Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
Kecelakaan


__ADS_3

"Kita menuju ke mana?" Tanyanya pada Reynaldi di sebelahnya.


"Studio, kamu kapan membatalkan pertunangan dirimu dengan Dion?" Tanya Reynaldi pada Irna.


"Kenapa? apa kamu tidak sabar untuk mengambil tempatnya sebagai tunanganku?" Sindir Irna tanpa melirik pria itu sedikitpun.


"Kamu berfikir terlalu tinggi, apa kamu tidak takut jatuh terjembab?!" Sindirnya balik.


"Aku hanya menebak isi dalam kepalamu!" Ujar gadis itu sinis.


"Sikapmu sangat tidak masuk akal! kamu lupa jika kamu sudah pernah merayuku di atas tempat tidur?" Ujar pria itu berusaha mempermalukannya.


"Ha ha ha! kamu terlalu serius! apa kamu fikir itu masuk akal?! aku merayu seorang pria di atas tempat tidur tanpa alasan??" Ujar Irna mengejutkan pria itu.


"Oh aku baru ingat, kamu melakukannya hanya untuk sebuah kalung misterius itu." Wajah Reynaldi memerah menahan malu.


"Baguslah kalau kamu sudah mengingatnya" Tambah Irna lagi.


"Kamu ingin makan apa?" Mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Bukanya kita akan mengambil beberapa foto, segera selesaikan itu saja, kemudian biarkan aku melanjutkan pekerjaanku di kantor" Jawab Irna singkat tanpa ingin dibantah.


"Apa kamu sedang membuat benteng pembatas untukku?!" Tanya Reynaldi jujur.


"Jika kamu mengerti itu lebih baik" Ujar Irna lagi tanpa tersenyum.


Reynaldi menghentikan mobilnya di sebuah studio tempat para artis dan model terkenal berkumpul.


Irna turun dari mobil Reynaldi berjalan dengan santai di sebelahnya.


"Apa yang digunakan wanita ini sehingga bisa memikat hati bos kita??" Bisik seorang artis dengan seseorang disebelahnya.


Irna memijit pelipisnya menahan perasaan yang tidak asing, tiba-tiba muncul di dalam kepalanya.


"Apakah kamu membawaku ke sini hanya ingin supaya aku bersaing dengan para wanita itu semua??" Bisik Irna di telinga Reynaldi menahan emosi.


"Ah aku lupa jika aku sangat populer di kalangan artis" Ujar Reynaldi tanpa rasa bersalah sama sekali.


"Apa kamu takut?" Tanya Reynaldi pada Irna.


"Takut apa? firasatku hanya sedikit tidak enak." Ujar gadis itu menyilangkan kedua tangan di depan dadanya.


Reynaldi seorang pria berusia tiga puluh lima tahun, menginjak karirnya di usia awal dua puluhan. Wajahnya tampan, kulit putih langsat, memiliki bibir kecil dan imut, rambut hitam panjang sebahu selalu diikat, tinggi badan seratus tujuh puluh sentimeter.


Dia hidup mandiri, dan karirnya terus menanjak hingga sekarang. Dia sangat dekat dengan hampir seluruh kalangan artis. Dia juga memiliki ratusan perusahaan di bidang fashion.


Irna Damayanti memiliki tinggi seratus enam puluh sentimeter. Rambutnya lurus panjang di bawah punggung tidak sampai pinggang, dia lebih sering membuat tampilan rambutnya menjadi bergelombang.


Hidungnya mancung, memiliki lesung pipit ketika tersenyum di pipi kirinya. Kedua matanya cenderung bersinar jernih dan teduh. Bibirnya tipis dan ranum. Berat badannya empat puluh lima kilogram. Berkulit putih namun tidak putih pucat. Memiliki tahi lalat kecil di ujung bawah mata kanan.


"Kamu masuklah" Reynaldi mempersilahkan Irna masuk ke dalam ruang ganti, seseorang membantu untuk merias wajahnya.


Hari itu Reynaldi ingin mengambil gambar gaun pengantin rancangan terbarunya.


Setelah selesai Irna segera keluar dari ruangan. Reynaldi menyambut dengan senyum hangat.


"Kenapa kamu juga mengenakan jas pengantin??!" Tanya Irna bingung.


"Apa kamu juga akan berfoto bersama denganku? semacam foto pasangan??! Jangan gila kamu!"


Irna menjinjing gaun pengantin kemudian melangkah lebar pergi meninggalkan Reynaldi.


"Ini hanya foto untuk sponsor gaun rancangan terbaruku, jangan lupa gaun yang melekat di tubuhmu sekarang itu senilai lima milyar" Ujar Reynaldi santai.


Mau tidak mau Irna kembali mengikuti di belakang punggung Reynaldi menuju ruang pemotretan.


Irna melihat berapa banyak orang yang mengatur di ruangan tersebut.


"Hanya untuk beberapa foto saja kenapa harus memakai kru sebanyak ini?" Bisik Irna pelan.


Dia melihat kamera aktif meliput kegiatan pengambilan foto mereka berdua.


Reynaldi berdiri di depan kamera, memberi isyarat pada Irna agar berdiri di sampingnya.

__ADS_1


Irna menjinjing ujung gaunnya, kemudian berdiri di sebelahnya agak terlalu jauh.


"Kenapa proses pemotretan ini harus ditayangkan langsung di televisi?" Tanya Irna agak terkejut.


"Tentu saja karena aku terkenal!" Ujar Reynaldi tanpa malu.


"Tolong pasangan agak mendekat sedikit" Ujar salah seorang kameraman.


"Menurutlah jika kamu tidak ingin memancing masalah untuk liputan besok" Tambah pria itu seraya tiba-tiba menarik pinggang Irna hingga mendekat ke arahnya.


Pandangan mata Reynaldi menatap serius ke dalam mata Irna.


"Jangan lupa kita berfoto untuk baju pasangan pengantin" Ucapan Reynaldi membuat tubuh Irna semakin bergidik.


Irna mencoba menahan dada Reynaldi dengan telapak tangannya, agar tidak terlalu menempel dengan dadanya. Akan tetapi pria itu makin memeluknya erat hingga hidung mereka hampir menempel.


"Blitsh! ya bagus seperti itu!"


Irna menoleh menatap kamera, berusaha tersenyum senatural mungkin.


Dia ingin menghindari wajah Reynaldi yang sedari awal terus mendekat ke wajahnya.


Reynaldi beralih seakan-akan hendak mencium lehernya.


"Blitsh! bagus sekali!"


"Awas saja setelah ini aku akan buat perhitungan denganmu!" Geram Irna dalam hatinya.


Kali ini mereka mengambil foto Irna duduk di pangkuan Reynaldi dengan memeluk leher pria itu.


Dan terakhir dalam gendongannya.


"Oke! selesai! bagus sekali!" Puji beberapa kru.


"Wah kami tidak menyangka anda sangat profesional sebagai model, foto-foto ini tampak natural sekali." Ujar seseorang pada Irna.


Reynaldi hanya tersenyum melihat hasil jepretan hari itu. Kemudian kembali ke ruang ganti.


"Jika ini adalah foto calon pengantin sungguhan pasti akan sangat sempurna!" Ujar salah seseorang di belakang punggung Irna.


Kemudian selang beberapa hari sudah menjadi janda dua kali.


"Huffft..." Irna hanya menghela nafas panjang.


Setelah mengganti pakaiannya dia segera mencari Reynaldi, untuk berpamitan.


Di dalam kantor Reynaldi tanpa mengetuk pintu Irna langsung menerobos masuk ke dalam.


"Rey?" Irna terkejut, langkahnya terhenti melihat seorang wanita dengan gaun belahan dada terbuka bergelayut di leher Reynaldi.


"Ah maaf saya salah masuk." Irna tersenyum kemudian berbalik pergi.


"Irna, tunggu!" Reynaldi mengejar menahan tangannya.


Irna hanya tersenyum melihat wajah dengan ekspresi yang sama, wajah yang pernah ditemuinya, wajah yang ingin menjelaskan kesalahpahaman.


"Ah, kamu tidak perlu hawatir. Kita bukan pasangan, jadi tidak perlu menjelaskan apapun padaku. Aku tadi ke sana hanya ingin berpamitan denganmu" Cegah Irna melihat wajah hawatir Reynaldi dengan serius.


Irna melepaskan genggaman Reynaldi dari lengan kanannya. Gadis itu tersenyum tipis kemudian pergi meninggalkan Reynaldi berdiri diam mematung menatap kepergiannya.


Malam itu Irna kembali ke kantornya untuk melanjutkan kembali pekerjaannya.


"Hallo.." Irna menjawab telepon di atas meja ruang kerjanya.


"Apakah kamu marah padaku?" Tanya Reynaldi dari seberang.


"Untuk apa aku marah? itu sangat membuang waktuku yang berharga" Ujar Irna seraya menandatangani berkas di atas meja.


"Kalau begitu aku boleh masuk kan?" Reynaldi membuka pintu ruang kerja Irna, pria itu membawa dua gelas kopi hangat dan beberapa camilan.


Irna terkejut melihat pria itu tiba-tiba masuk begitu saja.


Mereka ngobrol di atap kantor sambil melihat langit cerah malam itu, menikmati kopi hangat.

__ADS_1


"Bagaimana kamu tahu aku ada di sini?" Tanya Irna tanpa menoleh.


"Kamu mengatakan akan melanjutkan pekerjaan sebelum kita ke studio" Jawab Reynaldi singkat.


"Kenapa kamu tidak meminta penjelasan padaku saat kamu melihatku berada di sebuah ruangan bersama seorang wanita?" Tanya Reynaldi tidak dapat menahan rasa penasaran dalam hatinya.


"Apa itu yang membawamu kemari untuk menemuiku?" Irna menoleh seutas senyum ringan mengukir di bibirnya.


"Kamu begitu cuek!" Dengus Reynaldi.


"Apa bagusnya marah dengan hal yang tidak jelas. Kamu berhubungan dengan wanita manapun itu bukan urusanku. Karena aku hanya model yang bekerja denganmu." Tegas Irna membuat Reynaldi tersenyum kesal.


"Kenapa wajahmu terlihat kesal dan tidak bisa menerima kenyataan?!" Ujar Irna tidak mengerti.


"Apa ini sebuah penolakan?!" Tanya Reynaldi menatap wajah Irna serius.


"Maksudnya kamu?!" Menunjukkan ibu jarinya pada Reynaldi dengan tatapan mata tidak percaya, sambil menggelengkan kepalanya berkali-kali.


"Iya itu benar! aku menyukaimu sejak awal membawamu ke pesta keluarga Anggara" Menarik tangan Irna hingga mendekat ke arahnya.


Irna menahan dada Reynaldi dengan kedua tangannya, untuk memberi jarak antara mereka.


"Tapi aku tidak, maafkan aku Re" Ujar Irna sambil mengamati wajah pria di depannya.


"Jangan membuat keputusan konyol antara kita, aku harap kita hanya bisa mengikat hubungan sebagai teman. Dan sebagai rekan kerja."


Ujar Irna mencoba melepaskan genggaman tangan Reynaldi yang semakin erat menahan pinggangnya.


Reynaldi mendekatkan wajahnya seolah-olah hendak menciumnya. Irna buru-buru menutup bibirnya dengan telapak tangan.


"Rey, jangan begini! kita bicarakan baik-baik!" Irna agak takut, ketika melihat pria di depannya nampak sedikit aneh, seperti habis makan obat perangsang.


"Apa ada yang salah sebelum dia datang kemari? jangan-jangan ini ulah wanita tadi?!" Irna bertanya-tanya dalam hatinya.


"Dasar sial! kenapa aku sial terus menerus belakangan ini!" Umpat Irna dalam hatinya.


Deru nafas Reynaldi menjadi tidak terkendali. Dengan kasar mendorong tubuh Irna hingga terbaring. Mengoyak baju gadis itu dan melemparkannya ke lantai.


"Jika pria ini berhasil melakukannya bisa gawat!" Irna segera menendangkan kakinya tepat mengenai perut Reynaldi. Membuatnya mundur.


Irna segera beranjak berdiri dan lari hendak menuju tangga ke lantai dua, namun Reynaldi menyentak kan tangan Irna hingga membuat gadis itu jatuh terguling di lantai.


Irna merangkak mundur, Reynaldi melepaskan pakaiannya sendiri dan menghimpit tubuh Irna.


"Rey! kamu harus sadar! aku bukan wanitamu! lepaskan aku!" Pria itu sudah tidak sadar dan tidak bisa mendengar teriakannya.


"Tidaaaaaakkkk!" Teriak Irna mengakhiri malam kelam itu.


Irna memungut bajunya yang koyak, beranjak berdiri dengan tertatih-tatih.


Reynaldi berbaring di sebelahnya. Irna menutupi tubuh pria itu dengan bajunya.


"Hidupku sudah hancur lebur, kenapa hal ini terus menimpaku!? aku tidak tahu harus bagaimana! aku sudah berusaha kabur, tapi tetap saja terjadi!"


"Aku tidak menginginkan hal ini! aku ingin hidup normal dan damai! bahkan setelah aku terlepas dari Rian dan Fredian, aku malah diperkosa oleh pria yang sedang tidak sadar!!"


"Sebentar lagi mereka akan datang kemari, aku harus segera pergi dari sini" Irna mengusap air mata yang membasahi kedua pipinya. Berjalan menuju kamar mandi mengguyur sekujur tubuhnya.


Beberapa bayangan berkelebat masuk melayang di depan pintu kantor. Irna membiarkan baju yang terkena darahnya tetap berada dalam guyuran di atas lantai kamar mandi.


Irna buru-buru mengambil mantel dari dalam lemari kantornya, kemudian mengendarai mobilnya menuju ke rumah.


Irna melihat bayangan menerobos pepohonan mengikutinya dari belakang mobilnya.


Reynaldi terjaga, dia beranjak duduk. Mendapati tubuhnya yang telanjang dia sangat terkejut.


Saat terakhir dia ingat sedang bicara dengan Irna, kemudian dia tiba-tiba hilang kendali.


Tatapan matanya tertuju pada darah di atas lantai sebelahnya.


Beberapa serpihan baju yang dipakai Irna tertinggal.


"Jangan-jangan aku sudah memperkosa gadis itu!" Ujarnya menahan amarahnya pada dirinya sendiri.

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2