Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
Vampire Queen


__ADS_3

"Aku tidak mau kamu yang menangani ku!" Gelisah celingukan mencari Irna.


"Pasien tidak bisa pilih-pilih dokter! sudah diam saja! kamu hanya akan menyulitkannya."


Rian mulai membuka kancing baju Fredian.


"Astaga! kenapa rasanya aneh sekali?"


Gumam Fredian sambil melirik Rian yang sedang membuka kancing bajunya.


"Bukankah ini seperti biasanya? sejak awal akulah doktermu. Dia istriku sekarang, jadi aku tidak akan membiarkannya menyentuh pasien pria sembarangan. Apalagi pria penuh masalah sepertimu."


"Kenapa? apa kamu takut kalau aku merebutnya darimu?" Fredian menatap wajah Rian, terlihat wajahnya sangat tidak nyaman mendengar perkataan Fredian.


"Kamu sudah memiliki istri baru, juga dua anak. Apa kamu masih kurang puas, dan masih ingin merebut Irna dariku?"


Rian mulai mengoleskan antiseptik pada bekas luka Fredian.


Pria itu tersenyum menatap wajah Rian.


"Aku hanya sedang mengalah padamu sekarang, kamu tahu bagaimana Irna mencintaiku. Tidak butuh waktu lama untuk memilikinya kembali. Sekalipun aku sudah menikah dengan wanita lain."


Menepuk pundak Rian dan berlalu dari hadapannya.


"Oh ya? aku ingat kamu sudah menikahi Arvina! pasti kamu menceraikan istri lamamu demi menikah dengan Irna."


"Hentikan omong kosongmu! kamu yang menolaknya saat aku menemukanmu waktu itu!" Teriak Rian sudah tidak sabar lagi menghadapi Fredian.


"Aku merasa kasihan padamu, dan aku sengaja membiarkannya untuk saat ini."


Tersenyum mengejek ke arahnya sambil menunjuk Rian dengan jari telunjuknya.


"Plaaakkk!" Irna datang entah dari mana melayangkan tamparan pada pipi Fredian.


"Cukup! kamu! sudah cukup!" Ujar Irna sambil melelehkan air matanya penuh amarah menatap Fredian.


Gadis itu benar-benar tidak menyangka jika orang yang dicintainya selama ini adalah pria yang penuh dengan kelicikan. Waktu itu dia tidak ingin mendengarkan Wilson. Kini ada segenggam keraguan melintasi hatinya.


Pria yang selalu bersamanya, dan selalu berada di setiap ingatannya.


Pria yang lembut juga manja, selalu tersenyum dan merajuk padanya. Sudah tidak ada lagi sekarang.


"Kamu boleh saja melukaiku! tapi tidak Rian, pria yang menjadi suamiku ini, kamu seharusnya berterima kasih padanya. Dia yang selalu berada di sisiku, merawatku sepanjang waktu demi untuk menunggu kedatanganmu. Dia menunggu ingatanku kembali dan saat itu dia mengembalikanku padamu."


"Tapi sepertinya itu adalah keputusan yang salah! aku tidak akan pernah kembali padamu lagi!"


Irna mengusap air matanya, kemudian melangkah pergi meninggalkan mereka berdua.


Rian mendekat ke arah Fredian pria itu menyentuh bahunya sambil menyodorkan sapu tangan padanya.


"Aku tidak tahu apa tujuanmu melakukan ini, kamu benar-benar seperti anak kecil. Apa main tarik ulur begitu menyenangkan? kamu bahkan membawaku andil setiap waktu di dalam kisah cintamu."


"Aku bukan pria buta! aku bisa melihat betapa besar cintamu pada Irna. Kamu bahkan rela melemparkan nyawamu untuk menyelamatkan dirinya."


"Kemudian sengaja membiarkanku menikahinya beberapa waktu lalu. Apa aku begitu menyedihkan dalam pandangan matamu?"


Fredian menggelengkan kepalanya, dia masih mengusap air mata yang terus mengalir.


"Aku hanya memberikan kesempatan padamu untuk yang kedua kalinya, jika kamu melukainya lagi. Aku tidak akan melepaskanmu. Jagalah dia untukku sementara ini, masih ada situasi sulit juga membahayakan nyawanya."


Fredian memegang kedua bahu Rian sambil menatap wajahnya lekat-lekat.


"Organisasi vampir sedang mengusut kematian Wilson, dan aku menjadi tersangka. Kamu melihat luka di perutku, aku diserang oleh mereka belakangan ini."


"Jagalah Irna untukku." Fredian bergegas melangkah pergi meninggalkan Rian.


Rian masih bingung dengan perkataan Fredian. Pria itu melangkah gontai menuju ruang kerjanya.


Dia mendapati Irna sedang mengisi berkas di atas meja.


"Apa yang terjadi? kenapa wajahmu terlihat lesu?"


"Siapa Wilson dan apa hubunganmu dengannya?"


Rian mengusap wajahnya lalu memegang ujung meja kerja Irna dengan kedua tangannya.


"Dia kekasihku, kekasih masa kecilku."


Irna masih santai mencatat laporan pada kertas di atas meja kerjanya.


"Srak!" Rian merebut kertas di meja Irna mengangkatnya tinggi-tinggi.


"Hei! berikan itu padaku, itu berkas penting."


Rian malah membawa kabur berkas tersebut, Irna terpaksa mengejarnya berusaha menggapainya.


"Rian! berhentilah main-main, aku serius itu sangat penting."


"Apakah lebih penting dari diriku?"


Rian masih menyembunyikan berkas itu di belakang punggungnya.


"Tentu saja tidak, kamu lebih penting dari berkasku ini."


"Ya sudah kalau begitu kenapa masih cemberut?" Rian tersenyum melihat wajah masam Irna.


"Dasar kekanak-kanakan!" Gerutunya lagi.


Irna berjalan menuju sofa kemudian menghempaskan tubuhnya terlentang di sana.


"Sedekat apa hubungan dirimu dengan Wilson, apakah pria itu pernah menciumu?"

__ADS_1


Rian meletakkan berkas Irna kembali di atas meja lalu duduk di tepi sofa menghimpit tubuh Irna, masih mencari tahu hubungan gadis itu dengan Wilson.


"Pernah."


"Apa kamu bilang? kamu pernah berciuman dengannya?"


Rian terkejut mendengar jawaban Irna, gadis itu mengatakannya tanpa rasa malu sedikitpun.


"Kamu cemburu sekarang? terlambat."


Sambil berkata demikian, Irna masih memejamkan matanya.


"Kamu menolakku saat aku ingin menciummu tapi kamu malah berciuman dengan pria lainnya?"


Rian benar-benar tidak percaya dengan apa yang dia dengar saat ini. Dia berharap telinganya salah mendengar.


"Aku tidak bisa menolaknya, dia memaksaku."


Irna bangkit duduk dia melihat wajah pria yang berstatus sebagai suaminya itu lekat-lekat.


"Kamu sakit hati? dia vampir sama sepertiku. Dia saudara kembar Fredian, mereka berdua memiliki wajah yang sangat mirip tanpa celah sedikitpun. Dia mengunjungi dirimu saat dirawat terakhir kali."


Rian masih belum puas dengan penjelasan Irna. Pria itu tetap berwajah masam.


"Kamu berniat merajuk sepanjang hari? ya sudah terserah saja." Irna kembali merebahkan tubuhnya.


"Apa kamu mencintai Wilson?"


"Tentu, saat aku masih anak-anak dia kekasihku. Fredian mengambil ingatan kami berdua kemudian menggeser Wilson menjauh. Menempati tempatnya di sisiku, sejak saat itu kami dekat dan menikah."


"Kemudian kamu menyela di tengah-tengah, menukarkan vaksin dengan diriku!" Irna mendelik menatap Rian.


"Kamu marah padaku sekarang?" Rian tersenyum melihat wajah marah istrinya.


"Tidak ada gunanya. Jika kamu tidak mengungkitnya aku sudah melupakan itu jauh-jauh hari."


"Apakah ada masalah?"


Irna melihat perubahan wajah Rian, dia sedang menyembunyikan sesuatu.


"Tidak ada, kita pulang saja sekarang."


Rian menarik tangan Irna agar bangkit dari sofa mengajaknya kembali ke rumah. Sampai di rumah gadis itu mengambil segelas air putih dan mulai menenggaknya.


Satu detik Irna melihat sekelebat bayangan melalui jendela kaca, seseorang memakai jubah hitam melesat di sisi rumahnya.


"Rian?" Irna memanggil Rian, kemudian dia mendengar suara gemericik air di dalam kamar mandi.


Dia menebak Rian sedang mandi saat ini.


"Apakah mungkin malam ini adalah malam bulan purnama?" Irna menyambar mantel hitam kemudian meninggalkan selembar pesan pada kertas kecil dan meninggalkan di atas meja.


"Cring! cring! cring!" Bunyi langkah kakinya memenuhi segala penjuru, satu demi satu vampir datang dan bersujud di depannya.


Gadis itu berdiri di tepi tebing, di tempat tersembunyi yang tidak bisa dijangkau oleh manusia.


Fredian mendengar panggilan bulan purnama, pria itu datang ke sana. Dia melihat Irna, gadis itu adalah ratu sekarang. Dia menggantikan posisi Wilson karena melakukan pernikahan darah dengan saudaranya tersebut.


"Maaf ratu, kami belum bisa menemukan keberadaan pembunuh raja." Ujar salah seorang dari para vampir tersebut.


"Kalian tidak perlu mencarinya lagi, aku sudah menemukan keberadaan dirinya. Aku yang akan menanganinya sendiri."


"Baik ratu!"


Mereka undur diri satu persatu dan menghilang di tengah remang cahaya bulan.


Fredian berjalan sambil berkacak pinggang menatap tajam ke arah Irna. Pria itu ingin sekali menuntaskan amarah di dalam hatinya.


Irna tersenyum tipis melihat kemarahan tersirat pada wajah pria di depannya itu.


"Astaga! aku bahkan memintanya untuk menjaganya! tapi ternyata wanita di depanku ini adalah dalangnya! dia meminta para vampir itu untuk menangkapku dan membawaku padanya?!"


"Benar-benar konyol sekali!" Gerutu Fredian dalam gumaman.


"Kenapa? kamu pikir aku lemah? aku hanya ingin memastikan siapa tuan Marko itu? ternyata dia adalah suamiku sendiri! dasar pria brengsek menyebalkan!"


Irna menjinjing roknya dan mengejarnya menimpuk kepalanya dengan kedua tangannya.


"Akh! aduh! ampun ratu! ampun!" Fredian pura-pura memekik kesakitan sambil menahan tawanya.


Dia segera mengehentikan Irna, menggenggam kedua tangannya menariknya ke dalam pelukannya.


"Lepaskan aku Fred! urus saja istri barumu itu! pria menyebalkan sekali!"


Irna masih memukuli dadanya karena kesal sekali.


Fredian tidak mengatakan apapun, air matanyalah yang menjadi jawaban. Air matanya mengalir saat pria itu mengecup kening mantan istrinya itu.


Fredian tersenyum kemudian melepaskan pelukannya dan melesat pergi dari hadapannya.


"Dasar pria menyebalkan! apa kamu tidak ingin mengatakan sesuatu padaku, setelah memelukku lalu pergi begitu saja! apakah istri barumu begitu menyenangkan sampai kamu membuangku kembali?"


Irna menangis sambil duduk di tepi tebing, menunggu fajar menghangatkan tubuhnya.


Rian di dalam rumah menunggu dirinya. Pesan singkat Irna menyatakan.


**"Rian, ini adalah bulan purnama seperti biasanya. Aku harus pergi untuk pertemuan para vampir, jika aku tidak kembali malam ini, kamu tidak perlu mencariku. Aku akan kembali keesokan harinya."**


Fredian kembali membuka restoran sup ayam. Irna sudah berdiri di ambang pintu saat pria itu membuka pintu depan.


Irna masuk dan duduk pada salah satu meja. Gadis kecil yang pernah tidur bersamanya tiba-tiba berlari kecil menghampiri dirinya.

__ADS_1


"Mama..."


"Ah Dira?" Irna meraihnya lalu meletakkan gadis imut itu di atas pangkuanya.


"Mama kangen sama Dira?" Irna menganggukkan kepalanya sambil mencium pipinya.


"Dia imut sekali ya?" Ujar Fredian seraya meletakkan nampan berisi semangkuk sup di atas meja.


Seseorang pria datang membawa dua tas hadiah, Dira segera meloncat turun dari pangkuan Irna.


"Papa...." Gadis imut itu memegang tangan pria muda itu dengan manja.


"Papa? dia papa? dan kamu juga papa?" Irna mengeryitkan dahinya tidak mengerti.


Irna hampir lupa jika gadis kecil itu juga memanggilnya mama. Kemudian datang lagi pria berperawakan tinggi, membawa ember.


"Papa..." Gadis kecil itu mengambil ember dari tangannya dan menggandengnya masuk ke dalam, gadis muda yang dilihatnya menjemput Dira menggamit lengan pria itu masuk ke dalam rumah.


Irna merasa pusing melihat pemandangan baru di depannya itu.


Fredian yang sedari tadi membersihkan meja, menahan tawanya melihat Irna menikmati supnya tanpa perasaan sama sekali.


Gadis itu terlihat buru-buru menghabiskan makanannya.


"Apa kamu terkejut? kami semua adalah keluarga kecil di sini." Fredian mengambil mangkuk sup di depan Irna.


Irna menahan tangannya menggenggam erat sekali.


"Apa kamu ingin mematahkan tanganku?"


Irna menariknya dengan geram hingga dia menabrak meja.


"Braaak! bruuukkk!" Fredian jatuh terguling di atas tubuhnya.


"Posisi ini sepertinya tidak benar." Irna mendorong tubuhnya menjauh lalu segera bangkit berdiri.


"Apakah ada masalah?" Rosa meletakkan segelas jus apel di atas meja.


"Kamu pasti kekasihnya kan?" Bisik Rosa pada Irna.


"Pria ini setiap hari selalu menceritakan tentangmu. Minumlah jusnya. Dia juga bilang kamu menyukai ini."


"Tapi aku tidak bermaksud mengganggu hubungan kalian berdua, aku kemari hanya, hanya ingin menikmati makanan."


Irna menjadi salah tingkah sendiri. Gadis itu merasa tidak enak karena telah mengganggu kehidupan mereka berdua.


"Dia, suamiku." Rosa menunjuk seorang pria yang membawa ember kosong tadi.


Irna mencengkeram erat lengannya sendiri meremasnya dengan geram. Masih mendelik menatap wajah Fredian.


Pria itu kemudian berlari ke belakang membantu temannya menyiapkan menu hari itu.


"Apa kamu pikir pria muda itu suamiku? Marko adalah supir kami." Rosa tersenyum melihat wajah pucat Irna.


"Dia sengaja melemparkan diriku lagi pada Rian, bahkan kali ini terang-terangan menyerahkannya!" Gerutunya di dalam hati.


Fredian yang berfikir demi keselamatan nyawa Irna, dia bahkan tidak tahu yang membuatnya jadi buronan adalah istrinya sendiri.


Kehidupan yang begitu konyol, dia terlanjur membiarkan Rian menikahinya.


Irna melangkah keluar dari dalam restoran tersebut dia berpamitan pada Rosa dan suaminya. Kecuali Fredian, Irna berfikir Fredianlah yang melemparkan dirinya kembali kepada Rian.


Irna sampai di rumahnya, Rian menghambur memeluk dirinya.


Pria itu mencium aroma sup ayam dari bibirnya lalu melangkah mundur menjauhinya.


"Kamu menemuinya di belakangku." Kata-kata itu meluncur pedas menusuk hati Irna.


"Aku hanya ingin memastikan sesuatu."


"Apa lagi yang ingin kamu pastikan? sudah jelas dia adalah Fredian!"


"Kamu benar, dia adalah Fredian, Marko adalah Fredian. Pria itu telah membuangku kembali ke arahmu."


Irna tersenyum tipis melangkah gontai menuju ke arah kamar mandi.


Sesaat kemudian gadis itu keluar dari dalam kamar mandi dengan sekujur tubuh basah.


Rian melihat semburat kesedihan pada wajahnya. Dia meraihnya dalam pelukannya.


"Maafkan aku Irna. Maafkan aku." Rian mencium keningnya.


Pria itu mengambil baju ganti dari dalam lemari untuknya.


"Pakailah ini."


Irna melihat ke arahnya gadis itu tersenyum, pria di hadapannya itu masih melayaninya dengan sangat baik. Masih tetap menyayangi dirinya seperti sebelumnya.


Irna segera berlari saat Rian berbalik melangkah pergi.


Irna berlari memeluk pinggangnya dari belakang. Gadis itu menyandarkan kepalanya pada punggungnya.


"Suamiku..." Irna melelehkan air matanya kembali dia menangis tersedu-sedu di punggung Rian.


Rian berbalik sambil mengusap air matanya kemudian mengangkat tubuhnya masuk ke dalam kamar.


Pria itu merengkuhnya dalam pelukan, sambil memejamkan matanya. Dia masih mendengarkan suara isakan halus Irna.


"Cup!" Rian mengecup bibirnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2