Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
My love


__ADS_3

"Apa kamu baik-baik saja?" Wajah Irna terlihat hawatir.


"Aku baik-baik saja" Fredian memijit pelipisnya menahan nyeri.


Wajah Fredian mendadak memerah, mengeluarkan keringat dingin.


"Aku akan menghubungi seseorang!" Ujar Irna wajahnya masih hawatir melihat pucatnya suaminya.


Fredian menahan tangan Irna.


"Siapa?" Tanya Fredian


"Doktermu...." Ujar Irna dengan kedua mata berkaca-kaca.


Fredian menundukkan wajahnya. Di wajah pria itu tersirat rasa hawatir jika istrinya akan melakukan barter seperti dirinya.


Ketika dirinya menukar Irna dengan vaksin, yang akhirnya menyebabkan mereka berdua berpisah.


Kali ini dialah yang melangkah menuju ke arahnya. Menuju ke tempat Rian.


Gadis itu tersenyum menatap Fredian, menggenggam tangannya.


"Apakah kamu percaya padaku?" Tanya Irna pada suaminya itu.


"Jangan menukarnya dengan dirimu" Ujar Fredian.


"Aku tidak akan bertindak konyol, melempar diriku sendiri ke pelukan pria lain." Ujar Irna menebus rasa hawatir di wajah Fredian.


Irna melepaskan tangan Fredian dan berlari menuju lobi Reshort.


Ruina mengambil kesempatan untuk menyelinap ke kamar Fredian.


"Irna itukah kamu?!" Fredian mendengar suara berisik seseorang masuk dan menutup pintunya.


Fredian masih memijit keningnya menahan nyeri. Dilihatnya Ruina sudah telanjang melangkah mendekat ke arahnya.


"Apa kamu sudah tidak waras!?" Fredian mengibaskan tangan Ruina ketika menjelajah ke pahanya.


"Aku akan menyembuhkanmu! aku akan merawatmu dengan tubuhku!" Rayunya menyentuh pipi Fredian dengan lembut.


"Kamu sangat menjijikkan!" Fredian berusaha berdiri dengan langkah kaki terhuyung-huyung.


Ruina menarik tubuh Fredian hingga jatuh menimpanya. Gadis itu bergelayut di leher Fredian, mencoba mengulum bibirnya.


Di sisi lain..


Irna beruntung Rian sudah berada di luar Reshort, ketika Irna menghubunginya dia sudah berada di perjalanan pulang.


Pria itu melihat panggilan Irna lima puluh kali tidak terjawab. Bagaimanapun dia masih memiliki hatinya untuk Irna.


Jadi apapun yang terjadi, pria itu selalu akan membantunya. Asalkan Irna tidak melarangnya untuk tetap mencintainya.


Rian di tengah perjalanan segera memutar balik kemudi menuju Reshort.


"Untunglah kamu sudah di sini."


Tanpa sadar Irna menarik tangan Rian yang baru turun dari mobil, Irna membawanya terus berlari.


Rian terkejut melihat Irna sangat cantik malam itu, dengan gaun merahnya. Rambutnya meriap ke kanan dan ke kiri seiring dengan langkahnya berlari. Gadis itu menjinjing ujung gaunnya. Tangan yang satunya menarik tangannya membawanya berlari.


Dia berlari sambil menggenggam tangannya. Irna sudah sampai di depan kantor Fredian. Irna membuka pintu menuju kamarnya, tangannya masih menggenggam tangan Rian.


Irna sangat terkejut ketika melihat suaminya di atas tempat tidurnya. Menahan kepala Ruina, gadis itu mencium bibir Fredian. Dia berada di atas tubuh suaminya. Ruina dengan sengaja membuat pakaiannya sendiri berantakan.


Fredian masih menahan kepala Ruina, suhu tubuhnya semakin tinggi. Dan hampir tidak sadarkan diri.


"Tolong dia Rian! biar aku yang urus wanita ini!" Irna dengan tatapan mata membunuh melangkah mendekat, Irna menjambak rambut Ruina menariknya dari tubuh suaminya.


Rian sangat terkejut melihat pemandangan di depannya. Bagaimana mungkin Irna yang lemah lembut mendadak berubah menjadi singa yang siap menerkam apapun di depannya.


"Ah! lepaskan rambutku!" Teriak Ruina, dia tidak bisa membalas Irna.


Walaupun tubuh Irna terlihat langsing dan kurus tapi gadis itu memiliki kekuatan yang luar biasa. Apa lagi saat amarahnya memuncak seperti saat ini. Dia tidak akan pernah perduli lagi sekali pun menerjang badai.


"Kamu wanita murahan beraninya naik ke ranjang ku! itu tempat tidurku dengan suamiku! hanya aku dan suamiku yang boleh berada di sana!" Irna menghardik Ruina sambil menyeret wanita itu keluar pintu kantor Fredian.


"Pelayaaaaaaaaan!!!!" Teriak Irna tidak sabar lagi.


Seorang pelayan berlari tergopoh-gopoh menuju ke arahnya.


"Ada apa nyonya?!" Tanya pelayan tersebut sangat takut melihat wajah marah Irna. Mungkin jika Fredian yang marah mereka hanya akan dipecat.


Tapi ketika istrinya Presdirnya yang marah bisa-bisa kepala mereka di temukan di dalam hutan.


Desas desus tentang Irna yang bisa memanggil iblis sudah tersebar luas.


Karena Reyfarno mengungkapkan apa yang dialaminya kepada publik.

__ADS_1


"Lemparkan wanita ini keluar Reshort! aku tidak ingin melihat wajahnya muncul di depanku lagi! dan berikan ini pada wartawan agar meliput berita tentang wanita ini!"


Irna masih menjambak rambut gadis itu dengan sangat kuat.


Kemudian melemparkan Ruina yang masih telanjang keluar pintu kantornya. Seraya menyerahkan flashdisk kepada pelayannya.


"Jika aku besok tidak melihat berita tentang wanita ini! kamu yang akan menggantikan tempat wanita ini!"


Ujar Irna sambil melemparkan gaun Ruina ke muka wanita itu, yang tadi dilepasnya di lantai kantor Fredian.


"Aku mohon! jangan sebarkan ini ke publik! aku berjanji tidak akan mengganggumu lagi." Ujar Ruina seraya memeluk kaki Irna.


Irna menyentakkan kakinya menjauh dari wanita itu.


Kemudian Irna berjongkok membisikkan di telinga Ruina.


"Kamu akan mengambil pelajaran hari ini! hari ini aku membiarkan kamu pergi, tapi tidak untuk selanjutnya! jika kamu berani mendekati suamiku aku tidak segan lagi untuk mencabik tubuhmu!"


"Irna Damayanti benar-benar wanita iblis yang sangat mengerikan!" Geram Ruina dalam hatinya.


Irna menutup pintu dan masuk mendapati Fredian sudah tertidur, wajahnya tidak sepucat tadi saat pertama kali.


Rian melihat keadaan Fredian kembali memeriksa denyut nadinya.


Irna duduk di sebelah Rian.


"Bagaimana keadaannya?" Tanya Irna pada Rian.


"Sudah baik-baik saja, itu hanya obat pemicu. Aku sudah menyuntikkan obat dia akan tertidur. Dan akan bangun beberapa jam lagi." Rian menyentuh bahu Irna agar dia tidak terlalu hawatir.


"Aku punya obat pinggang yang bagus, jika kamu mau aku bisa memberikan padamu." Rian terkekeh geli melihat wajah Irna mendadak berubah merah.


"Dasar kamu! kamu ingin suamiku tahu???" Irna ingat dia pernah tidak bisa berjalan ketika masih menjadi istrinya Rian.


"Ya kalau kamu menolak ya tidak apa-apa. Tapi begitu dia bangun kamu jangan terkejut jika dia tiba-tiba menerjang." Ujar Rian masih menahan senyum.


"Apa maksudmu?" Irna tidak mengerti, biasanya saja Fredian sudah sangat membuat dirinya kelelahan.


"Aku sudah bilang itu hanya obat pemicu." Rian tertawa melihat Irna melongo. Pria itu mengemas barangnya.


"Aku akan pergi dulu, sekarang kamu jaga dia. Akan lebih baik jika kamu tidak meninggalkan dia sendirian. He he he"


"Tunggu! berikan aku obat pinggangnya!" Ujar Irna membuat Rian terpingkal-pingkal.


"Ha ha ha ini, aku letakkan di atas meja." Rian menaruh sebotol obat di atas meja kemudian melangkah keluar.


"Apakah kamu masih pusing? mana yang sakit coba aku lihat?" Ujar Irna memberondong Fredian dengan banyak pertanyaan.


Fredian tersenyum meraih Irna ke dalam pelukannya.


"Aku sudah baik-baik saja" Ujar Fredian dengan suara tenang.


"Rian bilang Fredian akan menerjang, dia biasa-biasa begini? pria itu pasti sengaja mengerjaiku!" Geram Irna.


Mata Fredian menangkap sebotol obat di atas meja.


"Apa itu!?" Tanyanya pada Irna.


"Itu, itu obatku." Ujar Irna sambil memalingkan wajahnya.


"Kenapa kamu gugup begitu, cepat bawa sini itu. Aku ingin melihatnya!" Ujar Fredian hendak melangkah turun dari tempat tidur.


Irna buru-buru mengambilnya, menyembunyikan di belakang punggungnya.


"Coba aku lihat!"


"Tidak boleh!"


"Cepat lihat!" Fredian berusaha merebut dari tangan istrinya.


Kaki Irna menginjak ujung gaunnya membuatnya jatuh ke atas tempat tidur bersama Fredian.


Irna menatap wajah Fredian yang berada di atas tubuhnya.


"Mata pria ini sangat teduh, aku ingin tenggelam di dalamnya.." Bisik Irna tanpa sadar menyentuh pipi Fredian.


Fredian tersenyum mendengar Irna bergumam memujinya.


"Apakah kamu baru melihat wajahku dengan jelas? selama ini kamu rabun atau bagaimana?" Ujar pria itu, dan akhirnya Fredian mendapatkan botol obat di tangan Irna.


"Fredian, aku ingin jujur padamu. Dulu ketika aku menikah dengannya aku juga tidur dengannya. Dan dia tahu aku memiliki keluhan pinggang jadi dia memberikan obat itu padaku!" Ujar Irna berterus terang.


"Aku sudah tahu kamu tidur dengannya, dan akhirnya kalian bertengkar setiap hari gara-gara itu." Ujar Fredian santai.


"Bagaimana kamu tahu dia marah?" Tanya Irna tidak mengerti.


"Karena aku lebih dahulu tidur denganmu!" Menjentikkan jarinya ke hidung Irna.

__ADS_1


"Kamu sangat mengerikan, kamu sengaja melakukannya untuk menjauhkannya dariku?! Sehingga kamu bisa kembali mengejarku?!" Ujar Irna dengan nada agak keras.


"Kenapa?! kamu tidak suka aku egois?! aku ingin mendapatkan vaksin, dan juga mendapatkan dirimu jadi aku harus mengorbankan perasaanku!"


"Apa kamu pikir aku tidak terluka karena melihat dirimu setiap hari bersama pria lain???!" Sergah Fredian menindih tubuh Irna menahannya di bawah tubuhnya.


"Apa kamu sekarang marah padaku?" Tanya Irna melihat mata Fredian yang masih menghardik padanya.


"Iya aku marah sekali padamu!" Ujar Fredian masih menatap Irna di bawah tubuhnya.


"Aku akan mengembalikan obat ini padanya, jadi kamu tidak akan marah lagi kan?" Irna masih menatap Fredian dengan mata beningnya.


"Ini cuma kalsium." Ujar Fredian lagi.


"Lalu kenapa kamu masih marah?!" Tanya Irna lagi.


"Aku hanya ingin marah.." Ujarnya lagi.


Irna mengambil inisiatif untuk mencium bibirnya.


"Jika dia menepisku aku akan meninggalkan dia sendirian." Bisik Irna dalam hatinya.


Tapi Fredian menahan kedua tangannya, jadi bagaimana bisa.


"Akh, lepaskan tanganku aku tidak bisa bergerak." Pinta Irna menatap kembali wajah Fredian.


"Aku tidak mau melepaskan tanganmu!" Ujarnya dengan nada ketus.


"Lalu sampai kapan kamu menahan tanganku? apakah sepanjang malam seperti ini?" Tanya Irna lagi.


Irna sengaja mengangkat kaki kirinya ke atas, hingga roknya jatuh ke bawah menampilkan seluruh paha dan betisnya.


Irna memainkan kakinya menggelitik betis Fredian.


"Apa yang sedang kamu lakukan?!" Tanya Fredian padanya dengan tatapan aneh.


"Aku sedang merayumu, apa kamu tidak bisa merasakan rayuanku?" Irna mengerjapkan matanya membuatnya tampak konyol.


"Kamu hanya menggelitik betisku, apa kamu berfikir aku akan tertarik jika kamu hanya bertindak kecil seperti itu?" Ujar Fredian membuat Irna berkecil hati.


"Ya sudah kalau tidak tertarik, aku akan pergi pulang ke rumah. Kamu di sini saja!" Irna merajuk menyentakkan tangan Fredian mendorong tubuh pria itu menjauh.


"Apa-apaan dia! aku sudah berusaha semaksimal mungkin tapi dia malah meledek! jika aku tidak merendahkan harga diriku aku tidak mau melakukan ini! aku tidak pernah merayu laki-laki! ini sangat membuatku frustasi!" Irna terus menggerutu hendak membuka kunci pintu.


Fredian mengambil alih kuncinya memunggungi Irna dan kembali meletakkan di tempat yang tinggi. Lalu tidur tanpa peduli.


"Apa dia pikir aku bodoh? aku istri pemilik Reshort tentu aku memiliki kunci cadangan!" Ujar Irna dalam hatinya.


Irna mengambil kunci dari dalam tasnya, dan melangkah keluar dari ruangan Fredian membanting pintu.


"Apa sih susahnya jujur! seharusnya dia bisa bilang, kamu tetaplah di sini bersamaku! atau apapun! menyebalkan sekali!" Irna berjalan sambil terus menggerutu di sepanjang lorong.


Fredian terkejut mendengar suara pintu terbanting.


"Ah sial! bagaimana aku bisa lupa dia memiliki kunci seluruh ruangan setelah dia menikah denganku!"


Pria itu segera bangkit berdiri mengejar Irna, ketika sampai di lobi mobil Irna sudah tidak ada di parkiran.


Fredian mengusap kepalanya dengan kasar. Mengepalkan tangannya menahan amarah.


"Aku tidak akan pulang ke rumah kita! aku akan tidur di kantorku saja!" Ujar Irna menginjak pedal gas, melajukan mobilnya menuju kantornya.


Sesampainya di sana, Irna naik ke lantai dua melalui lift. Dan membuka pintu kantornya. Irna mengambil baju ganti di lemari dalam ruangan.


Gadis itu menyeduh kopi lalu naik ke atap kantornya. Tempat biasa dia duduk sendirian.


"Tempat ini memang sangat nyaman! huaaah bintang hari ini banyak sekali!" Teriak Irna kencang sekali.


"Berisik sekali sih!" Suara pria terbangun dari tidurnya di bangku ujung dekat gudang.


Irna terkejut melihat ke arah suara. Pria itu berdiri, berjalan santai melangkah ke arahnya.


Tiba-tiba cangkirnya terlepas dari genggaman tangannya jatuh berkeping-keping berantakan di lantai.


bersambung....


Coba Readers tebak, siapa pria yang ada di atap kantor Irna?


A. Dion


B. Reynaldi


C. Rian Aditama


D. Reyfarno


E. Semua benar

__ADS_1


F. Pemeran baru


__ADS_2