
Irna termenung dalam kesendirian, duduk memeluk lututnya di lantai, kedua pipinya telah basah dengan air mata. Dia tidak mengira Fredian akan pergi begitu saja.
"Ini pasti mimpi!" Ujar Irna sambil mengusap wajahnya. Gadis itu bangkit berdiri, dia mengambil tasnya bersiap untuk menuju ke Resort Fredian. Saat keluar dari dalam rumah tersebut Eroine telah berdiri di luar rumahnya.
Pria itu berdiri memunggunginya, lalu berkata, "Kenapa kamu begitu sedih? Itu bukan salahmu. Itu masa lalu, Angelin.. Aku baru tahu seleramu jatuh pada pria pencemburu sepertinya."
Eroine membalikkan badannya menatap Irna. Gadis itu memicingkan matanya menatap wajah pria di depannya itu, kedua tangannya masih sibuk mengusap air matanya yang terus meleleh.
"Maafkan aku, aku, aku!" Irna meledakkan tangisnya, bahunya terguncang hebat akibat Isak tangisnya. Eroine menarik lengannya membiarkan wanita yang sudah bukan siapa-siapanya itu menangis di atas dadanya.
"Aku tahu! Aku juga tidak berharap kamu kembali padaku Angelin." Eroine menepuk punggung Irna membiarkan mantan kekasihnya itu mengeluarkan segala kepedihan hatinya.
Desau angin menerpa dua sejoli itu, Irna masih terus terisak dalam pelukannya. Fredian mendengar Irna menangis, dia segera kembali tapi yang terlihat di depan matanya Irna berada di pelukan Eroine. Pria yang dianggapnya sebagai saingan.
"Kalian mesra sekali!" Ujarnya sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Fredian!" Irna melepaskan pelukannya lalu berlari ke arah Fredian. Pria itu menatapnya dengan tatapan mata dingin.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu? Kamu meragukanku?"
"Kamu barusan dari dalam pelukannya, bukankah kalian sedang bernostalgia?"
"Dia istrimu! Jaga bicaramu pria ingusan!" Eroine mulai naik pitam mendengar mantan kekasihnya dihina terus-menerus olehnya, dia melihat ratunya Angelina, yang tak lain adalah Irna begitu tertindas di kehidupan sekarang.
Fredian mendengus kesal, " Oh? Kamu tahu dia istriku? Lalu kenapa kamu masih berdiri di sini? Kenapa dia berada di dalam pelukanmu!" Fredian benar-benar sangat marah, bersiap menghajar Eroine.
"Fred! Dengarkan aku! Kamu akan menyesalinya! Kamu pasti menyesalinya! Akkkkkkkkkkkkkkh!" Irna berteriak histeris, tanah di bawah kakinya bergetar. Pepohonan di hutan mulai tumbang satu persatu. Seperti gempa yang sangat besar! Laut di seberang gunung ikut bergolak berdebur menakutkan! Irna kehilangan kesadarannya, wanita itu telah berubah menjadi Angelina, Angelina wanita berdarah dingin. Ingatannya telah kembali sepenuhnya namun mengubur ingatan dirinya bersama Fredian.
Wanita iblis, kejam, dan dingin.
"Awas bahaya!" Eroine berteriak saat Fredian berlari memeluk Irna, pria itu bermaksud ingin menghentikan amarahnya.
__ADS_1
"Baaakkkk! Duk! Ukh!" Fredian terpental tubuhnya menghantam pohon besar, jatuh ke tanah.
"Dasar bodoh! Menurutmu kekuatan macam apa yang bisa membunuhku?! Membuatku terbaring beratus-ratus tahun lalu!" Eroine menarik tubuh Fredian membawanya pergi dari hadapan Irna.
"Kamu mau membawaku kemana?" Fredian memuntahkan darah segar, dia dipapah Eroine pergi menjauh dari Irna.
"Kamu mau kemana? Aku akan mengantarkanmu!" Ujarnya masih menahan tubuhnya agar tidak roboh ke tanah.
"Kamu mencintainya?" Tanya Fredian lagi padanya.
Pria itu melepaskan tangan Eroine dari atas bahunya, memilih duduk bersandar di pohon yang masih berdiri di tengah hutan.
"Iya, aku mencintainya jauh-jauh hari." Ujarnya sambil berjongkok di sebelahnya. "Kamu terluka parah, apakah kamu mengenal seseorang yang bisa membuatmu sembuh lebih cepat?" Eroine mulai khawatir karena luka Fredian benar-benar parah.
"Ada, pangeran William. Uhk! Uhk!" Ujarnya sambil terbatuk-batuk. Eroine menjentikkan jarinya dan mereka tiba di laboratorium dimana Rian berada sekarang.
Rian melihat Fredian terluka parah, segera mengambil alih tubuhnya dari Eroine.
"Angelina membuatku hidup kembali. tapi dia juga membinasakan semuanya yang ada di sekitar rumahnya." Jelas Eroine lagi, pria itu membantu memapah Fredian. Membaringkannya di atas tempat tidur pasien yang ada di ruangan tersebut.
"Angelina maksudmu?!" Rian tercekat mendengar penuturan raja tersebut.
Setelah menginjeksikan cairan obat pada lengan Fredian, Dia segera menghampiri Eroine. Rian ingin mendengar penjelasan secara rinci mengenai wanita yang bernama Angelina tersebut.
"Pemilik bunga kristal es?!"
Eroine menganggukkan kepalanya dua kali pria itu sedang duduk di sofa yang ada di depan meja kerjanya. Duduk berhadapan dengan Rian, wajahnya terlihat serius.
"Angelina sudah menikah dengan dirinya," Pria itu menoleh menatap Fredian yang sedang berbaring di atas tempat tidur pasien.
"Irna? Irna adalah Angelina? Bagaimana mungkin? Setahuku dia adalah wanita yang memiliki kedua orang tua, namun dia menjadi gadis yatim piatu ketika kedua orang tuanya terlibat dalam kecelakaan."
__ADS_1
"Angelin memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri ketika rumor tentang diriku, dia berpikir aku masih memiliki hubungan dengan ratu Holland. Aku tidak bisa menghentikan kabar yang telah beredar! membuat dia marah sekali, kemudian menghunuskan pedangnya saat pesta pernikahan kami. Dan dia membuatku terbaring beratus-ratus tahun silam."
"Dia kini bereinkarnasi menjadi wanita biasa! Walaupun begitu itu tidak bisa merubah takdirnya sebagai pewaris bunga kristal es! Dia telah kembali."
"Lalu kenapa dia terluka seperti itu?" Menoleh ke arah Fredian di atas tempat tidur pasien, pria itu kondisinya perlahan-lahan mulai membaik.
"Dia sudah membuat wanita itu kehabisan kesabarannya! awalnya Angelina terlihat begitu sedih hingga aku meraihnya ke dalam pelukan untuk meredakan tangisannya." Jelasnya pada Rian.
"Tentu saja, dia sangat sedih karena pria yang dicintainya tidak habis-habisnya mencurigainya. Apalagi melihat kehadiran mu di sisinya! Dia pasti ingin langsung membunuhnya."
"Aku tidak mengerti vampir di jaman sekarang, begitu over posesif? Apa dia pikir istrinya begitu mudah jatuh cinta pada pria lain?!" Eroine melihat perubahan warna wajah Rian. Dia sedikit terkejut lalu memijit pelipisnya.
"Aku juga mantan suaminya!" Rian membuat situasi mereka berdua menjadi sedikit canggung.
"Astaga! Berapa banyak pria yang sudah naik ke tempat tidurnya sementara aku terbaring menjadi mayat!" Eroine benar-benar tidak mempercayai kenyataan yang harus ditelannya pahit atau manis. Karena memang begitu kenyataannya.
"Dia terlalu cantik, dan sangat cantik! Kecantikan Irna terus bertambah dan semakin memikat! Aku sendiri bingung, sudah berkali-kali aku kehilangan kewarasan-ku!" Ujarnya berterus terang.
"Lalu dimana wanita itu melabuhkan hatinya?"
"Kamu lihat pria posesif itu? Dia yang dicintainya sejak awal sampai sekarang. Tapi sepertinya dia terus membuat masalah hingga semakin rumit." Rian menggelengkan kepalanya sambil memejamkan matanya.
Fredian sudah sadar, pria itu bangkit dari tempat tidurnya.
"Kalian sedang membicarakan-ku?"
"Hem." Rian tersenyum melihat wajah Fredian, seperti biasanya.
"Lalu bagaimana caraku mendekatinya? Apakah kamu punya cara untukku?" Fredian bertanya, pria itu melemparkan pertanyaan tersebut pada Eroine.
"Aku tidak tahu, kamu seharusnya meraihnya ketika dia benar-benar ingin bersamamu! Kamu pria terbodoh yang pernah aku temui!" Eroine menatap Fredian, dia memandang Fredian seperti melihat pria yang sangat menyedihkan.
__ADS_1
Bersambung...