
"Tidak akan ada yang terjadi." Fredian melangkah mendekat ke arahnya. Irna tiba-tiba melangkah mundur menjauh darinya.
"Kenapa kamu menjauh? apa aku salah mendekatimu? apakah kamu sudah tidak menginginkanku lagi?" Pria itu menghentikan langkahnya.
Tetap mematung di tempatnya berdiri menunggu reaksi dari Irna.
"Entahlah aku belum terbiasa, aku merasa sedikit canggung. Apakah mungkin karena aku terlalu lama berpisah denganmu?" Irna duduk di tepi tempat tidurnya.
"Ya baiklah, aku akan melanjutkan pekerjaan. Kamu boleh pergi sesuka hatimu." Fredian melangkah keluar dari kamarnya lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Huft! aku kira dia benar-benar akan melakukannya hari ini. Menakutkan sekali, aku hampir tidak bisa bernafas." Bisik Irna lirih.
Irna tidak tahu apa yang harus dia lakukan di sana. Dia keluar dari dalam kamar Fredian menyusulnya ke ruang kerjanya. Saat dia tiba di sana Irna melihat Maya berdiri di sebelah Fredian dengan pakaian sangat minim.
Walaupun Irna terlihat muda, tapi tetap saja usianya tidak muda lagi.
"Hah sudahlah, bukan waktunya untuk cemburu sekarang." Gumam dalam hatinya.
"Fred, aku akan kembali ke rumah lain kali saja kita bicarakan pernikahannya. Kamu bisa melanjutkan pekerjaanmu." Irna tersenyum lalu keluar dari dalam ruangan kerjanya.
"Tidak!" Fredian segera berdiri kemudian berlari mengejarnya. Dia melihat Irna masih berjalan di lorong hotel.
"Irna! tunggu!"
Pria itu meraih tangannya dan menariknya ke dalam pelukannya. Tanpa menunggu lagi pria itu mencium bibirnya.
Irna memukuli lengannya, Maya melihat itu untuk pertama kalinya, Presdirnya mencium wanita, gadis itu terbengong menjatuhkan berkasnya hingga berserakan di lantai.
Fredian tak kunjung melepaskan ciumannya. Irna memukuli punggungnya tapi tetap saja dia tak mau berhenti.
"Fred, turunkan aku!" Irna berteriak karena pria itu mengangkat kembali tubuhnya masuk ke dalam ruangan kerjanya dan mengunci pintunya dari dalam.
Maya merasa dadanya terbakar mendengar pintu terkunci dari dalam ruangan. Gadis itu memunguti berkasnya dari lantai kemudian dibawanya ke ruangan sekretaris.
"Fred! jangan begini!"
"Kenapa? apa kamu takut padaku? atau kamu sudah tidak mengenaliku lagi?"
"Bukan begitu, hanya saja ini terlalu cepat." Gumam Irna sambil menahan dadanya.
Tapi sepertinya dia sudah tidak bisa menunggu lebih lama lagi.
Irna kembali memakai bajunya, pandangan matanya masih melihat pria penuh peluh duduk di sebelahnya.
__ADS_1
"Kenapa kamu memakai bajumu kembali? apa ada sesuatu yang mendesak?" Menggenggam baju Irna sangat erat, membuat gadis itu tidak bisa memakainya.
"Apa maksudmu? ini sudah lewat dua jam!" Teriak Irna padanya, dibalas sebuah senyuman nakal dari Fredian.
"Ah sudahlah terserah, rasanya akan percuma saja." Irna tertidur pulas di dalam pelukannya.
Dia merasakan Fredian sedang mengangkat tubuhnya masuk ke dalam kamar miliknya di kastil. Irna juga merasakan aroma lavender yang begitu tajam. Aroma itu ada di dalam kastilnya.
"Kenapa kamu membawaku ke sini? bukannya ke rumah?" Irna menatap wajah Fredian lekat-lekat.
"Kita akan melakukan pernikahan."
"Lagi? upacara pernikahan Vampir?"
Pria itu tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Kemudian melukai jari telunjuknya juga jari Irna meneteskan darah mereka di atas batu untuk upacara pernikahan.
Batu tersebut mulai mengukir nama mereka berdua di sana. Kemudian menyala terang dan nama mereka berdua sudah terpahat di dalam sumpah.
Fredian tidak mengadakan pernikahan seperti sebelumnya. Dia hanya melakukan pernikahan itu, karena mereka berdua sepenuhnya adalah darah vampir murni sekarang.
Fredian membawa Irna kembali naik ke lantai atas menuju kamar mereka berdua.
"Bagaimana kamu tahu kalau kamarku ada di lantai atas?" Irna tertegun menatap wajah Fredian.
"Wah kamu mencuri memori Wilson lagi?" Ejek Irna sambil tersenyum, Fredian masih menaiki tangga selangkah demi selangkah.
"Itu aku bukan Wilson! kalau di ayunan tengah hutan itu adalah dia." Jelasnya sambil melotot.
"Oh begitu?"
"Iya seperti itu, aku ingin kita menginap di sini malam ini." Berbisik di telinga Irna.
"Tapi bukankah kamu masih ada banyak hal yang harus diurus?" Irna mencoba mengingatkan dirinya tentang pekerjaan di kantor.
"Aku sudah menyuruh Nira untuk bekerja di Reshort mulai hari ini." Fredian perlahan-lahan menurunkan tubuh Irna di atas tempat tidurnya.
Lalu dirinya sendiri berbaring di sebelahnya.
"Mulai sekarang kita tidak bisa terpisah lagi, kecuali dengan kematian."
Irna tersenyum sambil memeluknya.
"Mungkin akan ada lain hari kita bertemu di periode waktu yang berbeda. Atau di antara air mata juga rasa bimbang."
__ADS_1
"Walaupun banyak air mata, tapi semoga masih ada sisa serpihan bahagia."
"Jika saja itu terus terjadi dan tetap berulang seperti itu, mungkin akan ada rasa gelisah juga ketakutan."
"Dan pada waktu itu kamu masih tetap berkata penuh wajah berbinar-binar, akhirnya aku menemukanmu!"
"Hanya aroma lavender yang tetap tinggal di sini selama kita pergi, dan saat kita kembali kita akan mendapati aroma yang sama yaitu lavender. Demikian halnya perasaan itu, tetap tinggal dengan rasa yang sama dan menunggu kembali datang juga dengan rasa yang sama."
"Terkadang aku melihat rembulan yang bersinar terang bulat penuh, di saat itulah kita akan bertemu entah dalam keadaan ingat ataupun lupa. Jiwa-jiwa terbang saling menuju tempat yang sama entah dalam keadaan sadar ataupun lupa."
"Kita juga melihat matahari yang tak pernah redup di musim panas. Cahaya terang memancar sejak pagi hingga petang. Kehangatan itu yang kita alami saat dua jiwa telah menyatu."
Bisik Irna dalam hatinya..
Di sisi lain.
Kania membuka pintu apartemen perlahan-lahan, dia berharap Royd tidak mendengar suara saat dia membuka pintu.
Sampai di luar Kania menutup pintunya perlahan-lahan.
"Mau kemana kamu? kok kayak maling? ngapain mengendap-endap begitu?" Berjaga di depan pintu kamar miliknya.
"Hahahaha! apa sih sok tahu!" Pura-pura tertawa, lalu pergi menuju lift.
"Mau kemana sih? buru-buru sekali?"
"Bukan urusanmu!" Kania masuk ke dalam lift, dan memencet tombol. Royd ikut masuk ke dalam lift.
"Kamu kenapa ikut masuk ke dalam lift? mau ke lantai berapa aku tekan tombolnya?!" Tidak senang berada di lift yang sama dengannya.
"Kamu benci sekali sama aku?"
"Sudah tahu, kenapa masih bertanya?" Tanpa tanggung-tanggung langsung to the poin.
"Tapi sepertinya aku tidak bisa!" Kania tidak mengerti arah pembicaraan Royd. Gadis itu hanya menggelengkan kepalanya merasa prihatin pada dosennya itu.
"Terserah bisa atau tidak itu juga bukan urusanku pak Roy!" Kania melenggang keluar dari dalam lift.
Dilihatnya Royd marah sekali sambil menendang tempat sampah yang ada di dekat kakinya.
Kania melangkah ke arah parkiran untuk mengambil mobilnya. Gadis itu ingin pergi ke rumah Alfred.
Bersambung...
__ADS_1