
"Sejak kapan?" Tanyanya lagi padanya.
"Sejak seminggu yang lalu, tuan Jend memiliki kelainan pada jantungnya sejak kepergian istrinya." Jelasnya sambil menoleh ke arah Rian yang duduk menemani dirinya di sebelahnya.
"Kapan kamu akan kembali?" Meraih jemari tangan Irna dan menggenggamnya.
Ada rasa hangat yang mengalir dari genggaman tangan pria itu. Irna tidak menjawabnya dia hanya memejamkan matanya sambil mendongakkan kepalanya.
"Entahlah..." Sepatah kata itu saja yang meluncur dari bibir gadis itu.
"Kenapa? bukankah kamu sudah menemui Fredian beberapa kali? aku tahu kamu tidak mungkin membiarkan pria itu terlunta-lunta terlalu lama. Ah! atau mungkin kalian diam-diam sudah...??!" Kelakar Rian mencoba menggoda Irna.
"Tutup mulutmu tuan Presdir!" Teriak Irna sambil memukul lengan pria di sebelahnya itu.
"Melihat wajah Presdir Reshort angel berseri-seri dan semangat dalam bekerja, sepertinya tebakanku benar?! hahaha!" Selorohnya lagi sambil mengguncang bahu Irna ke kiri dan ke kanan.
"Kamu mengundang perhatian banyak orang! hentikan kelakarmu sekarang! atau aku akan menimpuk kepalamu!" Irna menoleh ke tatapan mata yang semakin banyak memperhatikan dirinya.
Rian sedang memakai baju dokternya, bagaimanapun pria itu terkenal dingin. Tapi dia tiba-tiba bicara lepas kendali, dan tertawa renyah bersama dengan seorang gadis.
Sejak lama dia tidak pernah selepas itu, dari awal pria itu selalu serius. Hanya saat berada di sisi Irna dia akan bersikap lembut dan manis.
Sikap dinginnya itu sudah bukan rahasia lagi di kalangan wanita dan bisnis. Selain tertarik dengan penelitian dia tidak pernah tertarik dengan wanita manapun.
Hanya Irna saja yang bisa membuatnya seperti itu.
"Kapan kamu akan berhenti melajang? aku tahu kamu pria yang normal. Seingatku kamu tidak pernah melakukannya hubungan itu, sejak perceraianku dengan Fredian bertahun-tahun lalu."
"Apa kamu tidak menderita menahan gejolak jiwamu yang membara!?" Irna dengan sengaja mengusik ketenangan hati Rian.
"Kamu berani menggelitik singa yang sedang tertidur lelap, apa kamu tidak takut terkena terjangannya?!" Balas Rian tidak ingin kalah.
"Aku punya pelatuknya di sini! jadi tinggal membidikkan ke arah singa yang akan menerjang ke arahku."
Ujar Irna sambil membuat bentuk pistol menggunakan kedua tangannya, dengan jari telunjuknya dan ibu jarinya, lalu memicingkan matanya mengarahkan ke arah kening Rian.
Pria itu bersandar di dinding menatapnya dengan tatapan mata lembut. Dia menggenggam tangan Irna dan menurunkannya dari keningnya.
"Kamu benar-benar tidak ingin mengakhiri hubungan antara kita?" Tanya Irna lagi, dan hanya dijawab pria itu dengan lemparan senyuman termanis.
"Jika aku gadis lajang tanpa pria, pasti sudah tergila-gila melihat seorang dokter ilmuwan tampan melemparkan senyuman seperti itu." Tambah Irna lalu kembali menyandarkan kepalanya di sandaran kursi.
"Aku tidak tertarik dengan gadis lain, apalagi memiliki hasrat untuk melakukan hubungan. Kamu sudah mengambil semuanya dariku, dan yang tersisa sekarang ini hanya sampah yang tidak berguna sama sekali." Jelasnya, pria itu ikut memejamkan matanya dan bersandar pada bahu Irna.
"Kamu sudah bertahun-tahun membunuh kehidupanmu dengan sengaja, sudah waktunya kamu untuk bangun dari kematian jiwamu." Ujar Irna lagi, dia membiarkan pria itu bersandar di bahunya begitu saja.
"Aku akan bangun ketika kamu yang membangunkannya, kamulah pemilik kunci jiwaku." Memejamkan matanya menggosokkan kepalanya di bahu Irna.
"Hahaha! dasar! berhentilah bercanda, apa kamu lupa berapa usia kita sekarang?" Irna tertawa mendengar kelakar Rian.
"Iya bahkan aku akan memiliki menantu tidak lama lagi." Sahut Rian sambil tersenyum menatap Irna.
"Apa kamu menunggu Fredian menghubungimu?"
"Tidak, aku tahu dia sangat sibuk belakangan ini."
"Aku harus pergi ke ruang meeting, aku akan segera kembali. Jangan pernah berfikir untuk menyingkirkanku!" Bisiknya di telinga Irna, di balas anggukan kecil oleh gadis itu.
Pria itu merasa lega melihat Irna menganggukkan kepalanya, dia sudah was-was jika Irna akan menepisnya berkali-kali hingga membuat dirinya kehilangan kewarasannya di depan umum. Bisa-bisa nama baiknya sebagai seorang Presdir akan berakhir menjadi puing-puing.
Rian masih tahu batasan yang jelas antara mereka berdua. Jika tidak, Irna sudah pasti akan menikam dirinya bertahun-tahun silam.
Reno tiba tak lama setelah kepergian Rian. Dia melihat keakraban mereka berdua sejak tadi, namun dia takut mengganggu mereka berdua.
Jadi dia menunggu Rian pergi, baru datang menghampirinya.
"Aku membawa makanan untukmu. Makanlah lalu pulang, aku akan menjaga ayah malam ini."
Irna tersenyum dan mulai melepaskan maskernya, gadis itu menikmati makanannya.
"Kapan luka di wajahmu sembuh?!" Tanya Reno terkejut melihat pipi mulus di sebelahnya.
"Ah, itu aku bertemu seorang dokter yang hebat. Dia yang merawat lukaku belakangnya ini." Sahut Irna segera.
"Apakah dia dokter tampan yang tadi duduk di sini?" Tanya Reno yang sudah tidak dapat menahan rasa penasaran di dalam hatinya.
__ADS_1
"Hahaha, iya. Dia orangnya." Jawab Irna sesingkat mungkin.
"Dia sepertinya sangat menyukaimu! kenapa kamu tidak menikah saja dengannya. Dia juga terlihat sangat kaya raya." Ujar Reno lagi.
"Kamu terlalu banyak bicara! nih makan saja! aku pulang dulu." Irna menyumpal mulut Reno dengan roti yang tadi di bawanya. Gadis itu tersenyum melihat Reno mendelik ke arahnya.
Irna memakai maskernya kembali dan melangkah menyusuri lorong rumah sakit.
Seseorang melihat Irna dari tempat persembunyian, seorang berbaju serba hitam itu, sejak awal dia sudah memeperhatikannya.
Ketika Irna mengantar tuan Jend ke rumah sakit. Dia seperti orang yang sangat terlatih dan terlihat gerakannya sangat gesit.
Saat melihat Irna keluar dari jalan ramai dan melintasi jalan sepi pria itu menerjang di belakang punggungnya.
Irna jatuh tersungkur di lantai, perlahan-lahan pandangan matanya kabur. Dia tidak sadarkan diri.
Entah berapa lama dia tertidur pulas, saat membuka matanya ada seseorang duduk di sebelahnya menikmati segelas anggur.
Irna mengerjapkan matanya beberapa kali, mencoba mengambil kembali kesadarannya. Pria itu dengan sengaja menuang anggur di atas rambut Irna sambil tersenyum mengejek.
Kepala Irna masih terasa sangat pusing, dia mencoba beranjak duduk.
Aroma bunga sakura merebak masuk melalui jendela yang terbuka. Irna menoleh ke arah jendela melihat kelopak bunga berterbangan masuk ke dalam kamar tersebut.
"Senja hari? seingatku aku pulang dari rumah sakit saat tengah malam. Berapa lama aku pingsan?? kenapa ada orang yang sengaja menculikku? aku tidak mengenalnya sama sekali." Gumamnya lirih.
Tidak lama setelah itu seorang wanita paruh baya muncul dari pintu kamar. Dia menghampiri Irna.
"Kamu masih hidup? bagaimana mungkin wajahmu tidak berubah sama sekali?" Tanyanya sambil mengangkat dagu Irna.
"Apa maksud nyonya, saya tidak mengerti. Dan kenapa tiba-tiba saya bisa berada di sini?" Tanyanya pada wanita tersebut.
"Tentu saja kamu akan aku jual! hahahaha!" Gertaknya pada Irna.
"Apa aku salah membawa gadis manis ini? dia sangat mirip dengan wanita itu! tapi seharusnya sekarang dia tampil lebih tua dariku! kenapa dia terlihat tetap cantik?!"
"Aku rasa dia putri dari wanita jahanam itu! jika aku menjualnya, aku akan untung besar!" Gumamnya sambil tersenyum menatap wajah ketakutan Irna.
"Kamu urus gadis ini! aku akan keluar dulu!" Ujarnya lalu melangkah keluar dari dalam ruangan.
Kini Irna menoleh ke arah pria yang tadi menuangkan anggur pada kepalanya.
"Kamu berani bertanya padaku? Kamu tidak takut aku melukaimu?" Tanyanya dengan wajah terkejut.
Biasanya gadis hasil tangkapannya selalu merengek sambil menangis minta di bebaskan.
Tapi gadis satu ini jangankan merengek, ketakutanpun juga tidak sama sekali. Irna berjalan menuju ke arah jendela. Dia melihat banyak pohon sakura berbunga di luar sana.
"Dia membawaku ke Jepang? Wanita jahanam itu ingin menjualku." Bisik Irna sambil meremas jemari tangannya.
"Hei kamu!"
Irna menoleh ke arahnya, mungkin usia pria yang sedang bersamanya saat ini seusia dengan Alfred putranya.
"Kenapa kamu memanggilku?" Irna melipat kedua tangannya di depan dadanya, menatap tajam ke arah pria itu.
"Bersiap-siaplah, kita akan pergi ke pesta malam ini!"
KYOTO 30 JUNI..
Malam itu wanita paruh baya tersebut sengaja mendandani Irna, dia memakaikan gaun pesta berwarna kuning gelap sebatas dada.
Roknya jatuh sampai ke tungkai hampir menyentuh lantai, ada belahan di samping setinggi paha.
Tampak sebagian lekukan tubuhnya menonjol keluar. Rambut Irna yang panjang sepinggang diatur cantik bergelombang. Dia juga memakai beberapa perhiasan cantik di tangan dan kakinya.
Terdengar suara gemerincing lonceng kecil pada kaki mulusnya, saat gadis itu bergerak melangkah kemanapun.
Irna merasa itu adalah alat yang digunakan oleh wanita tua itu agar dirinya tidak melarikan diri.
Pesta yang sangat megah dan mewah, di gelar di Aula gedung yang sangat megah. Irna turun dari sebuah tangga, wanita tua itu sengaja memakaikan topeng padanya untuk membingkai cantik kedua matanya.
Seluruh mata tertuju pada suara dari langkah kakinya. Kini dia menjadi pusat perhatian seluruh orang yang berada di dalam ruangan tersebut. Para pria berpakaian rapi, mereka semua juga memakai topeng.
"Semua orang yang hadir dan menunggu di lantai bawah adalah pria?! Wanita tua itu dia, dasar sialan! ini adalah sebuah pesta portitusi!" Umpat Irna di dalam hatinya.
__ADS_1
Beberapa gadis cantik turut serta menuruni tangga, mereka berbaris rapi di belakang punggungnya.
Saat sampai di lantai bawah, wanita tua itu menarik lengannya agar berdiri di sampingnya.
Sedangkan para gadis yang mengikutinya langsung membaur bersama para tamu pria yang sudah menunggu.
"Jangan berani berulah! jika sampai kamu menghancurkan acara ini, aku jamin kamu akan mati saat ini juga."
"Mereka yang hadir adalah para pria kaya raya! aku akan mendapatkan uang yang banyak setiap hari!" Bisiknya di telinga Irna.
"Aku akan memberikan uang yang sangat banyak padamu, bisakah kita melakukan negosiasi?!" Tanya Irna mencoba menawarkan uang pada wanita itu.
"Dengan memeliharamu! aku bisa meraup keuntungan setiap hari! aku tidak butuh negosiasi!" Wanita tua itu bersikeras untuk menahan dirinya.
Wanita tua itu menyambut para tamu yang hadir dalam acara tersebut. Irna merasa kebingungan dan tidak mengerti apa yang harus dilakukannya.
Gadis itu melangkah menuju ke sebuah meja kosong. Dia tidak ingin mengambil minuman atau makanan yang tersedia di sana.
Mengingat dia sering keracunan dan pingsan gara-gara makan dan minum di pesta beberapa tahun silam.
Dia hanya duduk santai sambil menopang dagunya dengan kedua telapak tangannya.
Irna melihat para gadis sibuk mencari pasangan lalu membawanya naik ke lantai atas setelah mereka sepakat dengan harga yang ditawarkan.
"Kamu anak baru di sini? segeralah cari pasangan atau wanita tua itu akan mencambuk punggungmu!"
Ujar seorang gadis di telinganya lalu gadis itu juga segera mencari pasangan dan mereka naik ke lantai atas.
"Aku tidak pernah merayu pria! itu sangat menjijikkan! apalagi menawarkan tubuh sebagai jaminan!" Gerutu Irna masih santai duduk di kursinya.
"Berapa hargamu?" Tanya seorang pria lalu duduk di kursi seberang meja berhadapan dengannya.
"Suara ini...??!" Irna menoleh menatap wajahnya.
"Bagaimana mungkin anda menanyakan harga padaku tuan? seharusnya anda tahu berapa harga yang pantas untuk gadis cantik sepertiku?" Sahut Irna sambil tersenyum menatap wajah yang terbingkai topeng di depannya.
"Tapi aku ragu, jika aku salah memberikan harga, nona kecewa dan tidak mau melayaniku." Ujarnya lagi sambil menyentuh dagu Irna dengan jari telunjuknya.
Irna masih terus menatap wajah pria tampan yang ada di depannya. Seharusnya dia terlihat sedih karena pesta itu. Tapi Irna tak kunjung berhenti tersenyum dan terus menatap wajah di depannya.
"Bersediakah tuan membeliku seumur hidup?! tuan tentu tidak ingin menggunakan saya lagi, jika saya telah digunakan oleh orang lain." Desak Irna pada pria itu.
"Apakah nona tidak khawatir jika saya hanya akan menggunakan nona sekali pakai??!" Tersenyum mengejek ke arah Irna.
"Berhentilah tawar menawar! apa tuan pikir saya sabun mandi!? ya sudahlah kalau tidak mau. Sepertinya saya terpaksa menerima cambukan malam ini!"
Irna melihat ke arah sekitarnya, sudah hampir sepi tinggal tiga pasangan di sana selain dirinya sendiri dan pria yang sedang duduk di kursi berhadapan dengannya sekarang.
"Ayo ikut aku!" Pria itu segera mengangkat tubuhnya menaiki tangga menuju lantai atas.
"Kenapa tubuhmu berat sekali? kamu makan batu kemarin?!" Ejeknya sambil tersenyum menatap wajah Irna yang melotot marah sambil merangkul lehernya.
"Aku belum makan apapun sejak kemarin! wanita tua itu tidak mengijinkannya. Dia bilang jika perut gadis terlihat menggembung akan susah terjual." Jelas Irna padanya.
"Bagaimana mungkin gadis manisku tidak diberi makan sama sekali?! wanita tua itu sangat kejam!" Gumamnya sambil mencium pipi Irna.
"Apakah kamu sedang melakukan perjalanan bisnis kali ini?!" Pria itu membuka sebuah kamar dan menurunkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Iya hampir setiap minggu, banyak hal yang harus aku urus di sini. Selain itu banyak sekali gadis cantik di sini." Memancing kemarahan gadis di depannya.
"Kenapa kamu memprovokasiku? apakah menarik sekali? kamu menyukai kemarahanku?!" Geram Irna sambil bersiap menerkam ke arahnya penuh amarah.
"Ah, aku hanya berbicara apa adanya. Aku memang ke Jepang setiap minggunya." Jelasnya lagi sambil membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Bagaimana kamu bisa ada di gedung ini?! apa kamu langganan tetap di sini???? selama aku pergi kamu selalu ke sini?! iya kan!? menyebalkan sekali!" Irna memukul lengannya berkali-kali karena kesal.
Bersambung...
*Siapakah pria misterius itu?*
A. Rian Aditama
B. Fredian Derrose
C. Jermy
__ADS_1
D. Tokoh baru
E. Tidak tahu