
"Sudah, jangan bersedih lagi." Ujar Fredian sambil menepuk bahu Irna.
"Aku, aku sangat merindukannya, aku tidak bisa menahan air mataku, aku sangat menyayanginya." Irna tergagap sambil terus terisak.
Fredian meraih tubuh Irna dalam pelukannya, mencoba menenangkan gadis itu.
"Aku akan membawamu ke Jerman untuk bertemu dengannya, jangan hawatir dengan ibuku, aku sudah mengatakan segalanya. Tidak akan ada masalah lagi."
"Tapi ini sudah lewat beberapa tahun sejak aku pergi, apakah dia masih mengenaliku?" Irna menatap wajah Fredian lekat-lekat sambil terus mengusap air matanya yang terus mengalir tanpa henti.
"Dia tahu kamu adalah ibunya, satu-satunya ibunya." Ujar Fredian sambil mengusap bahu Irna seraya tersenyum.
"Ayo aku antar pulang, biar aku yang menghubungi Reynaldi." Fredian memapah gadis itu melangkah keluar dari dalam kantornya.
Saat mereka membuka pintu, seorang wanita sudah berdiri menunggu Irna di luar.
"Plaaakkk!" Tamparan melayang mendarat di pipi Irna.
"Phuiih!" Irna meludah ke samping, bagian dalam mulutnya terluka.
"Ha ha ha, kalian selesaikan masalah. Aku akan pergi, hei nona Erlia karena aku sedang baik hari ini aku akan melepaskanmu."
"Tapi jika besok kamu mengulanginya aku pastikan kamu berada di balik jeruji besi." Irna melepaskan pelukan Fredian dan melangkah keluar meninggalkan mereka berdua.
"Halo, atur konferensi pers hari ini juga!" Teriak Fredian menatap garang wajah Erlia.
"Tidak, Fred aku jatuh cinta padamu! aku akan melakukan apapun untukmu. Jangan akhiri hubungan kita. Aku mohon, aku tidak bisa berpisah darimu. Aku sangat mencintaimu." Erlia memohon, dan berlutut memeluk kaki Fredian.
"Melihat tindakan konyolmu barusan, memangnya apa yang bisa aku lakukan lagi. Aku kasihan padamu, jika Irna tidak berbaik hati hari ini dia sudah mengirimmu ke dalam penjara. Dan menuntut banyak kerugian hingga perusahaan keluargamu hancur." Jelas Fredian sambil melepaskan kakinya dari pelukan Erlia.
Seluruh karyawan Reshort sangat sibuk hari itu. Mereka mengatur acara konferensi pers untuk Fredian.
"Hari ini saya menyatakan bahwa saya Fredian Derrose, tidak memiliki hubungan apapun dengan Erlia Regina. Pernikahan kami diatur perjodohan antara keluarga, dan terkait dengan hubungan bisnis, dan pernikahan yang akan dilangsungkan sudah dibatalkan dua minggu yang lalu."
"Tunggu Presdir apakah ada wanita lain di antara hubungan kalian, kami melihat anda kemarin berada di mall bersama artis Irna Damayanti, mantan istri anda. Apakah benar anda berniat kembali padanya?" Tanya salah seorang yang meliput berita hari itu.
"Irna Damayanti, dia sejak awal sudah berada di hati saya. Dia bukan orang ketiga atau kedua dan seterusnya, dia sejak awal berada di sini." Ujar Fredian sambil menunjuk ke arah dadanya.
"Tapi masalah kami kembali bersama atau tidak, dia sendiri yang akan memutuskannya." Ungkapan Fredian yang terakhir menutup konferensi pers hari itu.
"Dia selalu mencuri start, bahkan dia menyatakan kamu selalu berada di hatinya." Rian tersenyum melihat Irna melipat tangannya di depan dada. Gadis itu sejak tadi melihat layar kaca televisi yang ada di kantor Rian.
"Apa kamu masih ada pemotretan hari ini?" Tanya Rian sambil memoleskan obat di ujung bibir Irna yang terluka.
"Sepertinya tidak bisa, bagaimana akan mengambil foto jika ujung bibirku lebam begini?!" Tanya Irna pada Rian yang masih tersenyum mendengar ucapan Irna.
"Dokter, kamu menertawaiku sejak tadi heh?" Kelakar Irna sambil menatap cerah pria di depannya.
Rian hanya menggelengkan kepalanya sambil terus tersenyum.
"Aku tersenyum karena kamu mengunjungiku, biasanya di jam seperti ini aku berada di laboratorium sampai jam enam sore."
"Dan karena kedatangan seorang Irna Damayanti aku langsung memiliki jam bebas kerjaku." Ujarnya sambil mengoleskan salep.
"Ini akan membaik sebentar lagi, imun di dalam tubuhmu berbeda dengan orang lain, ini ada hubungan dengan sel-sel darahmu." Ujarnya sambil melepaskan sarung tangan dari tangannya.
"Iya seharusnya aku tidak hawatir, dan merepotkanmu setiap waktu." Ujar Irna sambil melihat bekas lukanya di depan cermin westafel yang ada di ruangan itu.
Rian berdiri di sebelahnya mencuci tangannya di westafel dan mengeringkannya dengan handuk.
"Apakah kamu akan kembali ke dalam laboratorium?" Tanya Irna sambil berbalik badan, pandangan matanya mengikuti langkah Rian.
Rian berjongkok di depan meja kerjanya dan melihat berkasnya.
"Iya nanti." Ujarnya lagi sambil menandai beberapa di atas meja kerjanya.
"Apa kamu ingin aku menemanimu?" Tanyanya lagi melihat gadis itu terdiam masih bersandar di depan westafel menatap ke arahnya.
"Ah, tidak. Lanjutkan pekerjaanmu aku akan naik taksi." Irna melangkah berdiri di depan Rian tersenyum sambil melambaikan tangannya. Lalu berbalik hendak keluar dari ruangan itu.
"Ayo, biar aku antar." Rian menarik tangan Irna menuju parkiran.
"Rian jangan menarik tanganku sepertinya ini." Ujar Irna sambil mengancungkan tangannya dalam genggaman Rian, di depan wajahnya.
"Maafkan aku, aku terlalu terburu-buru tadi." Ujarnya sambil melepaskan genggaman tangannya. Menggaruk keningnya yang tidak gatal.
Irna tersenyum lalu kembali berjalan santai di sebelahnya.
"Apa kamu marah karena aku mengingatkanmu barusan?" Tanya Irna sambil memiringkan kepalanya mencermati wajah yang merasa bersalah di depannya.
"Mana mungkin aku marah dengan hal kecil seperti itu. Sudah ayo." Ujarnya buru-buru berjalan lebih cepat dari sebelumnya.
__ADS_1
"Siap pak Dokter!" Ujar Irna sambil memasang hormat dengan telapak tangannya.
Rian tidak berhenti tersenyum, melihat tingkah lucu Irna di sebelahnya.
"Berhentilah berkelakar, perutku sakit sekali tertawa sejak tadi." Ujar Rian melangkah masuk ke dalam mobilnya duduk di belakang kemudi. Diikuti Irna yang duduk di sebelahnya.
"Kita akan kemana?" Tanya Rian sedikit bingung karena Irna tidak bilang akan kemana, jadi dia hanya berjalan memutar sejak tadi.
"Ah, ke studio Reynaldi." Ujar gadis itu kembali menatap diam ke arah jalanan.
"Apa yang kamu pikirkan, apa ada masalah lain selain tadi pagi?" Tanya pria itu lagi.
"Tidak, ada."
Sampai di studio Rian menurunkan Irna, Irna melambaikan tangannya sambil tersenyum melepas kepergian pria itu.
"Kenapa ponselmu tidak bisa dihubungi?" Tanya Reynaldi segera saat Irna tiba di studionya.
"Aku kehilangan ponselku saat pemotretan tadi pagi, dan mobilku keempat bannya kempes." Jelas Irna sambil meletakkan kepala di atas meja dengan wajah cemberut.
"Itu ujung bibirmu bagaimana bisa lebam begitu? kamu habis berperang?" Ledek Reynaldi melihat wajah lesu Irna. Mengambil sebotol air mineral dari dalam lemari es, meletakkan di atas meja.
"Erlia menamparku saat melihatku keluar dari kantor Fredian, salahku tidak membawa pengawal hari ini." Ucapnya sambil meneguk sebotol air mineral di atas meja.
"Tapi sepertinya sekarang sudah selesai kan? aku tadi melihatnya di layar kaca, dia terlihat sangat antusias mengungkapkan perasaannya." Ujar Reynaldi sambil meneguk air minum miliknya.
"Oh Irna Damayanti kamu selalu berada di hatiku. ha ha ha ha!" Reynaldi meledek Irna sambil memegangi dadanya sendiri, gadis itu tersenyum-senyum mendengar kelakar dari Reynaldi.
"Sepertinya kita harus menunda jadwal hari ini sampai lebam di sudut bibirmu hilang." Tambahnya lagi.
"Besok juga pasti sudah hilang." Sahut Irna.
Di sisi lain.
Setelah konferensi pers Fredian kembali masuk ke dalam kantornya. Dia melihat ponsel Irna terselip di tepi kursi.
Iseng-iseng dia melihat ke dalam.
"Bahkan dia tidak merubah kunci ponselnya." Bisik Fredian pada dirinya sendiri.
Di sana ada panggilan telepon tidak terjawab sebanyak sepuluh kali dari Reynaldi. Dan sepuluh pesan belum dibuka di sana tidak terdapat nama pengirimnya, hanya ada nomor telepon saja.
"Irna, aku melihatmu pergi ke mall dengan Presdir Reshort."
"Irna aku merindukan suaramu, kenapa kamu tidak pernah mengangkat telepon dariku."
"Irna, sampai kapan kamu akan mengacuhkanku?!"
"Irna aku tahu pagi ini kamu sedang pemotretan di studio."
"Irna, aku selalu menunggumu demi melihatmu."
"Irna aku akan menunggumu ketika kamu selesai bekerja, aku akan menunggumu pulang."
"Irna, aku tetap mencintaimu walaupun kamu mengabaikanku."
"Irna aku tahu kamu sedang berada di pusat penelitian NGM."
"Irna aku akan menunggumu keluar."
"Irna aku melihat ujung bibirmu lebam membiru."
Fredian terbelalak kaget, lalu melihat riwayat panggilan.
Ada sekitar lima puluh panggilan tidak terjawab dari nomor yang sama.
"Siapa orang ini? kenapa selama ini aku tidak tahu?" Ujar Fredian sambil mengusap tengkuknya.
"Dia mirip seperti penguntit." Ujarnya lagi.
Fredian melihat sejumlah pesan lain dengan menggeser layar ponsel ke bawah.
Di sana hanya ada pesan dari Rini, Arya, dan Reyfarno, yang menanyakan tentang pekerjaan.
Dan beberapa panggilah telepon dari Rian, Reynaldi, dan dirinya.
Fredian segera menghubungi Reynaldi.
Reynaldi terkejut mendapat panggilan dari ponselnya Irna, sedangkan Irna saat ini masih bersamanya.
"Ah iya, aku akan mengantarkan Irna pulang. Oke." Ujar Reynaldi tersenyum melihat wajah penasaran Irna, karena gadis itu mendengar namanya di sebut oleh Reynaldi saat menerima telepon.
__ADS_1
"Siapa?" Tanya Irna.
"Fredian dia bilang sudah menemukan ponselmu, dan setelah memperbaiki ban mobilmu. Dia akan mengantarkan ke rumah."
"Hem." Irna kembali meletakkan kepalanya di atas meja.
"Ayo aku antar pulang, istirahatlah besok ada pemotretan. Lokasinya berada di tepi pantai. Kita besok mungkin akan sibuk seharian."
Reynaldi menyambar jaket dan kunci mobilnya. Irna mengikutinya dari belakang.
Setengah jam kemudian mereka tiba di rumah Irna.
"Aku akan langsung kembali." Ujar Reynaldi sambil memutar kemudi berbalik arah.
Irna hanya mengangguk sambil melambaikan tangan padanya.
Irna melangkah masuk ke dalam rumahnya. Gadis itu naik ke kamar yang ada di lantai atas, melepaskan seluruh pakaiannya dan berganti dengan baju santai.
Satu jam kemudian Fredian memarkir mobil Irna di halaman rumahnya. Dia melangkah masuk ke dalam rumah mencari Irna.
Fredian mencari gadis itu di seluruh ruangan dan dia menemukannya, Irna sedang duduk di tepi kolam sambil mencelupkan telapak kakinya di dalam air.
Di samping Irna ada nampan berisi irisan buah dan segelas air lemon.
"Ponselmu aku taruh di meja kamarmu." Fredian membuka kata, lalu duduk di sebelahnya ikut mencelupkan kakinya setelah menggulung celana panjangnya ke atas.
"Terima kasih." Irna menyedot air lemon dari dalam gelas sambil menatap wajah pria di sekitarnya.
Irna mengerjapkan matanya berkali-kali melihat Fredian seperti sedang serius memikirkan sesuatu.
Irna mengambil garpu dan mengambil buah lalu menyodorkan ke bibir Fredian di sebelahnya.
Fredian melihat ke wajah Irna, ujung bibir gadis itu masih sedikit lebam. Irna tersenyum masih menyodorkan buah agar dia segera membuka mulutnya.
Fredian segera mengambilnya dengan bibirnya kemudian mengunyahnya. Sebenarnya dia ingin mengatakan perihal pesan di ponselnya. Tapi dia takut gara-gara itu Irna akan marah padanya.
Tapi semakin ditahannya, hatinya semakin merasa sangat tidak nyaman.
"Aku tadi menemukan ponselmu terselip di tepi kursi sofa kantorku." Ujar Fredian masih menatap air di tengah kolam.
Melihat raut wajahnya Irna bisa menebak apa yang dipikirkannya.
"Dan kamu menemukan pesan misterius di dalam ponselku, melihat wajahmu yang serius itu sejak awal duduk di sebelahku pasti itu alasannya." Sahut Irna terkekeh sambil menghirup air lemonnya.
"Kamu tidak merasa dikuntit atau cemas, atau takut?" Tanya Fredian lagi.
"Ha ha ha, aku malah melihat wajahmu yang ketakutan." Irna tergelak melihat wajah Fredian yang sangat hawatir padanya.
"Ah sudahlah, aku pasti terlalu menghawatirkanmu." Balas Fredian yang sedari tadi melihat wajah Irna begitu santai.
"Kamu mengenal pria itu?" Tanya Fredian yang tidak bisa menahan rasa ingin tahunya.
Irna menggelengkan kepalanya, sambil nyengir.
"Aku ingin melihat sampai kapan kamu akan terus menertawaiku?!" Fredian duduk di belakang punggung Irna, mengangkat tubuh gadis itu mengayunkannya di atas air, bersiap melemparkan ke dalam kolam.
"Ah! ha ha ha kamu curang sekali! ah jangan! jangan lempar! turunkan aku, hari ini aku sedang tidak ingin berenang!" Irna tertawa sambil berpegangan erat pada lengan Fredian.
"Aku janji tidak akan menertawakanmu lagi! ah! turunkan aku." Fredian masih mengayunkan tubuh Irna di atas air. Dan tanpa terduga kakinya terpeleset dan mereka berdua jatuh ke dalam kolam.
"Byuuuuur!" Keduanya basah kuyup, Irna masih berada dalam gendongannya.
"Ha ha ha lihat wajahmu, basah semua! seperti burung pipit yang kehujanan." Kelakar Fredian sambil tertawa melihat Irna cemberut.
"Astaga pria ini sangat menyebalkan!" Irna memelintir pinggang Fredian karena kesal.
"Akh! sakit, aduh!" Fredian memekik masih menahan senyum melihat wajah masam gadis itu.
Fredian berjalan menuju tangga ubin di tepi kolam. Masih mengangkat tubuh basah Irna menatap wajahnya. Irna bergelayut pada leher pria itu menatap wajahnya.
Dalam tatapan mata mereka berdua mengisyaratkan.
"Aku sudah mengenalmu sangat lama, dan mengetahui isi hatimu hanya dengan melihat ke dalam sinar matamu. Di dalam pancaran yang dalam aku mengetahui perasaanmu yang tidak diketahui siapapun. Kamupun juga sama, kamu mengetahui perasaanku tanpa perlu mengatakannya."
"Berapa banyak kata yang kadang tidak terucap, dan kita mengatakannya melalui isyarat dari kedua tatapan mata kita."
"Di mana tidak ada air mata, tapi aku melihat kepedihannya, di mana aku tidak melihat senyumnya namun aku melihat rasa bahagianya."
"Perasaan seperti itu selalu timbul dan nyata, perasaan yang sejak awal ada, hidup dan bersemi di dalam jiwa. Walaupun tanpa kata yang terucapkan, walaupun tanpa bahasa yang indah untuk menyatakan. Tapi hanya dengan melihat sinar di dalam mata. Hanya dengan melihat akan merasakannya."
Bersambung...
__ADS_1