
Rian melangkah dan mengambil tas yang diberikan oleh Arya Ardiansyah, kemudian melemparkannya ke dalam tong sampah.
Irna masih tidak bergeming, gadis itu menatap kosong sambil terus meneguk segelas air minum di depannya.
"Kamu mengakuinya sekarang? mengakui semuanya!" Rian tidak tahan untuk menyimpan perasaan gelisah dalam hatinya.
"Aku mempercayaimu, tapi kamu malah menusukku dari belakang."
Irna tersenyum pahit mendengar keluhannya.
"Lalu? apa maumu sekarang dokter Rian Aditama?" Irna masih tersenyum menanggapi kekesalan Rian.
"Apa kamu ingin menceraikanku lagi?" Irna menatap tajam ke arahnya, tatapan matanya kali ini tidak main-main.
"Waah! hebat sekali! setelah ketahuan bersamanya kamu berani menanyakan itu padaku??!" Rian menarik tangannya agar Irna berdiri.
"Apakah aku terlihat di matamu seperti pria yang lembut dan bisa kamu permainkan sesuka hatimu?! apakah karena aku selalu menemanimu kemudian kamu menganggapku selalu bisa menerima luka darimu?"
"Ucapanmu itu benar-benar membuatku terkejut dokter Rian. Katakan saja apa maumu sekarang? jangan bertele-tele!"
"Plaaakkk!" Sebuah tamparan melayang di pipi Irna membuatnya lebam. Ujung bibirnya mengalirkan darah.
Pria lembut dan perhatian, pria yang selalu menjaganya saat dia kehilangan Fredian. Pria yang selalu berada di sisinya kini menampar wajahnya karena tidak mempercayainya lagi.
"Bagaimana? kamu sudah lega telah menamparku?" Irna masih tersenyum menatap wajah Rian.
"Kamu masih bisa tersenyum?"
"Tentu saja, karena aku tidak bersalah. Aku akan membuatmu menyesal karena telah melakukannya. Dan aku tidak akan pernah menerima uluran tanganmu lagi."
Irna berbalik kemudian masuk ke dalam kamarnya.
"Braaakkkk!" Rian masuk menerjang pintu ke dalam kamar, dia mendapati Irna sedang berbaring memunggunginya.
"Jangan berisik, aku lelah."
Ujarnya sambil memejamkan matanya.
"Kamu mengabaikanku saat aku belum selesai bicara!" Menarik selimut Irna dan melemparkannya ke lantai.
Irna berbalik, duduk di tepi tempat tidurnya.
"Aku pikir kamu sangat mengenalku? tapi ternyata tidak sama sekali." Hanya itu yang terucap dan keluar dari bibirnya.
Rian semakin geram mendengar pernyataan tersebut.
"Sekarang aku tahu kenapa kamu mendapatkan sertifikat pria yang dingin!" Ejek Irna lagi.
"Sikapmu ini sangat berbeda dengan suamiku Rian yang aku kenal, dia sangat lembut juga sayang padaku. Bahkan perasaannya tidak berubah setelah bertahun-tahun."
"Tapi dia berubah saat benar-benar menjalin hubungan kembali denganku. Rasa ragunya telah mengalahkan cinta dalam hatinya. Kita berdua tidak cocok, kita selalu bertolak belakang saat menjalani hubungan pernikahan"
Rian terdiam mendengar perkataan Irna, semua yang Irna katakan benar adanya. Sisi negatif dalam dirinya muncul karena meragukan Irna.
"Apakah kamu ingin kita berpisah?"
"Hahahaha! kamu menyerah?" Pertanyaan Rian membuat Irna tertawa terbahak-bahak.
"Apa kataku, Arvina adalah wanita yang cocok untukmu! kalian sangat serasi karena dia tidak akan pernah melawan ucapanmu sepertiku. Dia juga tidak pernah terlibat dengan pria manapun."
Irna sengaja melemparkannya jauh dari hidupnya. Irna merasa lelah dengan hubungan antara mereka berdua.
"Aku tidak akan menceraikanmu!" Tegasnya lagi.
"Untuk apa kamu hidup dengan wanita yang menurutmu adalah penghianat?"
Irna berdiri, melangkah keluar dari dalam kamarnya. Mendadak terasa pengap karena suaminya terus menerus menuduhnya memiliki hubungan dengan Arya.
"Pria gila itu akhirnya menyulitkanku! menyebalkan sekali!"
Irna termenung di ambang pintu depan rumah. Rian juga tidak bergegas pergi ke London. Dia memilih tinggal di rumah.
Pada akhirnya pernikahan Fredian berlangsung begitu saja, tanpa kehadiran Irna dan Rian.
Rian pulang-pergi bekerja di kantor NGM tanpa menegur atau menyapa Irna, pria itu sudah mengabaikannya selama satu bulan.
Irna kembali bekerja di sebuah rumah sakit.
Pagi hari..
Irna merebus air untuk menyeduh kopinya, Rian berlalu masuk ke dalam kamar mandi tanpa ingin menegur atau melihatnya.
Irna tersenyum melirik pria itu dengan ekor matanya. Gadis itu merasa sangat lucu, hubungan antara mereka berdua.
Juga Arya sudah tidak terlihat lagi batang hidungnya sejak malam itu.
Irna duduk di kursi meja makan, menikmati kopinya. Rian keluar dari dalam kamar mandi mencium aroma kopi di atas meja.
Langkahnya mendadak terhenti. Entah apa yang ada dalam benak pria itu saat ini. Sudah terbukti Irna tidak menikah dengan Fredian tapi pria itu juga tak kunjung meminta maaf padanya.
Irna juga sama sekali tidak tertarik untuk berbicara dengannya. Perlakuannya terakhir kali membuatnya menjadi mati rasa.
Dia melihat ke arah Irna, tapi Irna melengos menatap ke arah lain dengan sengaja.
"Dia pasti sangat membenciku sekarang." Bisik pria itu kemudian masuk ke dalam kamarnya untuk berganti baju.
Irna yang sudah selesai mandi juga masuk ke dalam kamarnya, gadis itu mulai merias wajahnya. Dia melihat Rian dari pantulan cermin di depannya.
Setelah selesai bersiap-siap pria itu pergi begitu saja. Jika sebelumnya pria itu mencium rambutnya atau memeluknya kini semua kehangatan itu lenyap seolah berganti dengan musim yang begitu dingin.
Di dalam rumah sakit Irna melakukan operasi tepat pukul dua belas malam.
Dia sudah menyelesaikan pekerjaannya setelah dua jam.
Gadis itu menyelonjorkan kakinya di kursi lorong rumah sakit seraya bersandar di dinding. Kepalanya mendongak dan kedua matanya terpejam.
"Duk! Duk! Duk!" Seseorang menendang kaki kursinya. Perasaannya begitu familiar tapi dia enggan membuka matanya.
__ADS_1
Orang itu akhirnya memilih duduk di sebelahnya. Dia menopang kepalanya dengan tangan kanannya menatap wajah Irna di sebelahnya.
"Fuuuuuh!" Orang itu meniup wajahnya mendadak matanya terbuka dan menoleh ke arahnya.
"Apa aku mengejutkanmu!?" Menyeringai lebar dengan wajah yang sama.
Irna bergegas berdiri menuju ruangannya, gadis itu memasukkan kedua telapak tangannya ke dalam saku jas dokternya.
"Tunggu!" Menahan tangan Irna sambil tersenyum.
"Maaf aku sibuk." Melangkah pergi setelah menepis tangannya.
"Istriku melahirkan di sini!"
"Lalu?" Irna menarik salah satu sudut bibirnya.
"Aku ingin kamu yang menanganinya!"
"Banyak dokter lain di sini selain aku." Berlalu begitu saja dari hadapannya.
Rian terburu-buru kembali ke rumah. Dia tidak melihat Irna di sana. Pria itu bergegas menuju rumah sakit.
Dan saat dia masuk pria itu mendapati Fredian berjongkok dengan kedua tangannya menopang di tepi meja kerja Irna.
Irna sendiri sedang mengisi berkasnya. Dia tidak memperdulikan pria di sebelahnya.
"Apa kalian sedang berbulan madu sekarang?!" Kata-kata itu meluncur dari bibirnya sambil berkacak pinggang menatap tajam ke arah mereka berdua.
Pria itu bergegas melangkah menghampiri meja Irna. Menarik tangannya dengan kasar. Irna diam saja diperlakukan demikian, dia tidak mengeluh sama sekali.
"Hei kalian mau kemana?" Fredian mengejar mereka berdua.
"Bisakah kamu menolongku? istriku benar-benar akan melahirkan!" Teriakannya membuat mereka berdua menoleh ke arahnya.
Irna dan Rian berlari menuju ke ruangan tempat istri Fredian dirawat. Dan benar gadis bernama Irna di sana sedang hamil besar.
Rian kebingungan melihat Irna dan Kaila bergantian.
Rian tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Dia tidak mengira Fredian menikah dengan wanita lain selain Irna yang sekarang telah menjadi istrinya.
"Cepat tolong aku, perutku sakit sekali." Gadis itu menatap wajah Irna penuh harap.
Irna menganggukkan kepalanya lalu segera membantunya. Rian dan Fredian menunggu di luar ruangan.
"Bayi kamu perempuan.." Kaila memberikan bayinya pada gadis itu.
"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu, sebuah kebenaran." Ujar perempuan itu padanya.
"Tidak perlu, kamu harus banyak istirahat." Irna tahu apa yang akan diucapkan oleh gadis itu. Mungkin tentang dirinya dan Fredian.
Irna sudah merasa tidak memiliki tempat lagi di sana. Gadis itu menundukkan kepalanya keluar dari dalam ruangan.
"Bagaimana apa dia baik-baik saja?"
Rian melihat ke arah Irna, gadis itu tersenyum tipis sambil berlalu.
"Irna! tunggu sebentar!"
Gadis itu berjalan dengan terus menundukkan kepalanya dia mengangkat tangan kirinya menghentikan Rian, agar pria itu tidak menghentikan langkahnya.
"Lukaku semakin menumpuk, seandainya aku bisa lari dari kenyataan pahit ini." Gumamnya lagi.
Rian berlari mengejarnya dia tidak menemukan Irna di dalam ruangan kerjanya.
Gadis itu menenteng tasnya menyusuri jalan raya. Pagi itu dia sudah membawa kopernya ke rumah sakit untuk bersiap pergi hari itu.
"Irna tunggu!"
Rian berlari ke arahnya, dia memeluknya. Tapi tubuh Irna seperti telah membeku.
"Aku tidak akan menerimamu kembali Rian, aku sudah cukup memberikan kesempatan padamu. Dan ini sudah yang kedua kalinya. Biarkan aku pergi, aku tidak bisa melanjutkan pernikahan kita."
Irna menghentikan taksi dan pergi, dari kejauhan Fredian melihat kepergian Irna.
Rian melangkah kembali menuju ke rumah sakit. Dia berdiri berhadapan dengan Fredian.
"Kesempatan yang aku berikan padamu, kamu sudah menghancurkannya." Sambil berlalu pergi.
"Di mana istriku?" Seorang pria datang dan menyerbu masuk ke dalam rumah sakit.
"Siapa istri bapak?" Tanya perawat yang sedang bertugas di sana.
"Irna Damayanti."
Rian tercekat mendengar pernyataan pria paruh baya tersebut. Dia bergegas menghampirinya.
"Bolehkah saya tahu siapa nama anda?"
"Nama saya Fredian, permisi saya harus segera melihat istri saya!" Pria itu berlari menuju ke ruangan tempat istrinya dirawat.
"Apa ini? Fredian memenangkan permainan lagi! jika saja aku tidak melukainya. Aku bahkan juga menampar wajahnya."
Rian masuk ke dalam mobilnya, pria itu pulang kembali ke rumah. Dia tidak melihat Irna di sana.
Irna memilih tinggal di sebuah apartemen, dia tidak tahan jika setiap hari bertemu dengan Rian. Terlalu menyakitkan baginya terus dituduh.
"Dia benar-benar pria yang dingin dan sadis, sebenarnya darimana sisi lembutnya itu? sikapnya benar-benar sudah berubah total." Keluhnya tidak henti-henti.
Irna terlelap di dalam kamar apartemen miliknya, dia tidak tahu ada seorang pria yang duduk menunggunya di sebelah tempat tidurnya.
Irna mengerjapkan matanya saat alarmnya berbunyi. Dia melihat Rian tertidur pulas di sofa.
"Bagaimana dia bisa masuk kemari? pria ini benar-benar tidak menyerah!" Gerutunya sambil berjalan menuju kamar mandi.
"Krataaak! astaga!" Irna membuka pintu kamar mandi dia terkejut setengah mati melihat Rian sudah berdiri menunggunya di depan pintu.
__ADS_1
"Apa kamu berubah profesi menjadi tukang intip?!" Teriaknya pada Rian.
"Mana mungkin!"
"Minggir!"
"Tidak mau!"
"Cepat minggir!"
"Tidak bisa!"
"Kenapa kamu tidak bicara kalau Fredian ternyata cuma menikahkan tetangganya!"
"Apa itu penting sekarang?" Irna menggelengkan kepalanya menatap dengan tatapan miris pada pria di depannya.
"Dia ingin mengambilmu dariku!"
"Hahahaha! kamu benar-benar menganggapku seperti barang!" Ejek Irna padanya.
"Braaaakkkkk! aku serius!" Mengurung Irna dengan kedua lengannya.
"Kamu mau memukulku lagi? jangan lupa aku bisa melukaimu." Gadis itu kembali memperingatkan padanya tentang jati dirinya.
Irna sengaja mengalah karena Rian adalah manusia biasa, sedang dirinya adalah vampir. Jika Irna menerjangkan kuku jarinya pria itu sudah tidak bernyawa sekarang.
"Aku tidak memukulmu! aku tidak ingin kamu pergi bersamanya."
"Kamu sudah kehilangan rasa percaya dirimu? kamu lupa statusmu, dokter tampan, kaya raya, dan dingin."
"Kamu bisa mendapatkan wanita muda sesukamu, aku tidak akan menahanmu." Ujarnya berterus terang.
"Cukup!" Rian dengan gemas mencium bibirnya, Irna tidak sempat menghindar darinya.
"Aku tidak akan mencari wanita lain, kamulah satu-satunya yang aku inginkan." Bisiknya di telinga Irna.
"Maaf aku sudah telat." Irna merundukkan kepalanya menerobos dari bawah lengan Rian bersiap-siap untuk pergi bekerja.
"Cinta omong kosong! kamu hanya terus meragukanku." Gumamnya lagi, dia lupa Rian masih berdiri di belakang punggungnya.
"Karena aku tidak mau kamu meninggalkanku sendirian." Memasang wajah memelas.
"Jangan kekanak-kanakan!"
Irna sudah tidak tahan melihatnya.
"Aku antar ke rumah sakit." Rian mengambil kunci mobilnya.
"Aku tidak mau!" Irna melengos menatap ke arah lain.
"Kenapa?"
"Kamu tidak mandi, lihat rambutmu acak-acakan, juga pakaian apa itu yang kamu pakai?" Irna menilai dari atas ke bawah seperti sensor otomatis.
"Aku akan mandi dulu dan bersiap-siap."
Irna tersenyum sambil menunjuk jam di pergelangan tangannya, lalu mendahuluinya pergi keluar dari dalam apartemen.
Rian masih mengejarnya, dia tidak peduli dengan penampilan dirinya sekarang.
"Aku bilang tunggu ya tunggu!" Mengangkat tubuhnya membawanya masuk kembali. Irna meronta mencoba melepaskan diri.
"Rian! ini sangat memalukan sekali!" Teriaknya saat beberapa orang melintas sambil tertawa melihat ulahnya.
"Bruk!" Rian melemparkan tubuhnya ke atas tempat tidur.
Dia kemudian masuk ke dalam kamar mandi, dia keluar dengan rambut basah kuyup, dengan sengaja duduk di sebelah Irna sambil mengeringkan rambutnya.
"Iya, aku akan segera ke sana!" Irna bicara'dengan ponselnya.
"Istriku cuti hari ini!" Rian merebut ponsel Irna.
"Tapi pak, Bu Kaila ada jadwal untuk menangani operasi pagi ini."
"Aku Presdirnya, kenapa kamu malah memihaknya? aku yang menggajimu, bukan istriku."
Irna melotot mendengar pria itu menggunakan kekuasaannya untuk pertama kalinya.
Dia menunjukkan bahwa seluruhnya berada di bawah kendalinya.
"Tapi pak Bu Kaila harus patuh pada peraturan rumah sakit."
Rian menganga lebar tidak percaya jika petugas rumah sakitnya bahkan membela Irna mati-matian.
"Aku bilang cuti ya cuti! aku suaminya! aku suami Kaila!" Rian mematikan ponsel Irna.
Irna masih melongo menatap Rian.
"Kenapa melotot padaku? kalau kamu tidak mau cuti satu hari. Kamu berhenti saja selama-lamanya bagaimana?" Tawarnya sambil tersenyum.
"Jika aku resign dari rumah sakitnya lalu pindah ke rumah sakit lain? Tapi hampir semua rumah sakit besar berada di bawah kekuasaan keluarga Aditama."
Irna terus bergumam sendiri, Rian melihat wajahnya sambil mengulum senyum.
"Apa kamu sudah mengambil keputusan?" Mendekatkan wajahnya ke wajah Irna.
Irna menahan dadanya dengan kedua tangannya.
"Apa yang kamu lakukan? aku tidak akan masuk hari ini, jadi jangan berhentikan aku sekarang."
Irna menjauhkan wajahnya, ketika hembusan nafasnya menyapu pipinya.
"Aku mencintaimu." Bisik pria itu sambil mengecup pipinya.
Bersambung...
.
__ADS_1