
"Irna Damayanti aku akan membuat perhitungan denganmu!" Geram Jesy sambil mengemudikan mobilnya.
Gadis itu memarkir mobilnya di apartemen kawasan elite miliknya.
Sampai di dalam, dia melemparkan tasnya di atas tempat tidurnya.
Dan mulai melihat berita terkait dengan Irna Damayanti.
"Dia hanya gadis murahan yang memikat banyak pria! dia menikah beberapa hari lalu dengan Presdir Reshort??!" Mata Jesy melotot tertuju pada pria yang berdiri di sebelahnya.
"Pria ini tampan sekali...." Ujarnya menyentuh foto Fredian dalam ponselnya.
"Dia hanya seorang arsitektur, tapi memikat begitu banyak pria! wajahnya biasa-biasa saja! apa yang menarik darinya!?" Jesy dengan kesal melemparkan ponselnya.
Keesokan harinya Jesy berdandan meniru Irna, melangkahkan kakinya masuk ke dalam NGM.
"Di mana Presdir Rian?!" Hardiknya pada resepsionis NGM.
Gadis yang menjaga saat itu sangat terkejut, dia hampir tidak mengenalinya. Awalnya dia pikir itu adalah Irna Damayanti.
Namun mendengar gadis itu sangat kasar dan tidak sopan. Dia tahu itu bukan Irna yang biasanya datang mencari Presdirnya.
Reyfarno kebetulan berada di sana, melihat gadis itu. Dia juga hampir salah mengira itu adalah Irna.
"Kenapa melotot begitu?! apa kamu tidak pernah melihat wanita cantik sepertiku?" Ujar Jesy sambil mengunyah permen karet, terang-terangan menyentuh lembut bahu Reyfarno.
"Gadis ini mirip sekali dengan iblis itu, tapi dia terlihat tidak sopan dan terang-terangan menggodaku?!" Bisiknya dalam hati.
"Kamu siapa?" Tanyanya pada Jesy.
"Perkenalkan namaku Jesy ananda, aku seorang model terkenal." Membisikkan di telinga Reyfarno.
Reyfarno menjauhkan tangan Jesy dari bahunya. Dan melangkah pergi mengabaikan gadis itu.
"Dia terlihat sangat mirip, tapi kelakuan gadis tadi membuatku merinding!" Gumam Reyfarno kemudian masuk ke dalam mobil.
"Dia bahkan mengabaikan gadis cantik sepertiku??? Dia adalah salah satu pria yang tergoda dengan Irna Damayanti."
"Dia adalah Ceo Eagle star! apa sih yang membuat Irna begitu menarik perhatian pria!?" Gerutunya kesal.
Gadis itu langsung masuk ke kantor Rian, dia melihat Rian sedang berdiri memegang beberapa berkas di tangannya.
"Wah dokter ini begitu menawan! aku harus bisa mendapatkan perhatian darinya! memangnya siapa Irna itu!" Ujar Jesy pada dirinya sendiri.
"Dokter, tolong aku! sepertinya aku terkena virus! tolong selamatkan aku.." Pura-pura pingsan menjatuhkan diri ke lantai.
"Dia pasti akan mengangkat tubuhku ke kamar perawatan." Bisik Jesy girang dalam hati.
"Irna?!" Teriak Rian terkejut melihat gadis itu pingsan dan segera pergi mendekat hendak mengangkat tubuh Jesy.
Ketika hendak menyentuhnya, dia melihat kembali wajah pingsan itu. Tidak ada tahi lalat di bawah mata kanannya.
"Gadis ini siapa? dia tiba-tiba masuk tanpa mengetuk pintu lalu pingsan? wajahnya sangat mirip dengan Irna..?"
"Triiing!" Ponsel Rian berbunyi, membuat dirinya melupakan gadis pingsan di dalam ruangannya.
"Halo, iya Ir."
"Baiklah, aku akan ke sana nanti!" Ujarnya menutup telepon.
"Irna! lagi lagi Irna!" Geram Jesy dalam hatinya mendengar Rian memanggil namanya melalui ponselnya.
"Perawat, cepat kalian ke ruanganku." Rian menghubungi perawat melalui telepon di atas meja.
"Ada apa pak?" Tanya tiga perawat itu.
"Gadis ini tiba-tiba pingsan di dalam ruanganku, kalian angkat dia dan berikan perawatan!" Ujar Rian, membuat Jesy langsung bangkit berdiri.
Dia tidak ingin di bawa ke kamar rawat oleh para perawat.
__ADS_1
"Ah, maaf aku tadi tiba-tiba pusing." Ujarnya pura-pura memijit pelipisnya.
Gadis itu berjalan menghampiri Rian. Dan para perawat kebingungan tidak mengerti apa yang harus dilakukan.
"Kalian kembalilah." Perintah Rian pada para perawat.
Gadis itu duduk di depan Rian dengan santai.
"Apa yang membawa anda kemari?" Tanya Rian pada gadis di depannya.
"Aku merasa tubuhku ada yang salah, bisakah aku mendapatkan perawatan medis darimu?" Jesy beranjak berdiri memegang bahu memainkan dasi Rian.
"Wajahnya sangat mirip, jika aku kehilangan akal aku pasti lupa kalau wanita di depanku ini, dia bukan wanita yang aku cintai..." Ujar Rian dalam hatinya.
"Duduklah, apa yang kamu rasakan belakangan ini?" Tanya Rian melepaskan tangan Jesy dari bahunya. Lalu duduk di kursi.
Gadis itu bukannya duduk tapi malah berdiri di belakang punggungnya, meletakkan dagunya di bahu Rian.
"Wanita ini sengaja datang untuk menggodaku? apakah Irna yang repot-repot mengirimkan gadis mirip ini padaku? tapi mendengar telepon darinya sepertinya dia tidak tahu apa-apa." Bisik dalam hatinya.
"Maaf jika anda tidak duduk saya tidak akan melanjutkan pertanyaan, dan karena saya sibuk saya harus segera pergi." Rian berdiri melangkah keluar dari ruangan tanpa ingin menoleh ke belakang.
"Huft! hampir saja!" Rian menghela nafas panjang mengelus dadanya, merasa lega karena bisa melepaskan diri dari wanita tadi
Jesy terlihat sangat geram, keluar dari ruangan menghentak-hentakan sepatunya di atas ubin.
Gadis itu tidak menyerah, dia mengemudikan mobilnya menuju Reshort.
Jesy melangkah masuk ke dalam Reshort milik Fredian. Dia melemparkan senyum manis ke arah Fredian.
Saat itu Fredian sedang bercakap-cakap dengan klien di tengah taman Reshort.
Fredian tersenyum melihat Jesy berdiri melambaikan tangannya ke arahnya.
"Kenapa dia kemari? bukankah dia tadi di rumah bilang akan pergi ke proyek NGM pagi ini? apa dia sudah merindukanku lagi?" Bisik Fredian dalam hatinya.
Gadis itu membalikkan tubuhnya memunggungi Fredian.
"Aku merasa ada yang salah, parfum ini bukan parfum istriku!" Fredian buru-buru menarik kembali tangannya dari pinggang Jesy.
Tapi gadis itu segera berbalik mendongak bergelayut pada leher Fredian.
Irna lupa meninggalkan berkasnya di kantor Fredian pagi tadi, dan dia hendak kembali ke Reshort untuk mengambilnya.
Irna melihat gadis bergelayut mesra di leher suaminya. Dan Fredian memegang kedua tangan gadis itu. Menatap wajah gadis di depannya dengan wajah tersenyum.
"Bagaimana mungkin aku salah mengenali istriku sendiri!?" Gumam Fredian dalam hatinya, Fredian tersenyum menatap Jesy yang masih bermanja-manja.
Irna dengan sangat santai berjalan melewati mereka berdua.
Fredian mencium parfum istrinya berlalu di sebelahnya.
Dia langsung menoleh ke arah Irna yang berjalan santai melewati, tanpa menegur dirinya.
"Akhirnya aku menemukanmu!" Ujar Irna tersenyum cerah menemukan berkas pentingnya tergeletak di atas meja.
Lalu memasukkan ke dalam tasnya. Di depan kantor Fredian, dia melihat gadis yang kemarin membuat rambutnya acak-acakan.
Gadis itu sedang memeluk pinggang suaminya, sedangkan Fredian sibuk melepaskan diri darinya.
Fredian menatap Irna menunggu dia berbicara padanya.
Irna tersenyum melihat mereka berdua.
"Kamu ingin tahu siapa yang membuatku kemarin pulang dengan penampilan berantakan? jawabannya ada di sebelahmu!" Bisik Irna di telinga Fredian.
Irna melambaikan tangannya, pergi meninggalkan mereka berdua.
"Hey tunggu!" Fredian menyentakkan tangan Jesy dari pinggangnya berlari mengejar istrinya.
__ADS_1
Jesy ikut mengejar di belakang punggungnya.
"Irna tunggu!" Menghentikan langkah kaki Irna.
"Apakah kamu tidak bisa menyelesaikan masalah sekecil ini?" Tanya Irna pada Fredian.
"Aku akan mengantarkan kamu ke cabang NGM, pertemuanku dengan klien sudah selesai!"
Ujarnya tanpa menunggu jawaban dari Irna. Fredian langsung masuk ke dalam mobil duduk di belakang kemudi.
Jesy tanpa tahu malu langsung masuk ke mobil duduk di sebelahnya. Mendahului Irna.
Melihat Irna memijit keningnya, Fredian mulai takut.
"Siapa yang memintamu naik? cepat turun!" Teriaknya pada Jesy.
"Apa kamu lupa Presdir, bukankah kamu tadi sudah memelukku di lobi kantor?!" Ujar Jesy sambil bergelayut di lengan Fredian, melirik ke arah Irna.
Jesy melihat wajah Irna yang kesal tersenyum puas.
Irna melirik arloji di tangannya, lalu melangkah memutar.
Membuka pintu mobil di sebelah Fredian, menarik kasar Fredian keluar dari mobilnya.
Irna menyeret suaminya naik ke mobil satunya. Mendorongnya masuk ke dalam, sedang dirinya duduk di belakang kemudi.
Irna menyalakan mesin, dan mengemudikan mobilnya menuju cabang NGM.
"Irna aku salah mengenali dia.." Ujar Fredian membuka percakapan.
"Lain kali jangan terburu-buru." Ujar Irna memaklumi suaminya. Tapi wajah Irna masih terlihat sangat kesal.
Dia sudah sangat terlambat menuju lokasi, ditambah berkas tertinggal, lalu melihat suaminya berada di pelukan gadis muda dengan wajah bodohnya.
"Kenapa gadis itu tiba-tiba masuk ke Reshort dan merayuku? setelah mengacak-acak rambutmu?" Tanya Fredian tidak mengerti.
"Dia pikir aku merebut posisinya sebagai model, lalu dia mengamuk di lokasi pemotretan kemarin."
"Dan dia datang kemari sengaja membuat masalah denganku. Apalagi melihat suamiku yang sangat tampan berlari memeluknya sambil tersenyum!" Mendelik ke arah Fredian.
Mereka tak lama kemudian sampai di proyek. Rian sedikit terkejut melihat Fredian mengikuti Irna dari belakang.
"Tumben kamu ikut kemari?" Sapa Rian pada Fredian.
"Aku hanya ingin mengantarnya." Jawab Fredian masih terus menatap wajah Irna yang dingin.
Melihat mereka berdua sedang tidak dalam keadaan baik Rian segera membuka percakapan.
"Tadi aku sempat bertemu dengan gadis yang sangat mirip denganmu, dia memaksa ingin diperiksa, dan pura-pura pingsan! aku hampir salah mengenali."
"Awalnya aku mengira dia kamu! dan aku sangat terkejut ketika dia ingin menciumku dan merayuku jika saja aku tidak teringat dengan ini!" Ujar Rian tersenyum menunjuk ujung bawah mata kanannya sendiri. Di sana ada tahi lalat Irna.
Cerita Rian barusan membuat mereka berdua terbelalak kaget.
"Dia juga mendatangimu?" Tanya Fredian terkejut.
"Kamu begitu jeli dan bisa membedakan kami, sedangkan pria ini langsung memeluknya ketika melihatnya!" Geram Irna sambil melirik Fredian.
"Itu aku kira dia kamu aku terlalu senang dan langsung memeluknya.." Ujar Fredian menatap wajah Rian yang menahan tawa melihat Irna marah.
"Bukankah kamu sangat sibuk dan memiliki banyak berkas di atas meja?! urus itu segera dan nanti sore jemput aku kemari!"
"Atau aku akan pulang satu mobil dengannya." Menarik lengan Rian memegangnya sambil tersenyum mengangkat kedua alisnya.
"Ya, aku akan segera menyelesaikan pekerjaan lalu menjemputmu ke mari." Tatapan Fredian tertuju pada lengan Rian yang masih dipegang oleh istrinya.
Rian diam saja lengannya dipegang oleh Irna, dia melihat ke arah lain, bersiul-siul seperti tidak perduli.
Dia pikir memang perlu memberikan sedikit pelajaran pada Fredian yang salah mengenali istrinya sendiri.
__ADS_1
Bersambung....