
"Apakah hanya dengan meminum ini aku akan bisa melupakan Irna?" Tanya Jody pagi itu sudah berada di kantor Rian. Sambil menimang-nimang obat yang ada di tangannya. Dia menerima sebotol obat darinya.
"Itu kamu minum saat sebelum pergi tidur. Kamu akan bisa tidur nyenyak mulai malam ini." Ujarnya sambil berdiri menyentuh bahu Jody.
"Perlahan kamu pasti akan bisa melupakannya." Tambahnya lagi.
"Semoga saja seperti itu." Ujar Jody sambil mengusap matanya yang masih terlihat kuyu.
Irna melakukan pemotretan seperti biasanya. Hari itu Dion ada di dalam kantor Reynaldi. Irna tidak terkejut melihatnya berada di sana.
"Dia akan menggantikanku hari ini." Ujar Reynaldi sambil menarik tangan Dion dan menyerahkan beberapa berkas padanya.
"Kamu mau kemana?" Tanya Irna saat melihatnya berkemas.
"Aku harus menjemput Jesy, dia sudah menungguku di bandara." Jelasnya sambil tersenyum lalu pergi.
"Sebentar lagi pemotretan akan di mulai cepat siapkan modelnya." Teriak Dion sambil melihat arloji yang ada di tangannya.
Tika dan Anita terburu-buru mendandani Irna. Setengah jam kemudian mereka sudah selesai menyiapkan semuanya.
Irna melangkah ke atas panggung dan memberikan beberapa pose berdasarkan arahan darinya.
Pemotretan hari itu akhirnya selesai.
"Istirahat satu jam setelah ini pergi ke lokasi syuting." Ujarnya sambil memeriksa berkas di atas meja.
Pria itu sangat profesional, dan Irna merasa nyaman bekerja bersamanya. Dan tidak melibatkan hubungan yang mereka di masa lalu.
Irna mengajak beberapa pengawal untuk pergi ke lokasi syuting siang itu. Sedangkan Dion mengendarai mobilnya sendiri. Kali ini lokasi mereka berada di mall.
Sekitar satu jam mereka sudah berada di sana. Dan memulai acaranya. Irna masih mencermati skenario yang berada di tangannya.
Reynaldi membawa Jesy ke lokasi syuting, di mana Irna dan Dion berada.
Mereka berdua melihat proses syuting Irna. Melihat wajah Jesy saat itu, dia terlihat berbeda dari sebelumnya.
Gadis itu sudah tidak terlihat manja dan egois seperti sebelumnya. Irna sedikit merasa lega karena tidak ada masalah di lokasi saat itu.
Sekitar jam empat sore mereka membubarkan diri dan menyelesaikan pekerjaan hari itu. Irna juga akan meninggalkan lokasi syuting dan pulang ke rumahnya.
"Apa kamu akan langsung pulang?" Tanya Reynaldi saat itu menghentikan langkahnya.
"Iya, ada apa? apa ada masalah?" Tanya Irna sambil melihat wajah Reynaldi yang sepertinya sedikit tidak nyaman akan mengatakan sesuatu.
"Jesy ingin kembali ke dunia entertainment." Jelasnya pada Irna.
"Iya lakukan saja, apa ada masalah yang lain?" Tanya Irna lagi tidak mengerti, sekejap Irna melirik Jesy gadis itu terlihat cuek dan sedang ngobrol dengan Dion.
"Dia memintaku menjadi managernya." Jelas Reynaldi lagi sambil memijit pelipisnya.
"Oh, begitu, ya tidak apa-apa jadilah managernya." Ujar Irna sambil tersenyum santai.
"Lalu bagaimana denganmu?" Tanya Reynaldi sedikit bingung harus bagaimana.
"Aku akan mencari manager lain kamu tidak perlu hawatir." Ujar Irna sambil menepuk bahu temannya itu.
Irna bergegas naik ke dalam mobilnya meninggalkan mereka. Irna menyandarkan kepalanya di sandaran kursi belakang. Pikirannya masih sedikit bingung.
"Kemana aku harus mencari manager yang baru?" Bisiknya sambil menggigit ibu jarinya merasa bingung kemudian mengambil ponselnya karena ada telepon masuk.
"Ya ada apa?"
"Oke terimakasih." Memasukkan kembali teleponnya ke dalam tas.
"Dia mengambil pemotretan iklanku lima tempat sekaligus?" Bisik Irna lagi.
"Ya lakukanlah sesukamu Jesy, aku mungkin akan mundur dari dunia hiburan." Bisik Irna lagi semakin pusing dan malas berfikir.
Malam itu Irna tidak bisa tidur nyenyak karena terus mendapatkan telepon dan protes dari berbagai pihak.
"Kami tidak ingin mengganti modelnya! jika anda tidak bisa menepati janji kami akan mengajukan tuntutan!" Teriak seseorang dari seberang.
Irna sudah tidak bisa berfikir lagi dan langsung menghubungi Reynaldi.
__ADS_1
"Bagaimana ini Rey? mereka semua protes padaku? dan idemu yang menggantikan modelnya. Bahkan mereka ingin menuntut ke pengadilan juga!" Sergah Irna tiba-tiba.
"Jesy yang memaksa Ir, aku sendiri juga bingung harus bagaimana." Jelas Reynaldi lagi.
"Menurutku kita selesaikan saja kontrak kerja yang sudah terlanjur kita sepakati, dan Jesy kamu carikan dia pekerjaan yang baru. Maksudku kontrak baru untuknya dengan kesepakatan dari kedua belah pihak dan yang lama karena mereka yang memintaku menjadi artisnya, jadi mereka tetap akan menolak meskipun kita menurunkan harganya dan mengganti modelnya. Jadi biar aku selesaikan dahulu." Ujar Irna masih mondar-mandir di tepi tempat tidurnya.
"Ya aku akan mencobanya, semoga dia mau mengerti." Ujar Reynaldi kemudian mengakhiri panggilan telepon.
"Mereka menolak untuk menggantikan modelnya, Jes. Aku akan menerima kontrak yang baru dengan kesepakatan kita berdua. Para klien lama tidak mau menggantikan artisnya karena kesepakatan kita sejak awal adalah Irna yang akan menjadi modelnya." Jelas Reynaldi pada Jesy.
"Kenapa dia selalu merebut tempatku?" Teriak Jesy sambil melotot ke arah Reynaldi.
"Kamu mendapatkan masalah beberapa tahun lalu, dan karirmu hancur saat itu. Dan Irna membangun karirnya satu tahun yang lalu di dunia artis. Jadi bagian mana yang kamu sebut merebutnya?" Jelas Reynaldi lagi. Kepala pria itu serasa ingin meledak saat itu juga.
Hari-hari berlalu seperti biasa, Irna meminta Anita untuk menggantikan Reynaldi. Dan meminta seseorang lagi untuk membantunya karena tidak ada yang menyiapkan gaunnya, dia bernama Sita bawahan Anita.
Sejak saat itu Reynaldi sudah benar-benar tidak berhubungan dengan Irna lagi. Karena sifat Jesy yang selalu tidak bisa di ajak kompromi.
Pekerjaan Irna berjalan lancar seperti biasanya, berbeda dengan Jesy yang selalu ingin mendahuluinya di iklan atau di tempat syuting untuk mengambil peran.
Fredian juga lancar dalam mengelola Reshortnya. Belakangan lebih fokus dalam mengurus pekerjaan dan tidak mengganggu Irna ataupun memaksakan diri lagi untuk segera menikahinya.
Rian semakin hari semakin dekat dengan Arvina, dan tetap bekerja di laboratorium seperti biasanya. Mereka lebih terlihat seperti kakak beradik.
Irna sudah menyelesaikan pekerjaannya selama satu tahun terakhir.
Dia berniat mengambil cuti untuk menjenguk putranya Alfred di Jerman. Pagi itu dia berangkat mengambil penerbangan untuk menjenguknya ke sana.
Kedua orang tuanya Fredian tidak berbicara apapun pada mantan menantunya itu. Sekitar satu hari Irna berada di sana menemani si kecil Alfred.
Mereka bingung kenapa Irna pergi ke sana tanpa Fredian. Bahkan mereka berfikir jika Irna sudah tidak tertarik dengan putra semata wayangnya itu.
"Kenapa kamu hanya sendirian saja kemari?" Tanya Ibunya Fredian akhirnya membuka percakapan dengannya.
"Iya karena saya akan berangkat ke Perancis setelah dari sini nyonya Derrose."
"Lalu bagaimana dengan putraku?" Tanya nyonya Derrose tidak mengerti maksud Irna akan pergi lagi, dan lebih jauh.
"Kami sudah bercerai satu tahun yang lalu dan kami sudah tidak memiliki hubungan apapun lagi." Jelas Irna sambil tersenyum mencium Alfred dalam pelukannya.
"Lalu apakah anda pernah memikirkan bagaimana menderitanya diriku nyonya? aku gadis yang sangat egois."
"Ya aku memilih untuk melukai putramu dan pergi begitu saja.
Aku tidak bisa menikah dengannya kembali, karena aku sudah tidak mencintainya." Ujar Irna malam itu, dan dia meninggalkan rumah kedua orang tuanya Fredian.
Gadis itu menghilang begitu saja, menghilang dari ingatan banyak orang di sekitarnya.
Entah berapa orang yang merasa hancur dan kacau karenanya hari itu. Baginya sudah tidak ada pilihan dan tidak ada keinginan untuk memilih. Dia memilih untuk menjalani kehidupannya sendiri.
Tanpa Rian, tanpa Fredian dan tanpa orang-orang yang dekat dengannya.
Pagi itu Fredian terkejut karena tidak mendapat kabar apapun dari Irna. Gadis yang dicintainya menghilangkan tiba-tiba. Entah kemana, Reynaldi dan Rian juga tidak tahu keberadaan Irna.
Saat sampai di rumahnya Irna sudah pergi, dan rumah besar itu sudah terkunci dari luar.
Mereka benar-benar tidak mengerti kenapa tiba-tiba Irna pergi begitu saja.
Fredian mengacak-acak meja kerjanya, dan marah-marah seharian.
Dia mendapatkan telepon dari ibunya jika Irna sudah dari sana hari itu, Fredian bergegas menyusul ke sana. Tapi dia terlambat dan Irna sudah pergi jauh beberapa jam sebelumnya.
Rumah yang di tempatinya di Jerman juga kosong. Sudah di jual kepada orang lain.
"Kenapa kamu meninggalkanku seperti ini! apa sebenarnya salahku? aku sangat mencintaimu dan tidak bisa kehilangan dirimu!" Fredian terduduk lesu di sebuah club kembali meneguk minumannya.
Pria itu kembali ke London, semakin hari kondisinya semakin memburuk. Rian yang merawatnya di klinik sepanjang waktu.
Dia menjadi linglung dan tidak mengenal siapa-siapa di sekitarnya selama tiga tahun lamanya. Jika dia melihat seseorang wanita yang berlalu di depannya dia mengira itu adalah Irna.
"Apakah ini akhir dari sebuah kehidupan seorang Fredian Derrose?" Ujar Seorang gadis memakai pakaian dokter dengan jemari lentiknya menyentuh pipi pria itu dengan lembut.
"Seharusnya kamu memperbaiki hidupmu, dan tampil mengejutkan di hadapanku selama aku pergi. Kenapa malah tampil seolah-olah duniamu telah berakhir begini?"
__ADS_1
"Irna? benarkah ini kamu?" Ujarnya dengan tangan gemetar menyentuh lembut pipi gadis itu. Rian berdiri di belakang mereka berdua berkali-kali menghapus air matanya yang terus menerus mengalir tanpa henti.
"Aku akan merawatmu! selama tiga tahun di Perancis aku banting stir mengambil kuliah di kedokteran." Ujarnya sambil menunjukkan identitas kedokteran di depan sakunya.
"Apakah kamu akan menikah denganku? aku sudah menunggumu dalam waktu yang sangat lama. Aku tetap mencintaimu seperti sebelumnya. Aku ingin tetap bersamamu." Tanyanya buru-buru sambil memeluk gadis di depannya dengan sangat erat.
"Aku belum ingin menikah." Ujarnya pendek.
"Lalu usiaku sudah sangat tua sekarang?" Ujarnya lagi.
"Kamu pikir aku juga masih muda? kenapa kamu tidak menikah dengan gadis lain selama aku pergi?" Tanya Irna sambil tersenyum dan menepuk punggungnya.
"Aku sudah bilang kalau aku akan menunggumu. Aku hanya akan menunggumu." Pria itu gemetar memeluk gadis yang sangat dicintainya itu. Air matanya tak kunjung berhenti mengalir.
Fredian menangis di bahu Irna wajahnya terlihat jauh lebih tua di empat puluh tahun usianya, sedangkan Irna di usia tiga puluh sembilan tahun masih tetap terlihat di usia dua puluh tahun.
"Kalian harus segera menikah, atau dia akan terus menua dan cintanya tidak tersampaikan?" Rian menyentuh bahu Irna meminta dia agar menerima Fredian untuk kembali menikah dengannya.
Irna hanya tersenyum mendengar bujukan Rian untuk menerima Fredian.
Akhirnya mereka menikah di Reshort milik Fredian seminggu setelah pertemuan mereka berdua.
Alfred sudah menginjak remaja, mereka mengambil foto bertiga di acara pernikahan tersebut.
Pernikahan mereka tidak bertahan lama karena di usia ke sepuluh tahun pernikahan dengannya Fredian menghembuskan nafas terakhirnya karena penyakit liver akut.
Irna memiliki rumah sakit pribadi di Perancis, dia dan Alfred memilih tinggal di sana. Sedangkan Rian masih tetap berada di London dan tidak kunjung menikah.
Sudah bertahun-tahun Arvina yang menemaninya, tapi entah kenapa dia tetap memutuskan untuk melajang dan tidak ingin menoleh kepada siapapun.
Sudah sepuluh tahun sejak kepergian Fredian Irna tinggal di Perancis. Dan Rian masih tetap mengelola NGM. Sedangkan Alfred menjadi penerus mengelola Reshort sepeninggal kakek dan neneknya.
"Dokter apakah anda akan pergi?" Tanya Arvina ketika melihat Rian mengemasi beberapa barang ke dalam koper.
"Iya kamu yang akan memegang kendali NGM selama aku pergi." Ujar Rian sambil tersenyum.
Pria yang sudah beruban itu terus tersenyum memegang foto di tangannya. Itu adalah foto mereka berempat, Irna, Alfred, Fredian, dan dirinya.
"Kalau boleh tahu kemana Dokter akan pergi kali ini?" Tanya Arvina lagi.
"Perancis." Jawab Rian kemudian menyeret kopernya keluar dari kantornya.
Begitu banyak lika-liku kehidupan di antara mereka, akhirnya tidak ada yang bisa terus hidup dan terus berbahagia. Akan ada rasa kehilangannya dan kebahagiaan datang silih berganti di antara keduanya.
Mungkin ini yang di sebut takdir? atau mungkin sebuah kisah yang sudah berakhir?
"Aku akan pergi menemuimu di usiaku yang sudah sangat renta ini, aku tidak berharap kamu akan menerimaku. Tapi aku datang untuk melihatmu. Dan hanya akan tetap berdiri di sebelahmu, di sekitarmu."
"Aku juga tahu di usiaku sekarang aku sudah tidak bisa menjadi pelindungmu atau mengangkat tubuhmu seperti dua puluh tahun yang lalu. Tapi aku akan tetap pergi untuk melihatmu."
"Aku tidak berharap waktu berhenti di usiaku saat aku masih berada di sisimu. Aku hanya akan tetap berada di sekitarmu, tanpa syarat tanpa permohonan dan tanpa harapan."
Angin berhembus lembut mengiringi langkah pria itu di balik topi kain yang menutupi kepalanya. Kacamata tebal membingkai di kedua matanya.
Daun maple jatuh berterbangan mengiringinya seolah cuaca musim gugur menyambut kedatangannya di Perancis saat itu.
Gadis belia tersenyum menatap ke arahnya. Seolah-olah seorang cucu yang sedang menanti kedatangan kakeknya.
Gadis itu berlari memeluk pinggangnya dengan hangat. Rian mengecup keningnya.
"Biarkan aku yang membawakan kopermu kakek!" Ujar Irna sambil memiringkan kepalanya melihat Rian yang menahan tawa.
"Aku bingung kenapa kamu tetap tinggal di usia dua puluh tahun, seharusnya kita menua bersama-sama." Ujarnya sambil mengusap rambut Irna.
"Mungkin aku yang harus merawatmu jadi aku tetap muda sampai sekarang?" Seloroh Irna ketika mendengar Rian bergumam.
"Aku masih mencintaimu!" Ujar Rian sambil meraih pinggang Irna ke dalam pelukannya.
Gadis itu hanya tersenyum mendengar ungkapan perasaan Rian yang bertahun-tahun tetap mencintainya.
"Tapi jika kamu menikahiku sepertinya pinggangmu yang akan patah!" Kelakar Irna mengakhiri percakapan mereka berdua.
Rian hanya bisa menghela nafas panjang melihat wajah belia yang tidak berhenti tersenyum melihat ke arahnya.
__ADS_1
bersambung...