Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
Cold


__ADS_3

Sepulang dari negeri Holland, Rian langsung menuju NGM. Pria itu memejamkan matanya, seraya bersandar di sofa ruang kerjanya.


Dia mengingat Irna, gadis itu telah kembali ke rumah bersama Fredian. Pria yang dicintainya. "Akankah aku bisa melihatnya lagi esok? aku sudah memecatnya dari rumah sakit! huuuffftt!" Rian mengeluh penuh penyesalan.


Tepat pukul tujuh pagi Rian mencoba menghubungi Fredian. Pria itu setengah mati menahan rasa malunya. Dia ingin Irna kembali ke rumah sakitnya. Karena hanya Irna-lah maskotnya! maskot yang selalu berada di paling depan di antara dokter-dokter lainnya.


Tidak hanya cantik, tapi juga sangat piawai dalam mengatasi masalah rumit di rumah sakit keluarga Aditama. Yang dahulunya adalah menantu dari keluarga besar tersebut.


Ibu Rian sudah mengatasnamakan sepuluh rumah sakitnya atas nama Kaila Elzana. Tapi Irna tetap menggelengkan kepalanya di depan Rian. Sekalipun ia menerima di depan ibu Rian, tapi dia hanya ingin membuat ibu mertua kesayangannya itu merasa lega.


Irna mengembalikan segalanya pada Rian, gadis itu tidak ingin mengambil sepeserpun saat pria itu menyerahkan surat cerainya.


"Apakah aku harus menderita seperti ini?" Keluh Rian lagi.


"Halo?" Terdengar suara jawaban Fredian dari seberang. Irna masih terlelap di bawah selimutnya karena kelelahan. Setelah sepanjang malam bermain dengan Fredian.


"Di mana Irna? bisakah aku bicara di dengannya sebentar?" Ujarnya seperti seorang pengemis.


Rian meremas keningnya sendiri, dia menunggu jawaban dari Fredian.


"Jika aku tidak mengabulkannya?" Ejek Fredian dari seberang sambil menahan gelak tawanya.


"Fred! aku serius, ini bukan masalah pribadi! ini masalah rumah sakit!" Geramnya lagi.


"Aku juga serius, dia sedang tidur sekarang. Dia sangat kelelahan setelah bermain sepanjang malam denganku. Kenapa kamu tidak menghubungi ponselnya, tapi malah menghubungiku?" Jawabnya santai, sayup-sayup Irna mendengar suara pembicaraan Fredian di telepon.


"Demi apa? untuk menunjukkan padamu itu adalah permainan di balik punggung?" Rian begitu santai menyatakan segalanya.


"Siapa Fred?" Tanya Irna sambil berusaha bangkit dari tempat tidurnya.


"Klien!" Ujar Fredian sambil memutuskan panggilan teleponnya.


"Fredian sialaaannn! braaakkkk!" Rian sangat marah pria itu menggebrak meja kerjanya.


"Berani-beraninya bilang aku adalah kliennya!" Umpatnya penuh amarah. Rian benar-benar tidak habis pikir, Fredian sengaja berkata demikian.

__ADS_1


"Fred? kamu jangan bohong, aku mendengar kamu berbicara dengan Rian." Irna menaikkan sudut bibirnya, gadis itu melangkah menuju westafel untuk mencuci wajahnya.


"Kamu! kamu mencuri dengar?" Fredian tergagap berusaha menutupi kesalahannya. Dia tidak ingin Irna mengetahui keinginannya, tentang memiliki dirinya seorang diri.


"Aku mendengarnya dengan jelas! aku bukan pencuri." Tandasnya tegas, lalu menyambar handuk melangkah masuk ke dalam kamar mandi.


Mulai terdengar suara percikan air jatuh ke lantai, Fredian tahu Irna sedang membasuh tubuhnya di bawah pancuran air shower. Pria itu tersenyum dan melangkah menuju ke pintu kamar mandinya.


"Jlak! jlak! jlak!" Pintu tersebut terkunci dari dalam, Irna sengaja menguncinya agar Fredian tidak terus menerus mengganggunya.


"Irna sayang.. buka pintunya.. brak! brak! Irna..." Ujarnya lembut memanggil nama istrinya, agar Irna mau membukakan pintu untuknya.


"Kalau kamu ingin mandi, tunggulah aku selesai. Sebentar lagi aku sudah selesai." Sahutnya dari balik pintu tersebut.


"Buka?! atau aku dobrak!" Mulai berteriak dengan nada tinggi.


"Iya, aku buka. Aku sudah selesai." Irna terburu-buru memakai baju mandinya, sambil membungkus rambutnya yang basah dengan selembar handuk.


"Krataaaakkk! mmmhhhh... mmmmhh!" Irna memekik sambil berjalan mundur, Fredian mendorongnya untuk masuk kembali sambil memagut bibirnya. Di tekannya kran shower kembali hingga tubuh mereka berdua basah semua.


"Kemana?" Sibuk menciumi leher jenjang Irna.


"Ke rumah sakit.." Berbicara dengan nada sangat pelan, dia harap suaminya tidak marah atau melarangnya pergi.


Lama sekali Irna menunggu, pria itu tak kunjung menjawab pertanyaan darinya. Tetap menciuminya, menarik tali baju mandinya melemparkan ke lantai.


Irna memejamkan matanya, berapa kali pria itu memintanya. Dan dia hanya bisa pasrah menyerahkan dirinya untuknya.


"Berapa lama lagi.. akkkhhhh.." Irna meremas kedua bahunya, menatap wajah basah suaminya.


"Sebentar lagi, mmmhhh... " Terus menciumi bibirnya.


Setelah menyelesaikan permainannya, Fredian berdiri menggosok tubuhnya dengan shower gel. Irna berdiri di belakang punggungnya memeluk pinggangnya sambil menyandarkan kepalanya di punggung suaminya.


"Fred?"

__ADS_1


"Kenapa?"


"Bolehkah aku pergi ke rumah sakit?" Tanyanya hati-hati, gadis itu takut menyinggung perasaannya hingga tidak mengijinkan dirinya untuk pergi.


"Ingatlah waktu untuk pulang, aku tidak menyuruhmu bekerja. Mintalah apapun yang kamu inginkan. Aku suamimu, mintalah apa saja." Bisiknya sambil mengusap lengan Irna yang melingkari pinggangnya.


Selama ini Irna memang tidak pernah sekalipun meminta sesuatu pada suaminya itu. Segala hal sudah tersedia, setiap minggunya Fredian tak pernah absen membelikan barang-barang edisi terbatas untuk istri tercintanya itu.


Dan juga sepuluh mobil berjajar siap dia kendarai, segalanya sudah dia belikan untuknya.


"Fredian.. terima kasih sayang." Bisiknya lagi padanya. Irna menciumi punggungnya, pipinya dan terakhir memagut bibirnya.


"Aku tidak meminta apapun padamu, bukan karena aku bekerja. Tapi segalanya sudah ada, dan kamu tidak pernah terlambat memberikannya." Ujarnya seraya menyentuh kedua pipi suaminya.


"Aku sebenarnya hanya menginginkan kamu terus berada di sekitarku! cukup duduk manis dengan gaun cantik dan selalu siap kapanpun aku menginginkanmu!" Ujarnya sambil memagut bibir tipisnya.


"Fred, aku butuh keseharian, aku senang menjadi dokter. Aku bahagia bertemu dengan pasienku. Aku bahagia melihat senyuman cerah mereka. Bukan karena Rian, bukan karena uang." Bisiknya lagi mencoba untuk meyakinkan suaminya itu.


"Baiklah, bersiap-siap untuk sarapan, lalu kita akan berangkat bersama." Ujarnya akhirnya menyetujui rayuan istrinya. Dia selalu tidak bisa untuk berkata tidak, jika ia tetap melarangnya gadis itu pasti akan merajuk dan menangis seperti bayi sepanjang waktu.


"Fred..."


"Hem.., cepatlah atau aku akan berubah pikiran." Ujarnya sambil tersenyum manis mencubit ujung hidung istrinya.


"Oke!" Irna tersenyum cerah sambil berlari, gadis itu bersiap-siap memakai gaunnya, lalu duduk di meja makan sambil tersenyum menunggu Fredian.


Fredian sudah memakai baju, sangat rapi dan tampan. Pria itu terus melirik wajah cerah Irna dengan ekor matanya. Dia melihat istrinya begitu anggun dan menawan. Membuatnya terus menghela nafas berat, ingin memeluknya erat dan menciumnya.


"Kamu kenapa terus menghela nafas berat? apa ada yang ingin kamu katakan padaku?" Irna beranjak berdiri dari tempat duduknya melangkah menuju ke arahnya, memeluknya dari belakang. Lalu mencium pipinya.


Fredian memegangi tangannya, yang kini berada di atas kedua bahunya. "Aku merasa berat kamu pergi Irna. Aku sebenarnya ingin terus bersamamu sepanjang waktu."


"Fredian, sayang.. aku akan pulang nanti malam. Aku pasti kembali, aku tidak melarikan diri darimu, aku istrimu yang akan tetap menjadi milikmu. Aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu." Irna kembali menegaskan perasannya.


*Bersambung..

__ADS_1


tinggalkan like sebelum pergi+ vote juga ya??? thanks for reading... ❤️❤️❤️❤️😘😘*


__ADS_2