
"Dari mana saja kamu? Tidak tahukah kamu aku begitu khawatir?!" Fredian berkacak pinggang menatap tajam ke arah Irna.
"Ah, aku tadi pergi ke sarang para monster itu. Kita pulang saja dulu sekarang." Irna melangkah menuju ke arah mobilnya, gadis itu tahu Eroine sedang mengawasinya dari atas bukit. Dia tidak ingin Fredian terlibat dalam masa lalunya.
Irna tidak ingin menunjukkan Fredian di depan Eroine.
"Sebenarnya apa yang dilakukan wanita bernama Angelina itu! Kenapa dia mengakhiri hidupnya sendiri setelah berhasil membunuh kekasihnya? Wanita itu pasti menyimpan rahasia besar? Apakah aku melakukan kesalahan yang besar telah membuat Eroine bangkit kembali!" Irna masih belum bisa mengetahui sepenuhnya tentang masa lalunya.
Dia bingung sekali, Irna melajukan mobilnya menuju tempat tinggalnya bersama Fredian. Fredian mengikutinya dari belakang.
"Bisakah kamu menjelaskan segalanya padaku sekarang? Aku tahu kamu menyembunyikan sesuatu dariku! Seberapa banyak itu Irna?" Tanyanya pada istrinya, gadis itu menghentikan langkahnya lalu berbalik menatap wajah pria itu.
Begitu banyak yang ingin dia katakan padanya. Tapi dia takut sekali akan membuatnya terluka dan gusar.
Pria itu sudah menaruh cemburu yang begitu besar padanya, jika sampai dia mengetahui kisah cinta masa lalunya. Cinta masa lalunya yang sangat panas melebihi batas maksimal.
Irna kembali mengingatnya, Angelina tinggal bersama dengan Eroine. Seperti pasangan suami istri, tidur bersama setiap hari. Selalu bersama-sama sepanjang waktu. Hingga ketika ratu Holland merusak hubungan mereka berdua.
Eroine sudah tidak memiliki hubungan dengan ratu Holland, tapi wanita itu muncul memprovokasi Angelina di belakang punggung Eroine. Membuat gadis itu ragu, lalu menghunuskan pedangnya membunuh pria yang sangat dicintainya itu.
Dan tak lama setelah itu, Angelina mengakhiri hidupnya sendiri. Menghujamkan tombak perak untuk membakar jiwa vampir dalam dirinya.
Keberadaan ratu pemilik bunga kristal es telah lama hilang. Bahkan hanya menjadi legenda di kalangan para vampir.
Hingga muncul gadis manusia bernama Irna Damayanti.
Wanita yang harusnya berdarah vampir murni, tapi keberadaan bunga kristal pelindung di dalam dirinya adalah hasil pencarian tantenya, Rina. Takdir tetap berjalan di tempat yang seharusnya.
Walaupun Angelina terlahir kembali sebagai manusia, tapi garisnya sebagai pewaris bunga kristal es kembali padanya. Juga setatusnya sebagai vampir murni telah kembali.
Dan takdirnya kembali bertemu dengan pria bernama Eroine!
Dan kini dia telah mengikat janji bersama Fredian. Memiliki sebuah keluarga sendiri. Melupakan masa silam-nya.
"Aku mengingat masa laluku Fred, masa sebelum aku terlahir sebagai Irna Damayanti." Ucapnya pada Fredian.
"Lalu?" Kejar Fredian, dia ingin Irna mengambil langkah terhadap masa lalunya tersebut.
__ADS_1
"Tidak ada masalah apapun." Ucap Irna singkat. Tidak ada untungnya dia menanamkan masa lalu itu kembali. Yang ada Fredian akan kembali marah-marah.
Fredian meletakkan jasnya di atas sofa, kemudian melangkah ke ruang tengah menuang segelas air dan mulai meneguknya perlahan.
Dia tahu Irna sengaja tidak ingin menguak masa lalunya di depannya. Dia juga tahu masa lalu Irna pasti akan membuatnya terluka. "Seberapa sakitnya hatiku jika kamu menceritakan masa lalu-mu itu?"
Fredian melemparkan pertanyaan tersebut ketika Irna duduk di sebelahnya. "Ah, mungkin kamu akan menceraikanku lagi." Irna tersenyum menatap wajah suaminya yang terlihat sedikit gusar akibat pernyataan dari dirinya.
"Sejauh itukah?" Tanyanya lagi sambil menoleh ke sampingnya dimana Irna duduk sekarang. Gadis itu tetap tersenyum santai melihat wajah gusar suaminya.
"Memangnya apa yang terjadi di masa lalu-mu?"
"Aku membunuh kekasihku tepat saat di acara pesta pernikahan, lalu aku bunuh diri." Jawabnya jujur pada Fredian.
"Jadi kamu memiliki hubungan lain sebelum kita bersama-sama? Dan kamu pasti bertemu dengannya tadi." Mulai terlihat kesal.
"Hem."
"Hanya Hem?"
"Lalu apalagi? Kamu denganku sekarang memiliki hubungan suami istri. Lalu itu hanya masa laluku, haruskan aku membawanya ke permukaan yang telah rata, hingga membuat benjolan-benjolan dan membuat langkah kaki kita berdua jadi tidak nyaman berjalan di atasnya?"
"Lalu penyerangan! Kamu sudah menyelesaikan masalah itu?" Tanyanya lagi.
"Kerajaan Holland, aku tidak ada niat untuk menyerang balik. Bagiku itu sudah selesai." Padahal Irna hanya tidak ingin bertemu dengan Derent lagi.
"Tapi kamu hampir kehilangan nyawa!" Sergah Fredian masih tidak terima karena Irna celaka akibat tindakan mereka.
"Mereka sepertinya mengincar kamu dan Rian." Irna keceplosan bicara.
"Ak! Aku! Irna jangan bilang karena kamu ingin diambilnya sebagai menantu ratu Holland? Lalu dia berniat menyingkirkan-ku dan Rian??!" Fredian memegangi kedua bahunya.
Mencari jawaban dari sinar matanya, mencari kebenaran dalam hatinya.
"Hahahhaha! Kamu menebaknya, ya seperti dugaanmu itu. Jadi aku harus menjaga kalian berdua." Ujarnya sambil terkekeh geli melihat Fredian menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Apakah mereka akan mengirimkan pasukan lagi?"
__ADS_1
"Aku tidak tahu, tapi aku harap kamu baik-baik saja Fred." Memeluk hangat tubuh Fredian. Mengusap punggungnya.
"Aku akan baik-baik saja, aku pasti baik-baik saja Irna. Kamu tidak perlu khawatir padaku." Bisiknya sambil tersenyum manis.
Fredian tidak pernah berpikir, jika dirinyalah yang sedang diincar oleh ratu Holland. Pria itu tersenyum misterius, dia akan menebas apa saja yang berniat menjauhkan dirinya dari Irna.
"Tapi bagaimana dengan Rian?" Tanya Irna pada Fredian. Fredian terpingkal-pingkal mendengar Irna menanyakan hal itu padanya.
"Pria itu bisa menghabisi seluruh penjaga dalam waktu kurang dari satu menit. Dia juga yang menyegel tubuhku saat aku masih berusia lima bulan. Dia juga.."
"Tapi dia tidak bisa bertempur?" Irna menghentikan celotehan Fredian.
"Itu, ya, itu benar. Hanya itu, atau sebenarnya dia hanya pura-pura bodoh?!" Ujar Fredian pada Irna.
Sempat beberapa kali dia bertemu di Perancis saat dia belum bertemu dengan Irna. Ada pria bertopeng yang menolongnya beberapa kali. Dia masih berpikir itu adalah Rian.
"Tapi kenapa dia tidak melawan ketika di terjang oleh para monster itu?" Irna bertanya-tanya tentang kejadian penyerangan kemarin.
"Karena kamu terburu-buru menghadangnya!" Fredian kembali meraih gelasnya.
"Lalu jika tebakanmu salah, maka dia pasti terbaring lemah sekarang." Sahut Irna lagi.
"Kamu lupa dia seorang penyihir." Tandas Fredian padanya.
"Dia manusia, bukan penyihir."
"Dia vampir," Fredian tidak mau kalah.
"Tapi!"
"Tapi apa? Tapi kamu takut dia celaka? Lalu menerjang ke depan, hingga membuat dirimu sendiri celaka?"
"Kamu mengkhawatirkan kondisiku? Atau khawatir dengan perasaanku? Fred, jika hal itu terjadi padamu, apa kamu pikir aku akan diam saja?"
Ujar Irna masih dengan suara tenang tanpa tekanan sedikitpun. Gadis itu melihat suaminya terdiam, dia tahu Irna juga pasti akan datang demi menyelamatkan nyawanya.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa untuk like sebelum pergi, vote juga ya untuk dukung author terus berkarya? Sampai jumpa di episode selanjutnya... Terima kasih Readers...