
Setelah pertemuan kedua keluarga berlangsung mereka akhirnya berpamitan pada Irna dan Fredian.
Irna menanti hari esok, dia harus melakukan pemotretan untuk perusahaan Rossdale dan Irna menunggu Jermy menghubunginya untuk menentukan lokasi pemotretan.
Kontrak kerjasama kali ini benar-benar menyulitkan posisi dirinya. Selain pemotretan setiap minggunya, segala sesuatunya harus melalui persetujuan Jermy.
Untuk lokasi, gaun, dan segala perlengkapan pemotretan harus melalui persetujuan pria itu. Begitulah yang tertulis dalam pasal-pasal ikatan kontrak kerja tersebut.
Irna berada di rumahnya, dia memijit pelipisnya menahan nyeri. Rian berada di dapur membuat secangkir kopi untuknya.
"Kenapa wajahmu seperti itu?" Tanyanya sambil duduk di sebelahnya.
"Tidak apa-apa, aku hanya mempelajari kontrak yang tertera di sini, seolah-olah pria itu ingin menyingkirkan seluruh orangku!" Menyodorkan berkas kontrak kerja di depan Rian.
"Wah! dia bahkan menyiapkan bodyguard untukmu." Rian tertawa terpingkal-pingkal membaca poin-poin di sana.
"Dia ingin membuatku sebagai tahanan." Geram Irna dengan amarah tertahan.
"Pria lembut itu.. apakah itu hanya kedok di balik sifat sok berkuasanya ini?" Gumam Irna sambil menimang-nimang kertas di atas meja.
"Aku bisa membayar pinaltinya jika kamu ingin menolak kerja sama antara kalian." Menatap wajah Irna dengan lekat-lekat.
"Hahahaha! jangan lupa aku sudah menikah." Ujarnya terkekeh-kekeh melihat wajah serius di depannya saat ini.
"Siapa yang lupa? aku hanya menawarkan bantuan!" Gerutunya sambil menyeruput kopi yang dia buat untuk Irna.
Diikuti Irna setelah dia meletakkan cangkirnya. Membuatnya tersenyum menatapnya dan tidak jadi berwajah masam.
Pria itu menopang kepalanya mencermati gadis yang sedang menikmati kopi buatan tangannya.
"Kamu sadar tidak? setiap hari bibir kita berciuman secara tidak langsung?" Mencoba bergurau dengan Irna.
"Kamu jangan bercanda, darahmu sudah mengalir di sini, darahku juga mengalir di sana.. Fredian dan kakakmu Reyfarno." Menunjuk tubuhnya, dan tubuh Rian.
"Kita berempat memiliki campuran yang hampir sama." Tambahnya lagi.
"Apa yang kalian bicarakan kelihatannya sangat serius?" Mengambil cangkir kopi di depan Irna ikut meminumnya.
"Astaga! satu cangkir tiga orang!" Gumam Irna sambil menutup bibirnya.
"Kok rasanya lain?" Ujar Fredian sambil melirik ke arah mereka berdua. Di susul gelak suara tertawa bersama mereka bertiga.
"Aku yang akan mengantarkan dia ke lokasi pemotretan." Ujar Rian sambil menatap wajah Fredian.
"Aku akan menyusul setelah menyelesaikan setengah berkasku." Menatap Irna sambil menggenggam jemari tangannya.
"Ini pemotretan akan berlangsung di lokasi berbeda setiap minggunya dan mereka langsung menjemputku ke rumah. Juga membawa lima bodyguard untuk mengawalku!" Terangnya sambil memainkan cangkir di atas meja.
"Jabatanmu sepertinya melebihi petugas negara! sampai dikawal lima bodyguard???" Gurau Fredian mengerling menatap wajah Irna.
"Sampai kapan kalian berdua berhenti meledekku?!" Menarik daun telinga kedua pria itu.
"Akh! aduh lepas sakit!" Ujar kedua pria itu bersamaan.
"Aku akan melepaskan kalian, jika kalian berhenti mengacaukanku!" Ujarnya dengan wajah serius, lalu melepaskan pegangannya pada telinga mereka berdua dan melangkah ke lantai atas menuju kamarnya.
"Aku lelah sekali..." Gumamnya lalu tertidur.
"Bagaimana kita bisa mengetahui lokasi pemotretan itu jika caranya begitu?" Tanya Fredian pada Rian meminta solusi.
"Taruh saja alat pelacak pada ponselnya!" Ucap Rian penuh semangat.
"Jika dia tidak mengijinkan untuk membawa telepon?" Tanya Fredian lagi.
"Taruh di dalam tasnya!" Tandas Rian.
"Tapi Irna bilang segala peralatan di siapkan oleh Jermy." Sergah Fredian lagi.
"Taruh pada cincinnya, buat imitasi dari cincin pernikahan kalian! jika masih dilarang atau disuruh melepaskan itu, penggal saja kepala Jermy!" Ucap pria berbaju dokter itu bertubi-tubi dengan wajah penuh emosi.
"Hahahaha! lihat wajahmu! lucu sekali!" Fredian terpingkal-pingkal mendengar Rian berkata demikian.
"Kamu kan kenal dia tidak sehari dua hari, masa masih tidak mengerti bagaimana kelakuan pria sahabatmu itu?"
"Dia sangat tertutup, dia pria yang ramah dan lembut. Tidak suka bergurau dengan wanita, tapi dia bukan tipe pria yang dingin."
"Dia selalu dengan baik menutupi identitasnya, aku juga terkejut dia ternyata menaruh hatinya pada genggaman Irna dan itu sudah sangat lama, bahkan sejak Irna awal menikah denganmu.."
"Pria itu sudah mengambil jarak untuk siap-siap berlari, seperti elang yang siap waspada menerjangkan kakinya untuk mengambil mangsa!"
Fredian menggambarkan sosok Jermy Erlando pada Rian.
__ADS_1
"Kamu melukiskan seorang Jermy seperti seorang kekasih yang sangat mengenalnya dengan baik." Kelakar Rian menahan senyumnya.
"Dia tidak akan melukai Irna, aku mengenalnya dengan sangat baik. Apalagi dia tahu Irna adalah milikku. Hanya saja..." Fredian tiba-tiba wajahnya sedikit berubah hawatir.
"Hanya saja apa?!" Sergah Rian sudah tidak sabar menunggu pria itu untu melanjutkan kata-katanya.
"Hanya saja dia akan terus berusaha menjinakkan tahanannya, sampai tahanan tersebut berubah menjadi sangat nyaman bersamanya."
"Dan dia akan mengambilnya dari pemiliknya. Pria itu sifatnya sangat kompleks, dia memiliki sisi lembutmu, dan dia bisa meniru sifatku juga kepribadian orang lain di sekitarnya."
"Itulah kenapa dia begitu sulit di tebak, dia berjalan mengikuti sekitarnya. Tidak seperti kita yang memiliki kepribadian masing-masing. Dan juga sangat berbeda dengan orang lain."
"Apa kamu lupa Irna sangat cerdas? menurutmu apakah dia akan jatuh ke sana?" Tanya Rian lagi.
"Aku mempercayainya... dan aku akan terus mempercayainya..!" Ujar Fredian dengan sangat yakin.
"Seharusnya memang begitu, kita harus mempercayainya. Hanya itu yang akan membuatnya tetap kuat."
"Tapi wajahnya juga sangat menawan! Untung saja Irna bisa membedakan mana yang tampan luar dan dalam!" Ungkap Fredian masih merasa tersaingi.
"Hahahaha! dasar! sudah malam aku akan kembali, susul istrimu dia pasti sudah terlelap karena kelelahan." Rian terkekeh-kekeh, melangkah keluar dari dalam rumah Irna.
Dia melihat ke balkon lantai atas ketika hendak masuk ke dalam mobilnya.
Irna tersenyum manis melambaikan tangannya ke arahnya.
"I love you..." Ujar pria itu melalui isyarat gerakan tangannya lalu tersenyum, masuk ke dalam mobilnya dan meluncur pergi.
Pria itulah yang akan menjadi tambatan kedua di hatinya setelah Fredian. Dia sempat menjadi yang pertama di pertengahan pernikahan mereka berdua jika tidak buru-buru menceraikannya.
Rian memilih untuk melepaskan cintanya dengan utuh, melepaskan hatinya untuk gadis itu.
Irna sempat ingin mengembalikan perasaan yang dia berikan padanya dengan gadis yang saat ini menjadi sekretaris di kantornya, Arvina.
Tapi pria itu malah kembali menegaskan perasaannya dan kembali menunjukan hatinya yang tetap utuh untuknya seorang seolah-olah Irna tidak berhak mengganggu gugat atau membuat keretakan di atasnya untuk diberikan pada gadis lain.
"Rian... maafkan aku!" Irna merasakan pedih dalam hatinya, bagaimana tidak.
Berkali-kali karena dorongan pria itu dia bisa kembali menikah dengan Fredian di pernikahan kedua setelah Rian menceraikan dirinya.
Ketiga kalinya saat Rian masih terbaring di rumah sakit untuk menyelamatkan nyawa Irna. Dia yang menyemangati dirinya agar tidak mundur dari Fredian.
Meskipun awalnya dia yang menyebabkan segalanya menjadi rumit, tapi dia sudah membayarnya berkali-kali.
"Kamu memiliki perasaan padanya.." Fredian tersenyum sambil memeluk pinggangnya dari belakang.
"Apakah kamu berniat melemparkan diriku yang sudah berada di dalam genggaman tanganmu kembali ke dalam genggaman dokter tampan itu?!" Irna membalas tuduhan itu dengan pujian kepada Rian.
Menunggu reaksi dari suaminya.
"Dia tampan?!" Fredian mendadak berubah terkejut.
"Ya dia sangat tampan! dan lebih posesif darimu!" Ujar Irna sambil tergelak menahan tawa, dia melihat Fredian menggigit bibirnya sendiri.
"Kenapa? apa hatimu terluka? memangnya siapa yang mengusulkan kamu untuk kembali bersamaku?? hahahaha dasar kamu lucu sekali."
"Dia selalu mengalah dan terus mengalah, demi diriku.." Gumam Fredian, pria itu menghela nafas panjang sambil mempererat pelukannya.
"Aku juga tahu dia mencintaimu, tapi ini bukan perasaan yang merelakan berbagi seperti itu. Perasaan ini yang membuat kita bertiga tetap bersama bertahun-tahun." Tutur Fredian sambil mengarahkan pandangannya ke atas langit.
Begitu banyak bintang bertaburan di atas sana, entah berapa jumlahnya.
Mereka berdua menatap kerlip bintang yang terbentang luas di atas langit..
Campur aduk perasaan bahagia dan sendu di antara mereka bertiga, di antara Rian, Irna, dan juga Fredian.
Jika dibilang mereka adalah sebuah keluarga maka akan sangat terasa aneh dan asing. Jelas-jelas Rian adalah mantan suami dari istri Fredian, sekaligus dokter pribadinya.
Hubungan rumit yang tidak tahu kapan akan tetap seperti itu. Irna tidak bisa menolak uluran tangannya. Keduanya bersikeras berada di sekitarnya.
Kemanapun dia berlari mereka lambat laun pasti menemukan keberadaan dirinya. Dan dari pada membuat keduanya hancur dan berakhir dalam linangan air mata. Dia memilih berdiri di tengah.
Pagi hari...
Irna sudah bersiap-siap di depan cermin. Fredian mengganti cincin di jemari Irna dengan cincin yang sudah didesain persis sama dengan milik Irna.
Satu jam kemudian mobil jemputan yang dikirimkan oleh Jermy telah datang di halaman rumah Irna.
"Fred aku berangkat dulu.." Gadis itu memeluk leher suaminya dan mengecup bibirnya dengan lembut.
"Iya berhati-hatilah, dia adalah seekor elang." Fredian memberikan kunci teka-teki pada Irna mengenai sosok Jermy.
__ADS_1
Irna mengangguk dan melangkah menuju mobil yang telah di siapkan oleh Jermy. Irna merasa seakan-akan akan pergi dalam waktu yang lama.
Irna terkejut ketika mobil mereka menuju ke sebuah bandara. Hanya para bodyguard yang membawanya, Jermy tidak ikut menjemput Irna.
Jermy tersenyum menikmati wajah cantik Irna yang saat itu terkejut karena mereka membawanya ke bandara.
Di dalam mobil jemputan dipasang cctv tersembunyi oleh Jermy dan langsung terhubung dengan layar ponselnya.
Pria itu mencium wajah Irna melalui layar ponselnya.
"Gadis pujaanku, setiap kedipan kelopak matamu begitu memikat! membuat hatiku terus berdebar setiap melihat senyuman di wajahmu." Bisiknya masih terus membelai layar ponselnya.
Dari layar ponselnya Irna memakai kacamata hitamnya dan keluar dari dalam mobilnya menuju ke atas pesawat pribadi milik Jermy.
Pria itu sudah menunggunya di dalam. Sedang kru pemotretan menaiki pesawat yang lain dan sudah terlebih dulu berangkat.
Irna sudah tahu itu, dia tidak terkejut melihat Jermy duduk sendirian menunggunya di dalam pesawat.
"Memangnya apa yang ingin dilakukan oleh pria lajang dengan istri orang lain berduaan di dalam pesawat! dasar kurang kerjaan amat!"
Gerutunya tanpa merendahkan nada suaranya agar Jermy mendengarnya.
Pria itu tersenyum mendengar gadis itu menggerutu di depannya. Irna dengan sengaja memilih tempat duduk yang paling jauh dengan Jermy.
Mau tidak mau Jermy yang mendekati dirinya dan duduk di kursi yang ada di sebelahnya. Irna dengan sengaja menutupi matanya dengan kacamata tidur. Mengatur tempat duduk agar sedikit rebah.
Memilih mengabaikan pria tampan di sebelahnya. Dengan sengaja Jermy pura-pura memegang jemarinya dan meremasnya saat ada sedikit goncangan di pesawat.
Pria itu sengaja menyembunyikan wajahnya di lengan Irna dengan memasang wajah takut.
Irna segera duduk karena pria itu menempel padanya.
"Apa-apaan sih kamu! kamu naik pesawat bukan sekali ini." Gerutu Irna sambil mencoba melepaskan diri darinya.
Pria itu segera mengambil kantong plastik yang digunakan untuk memuntahkan isi perutnya.
"Astaga! kamu pasti dengan sengaja melakukannya! Baaaak!" Irna memukul punggung Jermy Erlando dengan sangat keras.
"Akhirnya gadis manisku mulai membuka percakapan denganku." Bisiknya di dalam hatinya dengan bersemangat.
"Aku kurang sehat, dan sedikit kelelahan bekerja. Jadi seperti ini.." Ujarnya dengan wajah memelas.
"Kalau kurang sehat batalkan pemotretanku, sekalian batalkan kontrak kerja sama kita aku pasti akan sangat senang! Baaaak!"
Kembali memukul punggung Jermy dengan sangat keras, memasang wajah gemas pura-pura nyengir tanpa rasa bersalah sama sekali.
Pria itu meringis kesakitan berusaha menegakkan punggungnya dan meluruskan tangannya ke samping dan ke depan.
"Kok diam Presdir?" Tanya Irna sambil meremas lengannya dengan sepenuh tenaga.
Jika Jermy tidak segera menarik lengannya menjauh pasti sudah remuk lengan pria itu dibuatnya.
"Gadis ini bagaimana tenaganya bisa sekuat ini? aku pikir Irna adalah seorang gadis anggun dan lemah gemulai, tapi ternyata dia menyembunyikan kekuatan yang tersembunyi di dalam dirinya." Bisiknya dalam hatinya.
Perubahan kekuatan tubuh Irna terjadi setelah gadis itu mengalami kecelakaan. Saat darahnya menyatu dengan darah Rian, dan tanpa sengaja dia jatuh pingsan menimpa tubuh pria berstatus dokter itu.
Irna menarik energi dan segala yang ada di dalam tubuh dan fikirkan Rian otomatis menyatu dengan dirinya.
Dan itu membuat lemah Rian hingga dia pingsan dalam waktu yang lebih lama dari dirinya.
Penyatuan tanpa sengaja, dan itu dirasakan saat dia sangat berminat belajar di bidang kedokteran. Rian, pria itu juga sangat bersemangat dalam pekerjaannya.
Pikirannya seakan terhubung dengannya, dan kekuatan fisiknya, titik-titik syaraf yang bisa melumpuhkan lawan dia bisa melihatnya dengan jelas.
Irna awalnya ragu dengan hal itu, tapi telah dibuktikan secara langsung. Dan Jermy adalah kelinci percobaan baginya.
Dengan sangat santai Irna tersenyum lalu kembali merebahkan kepalanya di sandaran kursi.
Jermy sibuk memijit punggung dan lengan kanannya. Pria itu tidak berani menyentuhnya lagi. Dan beringsut agak menjauh darinya.
Saat mereka berdua sudah sampai di tempat tujuan Jermy ingin membangunkan gadis itu.
Tapi dia takut jika tiba-tiba Irna menendang wajahnya dan menghancurkan ketampanan miliknya.
Pria itu mencari kemoceng, dia membangunkannya dengan itu dari kejauhan.
"Irna! Irna!"
Gadis itu menarik kemoceng tersebut hingga membuat pria itu jatuh tersungkur di bawah kakinya.
"Ah maaf, Presdir, saya refleks tadi!" Ujarnya sambil tersenyum memakai kacamata hitamnya, berjalan melewatinya begitu saja.
__ADS_1
Bersambung....