Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
정말 미쳤어? 아니면 가짜?jeongmal michyeoss-eo? animyeon gajja?Are you really crazy?


__ADS_3

Arya Ardiansyah naik ke dalam mobil Irna, dia duduk di kursi bagian belakang.


"Hei! Kenapa tidak duduk di kursi depan?" Tanyanya sambil menatap pria itu.


"Ah, aku tidak ingin terlibat skandal denganmu, itu akan mencemari nama baikku!" Tandasnya sambil menarik ujung bibirnya tersenyum paksa.


"Woaah! dasar pria gila ini! sudah nebeng sekarang dia malah menjadikan aku supirnya!" Gerutu Irna sambil menyalakan mesin mobilnya.


"Aku mendengar umpatan darimu barusan, apa kamu merasa kecewa? karena aku satu-satunya pria waras dan masih memakai akal sehatku! walaupun Irna Damayanti seorang yang terkenal cantik dan luar biasa, tapi bagiku Irna bukan tipeku! masih jauh di atas rata-rata!"


Nyerocos tanpa henti seakan-akan dia berbicara dengan orang lain, sambil meringis memeriksa giginya di kaca jendela mobil sebelahnya.


"Woah! aku benar-benar kehabisan kata-kata!! bagaimana bisa ada mahluk dari planet Pluto nyasar masuk ke dalam mobilku!" Ujar Irna sambil menghentikan mobilnya di depan halte bus.


"Kenapa berhenti?!" Tanya Arya padanya.


"Bukankah kamu minta di antar ke halte?" Tanya Irna sambil menoleh ke belakang menatap pria itu masih merapikan rambutnya.


"Karena kamu baru saja mengatai pria tampan sepertiku mahluk dari planet Pluto, maka antarkan aku ke perusahaanku. Tenang saja, karena aku pria tampan dan baik hati jadi aku tidak akan menuntutmu karena sudah mencemari nama baikku." Penuh percaya diri tersenyum sangat manis.


"Aku menyesal memiliki teman gila sepertimu! untung cuma ada satu di dunia ini! jika ada lima, aku akan berlari ketika melihat batang hidungnya!" Ujarnya lagi melajukan mobilnya menuju perusahaan Arya.


"Berapa banyak kamu mengatakan aku pria gila mahluk planet, dan seterusnya?!" Tanyanya pada Irna.


"Hitunglah sendiri berapa kali! aku malas sekali." Irna mulai kesal menghadapinya.


Satu jam kemudian Irna sampai di perusahaan milik Arya. Irna menghentikan mobilnya.


Dia menunggu Arya Ardiansyah agar pria itu segera turun dari mobilnya. Hampir sepuluh menit, pria itu masih sibuk memeriksa ponselnya.


"Kamu sampai kapan akan tetap berada di dalam mobilku?!" Tanya gadis itu padanya.


"Bukakan pintu mobilnya." Perintahnya pada Irna.


Irna mendelik menoleh ke belakang menatap pria itu. Saat dia hendak membuka bibirnya untuk menghardiknya, tiba-tiba Arya langsung tersenyum dan mendekatkan wajahnya.


"Mau apa kamu!?" Teriaknya terkejut lalu segera menjauhkan wajahnya.


"Terima kasih." Pria itu masih mengulum senyumnya dan turun dari mobil Irna.


"Hahahaha! terkadang dia terlihat normal!" Ujarnya sambil kembali menyalakan mesin mobilnya.


"Tok! tok! tok!" Arya mengetuk kaca mobilnya.


Irna segera menurunkan kaca mobilnya.


"Apa lagi?!" Irna melongok keluar jendela mobilnya tapi pria itu tidak terlihat, tiba-tiba kepala Arya muncul melongok ke dalam mobilnya.


Hampir saja wajah mereka berdua bertabrakan, jika Irna tidak segera menghempaskan kepalanya ke belakang.


"Ambilkan berkasku di jok belakang." Perintahnya sambil meringis memamerkan gigi putihnya.


"Ambil sendiri!" Teriak Irna dengan wajah pucat dan kesal sekali.


Arya mau tidak mau membuka pintu belakang untuk mengambil berkasnya, pria itu masih mematung memeriksa berkasnya satu persatu.


Melihat pria itu sedang sibuk Irna segera melarikan mobilnya, dia sudah tidak tahan berada di dekat pria diluar batas normal itu.


"Irna tungguuuuuu!" Teriak Arya menggila sambil berlari mengejar mobilnya.


Irna tidak mendengar teriakannya dan terus melaju kencang, dia ingin segera pulang. Gadis itu melarikan mobilnya menuju rumahnya.


Saat sampai di rumah Irna mendapatkan telepon dari Rini.


"Kenapa Rin?" Tanyanya pada sekretarisnya itu.


"Ada masalah Bu.." Ujarnya dengan suara sedikit takut.


"Masalah apa?"


"Ini mengenai pak Arya Ardiansyah Bu.."


"Tadi aku sudah meeting dengan dia, sepertinya tidak ada masalah."


Terangnya sambil melepaskan kancing bajunya satu persatu dan berjalan menuju bath up yang sudah terisi dengan air hangat.


Irna ingin berendam melepaskan seluruh penatnya hari itu.


"Pak Arya sedang menuju rumah anda.." Ujar Rini lirih.


"Apaaaa???!! ngapain dia kemari??!" Teriaknya tanpa menahan volume suaranya.


"Saya tidak tahu Bu, katanya ada sesuatu yang penting." Jelas Rini lagi.


"Oke, aku akan menunggunya." Irna mengakhiri panggilan teleponnya tepat saat itu bel rumahnya berbunyi.


Pelayan Irna membukakan pintu untuknya, Irna segera mengambil baju mandinya dan mengikatkan di pinggang rampingnya.


Irna turun dari lantai atas, rambutnya masih basah. Dia segera menghampiri pria yang sedang membongkar isi lemari esnya itu.


"Ada apa kamu kemari?" Tanyanya sambil bersandar di samping lemari es.

__ADS_1


Arya mengambil sebuah apel segar dan mengunyahnya.


Pria itu dengan mulut penuh apel menunjuk pergelangan lengan kirinya.


"Telan dulu itu baru bicara!" Irna cemberut lalu duduk di kursi meja makan. Pelayan Irna menyediakan puding buah di meja.


Saat Irna hendak menusuk dengan garpu, piringnya sudah lenyap dari pandangan matanya beralih di depan Arya.


"Haiiiissh! pria ini benar-benar!" Gerutunya lagi.


Mendengar Irna menggerutu pria itu malah nyengir tanpa rasa bersalah sama sekali.


Irna menopang dagunya dengan kedua telapak tangannya. Dia melihat Arya sedang menikmati pudingnya, seperti orang yang tidak makan selama setahun.


Pelayan Irna menyediakan puding lagi untuk nyonya rumahnya itu. Irna segera menikmatinya.


"Apa yang membuat dirimu mencariku?" Tanya Irna lagi mengulangi pertanyaannya.


"Jam tanganku sepertinya tertinggal di dalam mobilmu." Terangnya dengan wajah datar.


Rambut lurusnya membentuk poni, tatapan matanya jenaka tidak tersirat apapun di dalam mata pria itu.


Segalanya terlihat wajar dan alami, sejak bertahun-tahun lalu sosok Arya memang seperti itu.


"Pria itu terlihat lumayan tampan seandainya dia tidak gila!" Selorohnya sambil meneguk air minum.


"Aku memang tampan sejak lahir!" Ujarnya tanpa merasa malu sedikitpun.


Fredian datang sore itu ke rumah Irna, Sisilia mengikutinya.


Irna sedikit terkejut melihat gadis itu menjulurkan lidahnya saat menatap dirinya sedang duduk di kursi meja makan.


"Wah lihatlah kak? bagaimana mungkin istrimu makan malam bersama dengan pria lain saat kakak sedang bekerja di kantor!"


Gadis muda itu meluncurkan kata-kata itu begitu saja.


"Woi! dasar anak kecil tahu apa sih kamu!? nyerocos terus tanpa mikir!" Gerutu Arya kesal sekali.


Irna menatap Arya Ardiansyah dengan bibir menganga lebar tidak percaya jika pria gila itu bisa juga membela dirinya.


"Nih makan!" Arya menyumpal bibir Irna dengan puding dari garpunya.


Irna membelalakkan matanya menatap Arya, pria itu malah tersenyum manis sekali sambil mengangkat kedua alisnya.


Fredian yang sudah tahu kebiasaan pria sedikit unik itu melangkah menuju meja kerja Irna. Terakhir kali mereka bertemu saat sedang di Jerman.


Sisilia berlari mengejar Fredian ke ruang kerjanya


"Wah! kalian benar-benar terang-terangan mengungkapkan perasaan kalian berdua di depan kakakku!?" Teriaknya sambil menatap wajah Irna dan Arya dengan wajah sinis.


"Pikirkanlah sesukamu mengenai dia dan aku, oh di rumahku cuma ada satu kamar. Kamu pulang saja daripada tidur di sofa."


Ujar Irna tanpa memikirkan bagaimana perasaan gadis itu.


Arya Ardiansyah sampai melupakan tujuan utama dia ke rumah Irna. Dia melupakan jam tangannya masih tertinggal di dalam mobil Irna.


"Jika kamu ada sesuatu yang ingin ditanyakan langsung menghubungi nomor teleponku saja. Kenapa harus melalui Rini?" Tanya Irna padanya.


"Ah iya, aku hanya tidak suka menyimpan nomor teleponmu dan menghubungi dirimu secara langsung." Ujarnya dengan nada datar tanpa ekspresi.


"Memangnya kenapa?" Tanya Irna tidak mengerti.


"Aku tidak suka jika hubungan pekerjaan dilibatkan dalam hubungan pribadi." Ujarnya sangat santai.


"Lalu kamu makan bersama-sama denganku sekarang ini, secara pribadi??" Tanya Irna merasa menang berdebat dengan pria gila itu.


"Ini adalah salam pertemuan sahabat lama." Ujarnya masih tersenyum manis sekali.


"Akan lebih baik jika kamu tidak melibatkan Rini, gadis itu sudah sangat sibuk. Lagi pula kamu mengganggu dia hanya untuk menemuiku. Jadi langsung saja meneleponku." Ujar Irna tidak sabar lagi.


"Ah oke! aku akan menghubungimu setiap ada hal yang aku tanyakan! kamu sendiri yang memintanya, jadi jangan menyesal." Ujarnya sambil tersenyum penuh makna.


"Jangan-jangan! dia akan terus mengganggu waktu santaiku! terus menerus meneleponku! tidak boleh!" Bisik Irna sambil memijit keningnya.


Arya meneguk segelas air putih di dalam gelas dengan terus memandangi wajah Irna.


Pria itu tersenyum mendengar Irna berkali-kali menggumam berbicara sendiri mengenai dirinya.


Saat Irna hendak mengangkat bicara, pria itu menyahut tiba-tiba.


"Apa kamu ingin meralat ucapanmu barusan?? aku baru tahu jika Irna tidak profesional dan plin-plan dalam bicara!"


Arya Ardiansyah sengaja melemparkan pisau menusuk Irna dengan serentetan kata-kata yang benar adanya.


"Aku, maksudku, bukan seperti itu!" Irna mulai gelagapan dibuatnya.


Permainan kata-kata yang dimainkan oleh Arya semakin membuat gadis itu tidak bisa menyangkal ucapannya.


"Hubungi aku saat benar-benar penting!" Ujar Irna lagi.


"Tentu saja! memangnya siapa yang punya banyak waktu luang untuk menemuimu tanpa kepentingan sama sekali! hanya buang-buang waktu percuma." Gerutunya santai.

__ADS_1


"Apakah kamu sudah selesai? jika sudah selesai, silahkan pulang. Aku ingin istirahat, aku sangat lelah!" Irna berdiri meninggalkan meja makan.


"Lagi-lagi kamu terang-terangan mengusirku?" Tanyanya tidak ingin berdiri dari tempat duduknya.


"Kamu tidak berharap aku menarik lenganmu agar keluar dari pintu rumahku bukan?"


"Kenapa kamu bersikap begini!? kamu wanita kejam!" Ujarnya tanpa ekspresi marah, lalu berdiri merapikan dasinya dan jasnya.


"Kamu mengataiku kejam seolah-olah itu adalah sebuah candaan. Jika kamu tidak pulang, aku juga tidak akan menyelesaikan skemaku." Irna mencoba menggertaknya.


"Oke! jangan lupa skemaku." Pria itu kemudian berlalu melangkah menuju ke lantai atas.


"Astaga! apakah dia dengan sengaja melakukannya!" Irna menghentakkan kakinya di lantai, gadis itu merasa gemas dan geram.


Irna segera berlari mengejarnya naik ke lantai atas. Fredian mengernyitkan keningnya menatap mereka berdua. Dan wajah Irna yang sedang marah saat ini pasti pria itu sudah berulah.


"Kamu mau kemana? pintunya ada di sana!" Irna menunjuk ke arah pintu yang ada di lantai bawah.


"Tubuhku terasa gatal, aku mau mandi dulu di sini." Ujarnya sambil meringis lalu masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamarnya.


"Tidak boleh, apa kamu pikir rumahku tempat mandi umum??!" Teriak Irna sambil menarik lengannya agar keluar dari dalam kamar miliknya.


"Kenapa? Rian dan dia boleh kenapa aku tidak!?" Protesnya lagi tanpa menepis tangan Irna.


"Bagaimana kamu tahu Rian pernah mandi di sini?!" Irna tidak mengerti mengapa dia bisa tahu mengenai Rian.


"Itu!" Menunjuk botol shampoo dan parfum milik Rian Aditama di dalam kamar mandi Irna


"Itu!" Menunjuk stelan jas yang biasa digunakan oleh Fredian tergantung di dinding kamar tidur Irna.


"Mereka berdua keluargaku!" Teriak Irna sangat geram.


"Lalu aku bagaimana!?" Tanyanya menatap wajah Irna tanpa rasa bersalah sama sekali.


"Kamu bukan keluargaku, kamu adalah rekan bisnis jadi bersikaplah seperti itu." Jelas Irna sambil menatap keluar pintu.


Irna takut jika suaminya akan salah faham. Saat dia menoleh ke arah Arya, pria itu sudah menghilang di balik pintu kamar mandi.


"Ah! sudahlah! aku turun ke lantai bawah saja! aku bisa ikut gila jika memikirkanya sepanjang waktu!" Gerutu Irna dengan suara lantang.


Arya Ardiansyah mendengar ucapan Irna, dia terus tersenyum sambil menikmati guyuran air hangat dari kran shower yang memancar di atas kepalanya.


Irna turun ke lantai bawah, gadis itu duduk di tengah anak tangga memandangi wajah suaminya.


Fredian masih sibuk berkutat dengan berkasnya. Sisilia sudah tidak ada di sana, entah kemana perginya gadis itu.


Arya Ardiansyah menuruni anak tangga, pria itu ikut duduk di sebelahnya tanpa suara.


Irna mengendus aroma shampoo miliknya lalu menoleh ke sebelahnya.


"Astaga!" Teriaknya sambil beringsut menjauh darinya.


"Apa kamu pikir aku ini kuman? setiap saat kamu selalu menjauh dan melompat menghindariku!" Protesnya lagi.


"Aku tidak akan membiarkan kamu menyentuhku!" Ujar Irna lalu turun ke lantai bawah membukakan pintu keluar untuknya.


"Memangnya aku pernah menyentuhmu? sudah kubilang gadis jelek sepertimu bukan tipeku!" Tegasnya, lalu melambaikan tangan kepada Fredian.


Arya Ardiansyah keluar dari dalam rumah Irna sekitar pukul sembilan malam. Irna kembali naik ke lantai atas lalu tertidur.


"Triiiiiing! triiiiiing!" Ponsel Irna berdering nyaring, dia malas sekali mengangkatnya.


"Siapa sih meneleponku jam segini?!" Irna melihat ke layar ponselnya dan dia melotot melihat nomor telepon yang tertera di sana.


"Apa lagiiiiii!?" Teriaknya kencang sekali, sampai-sampai Fredian yang ada di lantai bawah melompat terkejut mendengar teriakan istrinya itu.


"Jam tanganku! aku lupa mengambilnya tadi!" Teriaknya kencang membalas teriakan Irna.


"Besok saja! aku lelah dan malas keluar!" Jawab Irna pendek.


"Aku tidak bisa tidur nyenyak jika tidak bersamanya.." Ujarnya pada Irna.


"Kamu sudah gila! apa jam itu adalah wanitamu! sudahlah jangan ngelantur! aku capek!"


Mengakhiri panggilan teleponnya dan menonaktifkan ponselnya.


"Seru sekali ya?" Ujar Fredian masuk ke dalam kamar Irna dan melepaskan bajunya lalu melangkah masuk ke dalam kamar mandi.


Irna yang sudah terlelap tidur tidak menjawab pertanyaan darinya.


Dia melihat dasi yang dipakai Arya Ardiansyah tergantung di sana. Setelah selesai mandi dia keluar dan mengancungkan dasi itu di depan wajah Irna.


"Apa ini?" Tanyanya pada Irna.


"Dasi." Jawab Irna pendek dengan setengah mata tertutup.


"Ini milik Arya, bagaimana bisa ada di dalam kamar mandimu?" Mulai mengangkat nada suara.


"Kita interogasinya besok pagi saja aku benar-benar lelah Fred.." Terlelap tidur.


Fredian termenung dengan pikirannya sendiri, seribu pertanyaan muncul tiba-tiba di dalam hatinya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2