Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
Bayangan


__ADS_3

"Apakah kamu begitu sedih karena tidak menikah dengan Fredian kembali?" Tanya Rian sambil menatap wajah Irna lekat-lekat, dia ingin mengetahui isi hatinya.


"Terkadang aku berfikir apakah kita bisa kembali bersama seperti sebelumnya? seperti saat sebelum aku dan kamu melakukan kesalahan itu." Irna mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya seolah tidak berharap apapun lagi.


Irna tidak tahu jika Fredian sudah berdiri di belakang punggungnya saat dia mengungkapkan kata-kata terakhir. Dia memberi isyarat kepada Rian agar pria itu tidak memberitahunya.


"Aku merasa tidak pantas untuk berdiri di sisinya, walaupun ada Alfred di antara kami." Jelas Irna lagi sambil tersenyum.


"Lalu apakah kamu mau memberikan kesempatan untukku?" Tanya Rian dengan sengaja untuk menggoda Fredian yang mulai meremas kepalan tangannya merasa geram.


"Kamu selalu bercanda denganku, hahaha tidak lucu!" Ujar Irna sambil tersenyum membalas kelakar Rian.


"Tapi aku tidak bercanda, aku serius!" Rian menarik tangan Irna, memegangnya erat. Ungkapannya membuat Irna terkejut melotot ke arahnya.


"Kamu sudah menemaniku lebih dari tujuh tahun seharusnya kamu tahu, sebenarnya perasaanku." Gumam Irna sambil mencoba melepaskan genggaman tangan Rian.


"Apakah aku benar-benar tidak ada di dalam hatimu, lalu kenapa kamu histeris melihatku terluka?" Tandasnya lagi semakin membuat Irna bingung, selama bertahun-tahun Rian tidak pernah membahas perasaan dirinya terhadap Irna.


Bahkan Irna sampai lupa jika Rian juga sangat mencintai dirinya. Mereka tetap bersama tanpa bersentuhan tanpa mengungkapkan perasaan. Dan pria itu selalu berdiri di sisinya tanpa menginginkan pernikahan antara keduanya.


Dan sekarang tiba-tiba saja dia mengungkitnya. Perubahan sikap yang begitu mendadak membuat Irna sangat terkejut.


"Kamu harus menjawabku, apakah kamu masih menyimpan perasaan padaku?"


"Kamu adalah satu-satunya keluargaku." Ujar Irna sambil melelehkan air matanya. Tidak sampai hati dia berkali-kali mengatakan bahwa tidak mencintainya.


Rian meraihnya dalam pelukan hangat dan mencium keningnya. Irna menangis tersedu-sedu dalam pelukannya.


"Sudah jangan menangis lagi." Bisiknya di telinga Irna.


"Tapi kamu pasti sudah tahu jika aku akan menjawab pertanyaanmu ini dengan jawaban yang sama. Kenapa kamu menanyakan hal ini lagi?" Ucap Irna sambil menghapus air matanya.


Mendengar ucapan Irna Fredian merasa lega, karena memang tidak ada apa-apa antara Irna dan Rian. Dia melangkah mendekat dan memegang bahu Irna.


"Astaga sejak kapan kamu di sini?" Tanyanya sambil menoleh ke arah Fredian.


"Sejak kamu bilang kita tidak bisa bersama kembali."


Irna terdiam mendengar ucapan Fredian, memang benar perasaannya selama ini seperti itu.


"Ah aku lupa jika malam ini ada janji dengan Anita, untuk membahas jadwal pemotretan yang telah tertunda."


Irna bergegas keluar dari dalam kamar tempat Rian dirawat. Pikirannya kembali melayang pada saat dia bermimpi yang sangat panjang, seolah-olah itu adalah kenyataan.


Dan jalan pikirannya seperti telah terbaca dan masuk ke dalam mimpi tersebut.


Keinginan dirinya untuk pergi ke luar negeri mengambil studi kuliah di bidang kedokteran. Karena terakhir dia memutuskan untuk mundur dari dunia hiburan.


Tapi dampak buruk terus terjadi yaitu Fredian meninggal.


"Apakah ini sebuah lukisan takdir? jika aku pergi ke luar negeri?!" Irna bersandar pada pintu mobilnya masih memikirkan kejadian yang terjadi di dalam mimpinya saat dia belum siuman.


"Kehancuran Fredian setelah aku pergi?" Irna bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


"Lalu aku harus bagaimana? ah entahlah temui Anita saja dulu kepalaku pusing sekali memikirkanya."


Irna segera naik ke dalam mobil, dan mulai menyalakan mesin mobilnya. Gadis itu melarikan mobilnya menuju studio.


Setelah satu jam perjalanan dia sampai di sana. Gadis itu memakai kacamata hitamnya sambil menyibakkan rambutnya ke belakang. Melangkah anggun masuk ke dalam studio.


Di sisi lain..


"Apakah kamu sudah mendengarnya sendiri?" Tanya Rian pada Fredian sambil mengunyah apel yang dikupas oleh Irna sebelum dia pergi.


"Hem, dia masih mencintaiku tapi tidak bisa berbuat apapun selama ibuku belum memaafkannya."


"Apakah kamu tidak bisa merayu ibumu agar melamar mantan menantunya kembali?" Tanya Rian sambil tersenyum.


"Ibuku sebetulnya sangat baik, tapi kamu tahu dia selalu merendahkan Irna sejak awal. Apalagi dia mengetahui kesalahan yang kamu perbuat dengannya beberapa tahun lalu." Jelas Fredian padanya.


"Aku yang salah, aku yang memaksanya waktu itu. Aku tidak bisa berfikir logis saat malam itu." Rian menatap wajah Fredian, untuk melihat reaksi darinya.


Fredian terdiam mendengar ucapan Rian, hatinya masih terasa sakit mengingat kejadian waktu itu. Irna yang menjadi korban cinta rumit di antara mereka berdua.


Dia hidup sangat menderita dalam waktu yang sangat lama. Dan bahkan sekarang terpisah dari Alfred putranya satu-satunya.


Arvina masuk ke dalam ruangan, melihat dua pria yang sedang termenung dengan pikirannya masing-masing.

__ADS_1


"Apakah aku mengganggu?" Tanyanya pada mereka berdua.


"Tidak, masuklah." Ujar Rian pada sekretarisnya itu.


"Aku akan kembali ke Reshort, aku titip pria ini padamu." Ujar Fredian sambil tersenyum menatap Arvina.


Arvina hanya mengangguk kemudian duduk di sebelah tempat tidur Rian.


"Bagaimana keadaan anda dokter? apakah ada keluhan sakit atau nyeri?" Tanya Arvina setelah Fredian keluar dari ruangannya.


"Tidak ada keluhan sama sekali." Ujar Rian sambil tersenyum.


Fredian kembali ke Reshort, pria itu melajukan mobilnya di perjalanan. Sampai di Reshort dia masuk, melangkah cepat menuju ke ruang kerjanya.


Pria itu merebahkan tubuhnya di atas sofa memencet tombol ponselnya untuk menghubungi seseorang.


"Kamu di mana?" Tanya pria itu melalui ponselnya.


"Studio, aku bersama Anita." Jawab Irna dari seberang.


"Nona Irna, bolehkah saya duduk di sini?" Tanya seorang pria padanya.


"Iya silahkan." Balas Irna sambil tersenyum.


"Siapa itu?" Tanya Fredian terkejut buru-buru bangkit berdiri.


"Ah kita lanjutkan pembicaraan besok, aku sedang mengurus surat kontrak iklan." Jelas Irna sambil menutup telepon dari Fredian.


"Halo! halo! dia bahkan mematikan panggilan dariku." Fredian berteriak kencang, dengan gemas dia meremas ponsel yang ada di tangannya.


"Ini surat perjanjian kerjasama dengan perusahaan kami." Ujar pria itu menyodorkan berkas di atas meja. Anita duduk di sebelahnya, gadis itu yang membaca seluruh pasal-pasal yang tertera di dalam surat kontrak tersebut.


"Bagaimana?" Tanya Irna pada Anita. Gadis itu menyerahkan surat kontrak tersebut pada Irna meminta dia untuk mempelajarinya kembali.


Irna sedikit terkejut, karena biasanya Anita yang mengamati keputusan bukan dirinya. Irna membacanya sejenak diapun juga tidak mengerti kenapa di sana tertulis setiap minggu akan diadakan pemotretan ulang.


Dan kontrak tersebut tertulis selama tiga tahun. Biasanya dia melakukan pemotretan sekali untuk mensponsori sebuah perusahaan. Dan iklannya tersebut dipakai selama masa kontrak tersebut berlangsung.


Tapi perusahaan ini sangat aneh, meminta pemotretan ulang setiap minggunya.


"Ah, apakah anda bisa menjelaskan pasal ke lima?" Tanya Irna pada orang tersebut.


"Tapi, bukankah kalian yang meminta kami menjadi sponsor perusahaan kalian? kenapa aku yang harus repot-repot mendatanginya seolah akulah yang sangat membutuhkan kalian?" Tanya Irna sambil tersenyum, dia tidak mengerti maksud dari perusahaan itu.


"Itu adalah permintaan Presdir kami, dan saya hanya penyampai pesan. Saya akan menunggu keputusan anda selama dua hari."


"Jika anda tidak ingin datang ke perusahaan kami. Saya juga tidak bisa memaksa. Permisi nona Irna."


Pria itu berdiri menata kembali berkasnya dan memasukkan berkasnya ke dalam tas yang dibawanya. Dia melangkah keluar dari studio tersebut, saat di luar studio dia berpapasan dengan Fredian.


"Wah selamat siang Presdir Fredian?" Sapanya sambil tersenyum mengulurkan tangan pada Fredian.


Fredian tersenyum membalas uluran tangan sekretaris dari perusahaan berlian tersebut.


"Ah saya harus menyerahkan laporan ke perusahaan, maaf jika saya tidak bisa berlama-lama di sini." Ujar pria itu sambil menepuk bahu Fredian.


"Iya silahkan." Fredian kembali tersenyum mempersilahkan orang tersebut pergi.


Fredian sering bertemu dengan pemilik perusahaan tersebut. Perusahaan yang selalu meraih tingkat pertama dalam bidang perhiasan berlian. Dari segi mode, dan kualitas barang yang dihasilkan sangat memikat serta selalu membuat berebut para pembeli.


Perusahaan tersebut juga yang merancang perhiasan keluarga Derrose. Karena itulah Fredian sangat akrab dengan sekretaris perusahaan tersebut.


Dan Presdir perusahaan berlian Rossdale itu sering menyewa Reshort miliknya untuk mengadakan pertemuan. Pria kaya raya bernama Jermy Erlando, sudah menikah dan punya seorang anak.


Ingatan Fredian kembali pada Irna.


"Irna!" Fredian bergegas masuk ke dalam studio. Dia melihat Irna sedang bercakap-cakap dengan Anita sambil tertawa-tawa.


Entah apa yang sedang dibicarakan oleh kedua wanita itu, sampai tertawa renyah seperti itu.


Ketika melihat Fredian Anita langsung beranjak berdiri meninggalkan Irna.


"Eh kamu mau kemana?" Cegah Irna pada managernya itu.


"Aku ada urusan nanti kita bicarakan lagi melalui telepon oke?" Ujarnya sambil berlalu tersenyum menatap wajah Irna.


"Ah? ada apa? kenapa kamu terlihat terburu-buru kemari?" Tanya Irna pada Fredian.

__ADS_1


Pria itu menghenyakkan tubuhnya di atas kursi berhadapan dengan dirinya.


"Kamu tahu sedang mengikat kontrak dengan siapa?" Tanya Fredian dengan wajah serius.


"Apakah kamu membutuhkan minuman ringan? aku akan mengambilnya untukmu." Tawar Irna lalu berdiri dari tempat duduknya menuju ke mesin minuman yang ada di sudut ruangan.


Gadis itu memasukkan beberapa koin ke dalam mesin. Lalu berjongkok mengambil minuman meletakkan di atas meja, di depan Fredian.


"Kenapa wajahmu masam begitu?" Tanya Irna sambil membuka kaleng minuman miliknya kemudian meneguknya.


Fredian menopang dagunya dengan kedua tangannya di atas meja. Malas-malasan meneguk minuman yang diberikan oleh Irna.


"Apakah kamu berniat akan terus diam sampai akhir." Ujar Irna sambil tersenyum melihat wajah malas di depannya.


"Kamu belum menjawab pertanyaan dariku." Ujar Fredian kembali membuka kata.


"Apa kamu cemburu pada pria yang sudah berkeluarga? astaga! kamu lucu sekali." Tanya Irna sambil tersenyum melihat dia terbelalak kaget.


Fredian tidak mengira jika Irna sudah tahu, bahkan mengetahui siapa Jermy Erlando. Irna sebetulnya pernah bertemu dengan Jermy Erlando saat masih tinggal di Jerman.


Pria itu sedang melakukan perjalanan bisnis, dia juga memiliki sepuluh perusahaan berlian di Jerman. Saat itu Irna sedang hamil delapan bulan.


Irna pergi berbelanja untuk keperluan bayinya. Dan Jermy juga membelikan keperluan untuk bayinya yang baru lahir. Pria itu berdiri bersebelahan dengan Irna di toko pakaian bayi tersebut.


Tampak wajah kusutnya sedang kebingungan memilih pakaian yang mana, dan dari bahan apa. Berkali-kali pria itu menyentuh beberapa pakaian lalu kembali meletakkannya.


Irna menahan senyum melihat pria di sebelahnya menggigit ibu jarinya. Jermy melihat Irna yang sedang menahan senyum melihat dirinya.


"Ah, nona bisakah kamu memilihkan baju untuk bayiku?" Tanyanya sambil memohon, memasang wajah memelas.


"Hahahaha, iya saya akan membantu anda." Tuturnya sambil menutupi bibirnya yang tertawa lebar.


"Berapa berat badan bayi anda, dan jenis kelaminnya?" Tanya Irna menatap wajah pria yang sedang mencermati wajah Irna dengan tatapan lekat-lekat.


"Ah ini fotonya." Menunjukkan layar ponselnya lebih mendekat ke arahnya. Jika seseorang melihat mereka berdua sekarang, maka pasti akan berfikir jika mereka berdua adalah pasangan suami istri yang sedang belanja untuk menunggu kelahiran putra kecilnya.


"Ah gadis mungil yang sangat cantik." Irna tersenyum manis menatap bayi di layar ponsel milik Jermy. Lalu memilihkan baju untuknya.


Kemudian memilih baju untuk bayinya sendiri dan meletakkan di dalam keranjang miliknya. Jermy masih berdiri di sebelahnya mengikutinya pergi memilih berbagai macam keperluan.


"Ah, anda tidak pulang?" Tanya Irna padanya karena pria itu terus mengekornya selama satu jam.


"Kemana suamimu?" Tanyanya membuat wajah Irna mendadak berubah sedih.


"Aku ibu tunggal." Ujar Irna datar sambil tersenyum pahit.


"Padahal aku yang merancang perhiasan pernikahan kalian." Ujarnya sambil menyentuh kalung berlian di leher Irna.


"Ah, anda tuan Jermy?"


Pria itu mengangguk kecil, mereka berdua kemudian berjalan menuju kasir. Jermy membayar belanjaan miliknya sekaligus milik Irna.


"Maaf saya terlambat mengenali anda." Ungkap Irna dengan sopan.


"Aku juga baru tahu setelah melihat kalung itu, jika kamu adalah menantu keluarga Derrose." Balasnya sambil tersenyum.


"Bolehkah aku mengantarkanmu?" Tanyanya lagi memiringkan kepalanya melihat wajah Irna.


"Ah tidak perlu, saya akan naik taksi."


Pria itu tidak mendengar jawaban Irna tapi malah langsung memasukkan semua barang-barangnya di dalam bagasi mobilnya. Barang yang dibeli Irna lumayan banyak.


Gadis itu kebingungan menahan lengan Jermy agar berhenti memasukkan belanjaannya ke dalam mobilnya. Pria itu malah tersenyum melihat wajah bingung di depannya.


"Kenapa? aku hanya akan mengantarkan kamu lalu segera pulang. Tidak baik wanita hamil sebesar itu berkeliaran sendirian di malam larut begini." Jelasnya sambil membukakan pintu mobil untuknya.


"Tapi tuan Jermy, istri anda pasti sudah sangat lama menunggu kepulangan anda. Dan saya tidak ingin.."


"Istriku tinggal di London, saya di sini untuk menyelesaikan pekerjaan. Jadi naiklah apa aku perlu.." Pria itu berjalan mendekat dan hendak mengangkat tubuh Irna ke dalam mobil, Irna segera menghindar dan naik ke dalam mobilnya.


Membuat Jermy terkekeh geli melihatnya.


"Ah di depan sana belok kanan." Irna menunjukkan jalan menuju rumahnya.


Setelah sampai di rumah Irna, Jermy membantu membawakan barang belanjaan Irna ke dalam rumahnya.


"Kamu tinggal sendirian di sini?" Tanyanya sambil melihat sekitar, rumah Irna agak jauh dari rumah penduduk.

__ADS_1


"Haruskah aku mengusirnya, atau membuatkan minuman untuknya? dia sudah banyak membantuku." Gumam gadis itu sedikit bingung.


Bersambung...


__ADS_2