Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
Teman


__ADS_3

"Jika dia tetap seperti ini, aku harus bagaimana?" Ujar Irna kebingungan, masih berada di bawah tubuhnya.


"Fredian, jangan begini." Irna terus bergerak di bawah himpitan. Dia berfikir tidak ada jalan lain selain membuat pria itu bangun sekarang.


"Haruskah aku yang memulainya, sepertinya itu satu-satunya yang bisa membuatnya mengangkat tubuhnya." Ujar Irna di dalam hatinya.


Irna meraih kepala Ferdian dan mencium bibirnya. Benar juga pria itu mulai merespon, tapi setelah Fredian mulai merespon keadaannya jadi tidak terkendali. Irna sangat kesulitan, dan ingin segera melepaskan diri.


Fredian tersenyum melihat Irna di bawah tubuhnya.


"Ah, kenapa kamu selalu seperti ini sih? selalu saja mencari alasan." Ujar Irna sambil memukul tengkuk Fredian.


"Aku benar-benar tidak bisa menahannya." Berbisik di telinga Irna, melihat lekat-lekat wajah gadis itu.


"Ini sudah hampir jam sembilan siang? kamu yakin akan terus begini?" Ujar Irna lagi.


Di luar pintu kamarnya, seseorang sudah duduk di sana satu jam yang lalu, pria itu meneguk segelas air.


"Sampai kapan mereka akan segera menyelesaikannya? aku sudah menunggu di sini hampir satu jam. Tapi kelihatannya mereka tidak berniat berhenti?" Melirik ke arah jam tangannya berkali-kali.


"Fred, sudah, aku lelah sekali!" Teriak Irna sambil memukul bahu Fredian. Fredian tidak mau berhenti.


Pria yang menunggu merasa sedikit gerah dengan suara dari balik pintu.


"Tok! tok! tok! kalian kapan akan menyelesaikannya? aku sudah menunggu hampir dua jam!" Teriaknya di luar pintu kamar.


"Wah aku tidak percaya jika dia berani mengetuk pintu di saat seperti ini!" Geram Fredian menahan amarahnya. Masih memeluk tubuh Irna.


"Akh! Fred! tahan amarahmu! sakit sekali!" Irna kembali memukul bahu Fredian karena semakin kasar meringsak tubuhnya.


Satu jam kemudian..


Irna terhuyung-huyung memakai kembali bajunya dan keluar dari dalam kamar.


Gadis itu melihat wajah entah pusing entah pening, pria itu terus saja memijit keningnya sejak dia keluar dari kamar bahkan mungkin sudah seperti itu sebelum dia keluar dari kamar.


Arya, pria itu sedang duduk di kursi ruang tengah memijat keningnya, dia sudah menunggunya dalam waktu yang sangat lama.


"Jika kamu tidak ingin menunggu, kembalilah dulu." Ujar Irna masih memegangi pahanya sambil berpegangan dinding melangkah menuju ke kamar mandi.


Entah apa yang ada dalam pikiran Arya saat itu, pria itu tidak menjawab apa-apa. Dia diam dan menundukkan kepalanya saja sambil memijit keningnya.


Fredian masih terlentang di atas tempat tidur mengatur nafasnya. Lalu keluar tanpa memakai baju atasan melangkah ke dapur mengambil air minum.


Ekor matanya masih melihat ke arah Arya yang duduk di ruang tengah tanpa berkedip.


Irna keluar dari kamar mandi rambutnya masih basah, dan dibalut dengan handuk. Matanya bertumpu pada Fredian yang sedang berdiri di depannya meneguk air minum, otot-otot di tubuhnya terlihat jelas karena tidak memakai baju atasan.


Butir-butir keringat menetes dari pori-pori kulitnya. Rambutnya juga basah dengan keringat yang terus menetes. Hidungnya, bulu matanya lentik, dan saat pria itu mengibaskan rambutnya.


Fredian mengalihkan pandangan matanya kepada Irna yang sedang berdiri mematung menatap ke arah tubuh telanjangnya.


Dia nyengir melihat mantan istrinya itu terus terpaku menatap ke arahnya.


"Apa kamu menginginkannya lagi?" Tanya Fredian tiba-tiba sambil berjalan mendekat ke arahnya.


"Apa kamu bercanda? aku sudah sangat kelelahan." Ujar Irna buru-buru memalingkan pandangannya karena terlanjur ketahuan mencuri pandang ke arahnya.


"Aku tahu sebenarnya kamu sangat menyukai tubuhku." Bisik Fredian di telinga Irna. Pria itu dengan sengaja berdiri tepat di depan Irna.


"Kamu boleh menyentuhnya setiap saat jika kamu mau?" Ujarnya lagi sambil meletakkan tangan Irna di atas dadanya.


"Apakah sekarang saat yang tepat kita melakukan hal-hal romantis? tubuhmu memang sangat atletis, dan wajahmu juga sangat tampan, keringatmu yang terus menetes keluar terlihat lumayan menarik, pemandangan yang luar biasa."


"Jujur aku sebagai wanita suka melihatmu, lagi pula bukan kamu satu satunya yang memiliki tubuh bagus." Jelas Irna pada Fredian, kalimatnya yang terakhir membuat pria itu melotot.


"Tapi apakah kamu akan seharian seperti ini?" Tanya Irna sambil menekan dada pria di depannya itu.


"Apakah kamu akan ke kantor? ini sudah jam sebelas siang." Irna melemparkan pertanyaan karena Fredian terus melotot melihat ke arah Arya yang sejak tadi memegang keningnya.


"Apakah menurutmu dia tidak apa-apa? sejak tadi dia terus memegangi keningnya? pada saat kamu dulu bekerja bersamanya apa tidak ada yang aneh dengannya? seperti sedang sakit atau bagaimana begitu?!" Tanya Fredian pada Irna tanpa memelankan suaranya.


Irna hanya menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan dari Fredian sambil terus mengeringkan rambutnya dengan handuk.


"Kalian itu! aku mendengar semuanya! kamu cepat ke sini!" Arya melambaikan tangannya pada Irna, sambil mengeluarkan berkas dari dalam tasnya.


"Aku akan pergi ke sana dulu." Ujar Irna kepada Fredian yang sejak tadi berdiri di sebelahnya.


"Apakah yang kamu maksud bukan aku satu-satunya yang memiliki tubuh bagus lalu yang lainnya itu apakah pria itu!?" Tanya Fredian pada Irna membuatnya tidak jadi melangkah ke ruang tengah.


"Aku tidak tahu, dia tidak pernah telanjang dada di depanku." Jawab Irna gamblang membuat Fredian terperanjat.

__ADS_1


"Jadi maksudmu kamu menunggu dia membuka bajunya?"


"Tentu saja tidak." Jawab Irna lagi.


"Lalu pria mana yang kamu maksud?" Sergah Fredian tidak sabar.


"Hem, Rian, Reynaldi, Dion, Reyfar.." Ujar Irna sambil menghitung nama pria yang pernah terlihat dadanya dengan jari tangannya.


"Cukup!" Bentak Fredian membuat gadis itu melompat terkejut.


"Apakah kamu marah sekarang? itu sudah berlalu dan lagi pula aku tidak dengan sengaja melihatnya." Ujar Irna sambil mengerjapkan matanya berkali-kali di depan wajah Fredian.


"Kenapa kamu mengerjapkan matamu seperti itu?" Tanya Fredian dengan wajah masam.


"Apakah aku tidak terlihat imut sama sekali?" Tanya Irna sambil nyengir.


"Tidak imut sama sekali." Jawab pria itu pendek.


"Ya sudah aku akan ke sana aku harus menyelesaikan pekerjaanku, aku melihat banyak badan bagus tapi satu-satunya yang aku sukai adalah pria ini." Irna tersenyum sambil memegang dada Fredian.


Gadis itu melirik ke arah Fredian sebentar, pria itu berdiri mematung mencoba menjernihkan pendengarannya pada kalimat yang terakhir diucapkan oleh Irna padanya.


Irna dan Arya langsung membicarakan tentang proyek, dan sama sekali tidak membahas tentang hal barusan.


Melihat itu Fredian segera pergi ke dalam kamar mandi, kemudian memakai jasnya bersiap pergi ke kantor.


"Aku berangkat ke kantor dulu." Ujar Fredian sambil mengecup rambut Irna.


"Awas kamu!" Hardiknya ke arah Arya.


"Sudah kubilang dia bukan tipeku!" Ujar Arya sambil menunjuk muka Irna.


"Huh, turunkan telunjukmu dari mukaku!" Irna meniup ujung hidungnya sendiri, sambil memegang telunjuk Arya menurunkan dari mukanya.


Setelah tiga jam berdiskusi.


"Huaaah, akhirnya selesai juga!" Arya menggeliat meregangkan otot-otot tubuhnya.


"Kenapa dia yang kelelahan? padahal sejak awal aku yang terus berbicara memberikan pengarahan padanya! seharusnya aku yang berkata demikian, tapi dia malah mendahuluinya!" Gerutu Irna sambil menata berkasnya kembali.


Irna sibuk menata berkas di atas meja, melirik ke arah Arya sekilas. Pria itu menopang dagunya dengan telapak tangan kanannya menatap wajah Irna tanpa berkedip.


"Kamu kenapa melihatku seperti itu?" Tanyanya kemudian sambil meneguk air dari dalam botol.


"Ha ha ha, aku sama sekali tidak berharap pujian darimu." Ujar Irna tidak bisa menahan tawanya kembali meneguk air minum.


"Tapi masih terlihat lumayan ketika tersenyum." Sahut pria itu lagi membuat Irna menyemburkan air di dalam mulutnya tiba-tiba.


"Uhk byuuuuur! ucapannya benar-benar selalu tidak terduga!" Gerutu Irna lagi.


"Perutku lapar aku akan membuat sesuatu untuk dimakan." Ujar Irna beranjak berdiri menuju dapur.


Arya mengikutinya dari belakang, menuju kulkas. Mengambil buah apel dan mulai memakannya.


"Apa kamu selalu seperti ini?" Tanya Irna sambil memotong sayur memunggungi pria itu dibelakangnya.


"Maksudnya?" Tanya Arya masih tidak mengerti.


"Maksudku, apakah kamu selalu bertingkah biasa di setiap rumah orang yang baru kamu kenal satu dua hari?" Jelas Irna lagi padanya.


"Tidak, aku hanya begini padamu saja." Ujarnya jujur masih terus mengunyah buah apel.


"Deg!" Jantung Irna mendadak tiba-tiba terasa terhenti.


"Astaga! kamu hampir membuatku memotong jariku dengan pisau!" Ujar Irna mengibaskan jarinya yang sedikit teriris.


Arya melihat jari Irna sedikit berdarah langsung meraih jarinya dan mengulumnya.


"Eh! apa yang kamu lakukan?! Dasar pria ini!" Gerutu Irna buru-buru menarik jarinya dari mulut Arya.


"Aku hanya menghentikan darahnya, kenapa wajahmu sepanik itu!?" Tanyanya dengan wajah tidak peduli, masih terus mengunyah apelnya.


Irna menumis beberapa sayuran, aromanya tercium harum.


"Aromanya enak." Melongokkan kepalanya hampir membentur kepala Irna, jika Irna tidak menjauhkan kepalanya segera.


"Bisakah kamu menjaga jarak denganku setidaknya kurang lebih satu meter, jika kita terlalu berdekatan seharusnya kamu tahu orang akan berfikir seperti apa mengenai kita!" Gumam Irna pada Arya.


"Bilang saja aku kakak angkatmu!" Ucapnya seketika tanpa berfikir.


"Kamu sepantaran dengan usiaku, bahkan terlihat lebih kekanakan!" Balas Irna tidak mau mengakuinya sebagai kakaknya.

__ADS_1


"Kalau begitu bilang saja aku sepupumu."


"Tidak perlu. Jaga jarak aman saja!" Ujar Irna lagi, kemudian dia melihat pria itu tetap berada dalam jarak yang terlalu dekat sampai membuat gadis itu kesulitan bergerak.


Mata Arya terus melihat ke arah makanan yang ada di atas penggorengan.


"Kamu mau makan juga?" Tanya Irna padanya, saat menoleh pria itu sudah menenteng piring di kedua tangannya sambil nyengir.


Irna mengambil piring dari tangannya dan menaruh beberapa sendok tumis sayuran.


Gadis itu mengambil nasi, dan meletakkan di atas meja. Dan mereka menikmati makanan bersama-sama pagi itu.


"Wajahnya imut sekali. Dia putramu?" Arya menunjuk foto yang terpanjang di dinding.


Irna hanya mengangguk menjawab pertanyaan dari Arya.


Melihat wajah sedih Irna, Arya menahan pertanyaannya kembali.


"Aku senggang hari ini, apa kamu mau pergi ke suatu tempat bersamaku?" Tanya Arya mencoba menghiburnya.


"Kenapa kamu ingin mengajakku pergi? apa kamu merasa kasihan padaku? simpan saja tawaranmu itu, aku masih harus ke kebun." Ujar Irna santai sambil mengunyah sayuran.


"Kamu ke kebun? bukannya kamu harus menyelesaikan skemaku hari ini?" Tanya Arya padanya.


"Aku hanya pergi untuk membuka pintunya, ah sudahlah untuk apa aku menjelaskan padamu."


"Aku akan ikut!" Sahut Arya tanpa menunggu Irna memberikan ijin.


"Tempatnya kotor, dan banyak nyamuk kamu akan gatal-gatal. Jadi sebaiknya kamu kembali saja." Ujar Irna sambil tersenyum.


"Sejak kemarin kamu terus mengusirku, padahal aku sama sekali tidak mengganggu kalian." Ujarnya lagi tanpa rasa bersalah.


Irna kembali ingat dengan sebuah pertanyaan dan dia hampir melupakannya karena jarinya teriris tadi.


"Apa yang membuatmu bersikap seperti ini di rumahku? kamu tadi bilang kalau kamu hanya begini padaku, aku masih tidak mengerti." Ujar Irna.


"Karena kamu satu-satunya temanku, aku punya banyak sekali pacar, dan wanita cantik datang silih berganti tapi aku tidak memiliki teman sama sekali." Ujar Arya sambil meneguk air minum.


"Dan itu yang ingin aku katakan tiga tahun lalu, aku ingin membawamu bertemu ibuku karena aku tidak pernah membawa temanku datang ke rumah. Karena aku sangat sulit mendapatkan teman." Ujarnya lagi santai melihat ekspresi di wajah Irna.


"Bukannya sebagai Presdir kamu memiliki banyak rekan kerja? dan bukankah itu temanmu juga?" Tanya Irna padanya.


"Mereka tidak pernah tulus, dan yang tidak tulus apakah bisa dibilang seorang teman?" Tanyanya lagi sambil memandang lekat-lekat wajah Irna.


"Kamulah satu-satunya yang menjadi temanku, dan kamulah satu-satunya yang tulus padaku." Tambahnya lagi.


"Memangnya apa yang aku lakukan? kamu terlalu berlebihan. Aku dan kamu hanya melakukan kerja sama untuk konstruksi proyekmu." Ujar Irna lagi.


"Entahlah, kamu hanya berbeda saja. Kamu selalu berkata jujur walaupun kadang sangat menyebalkan, kamu juga selalu apa adanya. Tidak pernah menyembunyikan sesuatu dariku."


"Tapi kamu lebih menyebalkan, kamu selalu mengganggu hari liburku, waktu istirahatku. Dan kadang pada jam tidurku." Balas Irna tidak terima dirinya di katai seperti tadi.


"Jangan sampai gara-gara kamu merundungku dengan pekerjaan, tiba-tiba pacarmu datang dan melabrakku karena sikapmu yang suka dekat-dekat denganku!"


Irna memperjelas hubungan di antara mereka berdua tidak lebih dari sekedar partner bisnis.


"Kamu tenang saja, itu tidak akan pernah terjadi." Ujar pria itu dengan sangat santai.


"Kamu yakin?" Tanya Irna lagi tidak mengerti.


"Tentu saja." Jawabnya pendek.


"Bagaimana mungkin?" Tanya Irna tidak jelas dengan ucapan Arya.


"Tentu saja mungkin." Kembali meyakinkan.


"Setiap aku akan bertemu denganmu aku sudah memutuskan hubungan dengan mereka." Jelasnya sambil tersenyum.


"Apa kamu gila?"


"Aku waras kok."


"Lalu tiba-tiba memutuskan hubungan, berapa banyak hati yang akan terluka?"


"Aku tidak perduli."


"Bagaimana bisa ada pria seperti ini?"


"Ada kok, ini di depanmu." Ujarnya sambil tersenyum menatap Irna yang sedikit terkejut.


"Kamu benar-benar manakutkan." Ujar Irna lagi.

__ADS_1


"Aku tampan dan tidak menakutkan, buktinya mereka selalu minta berbaikan denganku setelah putus." Jelasnya lagi sambil tersenyum.


Bersambung..


__ADS_2