
"Ramon! Hentikan dia!" Teriak Rian pada staf yang selalu mengikutinya kemanapun dia pergi itu. Ramon menganggukkan kepalanya dan segera mengejar wanita yang tadi melintas di hadapannya.
Beberapa menit kemudian Ramon kembali dengan nafas terengah-engah.
"Presdir."
"Mana dia?"
"Itu." Ramon menunjuk gadis yang satu detik kemudian muncul dari belokan lorong perusahaannya.
Wanita itu masih santai melangkah mendekat ke arah Rian. Tidak terlihat kesal dan tidak terlihat marah. Seperti telah hafal tentang kebiasaan pria di depannya itu.
"Kenapa kamu tidak berhenti ketika aku memanggilmu?!" Tanya Rian masih dengan nada tinggi. Gadis itu kemudian melepaskan dua earphone kecil yang tengah menutupi kedua telinganya.
"Astaga!" Rian mengusap wajahnya terlihat habis sudah kesabarannya menghadapi satu karyawan di depannya itu.
"Siapa namamu?"
"Angelina."
Rian sempat tertegun, kembali mendengar nama wanita kejam dan bengis itu. Wanita yang dia rindukan bertahun-tahun. Tapi segera ditepisnya karena suara wanita di depannya itu sangat berbeda dengan Kaila ataupun Angelina.
"Bisakah kamu menunjukkan kartu karyawan-mu padaku?"
Gadis itu mengeluarkan kartu dari dalam tasnya kemudian memberikannya pada Rian.
Di dalam kartu tersebut tertera nama.
'Angelina, 25 tahun, Blok CX.'
"Apa alasan anda memanggil saya kembali?" Tanyanya dari balik masker, tanpa meminta kartu tersebut kembali dari Rian.
"Aku tidak jadi memecat-mu. Jadi kamu bisa melanjutkan pekerjaanmu kembali." Ucapnya tanpa mengalihkan pandangan matanya dari kartu milik gadis itu. Dia bingung karena tidak ada foto di sana. Dia baru kali itu melihat kartu karyawannya tanpa foto.
"Maaf, saya sudah menghubungi laboratorium di Paris. Dan juga tiket penerbangan ke sana. Permisi." Ucapnya singkat, lalu kembali memasang earphone pada kedua lubang telinganya.
Gadis itu membalikkan badannya dan pergi begitu saja dari hadapannya. Kini Rian tidak bisa berkata-kata lagi.
Hanya melihat punggung gadis itu semakin lama semakin menjauh, lalu hilang di belokan lorong NGM.
Di Paris Fredian sedang membuat seminar di sebuah restoran mewah. Pertemuan tersebut berlangsung selama tiga jam.
Dia memilih tinggal beberapa hari di Resort miliknya yang ada di sana. Gadis yang bekerja di NGM milik Rian juga tiba di sana malam itu.
Gadis bernama Angelina, dia menarik kopernya menuju ke arah lift yang ada di Resort baru tersebut setelah mengambil kunci pintu kamarnya.
Saat dia hendak menutup pintu lift, terlihat pria berlari menyerbu tergesa-gesa menuju lift tempatnya dia berdiri sekarang.
Dia tidak sempat menyingkir ketika pria itu menyerbu masuk, saat tiba di pintu lift kakinya gagal mengerem hingga membuatnya jatuh tersungkur ke depan menabraknya.
Dua orang itu jatuh bergelimpangan di dalam lift. Berkas yang di bawanya jatuh berhamburan di lantai.
"Kamu! Apakah setan sedang mengejarmu? Akh punggungku!" Gadis itu meringis menahan nyeri di balik maskernya. Fredian masih berada di atas tubuhnya terus menatap sinar mata jernih gadis di bawah tubuhnya.
"Suaramu sangat berbeda! Tapi sinar matamu ini sama sekali tidak berubah! Irna!" Fredian menarik paksa melepaskan maskernya.
Dia melihat bibir menghitam, dan wajah pucat pasi di bawah tubuhnya.
"Uhk! Uhk! Uhk!" Dia mencoba merebut maskernya kembali, tapi pria itu malah menjauhkan dirinya.
"Berikan itu, uhk! Uhk!" Gadis itu terus terbatuk-batuk. Tangannya kesulitan menggapai maskernya, karena tubuhnya masih berada di dalam himpitan tubuh Fredian.
"Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaan dariku!? Kenapa kamu pergi selama ini! Kenapa tidak memberikan kabar padaku!?" Fredian menarik tubuhnya bangun dari atas lantai mengguncangkan bahu gadis itu.
Gadis itu diam saja dia kemudian keluar dari dalam lift tersebut, membatalkan niatnya untuk tinggal di sana.
Fredian berlari mengejarnya, mencengkeram erat pergelangan tangannya.
"Kenapa? Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaan dariku?"
Pria itu merasa sangat frustasi karena gadis itu tidak mau memberikan sepatah katapun penjelasan padanya.
Tidak ada kata-kata yang meluncur dari bibirnya untuk menepis dugaan Fredian padanya.
"Tuan? Anda salah orang. Saya Angelina bukan Irna. Lepaskan tangan saya." Gadis itu mencoba menarik tangannya dari genggaman tangan Fredian.
Tapi pria itu mlah menariknya masuk ke dalam pelukannya.
"Kamu sakit? Kenapa tidak mau menghubungi aku! Aku bisa merawatmu di rumah sakit terbaik." Pria itu menangis memeluknya dalam dekapan.
Seorang wanita berpenampilan mewah memainkan jemarinya, melangkah masuk ke dalam Resort Fredian, warna bibirnya semerah darah, mengenakan baju sebatas dada menampakkan sebagian bongkahan kenyal miliknya.
Dia mengambil kunci di meja resepsionis hotel tersebut, lalu melangkah menuju lift.
Dia melihat Fredian memeluk seorang gadis berwajah pucat bibirnya menyunggingkan senyuman manis.
"Aku tidak mengira, ternyata suamiku-pun salah mengenali istrinya!" Gumamnya saat melalui dua orang yang tengah berdiri di depan pintu lift tersebut.
"Suara ini!" Fredian buru-buru melepaskan pelukannya, dia mengusap kedua matanya dan ternyata dia memang salah mengenali orang.
"Dasar aneh!" Umpat gadis itu dengan wajah cemberut, dia segera merebut maskernya dari genggaman tangan Fredian.
Fredian mematung di depan pintu lift menatap wajah wanita di dalam lift. Pintu tersebut menutup perlahan-lahan. Wanita itu melambaikan tangannya sambil memainkan jemarinya di depan wajahnya sendiri, memamerkan kuku runcingnya.
Fredian melihat ke mana arah lantai pada lift, dimana wanita itu akan menuju. "Lantai delapan!" Gumam Fredian pada dirinya sendiri lalu memencet tombol lift dimana wanita itu tadi menuju.
Saat sampai di sana di melihat wanita itu sedang berdiri di depan jendela, menatap suasana malam itu.
Fredian menghampirinya memeluk pinggangnya dari belakang punggungnya.
"Di mana saja kamu selama ini?" Bisiknya di telinga Irna.
"Kemana menurutmu? Kamu tidak melihat penampilanku saat ini? Aku sedang menunggu tamu!" Jawabnya sambil tersenyum manis meraba pipi Fredian di atas bahu kanannya.
"Tamu? Di kamar hotel? Jangan bilang kamu menjual jasa!?" Fredian segera menarik tubuh Irna membalikkan badannya dengan kasar.
"Jasa? Hahahaha!" Irna tertawa terbahak-bahak mendengar tebakan Fredian.
__ADS_1
Beberapa detik kemudian datang serombongan vampir masuk ke dalam kamarnya. Fredian bingung dengan pemandangan di depan matanya itu. Dia tidak mengerti apa yang dilakukan Irna.
Ternyata para vampir itu membahas beberapa ramuan, dan gadis yang ditemui Fredian di lantai bawah tadi juga ikut serta di sana.
Ternyata gadis itu bekerja pada Irna. Dia mengeluarkan vaksin dari dalam kopernya. Membagikan pada para vampir yang berada di dalam ruangan tersebut.
Irna mendapatkan lima koper besar berisi lembaran uang dolar. Satu koper menjadi milik gadis pembuat vaksin itu.
"Apa racun di tubuhmu sudah baikan?" Irna mengangkat dagu gadis itu mencermati warna bibirnya.
Lalu dia mengeluarkan obat penawar dari dalam tasnya. "Ini sesuai janjiku!" Ujarnya pada Angelina.
"Terima kasih nona Irna. Tapi saya tetap akan bekerja pada anda nona. Tolong jangan usir saya! Bagi saya anda adalah ibu saya!" Gadis itu duduk bersimpuh di bawah kakinya.
Angelina adalah gadis kecil yang dibuang di tengah hutan, tak jauh dari gua tempat dia menyelamatkan Rian.
Irna tak sampai hati melihat gadis kecil itu terluka parah. Banyak sekali racun yang bersarang di dalam tubuhnya.
Irna juga yang memberikan nama Angelina padanya. Angelina bagi Irna adalah nama malaikat, malaikat yang kuat.
Dia menggendongnya melewati hutan belantara itu sendiri. Karena Irna memiliki kekuatan dia mampu mendatangkan uang banyak dalam waktu singkat melalui kalangan para vampir.
Tanpa mengungkapkan identitas dirinya. Dan malah menutup rapat-rapat segala-galanya. Dia memilih hidup sementara bersama dengan gadis kecil itu. Irna juga sama terkena racun. Dia tidak mengira jika gadis sekecil itu juga menderita sama sepertinya.
Dia bertekad akan membuat Angelina kecilnya sembuh. Irna lebih dulu cepat pulih karena bunga teratai biru mempercepat pemulihan tubuhnya.
Tapi tidak dengan gadis kecil itu. Irna mencobanya berkali-kali, hingga bisa bersih seluruhnya. Irna tidak mengijinkannya pergi sebelum kondisinya benar-benar pulih.
Gadis itu selalu menuruti perintahnya, baginya Irna adalah ibunya. Yang merawat dirinya sejak kecil. Dan Irna juga mengajarkan kepada gadis itu cara membuat ramuan untuk mendapatkan uang.
Kini mereka berdua kaya raya hanya dengan vaksin-vaksin hasil penelitian Irna.
Dan selama setahun lalu Irna memang menyuruh Angelina masuk ke dalam NGM. Untuk mendapatkan kabar pria es itu.
Angelina yang memberikan kabar padanya mengenai keadaan Rian. "Pria itu seperti kehilangan nyawanya." Begitu kata Angelina melalui ponselnya beberapa waktu lalu. Dan disusul suara tawa terbahak-bahak ibu angkatnya itu.
"Berdirilah Angelina." Irna menariknya berdiri dari atas lantai.
"Ibu!" Angelina memeluk Irna penuh rasa sayang. Dia tidak ingin terpisah sama sekali dengannya. Fredian hanya berdiri mematung melihat dua orang wanita itu berpelukan di dalam kamar suite tersebut.
"Ibu siapa dia? Dia kah pria yang ibu ceritakan itu?" Tanyanya sambil mengusap wajahnya. Untuk menghapus air matanya.
Irna menganggukkan kepalanya.
"Baiklah ibu, aku akan keluar. Aku sudah memesan kamar juga." Gadis itu kemudian melangkah keluar dari dalam ruangan tersebut. Membawa kopernya. Bersama tiga pengawal yang bertugas mengurus uang-uang tersebut.
Kini tinggal dirinya bersama Fredian di sana. "Apakah ini kebetulan atau sudah kamu rencanakan?" Ucap Fredian masih berdiri mematung melihat cuaca malam cerah di luar jendela hotel tersebut.
"Memangnya kapan aku memiliki rencana untuk menemuimu? Jika aku sudah merencanakan semua ini kenapa tidak dari jauh-jauh hari sebelumnya?" Ucapnya santai sambil duduk di tepi tempat tidurnya menopang tubuhnya dengan kedua tangannya di tepi tempat tidur, bersprei merah jingga tersebut.
"Lalu apa alasanmu tidak menemuimu selama ini?" Fredian berkacak pinggang menatap tajam ke arahnya.
"Untuk apa? Untuk mendengarkan kemarahan darimu karena menyelamatkan nyawa Rian? Hahahaha!" Irna meledakkan suara tawanya di depan pria yang masih berstatus sebagai suaminya itu.
"Jadi kamu sengaja pergi, agar aku tidak memarahimu! Iya?" Kini Fredian melangkah mendekatinya, dan merundukkan badannya mengurung tubuh Irna dengan kedua lengannya.
"Apa?"
"Jangan begini!"
"Kenapa? Kamu membuatku terlalu lama menunggu! Tidak tahukah kamu aku sangat menderita karena ulah-mu?" Mendaratkan bibirnya di atas dada kenyalnya.
"Sekali bertemu kamu langsung menuju ke sana! Dasar brengsek!" Irna menimpuk kepalanya dengan kepalan tangannya.
"Akh!" Fredian memekik memegangi tengkuknya karena dipukul oleh Irna.
"Aku merindukanmu sayangku." Kini dia memagut bibir tipisnya. Irna membalas pagutan lembut bibir Fredian.
Mereka berdua menikmati malam panjang itu di suite room tersebut.
"Triing!" Suara ponsel Fredian berdering nyaring di atas meja, pria itu masih berada di bawah selimut tanpa selembar benangpun memeluk tubuh mulus istrinya.
"Halo?" Jawabnya sambil mengerjapkan matanya berkali-kali. Dia masih tidak tahu siapa yang sedang menghubungi dirinya saat itu.
"Akhirnya anda mengangkat ponsel! Saya sudah di Resort. Anda berada di kamar lantai berapa?" Jawab Friska dari seberang.
"Fred? Kecilkan suara ponselmu? Aku lelah sekali, biarkan aku tidur sebentar lagi." Teriaknya dengan sengaja, pura-pura tidur tanpa membuka kelopak matanya.
"Aku berada di suite room lantai delapan." Jawab Fredian tanpa berpikir panjang lalu segera mengakhiri panggilan teleponnya, karena mendengar teriakan istrinya setelah lima tahun tidak dia dengar. Pikirannya kembali terasa kacau balau.
"Kenapa kamu malah menyuruhnya ke sini? Apa kamu kurang puas semalaman suntuk membuat milikku basah?" Desahnya sambil meraba leher pria itu dengan jemari runcingnya.
Satu goresan saja pembuluh darah di sana akan putus. Dan mengakhiri nyawanya saat ini juga.
"Irna aku tidak bermaksud begitu, gadis ini adalah klienku." Ucapnya sambil mempererat pelukannya pada pinggang istrinya.
"Benarkah? Hanya klien?" Rajuknya seraya membelai lembut bibir suaminya dengan jemari tangannya.
"Iya sungguh!" Ucapnya segera.
Friska sudah sampai di depan pintu kamar tersebut. Dia menata rapi-rapi rambut panjangnya. Menunggu pintu terbuka.
Irna malas-malasan bangun, dia meminta Fredian sendiri yang membukakan pintu tersebut. Irna masih tidur di balik selimut.
Fredian menyambar kimono tidurnya, kemudian memakainya dan melangkah menuju ke pintu.
Dia membuka pintu kamarnya, Friska penuh senyuman cerah menawan menerobos masuk ke dalam kamar tersebut.
"Kamu! Kenapa kamu! Kenapa masuk?" Fredian mengusap wajahnya sendiri.
Dia melihat wajah Irna, gadis itu telah membuka matanya karena suara Fredian terdengar berisik.
Friska melihat gadis cantik di balik selimut tanpa baju. Lalu tatapan matanya beralih ke arah Fredian.
"Apa anda sedang menggunakan jasa layanan kamar?" Tanyanya pada Fredian. Irna merasa tergugah untuk membuat sedikit kerusuhan.
Irna dengan santai memakai gaun tipisnya, melangkah mendekati wanita muda di depannya.
__ADS_1
Gadis itu seusia dengan Angelina putri angkatnya.
"Kamu bilang tadi apa? Layanan kamar? Wanita secantik aku kamu bilang layanan kamar? Aku bisa membeli satu negara jika aku mau! Dan pria itu adalah simpananku!" Tersenyum lembut menatap wajah pria yang berdiri mengusap wajahnya sambil menggigit bibirnya takut terjadi pertempuran antara kedua wanita itu.
Irna tentu saja bisa dengan mudahnya mengakhiri nyawa Friska tanpa harus melalui kesulitan.
"Presdir?" Kini Friska bertanya padanya.
"Iya, aku sangat mencintai wanita di depanmu itu. Dan kami semalaman di sini untuk berbulan madu." Jawabnya sambil tersenyum manis.
"Kenapa anda tidak bilang padaku jika mencintai wanita lain?"
Fredian terkejut mendengar pertanyaan itu, pertanyaan sekaligus fitnah dari bibir tipisnya untuk membuat hubungan mereka berdua menjadi berantakan.
"Irna kamu tahu aku pria seperti apa?" Hanya itu yang diucapkan oleh Fredian padanya.
"Aku percaya padamu! Tapi kamu tidak pernah mempercayaiku!" Irna membalikkan badannya melangkah menuju kamar mandi.
"Irna aku mencintaimu." Mengejar istrinya masuk ke dalam kamar mandi.
"Jangan lagi! Fred akkkh! Pelan-pelan!" Pekik Irna karena Fredian membuka pahanya lebar-lebar di dalam bath up dan bermain lagi di sana.
"Fred.. mmmhhh... Lagi sayang.. akkhh.. auuhh.. ahh ya... Begitu.. ahhh lebih cepat sedikit.. mmhhh!"
Friska merasa sekujur tubuhnya merinding mendengar dua daging berbenturan menggema di balik pintu kamar mandi yang tertutup di depan matanya itu.
Dia segera pergi dari dalam ruangan dengan hati mendidih.
Siang itu Fredian mengajak Irna kembali ke London. Untuk menyapa Rian, Angelina ikut serta bersamanya.
"Hai ayah!" Sapa Angelina putri angkat Irna pada Presdir yang kemarin marah-marah padanya.
"Kenapa dia memanggilku ayah?" Tanya Rian pada Irna yang kini berdiri di sebelahnya.
"Karena dia putri angkat ku!" Irna tersenyum dengan bangga menatap anak didiknya.
Wajah Angelina tidak lagi pucat, karena racun di dalam tubuhnya telah bersih.
"Kamu melahirkannya?"
"Aku menemukannya di hutan saat aku pergi setelah mengambil racun dari dalam tubuhmu." Jelasnya pada Rian.
"Pantas saja vaksinnya lain! Ternyata hasil didikan darimu." Gumam Rian sambil mengusap rambut anak bernama Angelina itu.
Fredian tersenyum melihat wajah Rian tersenyum setelah lima tahun masam dan suram.
Mereka menghabiskan waktu bersama-sama satu hari itu. Kania turut datang bersama suaminya dan Nira.
Karin pun tak mau ketinggalan, dia datang satu mobil dengan Maya.
Ramon duduk di sudut menikmati minuman di tangannya.
Author sibuk memasang kamera di tengah ruangan.
"Kalian duduk merapat!" Teriak author bersiap mengambil potret mereka semua.
"Thor ikut juga ke sini!" Teriak Nira sambil menyeret krah jaket kulit warna hitam author.
"Kayaknya aku nggak bisa sejajar dengan wajah manis kalian." Menutup wajahnya dengan sepuluh jarinya.
"Sudah ikut saja!" Fredian memegangi bahu author sambil mulai berpose.
"Satu." Teriak Fredian.
"Dua." Sahut Nira.
"Tiga!" Irna memonyongkan bibirnya sambil berpose dengan jemari di kedua pipinya.
"Empat!" Rian menyilangkan kaki kirinya di atas kaki kanannya.
"Lima!" Maya memeluk Kania.
"Lama amat?! Buruan!" Author tidak sabar mau ngibrit ke belakang layar.
"Enam! Cklek!" Semua anggota pemeran tiba-tiba menyerbu masuk, Javi Martinez, Jermy erlando, nyonya Derose, keluarga Carney dan lain-lain.
"Kami semua keluarga dari novel berjudul 'Misteri Gadis Pemikat' karya author Gila "ins" mengucapkan terima kasih atas dukungan para Readers yang selalu setia menunggu kelanjutan episode demi episode kami di sini."
"Dan juga terima kasih sudah setia selama ini bersama kami!"
"Kami selalu mencintai kalian!"
"Terutama aku dan dia!" Fredian merangkul bahu Irna.
"Byeeee Readers...." Semuanya melambaikan tangannya ke arah pembaca yang lagi ngomel-ngomel.
"Kok tamat sih?!"
"Gini amat author!"
"Iya gak seru!"
"Masa gini doang Thor!"
"Bikin kek kelanjutannya!"
Author tersenyum manis menyibakkan rambutnya ke belakang, bergaya ala foto model.
"Thor jangan gila di sini! Malu-maluin! Kameranya masih nyala!" Kania mendorong author menyingkir dari kamera, menyeret masuk ke dalam.
Mereka berdua melambaikan tangan di balik punggungnya sambil terus melangkah masuk.
Satu detik kemudian author di tendang keluar. "Brraaak!" Pintu tertutup tepat di depan wajahnya.
"Saya salah masuk, saya mau pulang dulu Readers, angkat jemuran! Sekalian mandi! Bye! I love you!"
TAMAT
__ADS_1