
Fredian berlarian sambil tersenyum menatap wajah Irna yang masih mengejarnya, angannya kembali melayang...
****
Seorang gadis kecil dan seorang anak laki-laki kecil, mereka duduk bersama di beranda rumah.
Mereka bermain meniup gelembung bersama. Fredian laki-laki imut meniupkan gelembung udara ke wajah Irna, gadis kecil dengan rambut berkepang dua.
Membuat wajah gadis kecil di sebelahnya menggembungkan kedua pipinya. Wajah gadis kecil itu berubah merah sambil mengusap wajahnya yang penuh dengan air sabun.
Gadis kecil itu melotot ke arah Fredian, menumpahkan cairan sabun di tangannya. Fredian tersenyum menarik kedua pipi gadis kecil itu dengan kedua tangannya.
Irna membalasnya menarik kedua pipinya Fredian, sama sepertinya. Sampai keduanya merasakan sakit barulah mereka melepaskannya.
"Pipimu merah!" Ujar Fredian kecil.
"Pipimu juga sama merahnya!" Ujar Irna kecil menatap pipi Fredian.
Mereka berdua mengusap kedua pipinya masing-masing merasakan sakit.
"Apakah kamu senang melihatku sakit?" Tanya Irna kecil memasang wajah imut. Meletakkan kedua telapak tangan di bawah dagunya mengerling imut ke arah Fredian kecil.
Fredian kecil menggelengkan kepalanya.
"Aku janji tidak akan membuatmu sakit lagi!" Mengancungkan jari kelingkingnya ke wajah Irna kecil.
Irna kecil tersenyum mengikat jari kelingking Fredian kecil dengan jari kelingking miliknya. Kemudian keduanya melepas gelak tawa.
****
Fredian menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Irna menjatuhkan tubuhnya di sebelahnya.
Mereka berdua saling menatap satu sama lain sambil tersenyum. Irna mengancungkan jari kelingkingnya ke atas.
Fredian mengikatkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Irna.
"Kamu sudah mengingatnya?" Fredian tersenyum ke arahnya.
"Iya aku sudah mengingat semuanya, kamu selalu tidak suka melihatku menangis." Ujar Irna masih terus tersenyum.
"Tapi kamu terus menerus mengerjaiku walaupun aku tidak akan menangis." Irna membalik tubuhnya menjadi tengkurap, sambil menyentuh pipi Fredian yang terbaring di sebelahnya.
"Karena aku senang melihatmu merajuk, melihatmu tersenyum, melihatmu marah." Ujarnya kemudian meraih tubuh Irna dalam pelukannya.
Pria itu mencium keningnya, kembali mencumbuinya.
"Apa kamu tidak lelah terus melakukannya.." Tanya Irna pada Fredian.
"Aku ingin mengulur waktu" Ujar Fredian tersenyum penuh arti.
"Tidak lebih dari dua puluh empat jam, sebelum rahimmu kembali normal seperti semula." Menatap wajah Irna lekat-lekat.
"Kamu sudah tahu?" Irna bertanya dengan wajah berkaca-kaca.
Pria itu menganggukkan kepalanya.
"Aku tidak akan membiarkan kamu selama satu bulan atau lebih, jauh dariku melebihi batas waktu dua puluh empat jam!" Fredian merengkuhnya dengan hangat.
__ADS_1
Irna tahu selama rahimnya tidak kembali ke keadaan semula. Dia bisa memberikan keturunan untuk keluarga Derrose.
Dia bahkan tidak tahu, wajah sedihnya yang sekilas terlihat di depan Fredian. Membuat pria itu tahu dan segera menghapus kesedihan dalam hatinya.
"Aku mencintaimu Fredian Derrose.." Mengecup kening suaminya dengan lembut.
"Aku juga sangat mencintaimu Irna Damayanti.."
Gadis itu terlelap di dalam pelukan hangat Fredian. Irna terbangun karena suara di perutnya.
Fredian tersenyum kecil melihat Irna memegangi perutnya.
"Kamu lapar?"
"He he he" Irna hanya terkekeh menjawab pertanyaan dari suaminya.
Fredian memungut bajunya, memakainya kemudian berjalan menuju ke dapur. Irna mengikuti dari belakang.
Irna duduk di meja makan menopang dagu dengan kedua telapak tangannya, menatap pria tampan menggulung lengan panjangnya setinggi siku.
Sesekali menatapnya sambil melemparkan sebuah senyuman manis.
Tingkat ketampanan seratus persen. Kecerdasan luar biasa. Kecekatan melebihi artis televisi serial action. Rambutnya yang lurus dengan sedikit jatuh ke dahinya ketika sibuk menambah ketampanannya. Hidungnya mancung terlihat mengkilat tertimpa cahaya.
Kulitnya putih bersih, sinar matanya teduh terbingkai bulu mata yang lentik. Alis matanya hitam tebal. Bibirnya lembut dan tipis.
Ketika kumis dan jambangnya tumbuh tipis membuat tingkat ketampanan melebihi seratus persen. Tapi dia selalu mencukurnya bersih karena Irna selalu tertawa terbahak-bahak ketika dia menciumnya.
Postur tubuh tinggi dan body sixpack ketika keluar dari kolam renang. Seluruh tubuhnya basah dengan air, mengibaskan rambutnya membuat air terhempas ke kanan dan ke kiri.
"Kenapa aku baru sadar kalau dia begitu menawan, dan lebih tampan dari siapapun!" Bisiknya pada dirinya sendiri.
Fredian meletakkan makanan di atas meja, di depan Irna.
Irna masih terbengong menatap wajah Fredian.
"Heh?" Fredian mengayunkan telapak tangannya ke kanan dan ke kiri di depan wajah Irna. Tapi gadis itu masih terus tersenyum-senyum sendiri.
"Tak!" Fredian menjentikkan jarinya.
"Apa yang kamu fikirkan? tersenyum-senyum sendiri begitu?" Tanyanya sambil duduk di depan Irna di sisi meja.
"Ah tidak ada" Irna buru-buru menyendok makanan, menyembunyikan rasa malunya.
Fredian menarik piring membuat gadis itu menyendok meja.
"Ah aku lapar.." Irna pura-pura memegang perutnya.
"Bilang dulu, apa yang kamu pikirkan tadi?" Ujar Fredian.
"Pria yang sangat tampan!" Merebut piring dari Fredian, memegang kuat dengan kedua tangannya. Seolah-olah pria di depannya akan merebutnya kembali.
"Setampan apa?" Tanya Fredian lagi sambil melihat wajah Irna.
Irna hanya mengerjapkan matanya berkali-kali.
"Hum?!" Fredian mengangkat dagu miliknya sendiri.
__ADS_1
Mengisyaratkan padanya.
"Ayo cepat katakan!"
Irna menjawab dengan ganti mengangkat dagunya sendiri kemudian tersenyum sangat manis kepadanya.
Mengisyaratkan padanya bahwa.
"Pria itu, dia ada di depanku!"
Fredian dengan gemas menjentikkan jarinya ke kening Irna, membuat gadis itu memekik.
"Ah!" Irna mengusap keningnya.
Fredian tersenyum melihat wajah Irna sedikit kesal.
"Kamu tidak ingin makan?" Tanya Irna padanya.
"Aaaaaa" Fredian membuka mulutnya menunggu suapan dari Irna.
Irna menyuapinya, mereka kemudian tertawa bersama.
"Kita akan kembali bekerja besok?" Tanya Irna pada Fredian.
"Besok adalah pesta Ruina!" Fredian mengingatkan Irna.
"Sepertinya kita akan menghadapi situasi buruk besok" Ujar Fredian lagi seperti mengetahui sesuatu akan terjadi.
"Bagaimana kamu bisa tahu?!" Tanya Irna agak terkejut.
"Penulis novel ini yang membocorkannya sedikit padaku" Jelas Fredian melemparkan senyum ke arah penulis.
Penulis hanya bisa menepuk dahinya sendiri. Menyentuh bibirnya sendiri dengan jari telunjuk. Melotot ke arah Irna dan Fredian.
Mengisyaratkan pada mereka berdua.
"Jangan bocorkan naskahku untuk besok!!!"
"Apakah kita tidak terlalu romantis sekarang? hum?" Tanya Irna sambil mengambil air mineral menatap wajah Fredian.
"Tentu tidak, ini adalah satu hari setelah kita menikah. Semua pasangan pasti merasa bahagia setelah menikah.." Ujar Fredian tersenyum.
"Benarkah?" Tanya Irna pura-pura terkejut.
"Tentu saja, aku yakin pembaca juga menikmati hari bahagia ini!" Ujar Fredian seraya mencium pipi Irna.
Kemudian Irna dan Fredian kiss bye ke arah para pembaca.
"Muaaacch!!!!" Fredian dan Irna bersama-sama melepaskan ciuman.
"Wah kamu memiliki banyak penggemar, coba lihat hampir semua pembaca menangkap ciuman darimu! tapi sepertinya aku tidak punya penggemar sama sekali!" Irna cemberut ke arah Fredian.
"Kenapa bisa begitu?!" Tanya Fredian.
"Karena pembaca kebanyakan cewe cantik!" Ujar Irna tersenyum manis memeluk Fredian.
"Tunggu kejutan dari kami di episode selanjutnya, I LoVe you Readers" Ujar Irna dan Fredian melambaikan tangannya ke arah para pembaca.
__ADS_1
Bersambung....