
"Untuk sementara kamu tinggal bersamaku di sini." Ucap Dion pada Irna dengan nada santai.
Dion melihat wajah khawatir terlukis di depannya. Pria itu hanya tersenyum tipis sambil menopang kepalanya dengan kedua telapak tangannya di atas meja.
"Kenapa aku harus tinggal bersama denganmu! aku tidak bersedia dan aku harus pulang hari ini." Ujar Irna dengan nada serius.
"Triiing! triiing!" Ponsel Dion berbunyi dengan nyaring, memutuskan percakapan mereka berdua.
"Hallo... iya saya Dion Anggara"
"Oh, Irna Damayanti...ya, dia bersamaku sekarang." Mendadak Irna menoleh terkejut, mendengar Dion menyebutkan namanya di telepon.
"Aku punya perjanjian dengannya, setelah urusan di antara kami selesai aku akan mengantarkan dia pulang." Ujar laki-laki itu sembari menatap wajah Irna yang sedari tadi menatapnya dengan tatapan serius.
"Bersiaplah, aku sudah menaruh gaunmu di dalam kamar. Kita akan segera menyelesaikannya." Ujar Dion lagi sambil tersenyum santai melangkah ke dalam kamar mandi.
Setelah selesai membersihkan tubuhnya pria itu keluar dari sana. Irna masih duduk mematung di atas sofa. Dia tidak mengetahui apa maksud pria itu berkata demikian.
Irna hanya berdiam diri tanpa ingin bertanya apapun ataupun marah padanya. Dia tahu sekalipun dia marah hasilnya pasti juga akan nihil sama seperti sebelumnya.
"Kamu tidak perlu hawatir dalam waktu tiga bulan peranmu akan selesai sebagai tunangan Dion Anggara. Jadi kamu bisa bebas." Dion berdiri memegang kedua bahu Irna dari belakang membisikkan di telinga gadis itu.
"Aroma tubuh wanita ini kenapa berbeda sekali dengan gadis-gadis lain yang biasanya aku peluk dan tidur bersamaku?" Ujarnya lagi di dalam hatinya.
"Aroma manis dan wangi tapi sedikit menakutkan! aromanya seperti sebuah bunga yang sedang mekar menebar bebas ke udara, tapi bunga seperti apa itu?" Bisik Dion diam-diam mengungkapkan hal yang dirasakan aneh di dalam hatinya.
"Oh ya, aku punya hal yang harus disampaikan padamu, dokter bilang kemarin padaku, bahwa kamu masih seorang gadis." Melihat wajah Irna menunggu reaksi darinya.
"Padahal aku sempat berfikir jika kamu terluka kemarin karena diperkosa lalu dibuang oleh salah satu di antara Presdir itu." Ujar Dion lagi sambil mencermati wajah Irna yang diam seribu bahasa sejak tadi.
"Kenapa gadis ini malah diam saja? bukannya seharusnya dia membela diri? atau memberikan penjelasan padaku?" Bisiknya di dalam hatinya.
"Kebanyakan wanita akan sibuk membela dirinya ketika dia dituduh atau disalahkan, tapi gadis ini sangat aneh, dia hanya diam saja tanpa mau memberikan penjelasan sedikitpun. Atau mungkin karena dia tidak ingin memberitahu padaku?!" Ujarnya lagi dalam hati.
"Memangnya apa salahku, aku sudah menyelamatkan nyawanya, seharusnya dia berterima kasih padaku, setidaknya sebagai sopan santun seperti itu."
"Bajumu penuh robekan, sekujur tubuhmu banyak luka gigitan juga cakaran kuku, dokter bilang itu karena serangan binatang buas, apakah kamu ada sesuatu yang ingin disampaikan padaku?" Tanya Dion sambil mengamati wajah Irna.
"Tidak ada." Jawab gadis itu dengan wajah datar.
"Aku masih gadis? bukannya kemarin aku dan Fredian sudah melakukannya, ah sudahlah itu bukan hal yang penting sekarang." Irna bertanya-tanya dalam hatinya merasa itu sangat mustahil.
Irna menggigit ujung kuku ibu jarinya mencoba mencari jawaban atas segala hal yang dia alami. Dia tidak tahu harus mulai dari mana.
Irna masuk ke dalam kamar ganti, melepas baju dengan kemudian memakai gaun warna ungu muda. Di atas meja ada beberapa perhiasan yang disiapkan Dion untuknya, Irna hanya mengambil sepasang anting untuk dikenakan olehnya.
Gadis itu memoles sedikit wajahnya dengan make up, membiarkan rambutnya terurai di atas punggungnya.
Irna melangkah keluar dengan high heels warna senada dengan gaunnya. Suara sepatunya berderap memukul ubin. Membuat pria itu menoleh ke arahnya untuk melihat penampilan dirinya.
Dion sudah mengenakan setelan jas, pria itu terpana melihat wajah Irna yang begitu sempurna dimatanya.
"Tunggu sebentar!" Dion masuk ke dalam kamar ganti, mengambil sebuah kalung kristal kemudian berjalan ke arah Irna.
"Angkatlah sebentar rambutmu." Pintanya pada Irna.
Irna mengangkat rambutnya, Dion memakaikan kalung tersebut membingkai leher jenjang milik Irna dengan sangat manis.
"Jangan lupa apa yang harus kamu ucapkan nanti di depan para tamu." Bisik Dion di telinga Irna.
Irna hanya menghela napas panjang. Malam ini adalah sebuah acara pertunangan dirinya dengan Dion Anggara, di pesta tersebut akan dihadiri oleh kedua orang tuanya Dion, dan para tamu lainnya.
Dion juga sengaja mengundang Rian Aditama, juga Fredian untuk melengkapi acara malam itu. Dia ingin mencari tahu segalanya saat itu juga.
Apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka bertiga. Jika mereka terlibat hubungan asmara tidak mungkin gadis itu masih utuh dan beraih seperti sekarang.
Jika hanya bisnis kenapa terlihat sangat mesra sekali, jadi siapa sebenarnya di antara kedua pria itu yang terlibat dengan Irna.
__ADS_1
Irna yang sebentar lagi akan jadi tunangannya itu.
Dion mengangkat lengan kanannya, memberi isyarat pada Irna agar menggamitnya. Irna segera menggamit lengan Dion menuruti isyarat darinya.
Mereka berdua melangkah bersama masuk ke dalam acara. Di sambut riuh tepukan tangan, dan senyuman bahagia para tamu menyambut kedatangan mereka berdua.
Dion menggandeng tangan Irna menuju ke arah kedua orang tuanya. Wajah Dion dan Irna terlihat sangat serasi sekali.
"Irna, ini adalah kedua orang tuaku." Ujar Dion memperkenalkan. Irna menundukkan badannya memberi hormat kepada mereka berdua.
"Dion, ayo kita sambut kedatangan para tamu, biarkan ibumu bercakap dengan calon menantunya." Alex Anggara menggandeng tangan putra semata wayangnya itu menjauh dari Irna.
Dion agak sedikit hawatir pada Irna. Karena telah menjadikan dirinya tunangannya, pasti keluarganya akan menggali banyak informasi mengenai dirinya dan juga Irna.
Irna masih belum cukup mengenal seluk beluk sosok Dion. Dia hanyalah pria asing yang kebetulan menemukannya saat dia pingsan, walaupun sebelumnya Dion sempat mengajaknya melakukan kontrak tapi Irna juga tidak berniat menerimanya.
Dan kini hari ini, detik ini dia sudah masuk ke dalam pesta pertunangan dirinya dengan pria itu. Irna sudah menebak jika hal yang semakin rumit akan memaksa dirinya untuk mengahadapi lagi, selalu masuk lagi dalam berbagai masalah dan keruwetan
"Sejak kapan kamu mengenal putraku?" Tanya Eriana Anggara ibu dari Dion membuat gadis itu terperanjat seketika.
Irna tidak dalam berkata-kata, lidahnya mendadak terasa kelu, dia hanya tersenyum sambil berusaha mencari jawaban yang tepat.
"Apa yang harus aku katakan? jika jawaban kami berbeda nanti, kami akan ketahuan berbohong." Tanya Irna dalam hatinya.
Tiba-tiba seorang tidak asing muncul, dia adalah Fredian. Berjalan mendekat ke arah Irna dan Eriana.
"Selamat malam Bu Eriana." Mengulurkan tangan sembari tersenyum manis.
"Selamat malam Presdir Fredian." Menjabat tangan Fredian.
Fredian sengaja mengajak Eriana untuk membicarakan bisnis kerjasama antara mereka. Agar Irna tidak kesulitan menjawab pertanyaan dari Eriana.
"Menurutku kalian sudah jauh saling kenal dan lebih akrab." Sindir Eriana pada mereka berdua tiba-tiba.
Eriana melihat wajah Irna semakin pucat, walaupun gadis itu terus tersenyum untuk menutupi kegugupannya. Dia tahu sekali jika Fredian Presdir Reshort angel itu sengaja menghampiri dirinya hanya demi melindungi gadis di depannya itu.
Fredian tahu jika Eriana pasti akan mempertanyakan sesuatu untuk memojokkan Irna. Dan sengaja membuat Irna malu di depan umum, agar Dion memutuskan hubungan pertunangan antara mereka berdua.
"Oh kami mengikat kontrak kerja sama antara perusahaan." Ujar Fredian kembali mencoba mencerahkan suasana. Dia tidak ingin Irna terlibat ke dalam masalah gara-gara keluarga Anggara.
"Hem!" Dehem Eriana dengan wajah sinis menatap ke arah Irna.
Irna hanya tersenyum tipis sambil membuang pandangannya ke arah lain.
Rian sudah sampai di sana, dia melihat ke arah Irna, Fredian dan Eriana yang sedang berbincang. Nampak wajah Irna sedikit pucat mengahadapi lontaran pertanyaan dari Eriana.
Kemudian Rian memanggil seorang pelayan, membisikkan sesuatu. Kemudian pelayanan tersebut berjalan menuju ke arah Eriana.
Seorang pelayan datang membisikkan sesuatu di telinga Eriana.
"Maaf, saya ada sesuatu yang harus saya selesaikan jadi saya tinggal dulu." Setelah berpamitan dengan Fredian Eriana melangkah pergi.
Fredian berjalan mendekati Irna lalu berdiri memunggunginya, pria itu tahu jika Irna membutuhkan ruang untuk mengatur kembali nafasnya.
Irna memegang dadanya sambil bersandar di dinding di belakang punggung Fredian. Gadis itu menghirup udara sebanyak-banyaknya. Untuk melegakan dadanya.
Fredian sengaja memunggunginya untuk menutupi Irna dari tatapan mata para tamu. Dia sangat tidak suka jika gadis yang di cintai itu menjadi bahan gunjingan dan olokan.
Irna memegang bahu Fredian sambil menjinjing gaunnya.
"Terima kasih." Bisiknya di telinga pria itu, membuat Fredian tersenyum manis melirik ke arahnya.
Agak salah tingkah juga Irna dilihat seperti itu, gadis itu tersenyum sambil mengerjapkan matanya berkali-kali mengusir kegugupan dalam dadanya.
Fredian tahu Irna sedang salah tingkah di depannya sekarang. Dia semakin tersenyum lebar menatap wajah Irna.
Rian mengambil minuman kemudian bergabung dengan Irna dan Fredian.
__ADS_1
"Oh, aku agak terlambat tadi." Ujar Rian melirik Irna dengan senyuman termanis.
"Oh, kamu juga datang kemari? apakah kalian datang bersama-sama kemari?!" Tanya Irna tidak mengerti kenapa mereka muncul bersamaan di depannya.
Melihat mereka berdua bertatapan kemudian saling membuang muka ke arah lain, Irna tahu sedang ada pertentangan sengit antara kedua pria tersebut.
"Ehm! ehm! kalian jangan anggap aku tidak ada di sini!" Ujar Fredian menekankan suara lirih.
"Ini bagaimana bisa seperti ini??" Tanya Fredian dan Rian kompak. Kemudian saling menoleh bertukar pandang satu sama lainnya.
"Ceritanya panjang, tidak bisa dijelaskan sekarang." Ujar Irna dengan senyuman dipaksakan.
"Di antara kalian tolong sampaikan pada Rini sekretarisku untuk mengunjungiku kemari besok, untuk sementara waktu aku belum bisa pergi ke kantor." Ujar Irna pada mereka berdua.
"Aku sangat sibuk, kecuali jika kamu mau pulang bersamaku nanti aku antar ke kantor." Ujar Fredian pura-pura sambil meminum minuman di tangannya.
"Dia istriku sekarang! jadi aku yang akan pulang bersamanya! apa kamu melupakan pernikahan kami!" Gumam Rian di telinga Fredian sambil pura-pura tersenyum agar tidak mengundang perhatian umum.
"Apakah kalian akan terus bertengkar sepanjang hari? sekalian adu jotos di sini? pasti sangat memalukan sekali kedua Presdir merebutkan seorang Irna Damayanti di dalam acara pesta pertunangan dirinya dengan Dion Anggara!"
Gerutu Irna sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada menatap mereka berdua beradu mulut.
"Bagaimana menurut kalian?! Pasti berita kali ini sangat menarik perhatian publik? apa kalian mau mencobanya?!"
Ujar Irna menantang mereka berdua karena sudah tidak tahan melihat tingkah mereka sangat kekanak-kanakan.
Dion melihat Irna sedang berdiri di antara Rian dan Fredian, gadis itu bercakap-cakap dengan kedua Presdir, Dion mengamati dari kejauhan.
"Mereka bertiga lebih terlihat seperti seorang sahabat ketimbang membina hubungan pribadi." Ujar Dion dalam hati dia masih tetap tidak mengerti kenapa publik bisa menyemburkan isu itu pada mereka bertiga.
Irna memang terlihat sangat akrab dengan Fredian dan juga Rian. Yang satu adalah mantan suaminya yang baru beberapa bulan dinikahinya, dan yang satunya adalah suami barunya.
Alangkah aneh dan ajaib jika identitas terselubung itu di ketahui oleh publik saat itu juga.
"Para wartawan pasti sudah berlebihan, memperkeruh keadaan untuk memikat massa." Pikir Dion mencerna segudang tanya dalam kepalanya.
Dion melihat wajah Irna yang biasa-biasa saja ketika bertemu dengan mereka berdua tanpa rasa canggung ataupun malu-malu. Dion yakin mereka bertiga hanya terikat hubungan bisnis biasa.
Apalagi saat melihat Fredian tergelak tawa di sela percakapan. Menambah keyakinan Dion. Mereka tidak mungkin terlihat akur seperti itu.
Dionpun melangkah ke arah mereka bertiga.
"Para Presdir selamat menikmati pesta malam ini." Ujar Dion sambil cheers gelas minuman di tangannya dengan gelas minuman Fredian dan Rian.
"Ehm, saya mohon maaf tidak dapat berlama-lama di sini. Saya harus pamit karena ada urusan bisnis yang harus segera saya selesaikan." Fredian memegang bahu Dion pura-pura memeluk memberikan selamat.
"Tolong jaga baik-baik wanitaku! jika kamu berani menyentuhnya sehelai rambut pun, siap-siaplah kehilangan jari tanganmu!" Sembari tersenyum ke arah Dion melangkah pergi meninggalkan mereka.
Dion berdiri kaku menahan nafasnya.
"Oh saya juga akan berpamitan." Rian memeluk Dion seolah memberikan selamat.
"Tolong jaga Istri saya! kalau sampai kamu melukainya! jangan harap bisa mendongakkan wajahmu ke depan publik!" Bisik Rian sambil melambaikan tangan pergi.
Dion kembali mengejan menahan nafas menatap Irna.
Gadis itu dengan sangat santai menikmati segelas minuman di tangannya.
Melihat ekspresi Dion Irna tersenyum ringan.
"Apa kamu sangat terkejut Dion Anggara??"
Ujar Irna dengan sangat santai meletakkan gelas minuman, kemudian menggamit lengan Dion.
"Mulai dari saat ini akan banyak kejutan menanti di depanmu, karena kamu membuatku telah terlibat dengan dirimu!" Irna tersenyum melangkah menemui para tamu yang memberi ucapan selamat pada mereka berdua.
Dion tanpa sadar meremas gelas di tangannya, hingga gelas itu hancur berkeping-keping.
__ADS_1
Dion merasa sangat kesal dia merasa sangat tertipu, yang satunya mengakui Irna sebagai wanitanya dan yang satunya lagi bilang jika Irna adalah istrinya.
bersambung....