
"Aku akan menunggu di sini sampai kamu membuka pintunya. Aku ingin membicarakan hal penting." Ujar Fredian bersikukuh tidak mau pulang.
"Aku sangat lelah hari ini, dan juga sangat mengantuk. Kita bicarakan besok saja." Ujar Irna sambil menutup telepon.
Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam sejak Irna terlelap, terdengar suara hujan deras di luar rumah.
"Apakah dia sudah pergi?"
"Belum nyonya, di luar hujan sangat deras. Tapi pria itu masih duduk di depan mobilnya menunggu gerbang dibuka."
Irna membuka tirai jendela di kamarnya, Fredian terlihat kukuh tetap duduk bersandar di depan mobilnya.
"Bagaimana nyonya?"
"Biarkan saja dia, nanti dia juga akan pulang dengan sendirinya." Ujarnya santai.
Satu jam berlalu, dan sudah pukul dua belas malam.
Irna kembali melihatnya, hujan masih turun dengan derasnya. Nampak pria itu sedang menginggil di luar gerbang.
"Merepotkan sekali!" Sergah Irna sambil meraih mantelnya untuk menutupi baju malam yang tipis membalut tubuh mulusnya.
Gadis itu berlari menuruni tangga, meminta pelayannya untuk memayungi dirinya saat keluar dari rumah. Irna memencet tombol dan membuat pintu gerbang terbuka.
Fredian melihat kedatangan Irna tersenyum dibalik wajahnya yang pucat.
Saat Irna mendekat dia menjatuhkan tubuhnya di pelukan Irna.
"Sekuriti tolong bantu saya angkat tubuhnya masuk ke dalam rumah. Kamu bawa mobilnya masuk." Ujar Irna pada pengawal, dan sekuriti yang bertugas jaga di rumahnya malam itu.
"Baringkan tubuhnya di kamar lantai atas." Ujar Irna lagi sambil mengikutinya dari belakang.
"Ambilkan air panas, dan siapkan handuk." Perintah Irna pada lima pelayannya, mereka sedikit terkejut karena selama ini nyonya besarnya tidak pernah sibuk selain merawat dirinya sendiri.
Tapi kali ini ada pria yang nekad dan nyonya besarnya sendiri yang merawatnya.
"Kalian keluarlah dan tutup pintunya." Ujar Irna sambil melepaskan mantel yang membalut gaunnya, kemudian meletakkan handuk hangat di kening Fredian.
Irna melepaskan sepatu Fredian dan seluruh pakaiannya yang basah, saat hendak melepaskan celana dalam Fredian tangannya tiba-tiba berhenti.
Gadis itu sedikit ragu-ragu walaupun akhirnya melepaskannya juga. Lalu menutupi tubuhnya di balik selimut.
"Apakah baik-baik saja membiarkan dia telanjang begini?" Ujar Irna sambil menggigit kuku jari kelingkingnya.
"Halo, aku memesan baju santai ukuran pria, ah aku ingat yang postur tubuhnya seperti Presdir Fredian Reshort Angel. Tolong segera kirim kemari, tiga set baju santai. Dan lima baju resmi lengkap." Ujar Irna melalui telepon.
Satu jam kemudian pakaian yang di pesan Irna sudah sampai.
"Ah berat sekali tubuhnya, bagaimana aku bisa memakaikannya? Ah sudahlah biarkan saja dia begitu di balik selimut." Gumam Irna sambil menyentuh dahi Fredian membandingkan dengan suhu pada dahinya sendiri.
"Sepertinya sudah tidak begitu panas. Tapi kenapa dia belum bangun-bangun sampai sekarang?"
"Haruskah aku menghubungi Rian supaya datang kemari untuk memeriksa dirinya?" Ujar Irna sambil meraih ponselnya kembali di atas meja.
Fredian membuka matanya perlahan dan merebut ponsel Irna.
"Astaga sejak kapan kamu terbangun?" Ujar Irna sedikit terkejut.
"Sejak kamu bergumam untuk memanggil pria lain ketika aku tertidur." Ujarnya dengan bibir masih pucat.
"Kenapa kamu selalu mencari masalah? apa kamu tidak peduli dengan kondisi kesehatan tubuhmu? aku jadi tidak bisa beristirahat malam ini. Ah pasti besok pagi wajahku jadi kusut." Cerocosnya terus menyalahkan Fredian.
"Bangunlah dan minum obat demamnya." Sambil membantu Fredian bangkit duduk, memberikan obat dan segelas air putih.
"Makan juga buburnya." Ujar Irna sambil menyuapi Fredian, matanya terus merayapi tubuh Irna dari ujung kepala sampai ujung kaki tanpa berkedip.
Gaun malam yang tipis hampir menampakkan seluruh lekuk tubuh mulusnya menjuntai ke bawah sebatas lutut, dengan tali kecil di bahu kiri dan kanan.
Dan mode gaun yang turun setengah dada membuat belahan dadanya terlihat. Rambut panjangnya yang diikat gelung sekenanya sebagian jatuh di bahu mulusnya.
Wajah yang bersih tanpa make-up, rambut tipis menjuntai dari pelipisnya sampai ke bawah telinga. Bulu matanya terlihat lentik dan panjang. Dan tahi lalat kecil di bawah sudut mata kanannya.
Tatapan matanya jernih berbinar seperti anak kecil.
"Apa yang kamu lihat?" Ujar Irna setelah sekian lama terdiam masih menyuapi Fredian.
"Tidak ada. Ah kemana pakaianku?" Tanya Fredian mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Aku minta pelayanku mencucinya dan mengeringkannya. Kamu pakailah ini dulu." Ujar Irna sambil berjongkok mengambil beberapa tas di sisi tempat tidur.
Fredian segera berdiri dan memakai pakaiannya, tanpa memperdulikan Irna yang bingung dengan dirinya sendiri.
"Dasar! sengaja sekali memamerkan tubuhnya di depanku!" Gumam Irna sembari mengusap wajahnya sambil pura-pura melihat ke arah lain.
Fredian tersenyum mendengar gumaman Irna.
"Kita bicarakan besok saja, huah, aku ingin tidur dulu." Ujar Irna sambil menggeliat lalu berdiri melangkah keluar dari kamar meninggalkan Fredian.
"Aku ingin ke kamar mandi, ada di sebelah mana?" Tanyanya sambil buru-buru berdiri menghalangi pintu.
Irna tidak menjawab, matanya sudah terkantuk-kantuk, dia hanya mengangkat tangannya menunjuk pintu yang ada di dalam kamarnya.
Lalu melambaikan tangannya, keluar dari dalam kamar sambil menutup pintu.
"Ah aku lelah sekali." Irna menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur di depan televisi.
Dia malas sekali jika harus berjalan di kamar yang terletak di ujung, karena kamarnya sendiri sedang ditempati oleh Fredian.
Setelah dari dalam kamar mandi Fredian melangkah keluar dari kamarnya, dia melihat Irna sudah terlelap di tempat tidur di luar kamarnya.
Pria itu mengangkat tubuhnya membawanya kembali masuk ke dalam kamar. Kemudian menyelimutinya.
Dia sendiri berbaring di sebelahnya sambil mengusap kepalanya.
Sekitar jam enam pagi Irna dibangunkan oleh ketukan pintu di luar kamarnya.
Irna perlahan membuka matanya, melihat lengan Fredian berada di atas pinggangnya. Di bawah selimut yang sama.
"Jadi semalam dia yang membawaku kembali masuk ke dalam kamar? dan kita tidur bersama semalaman." Gumam Irna sambil beringsut turun dari tempat tidur.
Dilihatnya Fredian masih terlelap di bawah selimut. Irna segera membersihkan dirinya di kamar mandi lalu turun ke bawah untuk minum segelas jus apel kesukaannya.
Irna bersiap-siap untuk pergi bekerja, Fredian belum tampak turun dari kamarnya.
"Nanti jika tuan yang di atas bangun suruh dia sarapan dulu sebelum pergi dan ingatkan untuk meminum obatnya." Ujar Irna sambil menyambar tasnya dan keluar dari rumah.
Fredian terjaga jam delapan pagi, dilihatnya Irna sudah tidak ada di sampingnya. Dia pergi mandi dan memakai baju yang telah disiapkan untuknya oleh Irna semalam dari desainer langganannya yang merupakan bawahan Reynaldi.
Setelah sarapan Fredian melarikan mobilnya menuju lokasi pemotretan yang terletak di Reshort barunya.
"Wah ternyata kalian bersama semalaman?" Ujar Anita sambil menata gaun Irna, sedang Tika masih merias wajahnya.
"Apa maksudmu?" Irna tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh Anita.
"Coba lihatlah di dalam cermin siapa yang berdiri di sana sambil memeriksa berkas." Tunjuk Anita sambil tersenyum menggoda Irna.
"Ha ha ha, ah iya dia kehujanan saat ingin membahas pekerjaan hari ini. Jadi aku memesan pakaian untuknya." Ujar Irna asal bicara.
Fredian pura-pura cuek dan tidak peduli pada Irna yang masih mempersiapkan diri untuk pemotretan. Membuat sekretarisnya kebingungan dengan sikapnya.
"Padahal kemarin memeluknya dengan baju berantakan, dan sebelumnya seperti orang kebakaran menunggu kedatangan Irna."
"Tapi sekarang malah sibuk memeriksa berkasnya tanpa melihat ke arah Irna sama sekali"
Ujar Antoni sambil meremas-remas amplop coklat yang ada di tangannya lalu tanpa sadar memasukkan ke dalam mulutnya dan mengunyahnya.
"Aku kesal sekali melihat perubahan cepat sikap Presdir belakangan ini!" Gerutunya lagi.
Pemotretan hari itu berjalan dengan lancar selama tiga jam.
Ibunya Fredian terkejut melihat artis yang dipakai putranya untuk mensponsori Reshort yang baru adalah Irna.
Dia melihat Irna yang sedang bersenda gurau dengan karyawan yang membantunya. Maksud kedatangannya hari itu adalah untuk membicarakan tentang pernikahannya dengan Erlia.
Setelah selesai melakukan pemotretan Irna segera berjalan meninggalkan lokasi tanpa berpamitan dengan Fredian.
Dia melihat sekilas ke arah Nyonya Derrose melalui kacamata hitamnya berjalan sambil berlalu.
Fredian melihat sikap Irna yang sama sekali tidak peduli lagi dengan dirinya dan juga keluarganya membuat hatinya sedikit tidak nyaman.
"Ada apa mama kemari?" Tanya Fredian menghampiri ibunya.
"Apa kamu yakin benar-benar membatalkan pernikahan?" Tanya Nyonya Derrose sambil mengusap bahu putranya satu-satunya itu.
"Kamu masih mencintainya? tapi dia sudah tidak peduli lagi denganmu!"
__ADS_1
Tandasnya sambil menoleh ke arah Irna yang masih berdiri di sisi mobil dan bersama beberapa orang, sambil membaca sekenario untuk jadwal syuting selanjutnya.
"Dia begitu sibuk hari ini tapi dia semalaman tidak tidur karena merawatku gara-gara aku pingsan setelah kehujanan." Ujar Fredian sambil memegang kedua tangan ibunya.
"Bagaimana bisa kamu kehujanan? apa dia yang membuatmu hujan-hujanan?!" Sergah ibunya lagi.
"Aku yang memaksanya ma, aku yang datang malam-malam ke rumahnya. Aku yang selalu membuat masalah dan menyulitkannya."
"Dan tiga tahun lalu jika aku tidak mencurigainya, dia tidak akan pergi malam itu untuk kembali ke rumah lamanya. Dan menyebabkan perpisahan kita."
"Aku yang selalu curiga padanya. Aku terus menerus meragukannya. Sebenarnya akulah yang salah. Bukan dia."
Penjelasan Fredian membuat ibunya terperangah tidak percaya, karena awalnya dia mengira bahwa Irnalah yang dengan sengaja merayu dan mengundang Rian untuk menemaninya malam itu di dalam rumah lamanya.
Tapi ternyata karena kecurigaan Fredian gadis itu pergi dan kembali ke rumah lamanya tanpa tahu Rian juga sedang berada di sana.
"Tapi bagaimanapun juga dia tetap bersalah! jika dia tahu ada pria di sana seharusnya dia pergi. Bukan malah berlama-lama di sana!" Ujar Nyonya Derrose lagi tidak terima putra satu-satunya di duakan.
"Irna sudah menganggap Rian sebagai saudaranya sendiri ma, dan sebelumnya mereka berdua tinggal bersama sebagai sepasang suami istri! dan aku yang melemparkan gadis itu ke dalam pelukannya! dan aku menodainya saat mereka masih terikat hubungan suami istri."
"Hingga menyebabkan mereka berdua berpisah.. dan aku yang merebutnya dari tangan Rian kembali."
Ibu Fredian sangat terkejut mendengar penjelasan dari putranya dia pikir Irna dan Fredian sejak awal bersama, tanpa perpisahan. Namun pesta pernikahan tiga tahun lalu adalah pernikahan yang kedua kalinya dengan Irna.
"Mama tidak mengerti jalan pikiran kalian, Rian adalah doktermu, dan kalian saling melempar satu wanita! Ibu benar-benar tidak bisa dipercaya! apa hanya dia saja wanita yang ada di dunia ini? dan ini sudah bertahun-tahun."
"Lakukanlah sesukamu ibu akan pulang dulu, ibu akan menjemput Alfred di sekolah." Ujarnya sambil berlalu.
Ibu Fredian berdiri dengan jarak sekitar tujuh meter dari tempat Irna berdiri, sekarang dia tahu bagaimana perasaan gadis di depannya itu hingga berubah total seperti sekarang, karena terlalu banyak luka yang ditimpakan kepadanya oleh putranya sendiri.
Irna melihat ke arah Nyonya Derrose sekilas lalu naik ke dalam mobilnya. Ibu Fredian hendak mencegah kepergiannya, namun dia ragu-ragu.
Irna melihat wajah sedih ibu mantan suaminya itu dari kaca spion mobilnya.
"Aku pikir dia datang untuk menghinaku lagi, tapi kenapa wajahnya tiba-tiba terlihat begitu sedih?" Gumam Irna tidak mengerti.
Irna sampai di lokasi syuting sekitar satu jam, dia mendapat peran utama dalam drama terbarunya. Dan syuting hari itu cukup lama, usai sekitar pukul dua belas malam.
"Dingin sekali malam ini." Gumamnya sambil mengusap kedua telapak tangannya untuk mengusir dingin.
Reynaldi sengaja menjemput Irna malam itu bersama beberapa pengawal, karena sudah sangat larut.
Dan dia hawatir jika terjadi sesuatu pada artisnya sekaligus teman baiknya itu.
Irna tanpa sengaja melihat seorang wanita dengan wajah dingin melihat ke arahnya.
"Dia bukan manusia." Gumam Irna lirih.
"Ayo kita lekas pulang, tempat ini bukan tempat yang aman lagi." Ujar Irna serius menatap wajah Reynaldi.
Reynaldi tahu jika ada sesuatu yang dilihat oleh Irna. Dan dia buru-buru mengajak seluruh pengawal masuk ke dalam mobilnya dan dia bersama Irna duduk di kursi belakang.
Irna melihat wanita berpakaian hitam itu berdiri tegak di belakang mobilnya. Jemari tangannya memiliki kuku runcing dan panjang. Wajahnya beku dan dingin.
Wanita itu mendadak meloncat ke arah mobilnya. Hingga menyebabkan kaca belakang punggungnya pecah. Dia berwujud manusia tapi meloncat-loncat seperti serigala.
Irna tahu jika wanita itu pasti sudah mengendus aroma darahnya. Hingga mendatanginya malam itu.
"Berikan sapu tanganmu" Ujar Irna pada Reynaldi.
"Kita harus segera mengalihkan perhatiannya agar tidak mengejar lagi."
Gadis itu menggoreskan ujung jarinya, kemudian meneteskan darahnya pada sapu tangan Reynaldi. Kemudian melemparkan jauh keluar dari mobilnya.
Dan benar saja, wanita itu memakan dengan rakus sapu tangan yang sudah berwarna merah, karena darah Irna.
Setelah itu Irna menyemprotkan parfum dari Rian di seluruh isi mobilnya.
Nampak wanita itu merayap kesana kemari kehilangan jejaknya hingga tidak bisa mengejar mereka lagi.
Irna menerka-nerka jika hal ini terulang lagi pasti akan menyulitkan dirinya dan orang yang ada di sekitarnya.
Wajah-wajah para pengawal itu terlihat pucat melihat kejadian barusan itu. Jika selama ini yang mereka hadapi adalah manusia, tapi kali ini malah mahluk buas yang sangat mengerikan. Dan mereka tidak bisa berbuat apa-apa.
Mereka hampir tidak percaya dengan apa yang dilihatnya baru saja.
Seorang wanita cantik tiba-tiba menjadi sasaran empuk mahluk mengerikan berkuku tajam. Namun wajah gadis itu terlihat biasa saja, dan hanya mencemaskan orang yang berada di dekatnya saat itu.
__ADS_1
"Apakah kalian takut?" Irna mengerling menatap seluruh orang yang duduk di dalam mobil menatap ke arahnya dengan wajah pucat pasi.
Bersambung...