Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
Soul release ring


__ADS_3

Irna dan Fredian bergegas pergi menuju kerajaan Interure. Mereka berpisah di tengah jalan, Irna datang terlebih dahulu, Fredian kemudian menyusul bersama Rian.


Gemerincing gelang kakinya menggema di ruangan berdinding batu tersebut. Kedatangan Irna disambut oleh Peter. Dia tahu Irna pasti akan datang.


"Tidak ada jebakan Nona Kaila, silahkan masuk." Sambutnya saat gadis itu menuju ke ruang tengah di dalam kerajaan tersebut.


Javi sudah menunggunya sejak tadi pagi, pria itu mempersilahkan Irna masuk ke dalam. "Di mana Nira?" Tanya Irna langsung tanpa basa-basi.


"Ada di kamarku, ikuti aku." Javi mengajaknya menuju ruangan yang berada di lantai atas. Dia melihat Nira sedang terlelap di atas tempat tidur pria itu.


"Ini terjadi sebenarnya karena ini," Javi mengulurkan kotak merah pada Irna. Irna membuka kotak tersebut. Dia melihat nama Nira Stania terukir di dalam ring.


"Kenapa kamu membawa cincin pelepas jiwa??" Irna melotot ke arah Javi.


"Aku cuma mengantonginya, tapi cewe ini meraba celanaku! dia mengambilnya tanpa persetujuan dariku." Javi tidak mau disalahkan karena memang dia tidak bermaksud melukai Nira.


Irna meletakkan cincin tersebut di atas telapak tangannya. Kemudian gadis itu memejamkan matanya. Setelah beberapa detik cincin tersebut mengeluarkan cahaya yang sangat terang. Cahaya tersebut tembus sampai keluar kastil.


Fredian dan Rian berada di luar kastil kerajaan. Mereka berdua melihat cahaya sangat terang. Rian tahu itu adalah cincin pelepas jiwa.


"Kita harus segera masuk untuk menghentikan Irna!" Teriak Rian pada Fredian.


Irna berhasil mengembalikan jiwa Nira kembali ke dalam tubuhnya, kemudian nama Nira perlahan-lahan lenyap dari dalam ring tersebut. Dua detik berikutnya Irna terbatuk-batuk, gadis itu memuntahkan darah.


Javi menangkap tubuh Irna yang sudah lemas, dia menatap wajah Javi dalam-dalam seraya memegang lengannya.


"Javi, jika Nira bangun jangan bilang aku yang menyelamatkan dirinya." Irna melepaskan tangannya, kemudian melangkah tertatih-tatih menuju jendela yang terbuka di kamar pria tersebut. Tepat saat Rian dan Fredian masuk ke dalam ruangan, Irna melompat turun terjun ke bawah melalui jendela.


"Dia mengorbankan dirinya demi gadis ini?" Bisik Javi dalam hatinya.


Nira terjaga dari pingsannya, dia menatap tiga pria itu sedang berdiri di tepi tempat tidurnya.


"Di mana Irna?" Fredian meraih krah baju Javi dengan penuh amarah. Pria itu kemudian menunjuk ke arah jendela.


Fredian segera melompat dan terjun ke bawah mencari Irna, dia melihat bercak-bercak darah pada dedaunan di bawah sana.


Fredian mengikutinya, mencari Irna melalui jejak-jejak darah.


"Uhk! uhk!" Masih terdengar suara Irna sayup-sayup di tengah kegelapan hutan. Juga terdengar auman suara serigala.


Irna masih menggenggam cincin tersebut, awalnya Javi ingin memecahkan misteri pada cincin tersebut dengan menunjukkan pada Irna. Tapi semuanya terjadi diluar kuasanya.


Irna tiba-tiba merasakan hangat pada telapak tangannya, dia membuka telapak tangan kanannya dimana cincin tersebut berada.


Darahnya telah membasahi kedua tangannya, dia terus memuntahkan darah. Cincin tersebut juga sudah terbalut lumuran darah Irna.


Irna melihat kristal putih tersebut perlahan berubah menjadi merah, kemudian cincin tersebut terpatri di jemari tangannya.


"Apa yang terjadi? Kenapa aku tidak bisa melepaskan cincin ini?" Irna kebingungan karena cincin tersebut tiba-tiba masuk ke dalam jemari manis tangannya.


Setelah beberapa menit kemudian tubuhnya mendadak menghilang menjadi butiran serpihan. Fredian menemukannya tapi sepertinya sudah terlambat. Irna mengulurkan tangannya, gadis itu tersenyum ke arahnya.


"Irna.... tidaaaaaaaak!" Teriakannya menggema di dalam seluruh penjuru hutan.


Irna sendiri tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya.


"Kenapa kamu memberikan cincin itu pada Kaila?" Rian menatap wajah saudara kandungnya itu lekat-lekat.


"Karena ibuku! dia menghilang dan meninggalkan cincin tersebut." Ujarnya pada Rian.


Mereka kehilangan ibunya tepat saat peristiwa pertempuran antara dua kerajaan Vertose dan kerajaan Interure.


"Hanya pemilik bunga kristal es yang bisa menguasai cincin itu! Hanya Kaila! itulah sebabnya aku terus menerus mendekatinya. Aku ingin menemukan ibuku. Walaupun dia sudah tidak hidup di dunia ini." Jelasnya lagi pada Rian.


"Apakah kamu tahu, cincin itu terlalu berbahaya! jika dia gagal maka dia akan menghilang untuk selamanya! kondisinya juga sangat lemah sekarang! gadis itu terluka dan belum pulih!" Teriaknya tanpa henti pada Javi.


Nira menatap mereka berdua, dia tidak mengerti apa yang mereka berdua bicarakan.


Setelah Irna menghilang, Fredian duduk dimana tempat gadis itu tadi berada. Dia bersandar pada sebuah batang pohon pinus.


Pria itu sangat putus asa, dia ingin menemukan kembali istrinya. Air matanya terus membanjir membasahi kedua pipinya.


Tubuh Irna memang menghilang, tapi dia tidak mati. Serpihan tadi terbang menuju ke sebuah tempat tersembunyi disisi hutan. Ada sebuah tebing curam, terdapat sebuah goa di antara jurang dan tebing.


Serpihan-serpihan tubuh Irna masuk ke sana. Saat serpihan itu menyatu ke wujud semula dia mendapati seorang wanita sedang duduk termenung sendirian di sana.


"Siapa kamu!?" Teriaknya sambil melangkah mundur menjauh dari Irna.


"Aku Kaila, pemilik bunga kristal es." Seira terkejut mendengar bunga legenda tersebut. Ternyata benar yang diramalkan beratus-ratus tahun lalu.

__ADS_1


Bunga kristal penguasa alam vampir, pengendali seribu senjata di dunia vampir. Wanita itu melihat cincin berwarna merah darah berada di jari manisnya.


Seira melangkah mendekat ke arah Irna, dia meraih tangan gadis itu. Irna tidak menepisnya saat dia meraba cincin yang terpatri di jemari tangannya.


"Cincin ini yang mengurungku di sini, karena keserakahan. Aku ingin menguasai kerajaan Vertose. Aku mengambil cincin itu sembunyi-sembunyi. Tapi jiwaku terkunci di dalam sana ketika ambisiku berada di luar batas."


"Cincin ini telah memilih tuannya, dan itu adalah dirimu." Seira memalingkan wajahnya dengan sedih.


"Aku membuat dua kerajaan berseteru, dan aku kehilangan dua putraku." Jelasnya lagi.


"Sekarang aku tahu kenapa Javi memberikan cincin ini padaku, karena aku tidak menginginkan cincinnya. Dan dia tahu aku akan berhasil karena memiliki pelindung bunga kristal es."


"Ikutlah bersamaku, aku akan membawamu kembali." Tawar Irna pada Seira. Wanita itu menurutinya, dia menggenggam tangan Irna kemudian mereka berdua menghilang.


Dua detik kemudian mereka muncul di dalam kastil. Rian dan Nira sudah meninggalkan kastil sepuluh menit yang lalu.


Javi tidak tahu siapa orang yang sedang berada di hadapannya itu. Tatapan matanya kemudian beralih ke arah Irna.


Dia terkejut melihat gaun merah darah membalut tubuh Irna. Dan terlebih lagi sepertinya kekuatan gadis itu telah kembali sepenuhnya.


Pengorbanan dirinya untuk menyelamatkan Nira, adalah pembuka kunci cincin misterius tersebut.


"Dia ibumu." Irna tersenyum kemudian menjentikkan jarinya, lalu muncul di belakang punggung Fredian.


Irna melihat pria itu sedang bersandar pada batang pohon pinus. Sepertinya dia tidak menyadari kedatangan dirinya.


Irna sengaja menutupi sebagian wajahnya menggunakan cadar berwarna merah, senada dengan gaunnya.


Fredian menoleh ketika mendengar bunyi gemerincing gelang kaki miliknya. Pria itu segera berdiri. Dia melihat gadis memakai cadar dengan gaun merah darah mendekat ke arahnya.


Dia melihat matanya baik-baik, dia masih belum yakin jika gadis yang ditemuinya sekarang adalah istrinya.


Aura jernih yang berasal dari bunga kristal es tersebut, dan selalu menyelubungi Irna telah lenyap. Aura yang dirasakan Fredian sekarang adalah aura penakluk jiwa.


Saat dia berada pada jarak sekitar satu meter dengan dirinya, seolah-olah dia merasakan seluruh hati dan tubuhnya telah lenyap. Fredian jatuh berlutut di hadapan Irna.


Irna merundukkan badannya, dia mengangkat dagu Fredian dengan jemari telunjuknya.


"Siapa kamu? di mana kau sembunyikan istriku!" Teriaknya pada gadis di depannya itu yang tak lain adalah istrinya sendiri.


"Bangunlah, ayo kita pulang!" Menarik dasinya dan menyeretnya tanpa bicara lagi.


Irna menjentikkan jarinya dan mereka dalam sekejap telah tiba di dalam kamar rumah Fredian. "Irna kamu masih hidup!" Teriaknya sambil mengahambur memeluknya.


"Tentunya aku hidup, untuk terus menjagamu dari para wanita genit." Celoteh Irna seraya duduk di tepi tempat tidurnya.


Gaun merah dan cincinnya telah lenyap berganti dengan gaun biru muda yang tadi dipakainya saat menemui Javi Martinez.


"Aku lelah sekali, aku ingin tidur sekarang." Gumamnya sambil merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Fredian segera menghubungi Rian, agar pria itu tidak mengkhawatirkan kondisi Irna. Irna terlelap di atas tempat tidurnya.


Fredian tersenyum melihat wajah Irna kembali memperlihatkan aura kehidupan. Jika sebelumnya wajahnya terlihat pucat tak bernyawa.


Ponsel Fredian tiba-tiba berdering setelah dia memutuskan panggilnya dengan Rian. Dia sedikit terkejut melihat nama Karin pada layar tersebut.


"Jangan terlalu meladeninya, dia akan semakin menggila ketika kamu meresponnya!" Celoteh Irna seraya membalikkan badannya.


Dan membuat suaminya terkejut untuk kesekian kalinya. "Bagaimana kamu tahu Karin menelepon?" Tanyanya seraya menyentuh bahunya.


"Wajahmu terlihat tidak nyaman ketika menatap layar ponselmu, bagiku itu sudah cukup untuk menjelaskan segalanya." Dengan santai menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.


"Tidurlah sekarang, atau aku akan pergi lagi." Masih santai berceloteh pada suaminya.


Fredian segera pergi menuju ke kamar mandi, untuk membersihkan tubuhnya, kemudian tidur di sebelahnya memeluknya dengan sangat erat.


Irna tersenyum sambil memegang lengan suaminya yang sekarang bertengger di atas pinggangnya.


Setelah satu jam terlelap Irna mendengar suara ketukan pintu di depan rumah Fredian. Pendengaran di luar batas kewajaran itu sungguh mengganggunya.


Fredian terjaga ketika Irna bangkit dari tempat tidurnya. "Kenapa kamu bangun?"


"Sepertinya ada tamu tak diundang malam-malam begini." Ujarnya pada Fredian.


Gadis itu melangkah menuju pintu dia tidak mencium aroma Javi Martinez, tapi aroma parfum wanita di balik pintu.


Dan ternyata benar saat dia membuka pintu, Karin sedang berdiri di sana. Fredian segera menyusul istrinya untuk melihat siapa yang datang berkunjung tengah malam buta itu.


Karin melihat Fredian mengenakan baju kimono dengan tali di pinggang, dan Irna dengan gaun malam tipisnya. Pemandangan malam itu sudah cukup untuk menjawab rasa penasaran di dalam hatinya.

__ADS_1


"Kenapa kalian bersama malam-malam begini?" Pura-pura bertanya untuk mengambil perhatian dari Fredian.


"Tentu saja karena kami sedang bersenang-senang! apa lagi yang dilakukan wanita dan juga pria ketika mereka tidur bersama." Bisiknya di telinga Karin.


"Tapi dia tunanganku!" Teriaknya sambil menunjuk ke arah Fredian.


"Karin! jangan terlalu berlebih-lebihan. Kita hanya partner bisnis tidak lebih." Tandas Fredian padanya.


"Sayang aku ngantuk sekali, aku ingin istirahat sekarang. Bisakah kamu suruh klienmu untuk datang besok saja?" Ujar Irna seraya meraba dada atletis Fredian di depan mata Karin.


"Dasar wanita tidak tahu malu!" Karin melangkah masuk, dan menarik gaun Irna sampai tali gaun pada bahunya putus, menampilkan pembalut berenda warna hitam pada dadanya, yang hampir tidak bisa menampung dua bongkahan mulus tersebut.


Karin melihat tubuh seksi di depannya itu, dia mendadak merasa kecil. Selain wajah Irna yang sangat memikat, tubuhnya juga sangat menggoda.


Perangainya begitu lembut memaksa setiap pria berhenti sejenak dari kesibukannya saat gadis itu sedang melenggang melewatinya.


Segalanya terlihat sempurna, di depan mata Karin. "Kenapa diam?" Tanya Irna seraya melemparkan senyuman manis. Fredian melihat dua bongkahan miliknya mencuat bebas, pria itu sepertinya sudah tidak bisa menahan diri untuk tidak menyentuhnya.


Karin melihat Fredian menciumi leher Irna tepat di depan matanya, batinnya benar-benar terasa hancur. Gadis itu kemudian pergi meninggalkan mereka berdua sambil menangis.


Irna segera menutup pintu. Dan berakhir terlentang dalam cumbuan Fredian di atas sofa.


Seluruh pakaiannya telah terlempar jauh entah kemana. Lekukan tubuh Irna tak luput sejengkal pun dari permainan lidah Fredian.


"Fred, pelanlah sedikit... akkkh!"


Desahan, dan pekikan lirih mewarnai malam panjang mereka berdua. Remasan tangan Fredian tak beranjak dari atas dadanya.


Tubuh mulus Irna, menggeliat kesana-kemari merasakan kecupan lembut di sekujur tubuhnya.


Mendengar suara parau istrinya, Fredian segera memulai permainan, dibukanya lebar-lebar kedua paha mulus tersebut. Terpampang jelas pemandangan yang terus mengundangnya untuk kembali memagutnya.


Ciuman panas mendarat di sana, membuat Irna kembali memekik tak tertahankan lagi.


Perlahan-lahan menekankan senjata miliknya di sana, kedua tangan Irna meremas tepi sofa di sisi tubuhnya. Pria itu memainkan ritmenya semakin lama semakin kencang. Dan setelah satu jam menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh Irna.


Seluruh tubuh atletis miliknya bercucuran bersimbah peluh. "Kenapa aku tidak pernah bisa menahannya ketika melihatnya.. kamu selalu mengundangku untuk melakukannya lagi dan lagi." Bisiknya di telinga Irna.


Irna tersenyum sambil menopang kepalanya menatap Fredian, pria itu sengaja membenamkan wajahnya di atas dadanya.


"Ini bukan bantal!" Teriak Irna saat melihat pria itu begitu nyaman menggesekkan kepalanya di sana.


"Ini sangat lembut." Ujarnya seraya menyeringai lebar.


"Jangan gigit di sana!" Teriak Irna lagi.


"Aku bilang ini sangat lembut!"


"Itu bukan kue!" Irna mendorong kepala Fredian agar sedikit menjauh.


"Aku lebih menyukainya, dari pada kue."


"Aku harus tidur, aku lelah sekali."


"Satu kali lagi!" Pintanya pada Irna.


"Aku akan merangkak di lorong rumah sakit, jika kamu tidak mau berhenti." Keluhnya mulai kesal karena ulah Fredian.


"Kamu juga menikmatinya, tapi terus menerus menyalahkanku seorang diri." Memasang wajah memelas, pura-pura tertindas.


"Fred! aku tidak mau, sudah cukup untuk malam ini." Beranjak dari sofa celingukan mencari gaun tidurnya.


"Kamu mencari ini?" Fredian nyengir menatap wajah cemberut istrinya.


"Cepat berikan itu padaku."


"Tidak mau."


"Fred! jangan membuatku kehilangan kesabaran." Keluhnya kesal sambil memukul bahu suaminya. Pria itu terus menggodanya tanpa henti.


"Satu kali lagi. Aku akan membelikan gaun seperti ini seratus biji!" Ujarnya sambil tersenyum.


"Apa kamu pikir aku terlalu miskin dan tidak bisa membeli gaun?"


"Seperti ini lebih bagus, segalanya terlihat lebih jelas." Tersenyum menatap tubuh Irna dari atas ke bawah.


"Duak! bruuuk!" Irna menendangnya hingga terguling ke lantai. Kemudian melangkah masuk ke dalam kamar meninggalkan dirinya sendiri di sana.


"Irnaaa, tunggu aku." Bangkit berdiri, meraih kimono miliknya lalu menyusul Irna.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2