
Irna sudah merawat Rian selama dua hari di rumah sakit.
"Bagaimana kondisinya?" Tanya Fredian sambil memegangi kedua bahunya.
"Dia sudah baik-baik saja. Cuma masih belum stabil karena aku terlalu banyak mengambil darahnya." Jelas Irna sambil menggenggam jemari tangan Rian.
"Cliing, srakkkk, tuk!" Selembar kertas emas jatuh di pangkuan Irna.
"Apa ini?" Irna bertanya-tanya melihat kertas bersinar terang di atas pangkuanya, dia mengambilnya dan mulai membacanya.
"Apa itu? Pernikahan putrimu?" Tanya Fredian sambil merundukkan badannya ikut membaca.
"Hem, dia sudah menemukan jodohnya di kalangan kami." Ujar Irna dengan bibir tersenyum manis menatap wajah Fredian di sebelahnya.
"Tapi sepertinya dia tidak menyukai pria itu! Pangeran ketiga? Bukankah harusnya dengan pangeran pertama?!" Fredian melihat nama yang tercantum dengan tinta perak di sana. Pria itu menggaruk kepalanya tidak mengerti maksud dari nama yang tercantum di kertas itu.
Di sana tercantum nama Eryan Cloland, pria bernama Eryan Cloland adalah pangeran pertama. Tapi di bawah nama tertulis pangeran ketiga.
Fredian tahu betul keluarga Cloland, pemilik kastil tersembunyi di wilayah Jerman. Bahkan mereka juga sempat mendatangi rumah keluarga Derose. Mereka mengunjungi ke rumah tersebut karena mencium aroma pangeran Welrent. Dia ingin melihat wajah pangeran yang selamat dari pertempuran dua kerajaan Vertose dan Interure beratus-ratus tahun lalu.
Pertempuran tersebut hanya menyisakan dua pangeran, yaitu Wilson dan Welrent. Yakni Fredian dan saudara kembarnya.
"Kania melabuhkan hatinya pada pemburu vampir, aku tahu ini akan terjadi. Pangeran kerajaan Cloland tidak akan membiarkan calon istrinya berlama-lama bersama dengan pria lain. Dia sengaja menegur keluarga Carney, akhirnya tuan Carney mengambil keputusan. Dia membuat Kania menjauhi putranya. Kemudian pangeran Eryan Cloland menangkap ikan yang dia inginkan. Karena ikan itu yang berenang sendiri menuju ke arahnya."
Irna dengan gamblang bisa membaca pikiran pangeran Cloland. Karena Angelina, wanita itulah yang membuatnya tahu segalanya.
Perlahan Rian membuka kelopak matanya. "Kalian menjagaku sepanjang waktu?" Tanyanya sambil berusaha bangkit duduk.
"Bukan aku tapi dia." Fredian menunjuk istrinya di sebelahnya. Gadis itu tersenyum menatap Rian sudah sadar dari pingsannya.
"Kamu sudah merasa baikan? Maafkan aku, karena aku kamu mengalami hal sulit seperti sekarang ini." Ucap Irna padanya.
Pria itu menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Dia meremas jemari tangan Irna. Irna menepuk telapak tangannya.
"Kapan aku bisa membawa istriku pulang ke rumah?" Tanyanya tidak sabar karena melihat mereka terus berpegangan tangan.
"Kalian sudah boleh pulang, hati-hati. Sudah hampir gelap." Rian khawatir terjadi sesuatu pada mereka berdua ketika keluar dari dalam rumah sakit tersebut.
Satu hari saat terjadi penyerangan di luar rumah Fredian. Rian menabur bubuk penghilang jejak di sekitar rumah sakit tempat Irna dan dirinya bekerja. Jadi dia tidak akan khawatir jika waktu sudah larut malam, saat para penyerbu berkeliaran mencari mereka berdua.
Dan dia juga sengaja menahan Irna agar leluasa bisa menjaganya. Itupun demi melihat kondisi Irna sudah stabil dan tidak ada pertukaran jiwa kembali. Rian sengaja mengambil banyak darahnya sendiri ketika Irna tertidur. Meletakkannya di dalam tabung.
Dia melakukan itu agar Irna tidak pergi demi keselamatan dirinya sendiri.
Hanya dia yang tahu, hanya dia sendiri yang tahu semuanya. Dia diam-diam terus menjaganya sepanjang waktu.
"Aku akan kembali besok pagi." Irna melepaskan genggaman tangan Rian. Wajah Rian terlihat sedih, dan tidak ingin dia pergi dari sana.
"Aku akan baik-baik saja!" Wanita itu mengedipkan sebelah matanya.
"Astaga apakah dia tahu aku sengaja menahannya di sini?!" Rian memijit pelipisnya sesaat setelah Fredian dan Irna pergi keluar dari dalam ruangan tempat dia dirawat.
"Triing!" Ponsel Rian tiba-tiba berdering tanda pesan baru masuk.
"Lain kali tidak perlu mengambil darahmu sebanyak ini! Maaf aku mengambilnya, karena kamu bilang aku yang menghabiskan darahmu."
Irna melampirkan foto tiga kantung darah segar, gadis itu juga ber-selfie meminumnya satu menggunakan sedotan seperti sedang menikmati jus buah.
"Astaga! Kalau kamu tahu niatku, kenapa tidak menghentikanku untuk mengambil darahku sendiri?" Balasnya gemas, dia tahu itu ulah Angelina, sifat Irna jadi bercampur dengan sifat Angelina karena mereka berdua telah menyatu menjadi satu jiwa.
"Karena darahmu manis! Aku jadi ingin lagi!" Ucapnya jujur sambil terus menyedot cairan merah di kantung yang sedang menggantung di antara kedua bibir mungilnya sekarang.
__ADS_1
Fredian merasa Irna semakin aneh dan menakutkan, apalagi dia melihat tingkahnya yang mirip sekali dengan anak kecil sekarang.
"Astaga! Kemana perginya istriku yang elegan dan menawan!" Teriaknya mulai frustasi karena wanita di sebelahnya itu sedang asyik memainkan game pada layar ponselnya.
Dan benar, saat melalui sebuah perkebunan lebat bayangan hitam muncul menyergap ke arah mobil mereka berdua.
"Seharusnya aku tidak pulang! Jika bukan karena kamu memaksaku aku tidak akan terlibat pertempuran ini kembali!" Gerutu Irna sambil melemparkan tasnya ke kursi belakang.
"Aku suamimu!" Teriaknya sambil membanting setir ke kiri menghindar dari terjangan para musuh.
"Kalau begitu apa sulitnya tinggal di sana! Praaang!" Teriak Irna sambil merundukkan kepalanya, kaca di sebelahnya terkena terjangan penyerbu.
Fredian mempercepat laju kendaraannya, mereka masih terus mengejar salah satu dari mereka sudah berhasil menaiki atap mobilnya.
"Kita lepaskan kendaraan saja!" Desak Irna padanya.
"Maksudmu?" Fredian tidak mengerti ucapan gadis itu.
"Brak! Brak! Brak!" Mereka memukul atap mobil tersebut, membuat atap mobilnya hampir jebol dan hancur.
"Teleportasi! Ke rumah sakit Rian! Jul brakkk!" Irna melompat ke kursi belakang menyambar tasnya. Bersamaan dengan itu tubuhnya ikut menghilang.
Meras Irna tidak ada di sana penyerbu berhenti. Fredian masih di dalam mobilnya. Satu persatu mereka melompat turun ke jalan mengendus mencari jejak Irna.
"Mahluk apa itu? Mereka vampir yang sedang berada di dalam kendali seseorang." Gumamnya terus melajukan mobilnya menuju Resort.
Saat tiba di sana, nira terkejut melihat mobil miliknya hampir remuk hancur lebur. Nira berpikir Fredian kecelakaan, tapi melihat tubuhnya masih utuh tanpa luka sama sekali dia tahu itu adalah penyerbuan.
"Di mana nenek?" Tanyanya saat Fredian melangkah menuju lobby.
"Rumah sakit! Dia baik-baik saja di sana. Para penyerbu menantikan kehadiran dirinya di luar sana."
"Kamu tidak ingin menyapa Kania, saudaramu itu akan menikah." Ujar Fredian memberikan kabar pada cucunya.
"Tidak kek, akan terlihat aneh jika aku menyapa di tengah-tengah kalian. Aku manusia biasa, mereka akan berpikir aku makanan yang sengaja datang menjemput pemangsa."
Ucapnya jujur, dia hanya menghenyakkan tubuhnya di sofa lobby hotel. Membayangkan kebahagiaan Kania menikah dengan pria yang dicintainya.
"Kamu bisa datang dengan Javi Martinez. Dia adalah pangeran kedua kerajaan Interure. Nyonya Cloland pasti senang sekali melihat kedatangan kalian berdua." Sahut Fredian santai.
"Bagaimana dengan kakek sendiri? Apa kakek akan datang ke sana?" Tanyanya pada kakeknya.
"Kania putri Irna dan Rian. Menurutmu apa peranku di sana?!" Fredian kembali mengusap wajahnya.
"Kalian membicarakan-ku?!" Wanita itu berkacak pinggang dan muncul di depan wajah Nira dan Fredian.
"Kamu! Di depan resepsionis ku?!" Teriak Fredian dengan kesal.
"Tuh!" Irna menunjuk ke arah resepsionis, mereka sudah tertidur lelap.
"Bagaimana jika ada tamu malam ini? Kamu membuatnya tertidur seperti itu?!" Fredian tidak habis pikir jika Irna akan menggunakan sihir untuk segala hal sepele yang bisa dia hindari.
Irna membawa serbuk hitam di genggaman tangannya. Dia mendapatkan itu dari Rian. Pria itu memberikan serbuk tersebut padanya saat dia kembali ke rumah sakit barusan.
Dan Irna telah menaburkannya di sekitar Resort Fredian.
"Aku bisa membangunkannya sekarang jika kamu mau?" Ucapnya sambil menjentikkan jemari tangannya.
"Ctik!" Dua resepsionis hotel tersebut terjaga kembali dari tidurnya.
"Irna kamu sangat berlebihan!" Teriaknya membuat resepsionis hotel tersebut menatap wajah Presdirnya dengan tatapan mata bingung.
__ADS_1
"Kenapa kalian melihatku? Mau aku pecat?!" Mereka langsung menundukkan kepalanya bersikap hormat pada Fredian.
"Kamu ikut aku!" Fredian menyambar lengan Irna menariknya menuju ke arah ruangan kerjanya.
"Kek! Kakek salah tarik!" Teriak Nira sambil menepuk bahu kakeknya.
"Kailaaaaaaaa!" Nira menutupi kedua telinganya mendengar teriakan kencang Fredian.
Dia membuka pintu ruangan kerjanya, dengan amarah memuncak. Dia pikir Irna telah kabur lagi entah kemana.
"Kek!"
"Apa!?"
"Tuh!" Nira menunjuk ke arah Irna. Wanita itu sedang duduk santai di sofa ruang kerja Fredian, gadis itu menyilangkan kedua kakinya.
"Aku akan kembali, ke kamarku." Nira melepaskan genggaman tangan kakeknya. Lalu melangkah pergi menuju kamarnya yang berada di dekat ruang sekretaris.
Maya juga memiliki kamar bersebelahan dengan Nira, tapi belakangan ini gadis itu memilih pulang ke apartemen miliknya sendiri.
Jadi nira sendirian di sana. Beberapa waktu lalu Javi Martinez sudah meminta dirinya agar menerima lamarannya. Pria itu ingin menjadikannya sebagai ratunya.
Tapi Nira tahu, dia tidak akan bisa memiliki cintanya. Karena hasil dari pernikahan mereka berdua akan melahirkan putra berdarah campuran. Dan suatu saat nanti dia harus siap jika Javi Martinez menikahi wanita lain dari kalangan vampir demi mendapatkan keturunan Vampir murni.
Cintanya dan cinta Kania hampir sama dan keduanya mencintai orang yang salah.
Kania telah salah memaksakan hatinya mencintai Royd Carney yang tak lain adalah manusia, lebih buruknya lagi pria itu berstatus sebagai raja pemburu vampir.
Sedangkan Nira jatuh cinta pada pangeran vampir yang diharuskan memiliki keturunan vampir darah murni. Bukan darah campuran, jika nira tetap memaksakan kehendaknya maka putra putranya nanti akan mendapatkan cibiran juga hinaan di kalangan para vampir.
Nira tidak ingin hal tersebut menimpa keluarganya, apalagi menimpa putra satu-satunya.
Gadis itu bimbang di dalam kamarnya, dia memegangi perutnya sambil menggigit bibir bawahnya. Nira sangat sedih sekali. Pria itu sudah melamarnya tapi dia tetap menolaknya, sedangkan dia telah memiliki janin Javi Martinez di dalam perutnya sekarang.
Irna tahu Nira mengandung anak dari Javi Martinez, saat dia tiba di Resort tadi. Dia masih tidak bisa mengambil keputusan untuk cucu perempuannya itu.
Dia sendiri tahu mereka berdua saling mencintai. Tapi pernikahan kedua dengan wanita lain juga pasti akan berlangsung karena Nira adalah manusia biasa. Dan Javi Martinez harus memiliki keturunan darah vampir murni. Dan kerajaan Interure akan memaksanya untuk melakukan pernikahan ke dua dengan keluarga vampir.
Irna tidak bisa merubah keadaan buruk itu. Yang dia bisa lakukan sekarang adalah menjaga Nira dengan baik agar tidak terjadi sesuatu pada cucu kesayangannya itu.
Mereka pasti mengincar nyawa cucunya itu, karena dia sedang hamil putra pangeran kedua kerajaan Interure tersebut.
Dugaan Irna benar, keesokan harinya Peter mendatanginya di Resort untuk melihat kondisi Nira.
Dia juga khawatir jika sesuatu terjadi pada gadis manusia itu. Dan lagi dia adalah cucu Irna mantan istri dari pangeran William.
"Kamu tidak perlu khawatir, aku akan menjaganya dengan baik. Tidak akan ada yang berani menyentuhnya." Irna meyakinkan Peter pada pagi itu. Mereka bertemu di restoran Resort Fredian.
Setelah selesai berbincang-bincang beberapa waktu, Peter berpamitan untuk kembali. Irna sendiri juga sudah bersiap-siap untuk pergi bekerja ke rumah sakit Rian.
Fredian masih menunggu kedatangan kliennya di sekitar ruang rapat yang ada di sisi kanan hotel. Dia melihat Irna melenggang santai tepat di depan matanya. Seperti tidak memilki beban atau hutang sama sekali.
Fredian juga membiarkan wanita itu berlalu begitu saja. Karena Irna sudah membayar hutangnya selama empat jam di atas ranjangnya semalam.
Irna memakai mobil baru yang dibelikan oleh Fredian pagi itu. Karena mobilnya sudah hancur akibat serangan semalam.
Irna melajukan mobilnya secepat kilat menuju rumah sakit Rian. Sebenarnya dia pagi itu ingin ber-teleportasi saja. Tapi Fredian bilang tidak boleh, akan mengundang terlalu banyak perhatian di kalangan manusia.
Pria itu akhirnya membelikannya mobil baru, agar dia bisa pergi dengan normal menuju ke rumah sakit pagi itu.
Bersambung..
__ADS_1