
Berlin, Jerman...
Kania membawa tubuh Irna ke Jerman. Rian memiliki rumah sakit khusus yang sengaja didirikan untuk putri satu-satunya itu. Royd terkejut karena baru kali itu Kania mengajaknya ber-teleportasi.
Rumah sakit tersebut terletak di sekitar area istana Sanssouci, Postdam. Sekitar 45 menit dari kota Berlin Heidelberg University, dimana gadis itu menuntaskan kuliahnya sekarang.
"Kania letakkan tubuh ibumu di sini." Royd sudah menata peralatan medis di ruang khusus. Pria itu bersiap memakai pakaian operasinya.
Dia meminta Kania untuk membantunya. Setelah segalanya siap, Kania juga berdiri di seberang meja operasi bersiap untuk membantu pria itu.
Alangkah terkejutnya mereka berdua saat membuka baju Irna yang penuh darah itu. Tubuhnya tidak terluka sama sekali. Denyut nadinya kembali normal. Wanita berstatus sebagai ratu Vertose tersebut membuka matanya.
Sinar matanya berkilat-kilat merah menyala, Royd melangkah mundur. Baru kali itu dia melihat mayat hidup kembali.
Irna menoleh ke arahnya, gadis itu memiringkan kepalanya sambil mengerjapkan matanya berkali-kali. "Kamu siapa?"
"Wah, kenapa ada vampir secantik ini...." Pria itu terbengong-bengong melihat wajah pucat Irna kembali segar seperti sedia kala. Dan gaunnya yang tercabik-cabik menampilkan dua buah benjolan mulusnya.
"Duakkk! tutup matamu brengsek!" Kania menendang kaki pria itu ketika melihatnya jelalatan menatap wajah ibunya.
"Iya, aku akan berbalik badan! akh kakiku!" Keluhnya sambil mengusap tulang kering pada kaki kanannya.
"Mama!" Kania menghambur memeluk ibunya.
"Kania? sayangku? ibu rindu sekali nak.. kenapa kamu tidak pernah mengunjungi ibu?" Irna menyentuh kedua pipinya dengan lembut, menempelkan keningnya di kening Kania.
"Dia ibunya?? mereka terlihat sebaya!" Gerutu Royd yang kini telah menghadap ke arah dinding membelakangi mereka berdua.
Irna kembali menatap manusia yang memunggunginya sekarang, dia tersenyum kemudian menjentikkan jarinya. Bajunya dalam sekejap berubah menjadi gaun indah berwarna putih.
"Sudah! balik badanmu bodoh!" Kania menyentuh kaki Royd dengan ujung sepatunya. Pria itu kemudian berbalik, dia melihat wajah Irna begitu cantik. Rambut panjangnya sudah digelung rapi ke atas.
"Siapa kamu?" Irna mengulangi pertanyaannya pada Royd.
__ADS_1
"Saya adalah raja pemburu, tapi saya tidak sedang memburu, saya, anu," Pria itu kebingungan ingin menjelaskan segalanya pada Irna. Dia tidak bisa mengatakan apa-apa, karena takut menyinggung perasaan Irna. Dan dia mencintai Kania tanpa meminta izin padanya terlebih dahulu.
"Pria ini memberikan nyawanya padaku Ma." Ucap Kania pada ibunya.
"Oh putriku sudah dewasa sekarang?" Irna membuka lebar-lebar matanya, mendengar jawaban dari putrinya.
"Jika diizinkan, saya ingin menikahinya." Royd menundukkan kepalanya meminta izin pada Irna.
Irna hanya tersenyum, lalu menatap ke arah putrinya. "Secepat ini?"
"Diam kamu dasar bodoh!" Kania menyumbat bibir Royd dengan telapak tangannya, agar pria itu berhenti bicara tentang hubungan mereka berdua.
"Kania sayang, apa kamu ingin menikah sekarang?" Tanya Irna padanya. Kania langsung menggelengkan kepalanya berkali-kali. Lain hal dengan Royd, pria itu terus-menerus menganggukkan kepalanya mengiyakan pertanyaan Irna.
"Jrakk! aakkhhh! kakiku!" Kania melindas kaki Royd dengan sepatunya, membuat pria itu memekik merasakan pedas jari kakinya di dalam sepatunya karena lecet.
"Tidak ma, Kania ingin menyelesaikan studi dulu! jangan dengarkan pria bodoh ini." Meremas lengannya dengan sekuat tenaga.
"Akh! Kania, lenganku! tulangku bisa remuk!" Keluh Royd sambil memegangi genggaman tangan gadis itu pada lengannya.
"Sepertinya kamu sudah mencicipi tubuh putriku! jika sampai terjadi sesuatu padanya, kamu orang pertama yang akan menjadi makananku!" Bisik Irna di telinga pria itu.
Royd mendadak wajahnya berubah pucat, "Baik, saya bersedia memberikan nyawa saya untuk Kania. Asalkan jangan pisahkan kami berdua!" Ujarnya sambil duduk bersimpuh di bawah kaki Irna.
Kania menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya, dia merasa pria itu tidak berguna sama sekali. "Berdirilah! dasar memalukan!" Gertak Kania sambil menarik lengannya agar berdiri.
"Kania? kamu apakan pria ini? Kenapa dia jadi seperti setengah gila?"
"Aku berkali-kali ingin membunuhnya ma, tapi dia berkali-kali juga hanya pasrah membiarkan aku melukainya. Aku tidak punya cara lain, selain membiarkan dia terus mengekor ku kemanapun." Jelasnya pada Irna.
Irna kembali teringat pada Rian, dia ingat pria itu berteriak histeris sesaat sebelum tubuhnya tumbang ke belakang.
"Kemana papamu?"
__ADS_1
"Papa Rian pergi bersama papa Fredian, mereka bilang ingin mengobrak-abrik kastil monster yang menyerang mama." Irna terperangah mendengar tuturan Kania.
"Astaga! apa mereka pikir bisa menghadapi mereka semua! Royd, aku titip putriku! ctik! blab!" Irna lenyap dari pandangan mereka berdua, lalu muncul dimana Rian dan Fredian berada sekarang.
Di sebuah kastil...
"Syuuuuuusssh! jrak!" Irna turun di belakang dua pria yang tengah sibuk bertempur.
"Hhahahahahha! kamu! apa yang kamu pakai itu!? apakah ini baju seragam pangeran William??! Huaaahhhaaahhahha!" Irna kembali terpingkal-pingkal menatap Rian.
Pria itu memakai baju besi, seperti peperangan bangsa Romawi zaman kuno. Sedangkan Fredian, dia memakai baju serba hitam seperti biasanya, membuatnya lebih ringan melesat kesana-kemari menebas para musuhnya.
"Kamu menertawaiku! lalu lihat sendiri gaunmu! kenapa kamu memakai baju putih? kamu ingin terbang bersama malaikat ke angkasa! sialan, aku pikir kamu hantu!" Gerutu Rian.
"Aku sendiri juga bingung, aku membuka segelku, tapi kenapa pakaian konyol ini yang muncul ketika aku mengaktifkan mode tempur!?" Rian ternyata tidak mengerti bagaimana dia harus bertempur, pria itu terlalu lama hidup bersama manusia. Dan sejak kecil hanya menggunakan ramuan untuk menghabisi musuhnya.
Sedangkan Fredian sejak awal selalu berada di medan tempur, sejak segelnya terlepas. Irna menyentuh bahu Rian, pakaian tempurnya mendadak berubah menjadi setelan jas hitam seperti Fredian.
"Kenapa kamu merubah baju besinya? hosh! hosh! hosh! dia lebih aman memakai itu. Dia hampir tidak bisa mengayunkan senjatanya! dasar tidak berguna!" Umpat Fredian padanya. Pria itu tengah memegangi kedua lututnya sendiri, sambil mengatur nafasnya. Dia kelelahan karena terus bertempur.
"Fajar sebentar lagi menyingsing, kita lebih baik segera kembali. Aku akan mencari tahu kenapa mereka tiba-tiba muncul dan menyerang kita." Jelas Irna pada mereka berdua, Irna memegangi kedua lengan pria itu untuk membawanya ber-teleportasi.
Irna bersama mereka bertiga kembali ke Resort Fredian dalam sekejap. Berada di dalam kamar yang ada di dalam ruang kerja suaminya itu.
Kebetulan sekali, Karin sedang berada di dalam ruangan kerjanya membicarakan sesuatu dengan Nira.
Fredian melepaskan jasnya karena basah kuyup dengan keringat, begitu juga Rian. Dua pria bertubuh kekar itu tidak memperhatikan Irna ada di sana.
"Kalian?! astaga! kalian apa sudah gila?!" Teriak Irna kencang sekali, apalagi mereka berdua bersama-sama keluar dari dalam kamar tersebut menuju ruangan kerja Fredian sambil menenteng jasnya masing-masing.
Seluruh kancing shirt lengan panjang mereka hampir sepenuhnya terbuka, Irna memegangi lengan mereka berdua berusaha menahan agar mereka tidak keluar dari dalam kamar bersamaan.
*Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like sebelum pergi+ vote juga ya? Jangan lupa tunggu episode selanjutnya oke? thanks for reading... I want to say I Love You.. i love you Readers ❤️❤️*