Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
Confidence


__ADS_3

Akhirnya Angelina memilih untuk mengembalikan tubuhnya. Rian dengan wajah cemas masih mengamati monitor dari ruang kerjanya. Dia melihat Angelina memejamkan matanya sesaat sebelum proses operasi tersebut dimulai.


"Apa yang terjadi apa wanita itu milih tidur di dalam ruangan operasi???!" Rian berdiri berjalan mondar-mandir di dalam ruangan kerjanya. Lalu setelah lima menit terlihat Angelina menatap ke arah monitornya, gadis itu mengedipkan sebelah matanya.


"Astaga jantungku!" Rian melompat ke sofa sambil memegangi dadanya.


"Dia kembali! Dia memegang kendali operasi hari ini! Irna.. " Pria itu tersenyum bahagia sekali. Dia sangat bahagia sampai terlihat hampir gila.


"Sudah selesai!" Irna tersenyum menatap ke arah rekan satu timnya. Mereka terlihat pucat karena hampir terkena nasib sial akibat dokter di depannya itu.


"Kenapa? Apa terjadi sesuatu?" Suara Irna terdengar normal seperti biasanya. Wanita itu sedang mencuci tangannya di westafel bersama rekan satu timnya.


"Apakah anda kehilangan ingatan beberapa hari terakhir. Maaf dokter Kaila. Anda terlihat sangat aneh dan berbeda sejak pagi ini. Dan kami hampir tidak mempercayai jika itu adalah anda."


Ungkap Irene gadis cantik salah satu staf yang selalu membantunya di meja operasi.


"Oh itu, aku sengaja bermain peran! Mungkin saja suatu saat nanti aku akan menjadi artis di dunia perfilman! Hahhahaha!" Ujarnya sambil tertawa lebar untuk menghapus suasana tegang di sana.


Bayangannya kembali ke masa lalu saat dia masih bekerja sebagi artis dan juga modeling sebelum mengalami kecelakaan tragis, hingga terpaksa mengubah identitas dirinya waktu itu.


Rekan satu timnya juga ikut tersenyum mendengar itu, mereka merasa begitu lega tidak dipecat oleh Presdirnya.


Irna mengganti baju operasinya, lalu melangkah keluar dari dalam ruang ganti tersebut.


"Bagaimana operasi hari ini?" Tanya Rian padanya, pria itu sudah berdiri di belakang punggungnya membawa dua cangkir kopi panas kesukaan Irna. Saat dia hendak melangkah menuju ke kantin. Rian tahu Irna selalu meminum kopi panas setelah menangani proses operasi.


"Sukses!" Sahut Irna sambil merebut cangkir dari genggaman tangan pria tinggi maskulin itu.


Mereka duduk di kursi lorong rumah sakit seperti biasanya.


"Apa terjadi sesuatu pagi ini? Kenapa dia kembali mengambil alih tubuhmu?"


"Ada penyerbuan di rumah kami. Mereka berdatangan tanpa henti, aku rasa ini karena bunga ini!" Irna membuka telapak tangan kanannya, bunga itu muncul di sana. Teratai biru tersebut bersinar terang sekali, dan hanya mereka berdua yang bisa melihat itu.


"Ini milikmu." Rian kembali mengeluarkan card untuknya. Dia sudah memberikan itu pada Angelina tapi Fredian mengembalikan padanya.


"Oh? Aku punya uang, bahkan gajiku bulan kemarin belum sempat aku belanjakan." Ucapnya sambil memasukkan kartu tersebut kembali ke saku mantan suaminya itu.


"Ini untuknya, dia bilang kamu tidak memberikan pin kartumu."

__ADS_1


Irna tersenyum mendengar ucapan Rian. "Hem."


"Kamu wanita yang sangat pelit!" Umpat Angelina dari dalam tubuhnya.


"Aku wanita yang pelit, jadi kita bekerja sama saja. Berikan semua jurus-mu padaku. Agar aku tidak lemah lagi." Ujarnya pada Angelina.


Angelina seperti mendapat jalan buntu gadis itu hidup di masa lalu sedangkan Irna hidup di masa kini. Akhirnya dia memilih menyerahkan semuanya kepada Irna.


Tanpa pemberitahuan apapun tiba-tiba Angelina menumpahkan seluruh kekuatannya.


Irna menahan sakit, memori beribu-ribu tahun sebelumnya masuk ke dalam pikirannya, menerobos bersamaan.


"Akkkhhh! Rian.. bawa aku masuk." Irna meremas lengan mantan suaminya itu. Rian meletakkan kopinya di atas kursi lalu mengangkat tubuh Irna masuk ke dalam ruang kerjanya.


Dia tidak perduli dengan pandangan mata para karyawan yang ada di sekitarnya. Pria itu terus melangkah dengan gagahnya menuju ruangan presdir.


"Rian kepalaku sakit sekali." Irna merintih meremas lengan pria itu dengan sangat kuat. Dia masih berada di dalam gendongannya.


Sampai di dalam ruangannya pria itu meletakkan tubuh Irna di atas sofa.


"Apa yang terjadi?" Tanyanya pada Irna. Butir-butir keringat keluar mengucur deras dari dalam pori-pori kulit putih gadis cantik di depannya itu.


Tiba-tiba rasa hausnya dengan darah tidak bisa terbendung lagi. Wanita itu meraih kepala Rian dan menancapkan gigi taringnya di sana.


"Akkkkhhhh! Irna!" Rian memekik karena Irna menghisap darahnya. Pria itu memeluk pinggang mantan istrinya. Memeluknya erat sekali menahan luka di lehernya.


"Ambilah semaumu.. aku memberikannya untukmu wanitaku satu-satunya.. " Bisiknya sambil memejamkan matanya.


Irna menjadi normal kembali, setelah meminum darah Rian. Kekuatan dalam dirinya tidak lagi meradang membuatnya sakit seperti sebelumnya.


Tubuhnya masih berada dipelukan Rian. "Rian?" Panggilnya pada pria itu.


Wajah Rian terlihat sedikit pucat akibat kehilangan darahnya."Aku tidak apa-apa, aku baik-baik saja!" Ujarnya sambil tersenyum seperti biasanya.


Irna melihat luka di lehernya, segera mengambil peralatan medis untuk mengobatinya. Gadis itu segera menutup luka di lehernya dengan kain kasa dan plester setelah mengoleskan obat.


Rian bertumpu pada paha Irna beberapa kali dia meremas karena menahan pedih pada lehernya akibat cairan antiseptik yang dituangkan Irna di atas lukanya.


"Apakah masih sakit sekali?" Irna sangat khawatir karena pria itu meringis menahan sakit berkali-kali meremas pahanya.

__ADS_1


"Tidak, maafkan aku. Aku berpegangan pada paha-mu!" Ucapnya tiba-tiba sambil mengangkat kedua tangannya dari sana.


Irna melihat kedua pahanya yang kini telah berwarna merah, "Tidak apa-apa, untuk ganti darah yang kamu berikan padaku." Ucapnya pada Rian.


Irna tahu Fredian akan marah sekali mendengar dia menjelaskan segalanya. Melihat kedua paha mulusnya menjadi merah karena remasan jemari pria tampan di depannya itu.


"Aku akan kembali ke Resort, nanti sore." Ujarnya pada pria yang sedang bersandar di atas bahunya saat ini.


"Kamu akan meninggalkanku?" Irna ingat tidak ada siapapun yang akan mengurusnya ketika dia pergi nanti.


"Aku lupa, sebentar aku akan menghubungi Fredian. Aku akan bilang padanya." Irna mengambil ponselnya dari dalam saku bajunya.


"Halo Fred?"


"Iya kenapa? Jangan bilang kamu tidak akan pulang? Atau lembur."


"Dari mana kamu tahu?"


"Nada suaramu itu terdengar sama seperti sebelumnya." Pria itu masih berada di dalam ruangan rapat. Membahas beberapa proyek yang akan dia tangani Minggu ini bersama rekan bisnisnya.


"Aku akan pulang setelah melihatnya pulih. Ceritanya panjang Fred. Aku akan kembali ke Resort, atau kamu yang kemari untuk membuktikan perkataan-ku."


Irna menggigit ujung kuku ibu jarinya, dia takut pria itu akan marah lagi, merajuk lagi dan tidak mau melepaskan dirinya dari dalam pelukannya berhari-hari. Jika dia mengingat itu tubuhnya tiba-tiba terasa sangat panas dingin.


Terdengar suara nafas Rian perlahan,


"Siapa itu! Pria di bahumu?!" Fredian sedikit berteriak sampai membuat rekan bisnisnya melotot kaget karena tiba-tiba dia berdiri dari tempat duduknya.


"Ini aku." Jawab Rian karena mendengar suara teriakannya.


"Kamu? Kenapa kamu begitu dekat."


"Dia meminum setengah lebih darah di dalam tubuhku. Tubuhku lemas sekali." Ujarnya dengan suara lemah.


"Ya sudah!" Fredian segera memutuskan panggilan teleponnya. Lalu kembali melanjutkan rapatnya.


"Dia sedang lemah! Jadi tidak mungkin melakukan sesuatu pada Irna!" Ujarnya dalam hatinya, dia berharap pekerjaan nya segera selesai secepatnya. Hingga bisa pergi menyusul Irna di sana. Menepis bayang-bayang hitam masa lalunya.


Bersambung...

__ADS_1


Like, like, like, thanks....


__ADS_2