
"Irna!" Cegah seseorang ketika ia beranjak masuk ke dalam ruangan kerjanya.
"Apa kamu tidak dengar, aku sudah menolakmu di telepon."
"Aku melamarmu sekarang, dan aku serius!" Tambah Reynaldi bersikeras.
Irna melemparkan pandangan ke luar,
"Kamu mengundang wartawan?!" Teriaknya terkejut.
Reynaldi mengangkat kedua bahunya.
"Dengarkan aku, kamu hanya akan memperburuk keadaan! jika beberapa orang tahu apa yang kamu lakukan sekarang, aku tidak bisa menjamin keamanan dirimu! Oke? suruh mereka bubar dan aku serius sudah menolakmu!" Ujar Irna masih memegang keningnya.
Tak lama kemudian tiga mobil mewah datang, Para Presdir itu keluar dari mobilnya masing-masing.
Irna melihat keluar kantor dengan wajah tidak percaya.
"Adik kakak Aditama??!" Apa mereka ingin berduel di kantorku? Dan juga Fredian?! kepalaku rasanya seperti kemasukan bom dan akan meledak!" Ujar gadis itu mendelik ke arah Reynaldi.
"Ini gara-gara kamu! aku sudah sangat sibuk seharian menghalau satu persatu! tapi gara-gara kegilaanmu mereka datang bersamaan kemari!!"
Mereka bertiga menerobos masuk ke dalam kerumunan massa, semakin lama halaman kantornya semakin berjibun penuh massa.
"Suruh para wartawan itu pergi!" Teriak Irna sudah tidak sabar.
"Aku tidak akan pernah menyuruh mereka pergi sebelum kamu menerimaku sebagai calon suamimu!"
"Siapa kamu?! berhak menentukan jalan hidupku! baiklah kalian harus kecewa hari ini! dan aku tidak akan minta maaf padamu!" Tandas Irna mengakhiri percakapan dengan Reynaldi.
Rian, Reyfarno, Fredian, masuk ke dalam kantor Irna. Gadis itu hanya tersenyum melihat wajah kacau mereka bertiga.
"Oke! aku akan bertanya padamu dahulu Presdir Eagle star, ada apa kalian kakak beradik tiba-tiba kemari?"
"Aku datang untuk menghentikan lamaran pria ini!" Rian menunjuk ke arah Fredian.
"Dan kamu?!" Irna menunjuk ke arah Reyfarno.
"Aku hanya ingin mencegah adikku untuk menemuimu!"
"Dan kamu? kenapa kamu juga ikut-ikutan kemari, kita sudah bicara sejak pagi buta?"
Mendelik ke arah Fredian.
"Aku masih sangat merindukanmu.." Ujar Fredian meraih telapak tangan Irna menciumnya sengaja pamer di depan mereka bertiga.
"Haruskah aku mengikuti drama kali ini???" Ujar gadis itu dalam hati, Irna masih bingung harus berkata apa.
"Aku mulai darimu, Rian. Aku sudah tidak ada hubungan apapun dengan dirimu jadi kenapa kamu harus repot-repot mencegah Fredian melamarku??" Tanya Irna tidak mengerti.
"Hatiku tidak bisa menerima kenyataan jika kamu menerimanya! dan aku tidak percaya kamu menyukai kakakku!" Jawaban Rian membuat wajah Irna memerah menahan malu.
Reyfarno mendelik ke arah Irna, juga Reynaldi, dan Fredian.
"Apa katanya? kamu menyukai pria ini??" Fredian menunjuk ke arah Reyfarno.
"Ah, sialan Rian dengan sengaja membuka percakapan pagi tadi di depan semua orang!" Umpat Irna dalam hatinya.
Reyfarno tidak mengerti dengan apa yang telah di dengarnya.
__ADS_1
"Aku butuh penjelasan!" Ujar Reyfarno menarik lengan Irna menuju atap kantor. Kemudian mengunci pintu masuk.
"Mereka akan mengamuk jika kamu mengunci pintunya." Ujar Irna sangat santai.
"Apa maksud dari ucapan Rian barusan?!" Sergahnya tidak sabar.
"Aku hanya melanjutkan skenario yang kamu buat untukku. Bukankah kamu melakukannya untuk menjauhkan Rian dariku? dan berharap dia menemukan wanita yang lebih baik?" Jelas Irna pada Reyfarno.
"Kamu salah! jika kamu berfikir aku melakukannya untuk Rian!"
"Lalu?" Irna semakin tidak mengerti.
"Aku melakukannya untukmu!"
Jawaban Reyfarno membuat kedua kaki Irna mendadak gemetar.
"Kamu benar-benar sudah tidak waras! aku mungkin bisa memaklumi mereka. Tapi kamu, kamu adalah kakaknya! apa kamu ingin membunuh adikmu sendiri?!" Irna tidak bisa menahan amarahnya lagi.
"Jika aku memintamu untuk menjauh, dan berhenti ikut campur. Apakah kamu bisa mengerti. Dan aku tidak ingin terlibat masalah denganmu, jadi aku tidak akan menerimamu apapun alasannya!" Tambah Irna lagi.
"Aku tampan dan juga seorang Presdir, aku memiliki segalanya. Dan wanita manapun tidak pernah menolakku!"
Ucapan Reyfarno membuat Irna tertawa terpingkal-pingkal.
"Ha ha ha ha! kamu lucu sekali."
"Coba kamu cermati mereka bertiga! Di antara mereka apa ada yang kurang? ketampanan, kesuksesan, harta, wanita, mereka semua juga memiliki apa yang kamu pamerkan padaku!"
"Ah sudahlah aku lelah berdebat denganmu!" Ujar Irna memutuskan percakapan kemudian berbalik hendak menuju tangga turun ke bawah.
Reyfarno menahan lengannya.
"Aku sudah menodai kehormatan diriku, sejak aku menemuimu tadi pagi!" Ujarnya melihat lekat-lekat wajah Irna.
Pikiran gadis itu kembali pada kejadian pagi tadi ketika pria dihadapannya itu menciumnya dengan paksa.
"Lepaskan tanganku Reyfarno! aku sangat membencimu!!" Teriak Irna sudah tidak sabar.
"Jika aku tidak mau melepaskanmu!?" Pria itu berbisik di telinga Irna. Membuat sekujur tubuhnya bergidik.
"Kraaak!" Irna menginjakkan sepatunya ke kaki pria itu dengan keras, tapi anehnya pria itu tetap tidak melepaskan lengannya.
Malah meraihnya dalam pelukannya.
"Mau apa kamu!" Teriaknya menahan dada Reyfarno.
"Kamu wanita yang sangat menarik! aku jadi ingin menaklukanmu!" Desisnya menatap tajam kedua mata bening milik Irna.
"Aku menghormatimu karena aku pikir kamu kakak yang baik, tapi kamu sungguh membuatku muak!" Irna kembali meronta saat Reyfarno ingin mencium bibirnya.
"Braaaakkkkk! Oh jadi ini yang kalian lakukan kenapa lama sekali!" Ujar mereka bertiga serentak.
Rian segera menarik lengan Irna dari pelukan Reyfarno, tapi Reyfarno tidak mau melepaskan genggaman tangannya.
"Apa kamu akan kembali padanya?!" Tanya Reyfarno pada gadis itu.
"Pertanyaan yang sama! pertanyaan yang membuatku muak!" Teriak Irna menatap ke arah Reyfarno.
"Kalian semua dengarkan aku! aku tidak memihak siapapun di antara kalian! aku ingin pulang sekarang! aku lelah sekali! jika kalian ingin berduel juga silahkan! aku tidak peduli lagi!"
__ADS_1
"Dan satu lagi! jangan sekali-kali menggunakan diriku untuk bahan taruhan! Jika tidak! aku tidak segan membunuh kalian satu persatu!" Ujar Irna mengancam, menyentakkan kedua tangannya dari genggaman Reyfarno dan Rian.
Mereka berdua tidak mau melepaskan genggaman tangannya.
"Lepaskan tanganku!" Menghardik ke arah Reyfarno.
"Jika kamu menerimaku aku akan melepaskan dirimu!"
Irna kemudian melotot ke arah Rian.
"Jika kamu menerimaku aku juga akan melepaskan dirimu!"
"Kalian?" Tatapan Irna beralih kepada Fredian dan Reynaldi.
"Aku juga sama, aku akan menolongmu jika kamu menerimaku!" Ujar Reynaldi.
Melihat pernyataan mereka bertiga Fredian segera merebut Irna dari genggaman mereka berdua, membawa gadis itu pulang tanpa berkata apapun.
Irna menoleh menatapnya.
"Jangan bertanya apapun, aku tidak ingin bicara ataupun menjawab pertanyaan darimu." Ujarnya mencegah Irna ketika gadis itu membuka mulutnya hendak bicara.
Pria itu mengantarkan Irna kembali ke rumah.
"Turunlah.." Ujar pria itu membuka pintu mobil untuknya.
Fredian mengikuti Irna masuk ke dalam rumah. Irna bingung harus memulai percakapan dari mana, sejak awal dia dan Fredian mengawali hubungan tanpa pernah ada adu mulut.
Juga ketika mereka memutuskan untuk mengakhiri hubungan antara keduanya. Irna juga tidak banyak protes ketika menukarkan dirinya dengan vaksin.
Irna hanya menghela nafas panjang, gadis itu merebus air untuk membuat dua cangkir kopi.
Fredian duduk di ruang tengah menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa.
Irna meletakkan kopi di atas meja.
"Aku membuatkan kopi untukmu, aku tidak tahu seleramu. Karena selama ini aku hanya melihat pelayan yang sangat banyak berdiri di sekitarmu untuk melayanimu, aku akan menyiapkan makanan."
"Jika kamu ingin mandi kamar mandinya ada di sebelah sana." Tambah Irna lagi.
Fredian beranjak berdiri menuju ke kamar mandi, ketika masuk ke dalam.
Tatapan matanya tertuju pada sabun mandi pria, pasta gigi, shampoo, dan segala perlengkapan mandi pria.
Fredian ingat jika sebelumnya Irna tinggal bersama Rian.
"Apakah aku masih cemburu hanya dengan melihat sisa-sisa ini?!" Ujarnya pada dirinya sendiri.
Fredian segera membersihkan dirinya menggunakan sabun dan shampo milik Rian. Rambutnya masih basah ketika dia keluar dari dalam kamar mandi.
Sehelai handuk berada di atas tengkuknya, dia gunakan untuk mengeringkan rambutnya yang masih basah.
Irna menyiapkan semangkuk sup, di atas meja makan. Fredian duduk di depannya.
"Aroma ini... deg!" Irna berkata dalam hatinya.
Mendadak wajah Irna berubah, dan Fredian melihatnya.
"Kamu makanlah, aku akan mandi dulu." Gadis itu segera berlari ke dalam kamar mandi. Kemudian menutup pintu.
__ADS_1
bersambung..