Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
Apakah ikan lebih menarik dari wajah tampanku??


__ADS_3

"Kenapa kamu menutupi wajahmu begitu?" Ujar Irna sambil menahan tawanya.


"Bukan apa-apa!" Jawab Fredian dengan wajah merah.


"Seharusnya kamu bahagia aku bersedia berdiri di sampingmu besok, bukankah ini yang kamu inginkan?" Tanya Irna sambil melirik ke arahnya.


"Tapi kenapa wajahmu tidak ada ekspresi sama sekali? apakah kamu tidak senang menikah denganku?" Tanya Fredian lagi.


"Ini bukan masalah senang atau tidak senang. Lagi pula ini bukan pertama kalinya kamu melamarku. Dan bukan yang pertama kalinya seseorang melamarku."


"Ah aku kecewa sekali.." Fredian pura-pura berduka.


"Sejak kapan kamu menyiapkan semuanya?" Tanya Irna lagi.


"Sejak sore tadi, dan kita besok hanya tinggal berjalan beriringan bersama sebagai sepasang pengantin."


"Bukankah itu manis sekali?!" Ujar Fredian penuh semangat.


"Jangan terlalu senang dulu, kita harus memikirkan cara jika gadis penggemarmu itu membuat masalah!" Sergah Irna menatap serius ke arah Fredian.


"Memangnya siapa yang bisa melawan Fredian?" Tanyanya pada Irna.


"Kita hanya membuat persiapan saja, pasanglah cctv tersembunyi mulai hari ini pada setiap ruangan!" Ujar Irna serius.


"Kamar kantorku?" Seloroh Fredian tersenyum mengangkat kedua alisnya.


"Itu tidak perlu!" Irna mengusap keningnya sambil memalingkan wajahnya tiba-tiba.


"Aku akan tidur di sini malam ini." Melangkah masuk ke dalam kamar seraya mengangkat tubuh Irna.


"Besok acara pernikahan hanya akan dihadiri oleh karyawan saja, aku akan membuat tayangan secara live untuk menunjukkan kalau kita sudah menikah secara resmi." Jelas Fredian sambil meletakkan tubuh Irna di atas tempat tidur.


"Terserah padamu saja, aku ngantuk aku akan tidur sekarang." Irna tersenyum memeluk Fredian di sebelahnya.


"Apakah kamu akan langsung tidur?" Ujar Fredian seraya menarik ujung hidung Irna.


"Jangan mulai lagi!" Teriak Irna ketika Fredian menutupi seluruh tubuh mereka berdua di balik selimut.


Pagi itu hari yang cerah untuk Fredian dan Irna mereka berjalan beriringan menuju altar pernikahan.


Gaun yang sangat mewah dan serasi dengan bentuk tubuh Irna, Irna terus menebarkan senyuman yang sangat menawan.


Setelah acara pernikahan selesai, mereka melakukan konferensi pers. Untuk menyatakan bahwa keduanya telah menikah secara resmi.


"Wah mereka licik sekali, sengaja tidak mengundang siapapun tapi langsung melakukan konferensi pers." Ujar Rian sambil tersenyum menatap wajah Irna dan Fredian di layar kaca.


Reynaldi berada di sana, karena dialah yang mendesain baju pengantin mereka berdua.


Dia turut bahagia melihat Irna menikah dengan Fredian.


Tak henti-hentinya Fredian menatap wajah Irna di sebelahnya. Hari itu kedua orang tua Fredian juga hadir di sana.


Mereka sangat bahagia akhirnya putra satu-satunya menikah secara resmi.


Irna mendapatkan hadiah sebuah rumah dari ayah dan ibu Fredian, rumah yang sangat mewah di kawasan elite, dan terletak di tepi pantai.


Irna sangat bahagia, memeluk mereka berdua seperti memeluk kedua orang tuanya sendiri.


Ruina sangat geram melihat tayangan langsung di televisi kamarnya, dengan marah dia melemparkan sepatu high heels ke arah layar televisi.

__ADS_1


Hingga membuatnya hancur berkeping-keping.


Setelah acara hari itu selesai, Irna masuk ke dalam kamar pengantin yang sudah disiapkan oleh Fredian untuknya.


Banyak kelopak bunga mawar merah jambu dan mawar putih menghiasi tempat tidurnya.


"Apa nyonya Fredian menyukainya?" Memeluk pinggang Irna dari belakang meletakkan dagunya di bahu kanan Irna.


"Hem!" Irna menganggukkan kepalanya.


Fredian tersenyum mencium pipi kanannya. Kemudian mengangkat tubuh Irna ke atas tempat tidur, menimpa kelopak bunga yang berserakan.


Menindih tubuh Irna di bawah tubuhnya. Mencium bibir istrinya dengan lembut. Irna meraih leher Fredian membalas ciumannya.


Perlahan melepaskan gaun pengantin Irna, melemparkan di ujung tempat tidur.


Menciumi leher gadis itu, tak sejengkal kulitpun luput dari ciumannya.


Satu jam berlalu, dua jam berlalu, tiga jam berlalu, empat jam berlalu.


"Bisakah kamu menghentikannya, ini sudah yang ke enam kalinya malam ini?" Desah Irna meremas punggung Fredian di dalam bath up.


"Kamu bisa melakukannya lagi besok.. aduh! akh!" Rintih Irna menahan nyeri.


"Kamu tidak menolaknya.." Mencium leher Irna dengan lembut.


"Kamu suamiku, mana mungkin aku menolakmu.." Desahnya lagi meremas bahu Fredian.


"Jadi aku ingin melakukannya sepanjang malam, karena kamu tidak menolakku" Bisik Fredian menghembuskan nafas hangatnya di wajah Irna.


"Aku tidak akan bisa berjalan besok." Menempelkan ujung hidungnya di hidung Fredian.


"Aku akan dengan senang hati menggendongmu" Mengecup bibirnya.


Irna tidur di pelukan hangat suaminya. Fredian merengkuhnya seolah tak ingin melepasnya sedikitpun, seharipun, sedetikpun.


Irna terjaga ketika waktu menunjukkan pukul sepuluh pagi.


Dia melihat Fredian sudah tidak ada di sampingnya.


"Kemana dia pergi?" Ujarnya seraya bangkit dari tempat tidur.


"Akh! sakit sekali, bahkan aku tidak bisa menegakkan kakiku!" Gerutunya sambil memegangi pinggulnya.


Irna mengambil pakaian dari dalam lemari kemudian memakainya.


"Apa dia bekerja setelah hari pernikahannya?" Irna berjalan ke pintu melongokkan kepala keluar pintu.


"Tidak ada orang di luar pintu? lalu aku harus bertanya kepada siapa ke mana dia pergi?"


Irna melangkah ke dalam kamar mandi, membersihkan dirinya. Kemudian mengambil gaun merias wajahnya sebentar, melangkah keluar dari kamar.


Berjalan keliling Reshort, jika dia menemukan seorang dia ingin bertanya.


Hanya ada petugas kebersihan yang sedang sibuk hari itu membersihkan sisa pesta semalam.


Irna duduk di tepi kolam, melihat air jernih di depannya.


Irna mengamati ponsel dalam genggamannya.

__ADS_1


"Dia bahkan tidak meninggalkan pesan apapun untukku" Ujar Irna sedikit tidak senang.


"Haruskah aku pergi ke kantor sehari setelah acara pernikahanku? itu terlihat tidak masuk akal."


"Tapi aku bosan sekali jika hanya berdiam diri di sini" Ujarnya kembali.


"Oh, bukankah aku punya rumah megah sekarang? aku akan pergi ke sana untuk melihat-lihat."


Irna segera melangkah menuju kamarnya berniat mengambil tasnya.


Gadis itu melangkah santai menyusuri jalan berkabin ungu muda, keluar dari Reshort. Dia juga tidak ingin menghubungi suaminya, dia pergi begitu saja.


Setelah Irna pergi Fredian sampai di Reshort, pria itu memarkir mobilnya, dia baru pulang dari bandara mengantarkan kedua orang tuanya. Dia sedikit terkejut melihat mobil Irna tidak ada di sana.


Fredian segera berlari menuju kamarnya, dia tidak menemukan Irna.


"Kenapa dia tidak meneleponku?! gadis itu kebiasaannya! keras kepala sekali! tidak bisakah dia meneleponku terlebih dahulu!?" Fredian memijit pelipisnya mendadak pusing.


Sesampainya di sana Irna menempelkan card untuk membuka gerbangnya.


"Benar-benar seperti istana.. wah, senangnya!" Irna duduk di tepi kolam ikan besar di taman samping rumah mewah tersebut.


"Triiingggg! ah akhirnya kamu meneleponku!" Ujar Irna dengan suara riang.


"Tak bisakah kamu bilang dulu padaku ketika akan pergi kemana-mana?! kamu sekarang istri Presdir Fredian!" Fredian bicara dengan nada cemas.


"Aku dulu juga pernah menikah dengan dua Presdir sebelum pernikahan ke tiga kali ini, tapi aku tidak pernah permisi ketika ingin kemana-mana!! waaah cantiknya, wah mulutmu imut sekali, wahhh!" Ujar Irna mencampurkan jawaban dengan macam-macam ikan di kolam.


"Kamu terlihat sangat riang dan gembira! kamu sedang bersama dengan siapa sekarang?!" Tanya Fredian dengan nada tidak ramah.


"Aku bersama dengan banyak ikan tampan!" Jawabnya tanpa rasa bersalah sama sekali.


"Maksudku kamu berada di mana?"


"Di rumah kita!" Ujar Irna bersemangat.


Fredian segera berlari menuju mobilnya, mengemudikan mobilnya menuju rumah yang dihadiahkan oleh kedua orang tuanya.


Sesampainya di sana dia menempelkan telapak tangannya di kunci pintu masuk.


Pintu gerbang terbuka dan dia memarkirkan mobilnya di sebelah mobil istrinya.


Rian turun dari mobil melihat wajah cerah Irna berjongkok di tepi kolam ikan.


"Dia tidak masuk melihat isi rumahnya malah berjongkok melihat ikan di kolam? gadis itu, bahkan aku tidak bisa marah padanya saat aku ingin memarahinya sekarang." Pria itu tersenyum ikut duduk di sebelahnya.


"Lihatlah ini imut sekali!" Ujar Irna tanpa menoleh ke arah Fredian.


"Iya! lebih imut dari suamimu!" Fredian mencelupkan telapak tangannya di dalam air, menjentikkan jarinya ke wajah Irna.


"Kamuuuuuu! Dasaaar! tidak bisa melihatku senang sedikit saja!" Irna membalas mencelupkan kedua tangannya mengambil air dari kolam melemparkan ke wajah tampan Fredian.


"Ha ha ha! lihat wajahmu seperti kepiting, basah kuyup!" Fredian tergelak melihat Irna menggembungkan kedua pipinya dengan kepala basah kuyup menahan marah.


"Ah dasar kamu selalu menyebalkan!" Mencubit pinggang Fredian dengan gemas.


Pria itu dengan sengaja mengelak berlari masuk ke dalam rumah sambil terus tertawa, Irna masih mengejarnya, wajahnya merajuk kesal.


Di sisi lain kedua orang tua Fredian tersenyum melihat mereka berdua melalui rekaman cctv halaman rumah.

__ADS_1


Rekaman tersebut dikirimkan oleh petugas keamanan yang menjaga rumah mereka berdua.


Bersambung...


__ADS_2