
"Kamu tidak memandang diriku sama sekali? bahkan setelah mengetahui yang sebenarnya terjadi pada diriku dan dirinya?" Tanyanya masih merasa tidak terima dengan keputusan Irna.
"Tuan Wilson! seharusnya kamu tahu aku dan Fredian sudah menjalin hubungan lebih dari dua puluh tahun yang lalu! sekarang kamu tiba-tiba muncul di tengah-tengah?! sebenarnya apa yang anda lakukan sekarang?"
"Aku ingin mengambil apa yang seharusnya jadi milikku!" Ujarnya sambil berjongkok di depan wajah Irna.
"Hahahaha! lalu cepat katakan apa yang menjadi milikmu kemudian ambilah dan segera keluar dari dalam ruangan kerjaku." Gerutu Irna sambil menjauhkan wajahnya karena wajah Wilson terlalu dekat.
"Kamu!" Ujarnya sambil tersenyum.
"Aku bukan milikmu, atau milik Fredian. Aku melakukan segala sesuatu berdasarkan keinginanku sendiri." Kembali mengabaikannya.
"Wanita ini benar-benar!" Menarik jas Irna dengan wajah geram.
"Plak!" Irna segera menepiskan tangan pria itu dari bajunya.
Irna diam dan duduk di kursi kerjanya masih terus memperhatikan berkas di atas meja. Pria bernama Wilson itu terus mengoceh tanpa henti.
Irna menyumbat pendengarannya sendiri. Dia sangat bosan sekali mendengar ungkapan perasaan pria itu, dia tetap bersikeras memilikinya.
"Astaga inikah caramu menyambut kedatangan seorang pria yang bertahun-tahun tetap setia mencintaimu?"
Irna masih tetap membuka lembaran-lembaran berkasnya di atas meja, sama sekali tidak mendengarkan apa yang meluncur setiap detik dari bibir pria yang sudah hampir satu jam berceloteh tanpa henti.
Irna tersenyum ketika melihat pria itu melangkah keluar dari dalam ruangan kerjanya.
Tidak tahu kenapa Irna sama sekali tidak menyukai pria itu, walaupun segalanya sama dan menyerupai Fredian suaminya.
Baginya Fredian tetaplah satu-satunya yang ada dan memiliki seluruh ruangan di dalam rongga dadanya.
Dark terlihat tidak senang melihat ayahnya pergi sambil bersungut-sungut.
"Katakan satu alasan saja! Kenapa dokter Kaila terus menolak papaku?" Berdiri di depan meja Irna sambil menatap wajah Irna dengan serius.
Irna tersenyum sambil menggabungkan kedua telapak tangannya di atas meja.
"Sejak kapan kamu beralih pekerjaan menjadi detektif cinta?" Kelakar gadis itu dengan sangat santai.
"Dokter aku serius!"
Ucapan Dark saat itu menurut Irna sungguh sangat ironis dan tidak masuk akal sama sekali.
"Kenapa pria ini malah terus mendorongku untuk menyambut cinta ayahnya?" Masih tidak mengerti, sekalipun berkali-kali mengulang pertanyaan itu tetap sama jawabannya tidak mengerti.
"Jika dia normal, sudah pasti akan mendukung ayah dan ibunya untuk bersama. Tapi anak muda itu malah mendorongku dari hari ke hari untuk menerima cinta ayahnya. Hal serumit apa yang menyebabkan anak itu berfikir bahwa aku bisa hidup bersama dengan Wilson?" Bisik Irna dalam hatinya.
"Apa yang terjadi padamu? aku tahu dia ayahmu. Tapi bukannya kamu mendukung ibumu dan ayahmu untuk bersama? kenapa malah memintaku yang jelas-jelas adalah wanita lain? apa menurutmu aku ini gampang berpindah hati dari istri syah menjadi wanita simpanan atau sejenisnya?!" Tanya Irna sambil tersenyum optimis.
"Aku sangat menyukai dokter Kaila, anda bisa menjadi ibuku. Dan ibu kandungku sebenarnya dia sudah meninggal sepuluh tahun lalu." Jelasnya dengan wajah memelas.
"Oke! kamu bisa menganggapku sebagai ibu asuhmu! Dan tentang Wilson, aku minta maaf karena aku tidak bisa menerima cinta ayahmu." Masih tersenyum menatap wajah Dark.
Malam begitu cepat berlalu, berganti pagi. Dark sudah mengatakan semuanya malam itu mengenai asal usul dirinya.
Selama ini Wilsonlah yang sudah merawatnya, sampai usianya yang sekarang. Saat menemukan Irna dia merasa wanita dingin itu sebenarnya memilki hati yang begitu lembut dan hangat.
Dugaannya tidak salah, saat Irna menyelamatkan dirinya dari cengkeraman Wilson. Pria muda itu seolah-olah menemukan sosok ibu yang dia idam-idamkan.
Irna berdiri di depan jendela kaca sambil memegang secangkir kopi hitam, dimana sinar matahari pagi akan menyambutnya dengan hangat.
Dark terbangun dari tidurnya, pria itu mengerjapkan matanya menatap Irna yang sedang berdiri menghadap jendela menunggu sambutan sinar mentari.
Vampir yang aneh, jika vampir pada umumnya pasti akan lari terbirit-birit karena melihat cahaya matahari. Mereka takut kulitnya akan hangus dan terbakar akibat dari cahaya yang menimpa kulitnya.
Di pusat penelitian NGM..
Seperti biasa Rian Aditama terus berkutik dengan ratusan tabung kecil di dalam laboratorium miliknya.
Dia mengingat peristiwa pertemuan dirinya dengan Irna yang terakhir kali di Reshort. Dia tahu jika gadis itu sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
Irna yang dia kenal tidak pernah melakukan hal seperti yang dilihatnya waktu itu. Sekalipun gadis itu sudah berubah menjadi manusia vampir.
__ADS_1
Dia melirik kembali ke arah ponselnya, saat melihat nama Kaila tertera di salah satu kontak telepon miliknya dia masih ragu-ragu untuk menekan tombol hijau tersebut.
Diurungkan niatnya untuk menghubungi Irna yang sudah berstatus sebagai dokter forensik tersebut.
Berkali-kali dia melirik ke arah ponselnya, dan berkali-kali juga dia mengurungkan niatnya. Perasaan di dalam hatinya tidak bisa ditekan lebih dalam lagi. Semakin sulit dan semakin membuatnya menderita.
"Jika aku memulai percakapan entah apa yang harus aku katakan pada gadis itu. Jika aku tidak menghubunginya aku juga tidak akan tahu apakah dia masih begitu membenciku?!" Pria itu mengusap keningnya sambil berpegangan pada tepi meja laboratorium.
"Jika aku langsung mendatanginya?! Itu terlihat sangat aneh dan tidak masuk akal! selama ini aku tidak bisa menjauh darinya sama sekali!" Rutuknya pada dirinya sendiri.
Pada akhirnya dia menekan tombol hijau dan menghubungi Kaila Elzana.
"Ada apa?" Kata-kata itu yang pertama kali dia dengar setelah hampir satu bulan terakhir tidak berbicara sama sekali dengan sosok gadis impiannya itu.
Bagaimana dia bisa menjawabnya? apa yang harus diucapkannya dia sama sekali belum memikirkan hal itu. Pria itu masih diam membisu tanpa bisa menjawabnya. Dia juga begitu saja menghubunginya tanpa tahu apa yang hendak dia katakan.
Begitu banyak perasaan yang ingin dia luncurkan keluar dari dalam hatinya, seperti roket bunga api melesat dan meletus di angkasa raya.
Lepas, bebas, dan tidak tertahan lagi. Seakan-akan dia lupa sesaat dengan situasi di sekitarnya sekarang. Dia lupa ada seseorang di sebelahnya yang setia dan tulus berdiri di sana beberapa tahun terakhir.
"Apa kamu berniat untuk terus diam membisu? sampai kapan?" Pertanyaan itu membuyarkan semua mimpi yang satu persatu melintasi benaknya.
"Aku tidak akan minta maaf padamu soal aku yang berniat untuk menciummu waktu itu."
Berusaha mengisi kepalanya yang kosong dengan kata-kata yang seharusnya tidak meloncat keluar dari bibirnya. Tapi malah itu yang meluncur dan membuat situasi kembali canggung di antara mereka berdua.
"Aku tahu kamu tidak akan meminta maaf." Hanya beberapa patah kata yang sama sekali tidak bisa melebur perasaan Rian. Irna sendiri tahu, bukan kata-kata itu yang ingin dia dengar sekarang.
Gadis itu tahu luka macam apa yang sudah dia goreskan padanya, hukuman berat hingga membuat pria itu bertahun-tahun hidup di sisinya tanpa sebuah pernikahan.
Hanya berdiri bersebelahan di bawah guyuran air hujan dari langit yang sama. Tanpa saling menatap ataupun memeluk karena cuaca begitu dingin di tengah malam gelap gulita. Atau saat musim salju yang membekukan menusuk-nusuk tulang mereka berdua.
Dalam badai topan dia tetap memilih untuk memeluk duri, seumur hidup terus terluka tidak perduli berapa banyak darah yang telah terkuras dari urat nadinya.
Hanya demi beberapa ungkapan rasa.
"Untuk bisa melihatmu! untuk tetap bisa berdiri di sekitarmu!"
"Jika kamu menolakku aku akan pergi**!" Bukan itu yang dia ucapkan.
Tapi malah sebaliknya yang dia terus tegaskan.
"Jika kamu menolakku aku akan menunggumu! dan jika kamu tetap tidak menerimaku, aku hanya akan berdiri di sisimu!"
"Apakah kamu membenciku?" Pertanyaan yang sama seperti sebelumnya dia pernah tanyakan. Rian tidak berharap mendapatkan jawaban yang sama seperti sebelumnya.
Pria itu berharap Irna bisa mengatakan sesuatu yang lain dari biasanya, entah apapun itu.
Selama ini ucapan dan kata-kata dari gadis itu selalu bisa menghapus gelisah hatinya. Padahal dia selalu mendapat jawaban yang sama selama bertahun-tahun.
"Tidak ada kebencian sama sekali, apa kamu ingin mendengar sesuatu yang lain?" Irna tahu apa yang ada di dalam benak pria itu saat ini.
Pria itu sedang gelisah dan tidak menemukan apapun untuk menenangkan rasa dalam hatinya.
Entah sudah berapa banyak obat yang dia racik demi mendapatkan kesembuhan untuk mengobati rasa yang sangat dia benci sekaligus dia rindukan.
"Apa kamu masih ingin mendengarnya?" Irna tersenyum seolah tahu bagaimana dia bisa menenangkan hati pria yang sudah lama menemaninya sepanjang waktu itu.
"Hem." Rian tersenyum sambil melelehkan air matanya, kedua kakinya terasa kehilangan tulang dan jatuh terduduk di lantai.
Pria itu masih mendengarkan suara Irna dari ponselnya sambil bersandar di kaki meja laboratorium miliknya.
Arvina ingin melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan itu, sudah berhari-hari pria itu tidak menelan sesuatu untuk mengisi perutnya, Arvina segera membatalkan niatnya. Gadis itu melihat suaminya terluka untuk kesekian kalinya.
Sudah seringkali dia melihat Rian menangis tanpa suara di dalam ruang kerjanya. Dan sudah seringkali dia melihat Rian tersenyum. Semuanya berasal dari arah yang sama, Irna Damayanti.
Kepergian mereka berdua ke Jerman mendadak saat itu juga hanya untuk kembali ke rumah Irna yang ada di sana. Karena merindukannya dia pergi ke Jerman.
Arvina yang takut terjadi sesuatu pada suaminya memilih untuk tetap menemaninya.
"Rian? kamu masih di sana?" Tanya Irna saat tidak mendengar suara apapun dari seberang sana.
__ADS_1
Tidak ada jawaban dari seberang, Irna terlihat panik. Gadis itu terus berteriak memanggil namanya tapi Rian tetap diam tidak menjawab.
Arvina melihat Rian tidak bergerak sama sekali, segera berlari mengguncangkan bahu pria itu dengan panik.
"Halo Irna? ini aku Arvina! Rian tidak sadarkan diri. Bisakah kamu menolongku?" Gadis itu merembeskan air matanya.
"Aku bisa saja ke sana, tapi bagaimana dengan perasaanmu?" Irna memijit keningnya sendiri.
"Kemarilah sekarang! keselamatan Rian lebih penting!" Ujarnya tanpa ragu.
Irna segera berlari keluar dari ruang kerjanya, Dark yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi terkejut melihat Irna berlari tergesa-gesa.
"Apa dia lupa jika hanya menjentikkan jarinya dia bisa sampai di tempat tujuan?! wanita yang aneh!" Gumam Dark sambil menggelengkan kepalanya.
Irna mengendarai mobilnya menuju NGM. Saat sampai di sana dia mendapati Rian terbaring di atas tempat tidur pasien.
Irna melangkah masuk, Arvina menepuk bahu gadis itu sambil mengangguk dan keluar dari dalam ruangan.
Irna melangkah perlahan-lahan menuju tempat tidurnya. Pria yang biasanya terlihat sumringah dan selalu tersenyum lembut saat melihat kedatangan dirinya, kini terbaring lemah seperti hanya memiliki secuil nyawa.
Irna mengambil kursi dan duduk di sebelahnya. Di dalam mimpinya Rian mencium aroma bunga yang selama ini menghiasi hari-harinya.
Bunga yang dia tanam di dalam vas yang berada di lubuk hatinya. Kelopak mata pria itu terbuka perlahan-lahan.
Bunga itu sedang menatapnya dan duduk di sebelah tempat tidurnya.
"Hai pak dokter? kenapa kondisimu mengenaskan begini? aku belum mengijinkanmu untuk mendonorkan nyawamu padaku!" Irna tersenyum melihat Rian tersenyum mendengar ucapannya.
"Kamu bahkan tidak mau menelan apapun, apa kamu sebosan itu hanya karena tidak mendengar suaraku?" Irna menyuapkan satu sendok bubur kepadanya.
Rian baru mau makan saat Irna menyuapinya.
Irna tidak tahu jika Fredian tahu dia sedang berada di sana, apakah pria itu akan merencahnya hidup-hidup atau mengusirnya keluar karena temperamen barunya.
"Terima kasih sudah datang kemari." Ujarnya sambil tersenyum menatap Irna.
Rian mengulurkan tangannya mengusap air mata yang membasahi pipi Irna dengan lembut.
"Apakah aku sejahat ini? aku hanya menolak sebuah ciuman! tapi kamu memilih mengakhiri hidupmu!" Ujar Irna sambil membenamkan wajahnya di samping tempat tidurnya.
"Aku hanya takut kamu membenciku, dan aku melihat kamu menghindariku saat aku menemuimu di Reshort." Ujarnya sambil mengusap kepala Irna.
"Aku hanya merasa canggung, kamu tidak pernah menunjukkan sisi agresifmu selama ini. Aku ragu saat ingin menyapamu." Jelasnya lagi berterus terang.
"Aku tahu aku tidak pantas untuk menciummu. Aku terlihat seperti kotoran yang terus menempel pada pakaian yang kamu kenakan." Ujarnya lagi sambil tersenyum getir.
"Berhentilah mengatakan bahwa kamu adalah kotoran! kamu berhak memiliki kebahagiaan."
"Kebahagiaan yang kamu sebut itu tidak akan pernah bisa aku raih."
"Sebagai gantinya aku akan berdiri di sini." Balas Irna sambil menundukkan kepalanya.
Rian tersenyum mendengar ucapan Irna.
"Pulanglah, aku ingin sendirian." Ujarnya kemudian.
"Kamu berani mengusirku!?" Irna berteriak dengan suara lantang tiba-tiba.
"Astaga! kamu mengejutkanku! lalu apakah kamu akan berada di sini sepanjang waktu?" Tanya Rian sambil menggaruk keningnya.
Rian tahu kalau Irna sudah mengetahui perasaan yang masih tersembunyi di dalam hatinya.
"Berhentilah merajuk seperti anak kecil! sangat memalukan sekali!" Gerutu Irna sambil meremas jas putih miliknya sendiri.
"Oke! aku akan makan tiga kali sehari, dan minum obat! Apa kamu bisa pergi sekarang?" Masih terus mengusirnya pergi.
"Lihat wajahmu itu? kamu bahkan masih marah dan terus mengusirku?! bukankah kamu senang melihatku ada di sini?" Tanya Irna lagi.
"Coba lihat siapa yang berdiri di belakang punggungmu!" Bisik Rian padanya.
Irna merasakan aura dingin di belakang punggungnya dan tanpa menolehpun dia sudah tahu siapa itu.
__ADS_1
Bersambung....