Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
Rian's sacrifice


__ADS_3

"Silahkan nona.." Ujar Derent mempersilahkan Irna melangkah berdampingan dengannya, menuju lobby hotel tersebut.


Sesampainya di luar hotel, Derent sudah menyiapkan mobil untuk mereka berdua. Pria itu membukakan pintu mobil untuknya, Irna tersenyum lalu masuk ke dalam mobil tersebut.


Derent sendiri duduk di sebelahnya, sopir pangeran Derent mulai melajukan mobilnya menuju sebuah restoran mewah yang ada di negara Holland tersebut.


Sekitar setengah jam mereka sampai di sana, restoran tersebut sudah dipesan oleh pangeran Derent, demi menyambut kedatangan Irna. Gadis itu adalah tamu agung bagi kerajaannya.


Setelah tiga puluh menit berlalu...


"Apakah nona ingin makan selain di menu yang saya siapkan?" Tanyanya pada Irna karena gadis itu sejak tadi hanya meneguk minumannya, tanpa ingin mencoba makanan sedikitpun.


"Ah tidak perlu, saya akan menikmatinya." Irna tersenyum, kemudian menikmati makanan yang tersedia di atas meja tersebut. Gadis itu mencoba puding buah, dan ternyata rasanya sangat lezat dan lembut.


Derent tersenyum melihat Irna menikmati makanannya dengan lahap. "Maaf," Pria itu mengambil kertas tisu untuk mengusap ujung bibir Irna.


"Sepertinya pakaian ratu terlalu terbuka hari ini?" Memakaikan jasnya untuk menutupi bahu Irna.


Irna menoleh ke samping, dari suaranya dia tahu siapa yang memakaikan jas tersebut padanya. Dan juga suara seorang yang sangat familiar dengan pendengarannya.


"Rian?!" Panggilnya sambil memegangi tangan pria itu, yang masih bertengger di bahu kanannya.


"Maafkan saya mengganggu suasana malam romantis anda pangeran Derent." Ujarnya sambil menundukkan kepalanya. Pria itu memberikan penghormatan kepada Derent karena dialah pangeran vampir di kerajaan Belanda.


"Ah tidak apa-apa, silahkan duduk pangeran William." Ujarnya dengan sopan pada Rian. Tanpa sungkan-sungkan pria itu langsung duduk di antara mereka berdua.


Rian sengaja menggenggam jemari tangan Irna, membuat Derent melotot sambil tersedak. "Ehm! ehm! ehm!" Jonas menarik nafas panjang dalam-dalam, mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Apa ada masalah pangeran?" Rian tersenyum menatap Derent. Irna yang sejak tadi terdiam dia hanya menatap jemari tangannya pada genggaman tangan Rian.


Tanpa ragu Irna mengulurkan tangannya menyentuh kening Rian, "Kenapa?" Tanya Rian padanya.

__ADS_1


"Aku pikir keningmu panas," Gumam Irna sambil nyengir mengunyah pudingnya.


Setelah makan malam tersebut selesai Irna bergegas kembali ke hotel tempat ia menginap. "Baiklah nona saya duluan kalau begitu." Pamit Derent pada Irna, wajah pria itu terlihat sangat kesal karena melihat Irna bersama dengan Wiliam, alias Rian. Gadis itu hanya menganggukkan kepalanya menjawab ucapan Derent.


"Ngapain kamu kemari?" Irna berkacak pinggang lalu melemparkan jas Rian ke wajah pria itu.


"Aku punya rumah sakit dan juga cabang NGM di sini." Ucapnya santai seraya memakai kembali jasnya.


"Lalu kenapa kamu datang, ikut nimbrung di acara makan malam kami??" Menarik kedua ujung sudut bibirnya merasa kesal. Irna mengibaskan rambutnya beberapa kali kebelakang seraya menggigit bibirnya sendiri.


Rian hanya bisa menatapnya tanpa bicara. Menatapnya dengan tatapan tajam, "Kenapa? kenapa kamu menatapku seperti itu?! sudahlah aku mau kembali ke hotel dulu." Gadis itu melambaikan tangannya, sambil berbalik melangkah menyusuri tepi jalan raya.


"Irna tunggu!" Pria itu berlari kecil menyusulnya, berjalan di sebelahnya.


"Kenapa?" Gadis itu menoleh ke arahnya.


"Aku akan mengantarmu ke hotel." Meraih tangannya.


"Sudahlah ayo ikut!" Pria itu menarik tangannya sambil berlari kecil menuju ke arah mobilnya.


"Rian! tunggu! kenapa kamu menarik tanganku?! kamu tahu jika Fredian melihat ini, apa yang akan dia pikirkan? kamu lupa sudah memberikan diriku padanya?"


"Aku tahu! dan aku tidak pernah lupa dengan hal itu." Ujarnya pada Irna. Pria itu kembali tersenyum. Membukakan pintu mobil untuknya, dan mendorongnya masuk ke dalam. Lalu menutup pintunya.


Di dalam mobilnya, Fredian sudah duduk di belakang kemudi mobil. Kepalanya bersandar pada sandaran kursi mobil. Pria itu menoleh ke arah Irna. "Kamu?!!"


Irna kelabakan ingin membuka pintu mobil, dia melihat Rian berdiri di samping mobil pria itu tersenyum sambil melambaikan tangannya.


"Rian! tunggu! Fred!" Irna menatap wajah Rian di luar mobilnya, pria itu masih tetap tersenyum hangat.


"Rian! maafkan aku!" Ujarnya sambil mengusap air matanya, mobil tersebut perlahan melaju meninggalkan pria itu sendirian di sana.

__ADS_1


"Apa dia ingin menjadi seorang pahlawan kesiangan! menyebalkan sekali! dan kamu!! kenapa kamu tiba-tiba berada di sini? apa kamu yang memaksanya untuk mengantarmu kemari?!" Irna menoleh pada wajah pria di sebelahnya. Pria tampan yang hampir membuatnya gila, benar-benar membuatnya hampir gila.


"Kamu tahu kita sahabat baik." Ujarnya santai tanpa beban sama sekali.


"Kamu memanfaatkannya!" Teriak Irna pada suaminya, baru kali itu dia kembali berteriak setelah sekian lama.


"Apa kamu bilang??! aku memanfaatkannya?? kamu lupa? dia membawamu pergi, sampai kamu hamil Kania??! berapa lama itu??!" Teriaknya mulai marah.


"Oke! itu salahku! semuanya salahku! hentikan mobilnya!" Teriak Irna tidak sabar, tiba-tiba dia merasa pengap berada di dalam satu mobil dengan suami tercintanya itu. Dia ingin sementara waktu menikmati kesendiriannya.


Fredian tersenyum sinis, pria itu mulai terlihat sangat kesal! wajah tampannya semakin tampan! semakin menarik! baru kali itu Irna melihat kemarahan suaminya. Baru kali itu dia melihat suami tampannya mendengus sambil mengusap rambutnya pada tengkuknya sendiri.


Irna mengerjapkan matanya berkali-kali, kemudian melemparkan pandangannya ke luar kaca mobil. Melihat itu Fredian menambah kecepatan mobilnya.


Mobil sport tersebut meluncur secepat kilat ke Resort miliknya, di Belanda pria itu memiliki tujuh Resort. Irna tidak terkejut ketika para karyawan menundukkan kepalanya memberi hormat kepada suaminya itu.


Dia tahu itu adalah hotel milik Fredian. Pria itu menyeret tangannya menuju ke sebuah kamar besar yang ada di hotel tersebut, sebuah kamar yang terletak di ruangan khusus miliknya.


"Kamu juga punya kamar pribadi di dalam ruangan kerjamu, di sini. Bisa bebas membawa wanita keluar masuk ke dalam kamar!" Sindir Irna pada Fredian.


Fredian menghempaskan tangan Irna, membuat gadis itu sedikit terhuyung hampir menabrak meja. Untung saja perutnya tidak terbentur.


Gadis itu melangkah menuju ke arah pintu. Dia ingin segera kabur dari pria itu, dia melihat Fredian begitu marah. Dan saat di rumah sakit pria itu sudah melemparkan tubuhnya hingga terhempas menabrak dinding. Mungkin janin di dalam perutnya kini telah gagal.


"Kamu mau kemana?!" Tanyanya seraya melemparkan jasnya ke sofa, juga melonggarkan tali dasinya.


"Aku akan kembali ke penginapan, untuk mengambil koperku. Membawanya ke sini." Ujarnya dengan nada datar mencoba berbohong, sebenarnya Irna sangat kesal sekali! dia sangat kesal setengah mati!


*Bersambung....


Jangan lupa like+komentar+ vote juga ya? author akan crazy update seperti sebelumnya.. thanks for reading*...

__ADS_1


__ADS_2