Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
Carney


__ADS_3

"Ayo masuk, sudah malam.." Rian mengajak Irna untuk masuk kembali ke dalam rumah.


"Di mana Kania?" Rian menatap wajah Irna menunggu jawaban darinya.


"Tidur."


"Kenapa kamu bersikeras aku harus kembali padanya?"


Menatap wajahnya lekat-lekat, berharap jawaban yang tidak akan melukai perasaan satu sama lainnya.


"Bukankah seharusnya begitu?"


"Ya kamu benar kamu melakukan sesuatu yang seharusnya, tapi sepertinya itu akan berbeda bagi Kania. Baginya bukankah ini terlalu mendadak?"


"Aku tidak ingin kalian sendirian saat aku pergi."


"Aku mengerti, kamu mencemaskan keadaan kami berdua. Kamu tidak perlu khawatirkan itu, jangan memikirkanya."


Irna berbaring di atas tempat tidurnya, Rian berada di sebelahnya.


"Jika kamu terus menerus memikirkan hal itu, itu tidak baik untuk kesehatanmu." Gadis itu menyandarkan kepalanya di atas bahu suaminya.


Keesokan harinya..


Di kampus Stregard Jerman.


"Akh! braaaak! Maaf saya tidak sengaja." Saat menaiki tangga menuju kelasnya Kania tanpa sengaja menabrak seseorang.


Kania merundukkan badannya berusaha memunguti barang-barang miliknya yang jatuh berceceran di atas lantai.


Seorang pria muda, terlihat berusia dua puluh tahunan ikut berjongkok di depan Kania Aditama. Royd Carney, pria itu memungut sesuatu dari atas lantai. Menggenggam salah satu barang milik Kania.


"Berikan itu padaku!" Berusaha meraih barang yang berada di dalam genggaman pria di depannya.


Royd Carney menjauhkan benda tersebut tinggi-tinggi di atas kepalanya.


"Sebentar, siapa pemilik kalung ini?"


"Itu milikku! kembalikan!" Berteriak karena sudah tidak sabar dengan tindakan pria di depannya itu.


Royd melongo mendengar jawaban gadis di depannya itu, pikirannya mendadak berhenti.


Matanya tajam berkilat-kilat mencari sesuatu. Pria itu memejamkan kedua matanya, dalam bayangannya dia sedang menerobos beberapa tabir yang sangat tebal berlapis-lapis.


Seorang pemburu, itulah julukan pria yang masih berdiri di depan Kania Aditama.


"Royd! ayo ke kelas! kok malah bengong di sini." Seseorang mengejutkan dirinya.


Dia melihat kalung di dalam genggaman tangannya sudah tidak ada, entah sejak kapan gadis itu merebutnya lalu pergi meninggalkannya begitu saja.


Kania duduk di sebuah bangku nomor dua dari belakang bersebelahan dengan Mira. Tidaka lama kemudian seorang dosen masuk ke dalam kelas .


"Waaahhhh kereeen!" Teriak riuh seluruh penghuni kelas tersebut.


Kania merasa pernah bertemu dengan dosen berhidung mancung dan bermata biru tersebut. Dia menutupi kepalanya dengan sebuah buku untuk menyembunyikan wajahnya.


"Kania? kenapa kamu?" Bisik Mira teman sebangkunya.


"Nggak papa, sudah jangan hiraukan aku."


Pandangan mata Royd Carney menyapu seluruh ruangan. Dan tatapan matanya jatuh ke arah Kania Aditama.


"Itu yang duduk nomor dua dari belakang turunkan buku dari wajahmu!" Berkacak pinggang menatap tajam.


Kania perlahan-lahan menurunkan bukunya dari depan wajahnya. Awalnya dia berpikir pria itu akan menghukumnya karena kejadian tadi pagi.


Tapi untungnya tidak, pelajaran hari itu berjalan seperti hari-hari biasa. Hari ini adalah hari pertama gadis itu masuk di kampusnya. Kania diterima di universitas ternama di Jerman. Gadis manis itu terhitung cerdas di usianya sekarang.


Waktu berjalan begitu cepat, Royd Carney memberikan penjelasan di depan kelasnya. Kemudian memberikan beberapa pertanyaan kepada mahasiswa dan mahasiswi yang ada di dalam kelasnya.


Kania selalu jadi yang pertama mengangkat jari telunjuknya dan selalu sukses menjawab setiap pertanyaan darinya.


Gadis itu juga mampu menjelaskan segalanya dengan rinci dan detail. Seluruh kelas menatap ke arahnya. Dalam satu hari Kania mampu merebut perhatian publik.


Dan itulah yang di khawatirkan oleh Irna pada putrinya. Irna meninggalkan kalungnya dari serpihan bunga miliknya untuk melindungi Kania.


Bagaimanapun gadis itu memilki darahnya. Darah yang mengalir pada tubuh gadis belia tujuh belas tahun itu.


Setelah dua jam pelajaran berlangsung para mahasiswa dan mahasiswi membereskan buku-buku kemudian memasukkan ke dalam tas menunggu bel pulang.


Kania juga demikian, Royd Carney masih duduk di kursi depan. Padahal para murid sudah keluar dari dalam kelasnya tertinggal Kania, dan Mira.


Royd mencermati buku di dalam genggaman tangannya, tidak terlihat pria itu ingin beranjak dari tempat duduknya.


Kania bergegas menenteng tasnya, berjalan bersebelahan dengan Mira menuju keluar kelas.


"Tunggu!" Seruan Royd menghentikan langkah Kania.


"Astaga! aku pikir tidak akan terjadi sesuatu yang menyulitkanku. Tapi sepertinya mustahil, perkataan mama benar-benar terbukti." Gerutu gadis itu dalam hatinya.


"Pak Roy memanggil saya?" Tanya Kania padanya.

__ADS_1


"Hem, teman kamu boleh pulang terlebih dahulu."


"Ya sudah aku duluan ya?" Kania hanya bisa mengangguk kecil malas-malasan.


Kania masih berdiri di tempatnya, menunggu pria itu mengatakan sesuatu padanya. Tapi nihil, pria itu malah membisu selama sepuluh menit membiarkannya berdiri mematung di tempatnya.


"Apa sebenarnya yang dia inginkan! menyebalkan sekali! melihat tampangnya sepertinya dia pria yang tidak berniat mengerjai muridnya."


Begitu banyak pertanyaan melintas dalam kepalanya.


"Pak dosen, jika tidak ada yang ingin anda bicarakan saya permisi." Kania melangkah keluar dari dalam ruangan kelasnya.


Kania keluar dari ruangan kelasnya menuju ke parkiran untuk mengambil mobilnya.


Berkaki gadis itu menggelengkan kepalanya mengingat kejadian yang sangat tidak masuk akal baru saja. Dia tidak bisa mengerti kenapa dosennya itu menyuruhnya menunggu.


Gadis itu pulang menuju tempat tinggalnya. Kania tinggal sendirian di apartemen yang dahulunya milik Irna.


Sedangkan Irna dan Rian pagi tadi sudah kembali ke London.


"Malam ma.." Kania menyapa Irna yang tiba-tiba muncul di dalam kamarnya.


"Sepertinya terjadi sesuatu pagi ini sayang?" Irna meraih putrinya dalam pelukannya.


"Tidak ada ma, hanya saja dosen yang mengajar di kelas terlihat sangat aneh. Dia memungut kalung ini, dia bertanya dari mana kalung ini berasal." Jelasnya pada ibunya.


"Sang pemburu!" Desis Irna sambil meremas jemari tangannya.


Pikiran Irna kembali teringat pada Fredian, pria itu selalu cuek dengan kejadian di sekitarnya. Dia juga tidak memperdulikan keselamatan nyawanya.


"Kania, sebisa mungkin jaga jarak dengannya. Kamu harus lebih waspada!" Irna memeluk putrinya dengan sangat erat.


Jika sampai terjadi sesuatu padanya dia tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri.


"Kania, saat mama tidak berada di sini. Dan ketika kamu merasakan sesuatu yang janggal di sekitar sini bergegaslah pergi ke rumah kakakmu. Di sana mama sudah membuat pembatas yang sangat kuat. Karena kakakmu selalu terancam bahaya."


"Di sini mama juga sudah membuat pembatas, tapi tidak sebanyak di sana."


Ujar Irna sambil menatap wajah putrinya lekat-lekat. Pemburu sudah mengetahui keberadaan ratu vampir di sini.


Irna tidak bisa menebak kapan mereka akan melakukan sesuatu pada keluarganya. Irna tidak bisa membiarkan mereka semua terluka.


Walaupun keberadaan dirinya tidak membahayakan orang lain tapi para pemburu tidak memperdulikan itu.


Yang mereka mau adalah memusnahkannya, seluruh bangsa vampir dari muka bumi.


Kania memiliki kecerdasan luar biasa, juga dapat bertransformasi seperti Irna, gadis darah vampir campuran.


Jika berikutnya dia menjalin hubungan dengan Fredian lalu memilki seorang anak lagi, dialah yang akan menjadi penerus keturunan vampir murni.


Malam itu Kania tidur di atas tempat tidurnya, pikiran gadis itu masih melayang entah kemana. Berkali-kali dia mencoba memejamkan matanya tapi dia tidak bisa terlelap sejak kepergian ibunya.


Pesan ibunya saat sedang berada di dalam situasi berbahaya.


"Goreskan jarimu pada ujung kelopak bunga kristal pada kalung yang ibu berikan, ibu akan datang seketika itu juga."


Keesokan harinya Kania kembali ke kampus. Dia melihat Royd Carney berdiri di bawah tangga membaca buku di dalam tangannya.


Kania melintas begitu saja di sebelahnya.


"Vampir!" Ujar Roy sambil melirik ke arahnya.


Kania mengabaikannya, walaupun Royd menyinggung tentang dirinya. Jika dia menimpali ucapannya, hanya akan membuktikan keberadaan dirinya di depan semua orang.


Kania melenggang santai melewatinya naik ke atas tangga menuju lantai dua.


"Sraaak! aaaah! bruuuk!" Royd menarik tangannya membuat gadis itu terjatuh dari atas tangga.


Kania memejamkan matanya, jika dia menunjukkan kekuatan yang sebenarnya pasti pemburu itu akan menahan dirinya. Tapi tidak, gadis itu memilih menjatuhkan tubuhnya ke belakang.


Demi mamanya, demi keluarganya. Dia pikir hidupnya akan segera berakhir saat itu juga. Tapi tidak, tubuhnya jatuh di pelukan Royd Carney. Pria itu melemparkan bukunya ke lantai lalu melompat menangkap tubuh Kania.


Setelah menarik tangannya, pria itu menunggu reaksi dari Kania. Dia ingin gadis itu menunjukkan sisi dirinya yang tersembunyi.


Dia malah mendapati gadis itu menjatuhkan tubuhnya ke bawah seperti kebanyakan orang yang jatuh terpeleset dari atas tangga.


Royd melihat wajah Kania lekat-lekat, begitu juga sebaliknya. Gadis itu berpegangan erat pada kedua lengannya.


"Pak Roy? kenapa menarik lenganku?" Tanyanya sambil turun dari gendongan Roy.


"Aku hanya ingin bicara sebentar."


Ujarnya sambil menyeringai santai. Seolah-olah yang terjadi barusan bukanlah kesalahannya.


"Sepertinya hidupku tidak akan tenang!" Gumam Kania lirih.


"Baiklah apa yang ingin anda bicarakan? saya akan menunggu di sini."


Gadis itu terpaksa menarik kedua sudut bibirnya mencoba untuk tersenyum.


"Aku baru saja membaca buku ini, dan aku sangat tertarik untuk mencari lebih jauh tentang kebenaran juga keberadaan vampir."

__ADS_1


Menyeringai menakutkan menatap tajam ke arah Kania. Satu detik gadis itu terpaku, namun beberapa saat kemudian bersikap santai seperti sebelumnya.


"Lalu? apa hubungannya dengan saya?"


Kania bergegas pergi menuju ke atas, setengah berlari meninggalkan Royd tersenyum di bawah tangga.


"Aroma tubuhnya benar-benar memikat serpihan kelopak bunga kristal es!"


Gumamnya dalam hati.


Royd bergegas naik ke lantai atas menyusul Kania Aditama.


Pria itu mencermati berkas seluruh mahasiswa di dalam kelasnya. Dia terpaku melihat data diri Kania, pria itu baru tahu jika gadis itu adalah putri dari sahabat karib ayahnya.


Rian bersahabat dengan keluarga Carney. Keluarga Carney sering berkunjung ke pusat penelitian miliknya.


Mereka sama-sama bekerja di bidang penelitian. Tentu saja keluarga Aditama selalu lebih unggul dari keluarga Carney.


Dua jam berlalu begitu cepat, jika sebelumnya Kania selalu mengangkat jarinya untuk menjawab pertanyaan. Kali ini gadis itu lebih memilih mencatat di dalam buku tugasnya.


Kania mengabaikan Royd, dia juga tidak berminat untuk menjawab pertanyaan darinya walaupun pertanyaan tersebut sudah dilemparkan Royd padanya beberapa kali.


"Maaf saya tidak bisa."


"Maaf saya tidak tahu."


"Maaf itu di luar pengetahuan saya."


Jawaban Kania mengundang tanya seluruh siswa dalam kelasnya. Jika kemarin gadis itu terlihat cerdas luar biasa, kali ini dia terlihat tidak tahu apa-apa sama sekali.


"Huuffftt!" Dengusnya saat mata pelajaran hari itu selesai.


Royd terlihat sangat kesal sekali saat gadis kecil itu mengacuhkannya sepanjang waktu. Kejadian sama berlangsung selama seminggu.


Gadis itu bahkan tidak tanggung-tanggung menjadi bahan ejekan di dalam kelasnya. Memiliki julukan gadis terbodoh di kelas.


Penampilan Kania yang awalnya semampai mengundang perhatian di setiap langkahnya. Sekarang malah memilih memakai baju formal dan kacamata tebal untuk menutupi matanya yang jernih.


Irna terkejut saat bertemu dengan putrinya, dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Kania mengambil penerbangan ke London untuk mengunjungi Irna dan Rian saat liburan semester.


"Kania apa ini? kenapa putri mama berubah jadi begini?" Irna memutar tubuhnya sambil mencermati wajah Kania.


"Ini demi mama."


"Dan nilaimu kenapa berada di paling bawah? putri mama sangat cerdas kenapa bisa begini?"


"Ini juga demi mama." Ujarnya sambil nyengir tanpa rasa bersalah.


Irna mengusap rambutnya kemudian meraihnya dalam pelukannya.


"Kania, jangan begini. Kania harus semangat belajar, kenapa nilai-nilai bisa di bawah rata-rata?"


"Sekarangpun Kania bisa terjun ke NGM ma, gak perlu kuliah dan bertemu dia setiap hari."


Irna segera menoleh ke arah putrinya mendengar putrinya menyebutkan kata "Dia."


"Dia? dia siapa?"


"Royd Carney!" Gumam Kania lirih.


"Oh itu keluarga mereka dahulu sering bertemu dengan papamu di kantor." Ujar Irna santai sambil mengambil segelas air putih.


"Siapa? Royd?" Rian melangkah mendekati Irna menatap wajahnya penuh tanda tanya.


"Royd Carney." Irna tersenyum melihat wajah Rian berubah merah padam.


Bayangannya kembali ke sepuluh tahun silam. Yela Clarke pernah mendekatinya mati-matian. Saat itu Irna sedang hamil tiga bulan.


Gadis itu bahkan nekad merayu Rian terang-terangan di depan Irna. Tidak ada yang tahu jika Yela Clarke menikah dengan salah satu putra dari keluarga Carney sahabat sekaligus rekan Rian di laboratorium.


Mereka kemudian memiliki putra yaitu Royd Carney.


Waktu itu Irna tidak merajuk sama sekali, dia tahu Rian pria yang anti wanita. Juga dirinya sendiri adalah tipe wanita yang keras kepala juga tidak mau tahu.


Jika Rian membuat masalah Irna akan melenggang pergi dari hadapannya. Dengan begitu pasti pria itu akan mati-matian mengejarnya demi mendapatkan maaf darinya siang dan malam.


"Ma, apa yang terjadi dengan papa?" Irna hanya tersenyum tipis sambil mengangkat kedua bahunya.


"Kamu jauhi dia." Ujar Rian sambil berlalu. Rian juga ingat saat rekannya itu mencuri data vaksinnya, data yang berhubungan dengan vampir


Data tersebut milik Irna, perubahan yang terjadi pada darah Irna. Darah yang menjadi sumber kekuatan dan sumber magnet.


"Tok! tok! tok!" Terdengar suara ketukan pintu rumah mereka.


Irna menoleh ke arah Rian,


"Biar aku yang membuka pintunya." Rian tersenyum menatap wajah Irna.


"Krataaaakkk, bruk!" Rian membuka pintu lalu jatuh seorang pengawal rumahnya, pria itu berlumuran darah pada sekujur tubuhnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2