit masam di sebelahnya.


"Entah kenapa, sudah bertahun-tahun bersaing dengannya aku selalu merasa kalah dengan hal yang satu itu."


Ujar pria itu sambil mengusap keningnya dengan kedua telapak tangan.


"Dia juga pernah merasa seperti itu, saat kami masih awal terikat dalam perenikahan."


"Dia juga sering terluka, kami hampir tidak pernah akur."


"Bagaimana bisa akur, jika aku tiba-tiba berada di sisi pria asing dengan mendadak? yang seharusnya aku merasa nyaman bersamamu."


"Kami dekat sebenarnya setelah perceraian kita yang kedua, di saat itulah dia hampir sepanjang waktu menemani dan merawatku."


"Dia tidak menggunakan kesempatan itu untuk mengambilku darimu.. tapi dia merawatku dengan sepenuh hati wujud dari tanggung jawabnya karena menyebabkan aku berada di situasi saat itu." Jelas Irna lagi.


"Aku tahu tapi naluriku sebagai, suamimu?" Fredian menatap wajah Irna dengan tatapan mata lekat-lekat.


"Kamu tidak bersalah, akulah yang bersalah." Ujar Irna sambil menundukkan kepalanya.


Fredian kembali memeluk Irna dan mencium keningnya.


Setelah lama saling mengutarakan isi hati masing-masing Irna menikmati makanan bersama suaminya.


Fredian kembali ke ruang kerjanya untuk menyelesaikan kembali pekerjaannya.


Setelah menyelesaikan pekerjaannya dia melihat jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam.


Dia masuk menuju kamarnya dan merebahkan diri tidur di sebelah istrinya.


"Sudah pagi?" Irna bangkit dari tempat tidurnya Fredian sudah tidak ada di sebelahnya.


Jam di dinding masih menunjukkan pukul setengah lima pagi.


"Kemana dia pergi sepagi ini?" Tanya Irna dalam hatinya kemudian dia mencoba menghubungi melalui ponselnya, ternyata ponselnya ada di laci meja kerjanya.


Irna mengambil mantelnya untuk menutupi gaun tidurnya dan berlari menuju resepsionis.


Gadis itu bertanya kepada penjaga malam itu, dia bilang Fredian meninggalkan Reshort sekitar pukul dua dini hari.


"Kemana aku harus mencarinya?" Irna kebingungan lalu kembali ke dalam kamarnya. Gadis itu memilih untuk menunggu.


Irna mandi dan bersiap-siap, dia memilih segelas jus apel untuk sarapan paginya.


Gadis itu sudah berdandan manis seperti biasanya. Fredian melangkah masuk dan berdiri di belakang punggungnya.


Irna segera berdiri dan berlari mengahambur memeluknya.


"Apa yang terjadi? kamu meninggalkan ponselmu, dan tidak meninggalkan pesan sama sekali padaku?" Tanya Irna bertubi-tubi.


Pria itu menggamit tangan Irna dan membawanya melangkah keluar dari dalam ruangan kerjanya menuju ke sebuah ruangan besar, di sana ada banyak meja yang sudah tertata rapi.


Rian masih memakai jas putihnya berlari menyusul mereka berdua sengaja berada di antara keduanya.


Rian menggandeng tangan Irna dan Fredian menuju meja panjang di depan.


"Apa-apaan sih kamu ini?" Ujar Fredian seolah-olah tempatnya di ambil alih oleh pria berbaju dokter itu.


"Sebentar saja kok, sudahlah ayo ikut saja." Ujarnya sambil tersenyum bersemangat terus menarik mereka berdua naik ke atas tangga.

__ADS_1


Para wartawan sudah duduk di tempat duduk masing-masing mengambil tempatnya. Mereka menunggu kedatangan Irna untuk melemparkan pertanyaan.


"Apa ini konferensi pers?" Tanya Irna pada Rian dan Fredian.


Dua pria itu tersenyum lembut lalu sama-sama mengangguk.


Mereka bertiga sudah duduk di kursi masing-masing.


"Saya akan memulai konferensi pers ini. Saya adalah Rian Aditama, saya adalah dokter pribadi Irna Damayanti dan juga dokter pribadinya Fredian Derosse."


"Saya berada di perusahaan Erlando saat kejadian kemarin. Dan saya menyatakan yang sebenarnya bahwa semua foto-foto yang di ungkapkan kepada publik adalah setingan seseorang yang memusuhi perusahaan keluarga Erlando untuk menjatuhkan nama baik mereka." Ujar Rian lagi.


"Selain itu saya Fredian Derrose sudah menikah dengan Irna Damayanti sejak kemarin pagi." Fredian menunjukkan surat pernikahan mereka berdua ke hadapan publik.


"Bagaimana pendapat anda nona Irna?" Tanya salah seorang jurnalis yang dikirimkan oleh Jermy Erlando.


Jermy tengah menikmati secangkir anggur di ruangannya.


"Yang dikatakan oleh mereka berdua adalah benar adanya." Jawab Irna pada wartawan tersebut.


"Kenapa anda berada di rumah sakit dan berada di dalam pelukan Presdir perusahaan Rossdale?"


"Saya pergi bersamanya karena dia bilang ingin mempertemukan saya dengan istrinya yang sedang sakit parah."


Jawaban Irna membuat Jermy terkekeh-kekeh memegangi perutnya, dia ingat jika gadis itu bahkan sangat sedih dan mempercayai setiap kata-katanya.


Para wartawan yang ada di depan mereka bertiga sedang kasak-kusuk entah apa yang sedang mereka bicarakan.


"Lalu apa sebenarnya yang terjadi? apakah anda tidak tahu jika Presdir perusahaan Rossdale belum menikah?"


"Saya sama sekali tidak tahu, karena kami memang tidak cukup dekat untuk membicarakan masalah kami secara pribadi."


"Tapi melihat dari sinar mata Presdir dari perusahaan Rossdale, sepertinya dia sangat mencintai anda, dia sepertinya menyimpan perasaan itu sudah sangat lama."


"Maaf saya tidak bisa menjawab pertanyaan anda, karena saya bukan seorang paranormal yang bisa membaca pikiran orang lain." Irna memaksakan sebuah senyuman.


"Saya adalah seorang artis jadi wajar saja jika saya memiliki fans atau penggemar, mungkin begitulah ungkapan perasaan Presdir Jermy terhadap saya."


Irna menatap ke arah kamera dengan tatapan mata yang tajam.


Dia dengan sengaja mengutarakan hal tersebut agar Jermy Erlando tahu bagaimana dia menghadapinya.


Gadis itu tahu, jika jurnalis tersebut adalah orang suruhan Jermy Erlando.


"Tapi bagaimana dengan kerjasama antara perusahaan Rossdale dengan anda nona? bukankah sebenarnya kedatangan anda ke sana untuk membahas hal itu?"


"Iya saya sudah menandatangani kontrak kerjasama tersebut, awalnya saya ingin menolaknya karena pasal-pasal yang tertera di sana saya rasa sangat tidak masuk akal."


"Karena Presdir Jermy menghadirkan istri palsu yang sakit parah saya terpaksa menandatangani kontrak kerjasama antara kami."


Proses konferensi pers tersebut berlangsung lancar, dan persepsi publik yang menimpanya sudah ditepis habis, selama dua jam.


Ibu Fredian dan ayahnya sudah menunggu mereka di ruangan khusus. Mereka menunggu kedatangan putra satu-satunya.


Setelah mendengar pernyataan dari Irna, Rian, dan Fredian mereka bergegas terbang ke London melalui jet pribadi milik keluarganya.


Mereka bertiga mangkah masuk ke dalam ruangan tempat keluarga Derrose berkumpul.


Alangkah terkejutnya Rian, dia tidak hanya melihat keluarga Derrose di sana tapi juga Ayah dan ibunya.


Anehnya lagi Ayah dan ibunya Rian mereka berdua berlari memeluk Irna. Padahal mereka berdua tahu bahwa Irna bukan lagi menantu mereka.


"Panggil kami ibu, ayah nak.." Mereka keluarga Aditama menangis dalam pelukan Irna.


Irna melihat Nyonya Derrose mengangguk kecil. Fredian tersenyum menatap Irna, tidak ada kemarahan di wajah keluarga Derrose.


Alfred si kecil berlari ke dalam gendongan Rian. Irna mengajak mereka berdua untuk duduk di tempat duduk yang tersedia di sana.


"Kami sudah menganggap kamu sebagai putri kami. Terima kasih telah merawat putra kami yang sangat dingin itu." Nyonya Diana Aditama sambil tersenyum membelai rambut Irna.


"Iya awalnya kami sangat bahagia mendengar pria dingin keluarga kami menikah, walaupun dengan sembunyi-sembunyi."


"Kami waktu itu sudah menyiapkan pesta, saat menerima kabar kalian sudah menikah." Terang tuan Aditama ayah dari Rian.


"Irna.. ibu minta maaf, ibu sudah salah padamu. Kami berfikir waktu itu, kalian,"


"Saya sudah memaafkan anda Nyonya Derrose, terima kasih sudah menjaga Alfred selama ini." Ujar Irna sambil tersenyum tulus.


Betapa sakit hatinya dulu ketika harga dirinya di injak-injak, bahkan posisinya sebagai ibu juga ingin di ganti dengan wanita lain oleh ibu mertuanya itu.


Gadis itu sudah memaafkan semuanya, dia memilih mengubur lukanya. Dan melalui takdir yang baru.

__ADS_1


Takdir yang akan berjalan di hadapan mereka semua, dia memilihnya dan mulai melangkahkan kaki di atas tanah yang telah menguburkan banyak luka di dalam hatinya.


Bersambung...


__ADS_2