Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
Conqueror


__ADS_3

"Kamu tidak merasa aku menjijikkan seperti mayat hidup?" Tanya gadis itu sambil membalikkan tubuhnya menatap mata bening milik suaminya.


"Apakah kamu lupa? aku bahkan pernah menjadi mahluk yang lebih menyebalkan daripada vampir?" Bisiknya di telinga Irna.


Irna tersenyum lalu memeluknya lebih erat lagi. Tidak ada kerisauan lagi dalam hatinya.


Jerman.


Di rumah besar keluarga Derrose Jerman.


"Vampir itu telah bangkit dari tidurnya." Nyonya Derrose membuka suaranya, mengawali pertemuan keluarga besar Derrose.


Tuan Derosse duduk di sebuah ruangan tempat pertemuan keluarga besarnya.


Di sana ada paman dan bibi Fredian berkumpul, juga nyonya Derrose.


"Dia telah bersembunyi dengan baik selama ini di Jepang." Ujar Nyonya Derrose pada seluruh orang dalam pertemuan saat itu.


"Lalu apa yang harus kita lakukan?" Tanya salah seorang dari mereka.


"Irna Damayanti sudah membawa kuncinya. Vampir itu menemukan pasangannya tapi gadis yang dianggap sebagai pasangan itu juga yang menghabisinya lima tahun lalu."


"Bunga kristal es telah tumbuh. Rina sudah menanamkan bunga itu jauh hari sebelum usianya dua puluh tahun." Jelas nyonya Derrose pada seluruh orang di sana.


Ingatan nyonya Derrose kembali pada saat bertahun-tahun silam.


**Flash back


Nyonya Derrose dan tuan Derosse tidak memiliki keturunan pada sepuluh tahun usia pernikahannya.


Mereka mengadopsi dua bayi kembar dari sebuah panti asuhan gereja, lokasinya di pegunungan jauh dari rumah penduduk.


Awalnya mereka merasa sangat aneh karena ada panti asuhan yang berada di dalam gereja serta di tempat yang jauh dari manusia.


Bayi kembar tersebut adalah Wilson dan Welrent, keluarga Derrose merubah nama Welrent menjadi Fredian.


Mereka berdua adalah bayi vampir, yang satunya berhasil ditekan pertumbuhan melalui ramuan tertentu oleh kepala Pastor gereja, mereka berhasil membuat Welrent hampir sama seperti manusia normal.


Saat bayi tersebut berusia lima bulan keanehan terjadi. Wilson dan Welrent mereka mulai menampakan perbedaan pertumbuhan.


Wilson lebih cepat tumbuh dan bisa berjalan di usia lima bulan. Pengasuh yang mereka tugaskan untuk menjaga kedua bayi tersebut selalu meninggal dunia selang tiga hari bekerja.


Mereka meninggal dengan gigitan di leher karena kehabisan darah.


Keluarga Derrose mendapati Wilsonlah yang membunuh para pengasuh tersebut akhirnya ingin mengakhiri kehidupan bayi lima bulan itu dan membuangnya ke dasar jurang. Dan mengirim Welrent ke luar negeri dan kembali dirawat saat usianya menginjak lima tahun.


Suatu hari seorang gadis datang di kediaman mereka yaitu Rina. Gadis itu sedang mencari pekerjaan.


Keluarga Derrose memperkerjakan Rina di sebuah club malam milik mereka.


Wilson dibunuh oleh para penjaga yang bekerja pada keluarga Derrose. Rina secara diam-diam mengikuti mereka karena melihat perilaku yang mencurigakan dari para penjaga malam itu.


Dia melihat bayi tidak berdaya itu di buang ke dalam jurang, gadis itu mengambilnya karena iba lalu menyembunyikan di sebuah ruang bawah tanah.


Akan tetapi dari waktu ke waktu Wilson tidak bisa dia kendalikan lagi karena rasa hausnya dengan darah.


Wilson berhasil melarikan diri saat di usia dua tahun. Wilson selalu mendatangi Rina setiap bulan purnama meminta persembahan darah padanya.


Rina tidak bisa membedakan mereka berdua karena keduanya sama sekali tidak memiliki perbedaan selain kebiasaan Wilson yang haus dengan darah.


Irna Damayanti saat berusia lima tahun, dia tinggal bersama tantenya karena kecelakaan yang menimpa kedua orang tuanya.


Saat itu adalah pertemuan antara Irna Damayanti dan Wilson. Karena Wilson adalah vampir, nalurinya tumbuh lebih cepat dari manusia.


Melihat Wilson yang selalu sembunyi-sembunyi menemui Irna putri asuhnya sekaligus keponakannya. Rina segera mencari penangkal dan menanam di tubuh gadis itu saat usia remaja untuk melindunginya suatu hari.


Pada saat melihat Welrent di usianya ke dua puluh tiga tahun Rina tidak tahu pria itu bukanlah Wilson.


Rina mengurung Welrent yang tidak lain adalah Fredian saat melihat pria itu datang ke Club, dengan cara memasukkan sesuatu pada minumannya.


Saat itu adalah kepulangan Fredian setelah tujuh tahun tinggal di luar negeri untuk mengurus perusahaan keluarga.


Karena dia berfikir pria tersebut adalah Wilson, Rina menyuntikkan cairan khusus untuk melemahkan kekuatannya ke dalam pembuluh darah Fredian.


Karena Fredian yang sudah bermutasi menjadi manusia, cairan tersebut tidak membunuhnya dan malah menyebabkan dirinya bermutasi kembali menjadi manusia setengah vampir.


Wilson memiliki pasukan iblis dan menyerbu Rina. Rina yang sudah tidak ingin menjadi pelayan para iblis itu akhirnya meninggal dengan cara yang tidak wajar.


***


"Irna.. aku ingin menceritakan tentang sebenarnya siapa diriku." Ungkap Fredian pada istrinya itu.


"Apa maksudmu?" Irna menatap wajah Fredian dengan tatapan mata tidak mengerti.


"Sebenarnya nama baptisku Welrent. Keluarga Derrose merubahnya menjadi Fredian untuk menyembunyikan identitas diriku yang sebenarnya."


"Aku diadopsi saat berusia satu bulan. Kami bayi kembar Welrent dan Wilson. Dan anak laki-laki yang kamu temui di hutan saat kalian bermain ayunan itu sebenarnya adalah Wilson."

__ADS_1


"Bukan diriku, aku mengambil tempatnya karena aku iri dengannya. Aku selalu melihatmu bersamanya, dan aku yang merebutmu darinya."


"Dan saat di sekolah kanak-kanak aku berusaha mendekatimu dan juga ingin bersamamu. Pada saat kalian meniup gelembung bersama. Aku hanya bisa melihat kebersamaan kalian dari kejauhan."


"Aku memiliki keluarga yang sempurna, sedangkan Wilson tinggal seorang diri. Dia memilki semuanya karena kekuatan yang ada pada dirinya."


"Aku merasa tidak adil karena dia memiliki cinta yang sempurna. Aku sangat membencinya dan sengaja merebutmu darinya."


"Diam-diam aku selalu memperhatikan kalian berdua jadi dalam ingatan miliknya itu aku mengambil tempatnya, dia juga mengetahuinya kalau aku mencuri dirimu darinya."


Irna hanya tersenyum tipis melihat wajah suaminya.


"Fred, kamu bersamaku setelah itu. Setelah usiaku dua puluh tahun dan sampai sekarang. Kita bahkan memiliki ikatan pernikahan dan seorang putra."


"Lalu apakah masih ada gunanya mempertanyakan kejadian masa kecil itu?" Irna berkata sambil tersenyum.


"Tapi tidakkah kamu berfikir aku pria yang jahat sudah merebut hak orang lain, yang tidak lain adalah saudaraku sendiri?!" Tanyanya lagi pada Irna.


"Dia vampir, menurutmu apakah aku bisa hidup bersama dengannya saat itu? lalu kenapa Tante Rina repot-repot menanamkan bunga kristal es ke dalam tubuhku untuk melindungiku serta menjauhkan diriku dengan dirinya?"


Jelasnya pada suaminya.


"Sekarang aku tahu kenapa kalian begitu mirip satu sama lain. Kenapa aku hampir tidak bisa membedakan antara kalian berdua."


Ujarnya sambil terus tersenyum menatap wajah Fredian.


Saat ini Fredian masih tidak tahu jika dirinya sebenarnya adalah vampir yang telah bermutasi menjadi manusia karena ramuan penahan.


Satu minggu berlalu...


Irna sudah kembali bekerja di rumah sakit seperti biasanya. Dark Wilson juga masih tetap menjadi bawahannya.


"Bagaimana pekerjaanmu dalam seminggu ini?" Tanya Irna pada bawahannya itu.


"Tidak ada masalah sama sekali." Ujarnya masih membaca berkas di atas meja.


"Apa kamu suka dengan ini?" Dark meletakkan botol berisi cairan merah di atas meja.


"Apa kamu pikir aku minum darah selama ini?" Bisik Irna sambil tersenyum menatap wajah pria muda itu.


"Jika tidak, bagaimana kamu hidup selama ini?!" Tanya Dark masih terkejut dan tidak mengerti.


"Sepertinya aku adalah vampir yang lebih unggul dari versi kalian." Bisik gadis itu sambil menahan tawanya.


Dia tahu jika Irna adalah vampir murni sekarang, tapi sama sekali tidak tertarik ketika melihat cairan merah di atas meja. Jika vampir pada umumnya pasti akan langsung merasa kehausan karena mencium aroma darah.


Tapi tidak dengan Irna, gadis itu sama sekali tidak bereaksi sedikitpun. Malah tersenyum renyah dan terlihat sangat santai.


Fredian masih berada di Reshort mengurus pekerjaan. Sore itu Fredian dengan sengaja datang ke rumah sakit tempat Irna bekerja.


Pria itu ingin menjemput istrinya. Fredian melangkah masuk ke dalam ruang kerja Irna. Dia melihat pria muda yang tidak lain adalah Dark Wilson.


Dark terkejut melihat Fredian datang menghampiri Irna dan memeluknya.


"Ini ayah? bagaimana mungkin?!" Ujarnya dengan nada terbata-bata.


"Dia suamiku." Sahut Irna segera.


Irna tersenyum mengangkat kedua alisnya, seraya menatap wajah panik bawahannya itu.


"Ayah? apa maksudnya?" Fredian menggaruk pelipisnya.


"Dia putra Wilson." Irna tersenyum melihat wajah Fredian yang terlihat masih bingung.


"Kenapa kamu memperkerjakan dia? bagaimana jika dia mencelakaimu?"


"Dia anak yang baik Fred, jangan berlebihan. Sudah ayo kita pulang." Irna menggamit lengan suaminya keluar dari ruang kerjanya.


Dark tersenyum melihat kepergian Irna dan Fredian.


Sudah satu minggu Wilson tidak menunjukkan tanda-tanda kehadirannya lagi. Irna merasa sedikit tenang karena suaminya tidak dalam situasi yang mengkhawatirkan.


Malam itu Fredian membawa Irna ke sebuah restoran.


"Kenapa kamu membawaku ke sebuah restoran? bukankah kamu tahu aku tidak makan makanan manusia?" Bisik Irna saat mereka masuk ke dalam restoran yang sangat megah itu.


"Aku tahu, aku hanya ingin kamu menemani makan." Fredian tersenyum renyah menatap Irna mendelik ke arahnya.


Fredian memesan makanan, dan mulai menikmatinya. Irna melihat seseorang sedang duduk di sudut bersama beberapa orang.


Mereka seperti terlihat sedang meeting. Alangkah terkejutnya dia saat melihat pria itu menyeringai ke arahnya.


"Wilson? bagaimana mungkin dia berhubungan dengan manusia? meeting? aku baru tahu kalau vampir juga berbisnis!" Gerutu Irna lirih, dia lupa jika dirinya sendiri juga bukan manusia.


Mendengar istrinya menggerutu Fredian melihat dimana Irna memandang, saat dia melihat ke arah tersebut dia juga melihat Wilson saudara kembarnya di sana.


"Apakah kamu merasa tidak nyaman? kita bisa pergi dari sini." Tawar Fredian padanya.

__ADS_1


"Lanjutkan saja makanmu, aku tidak perduli sama sekali dengannya." Ujar Irna sambil mengambil gelas dan meneguk air minumnya.


Setelah menikmati makanannya mereka berdua kembali ke Reshort. Fredian membukakan pintu mobil untuknya saat sampai di tempat parkir.


Irna melihat tempat parkir tersebut sangat penuh dengan mobil.


"Apakah sedang acara di Reshort?" Tanya Irna pada Fredian.


"Hem, Rian sedang mengadakan pertemuan para ilmuwan di sini."


Irna hanya manggut-manggut mendengar penjelasan dari Fredian dan menggamit lengannya masuk menuju ruangan kerja Fredian.


"Kamu yakin tidak lapar? aku akan meminta koki untuk membuat salad untukmu." Tawarnya setelah mereka berdua sampai di dalam ruangan kerjanya.


"Tidak perlu. Nanti aku akan mencari makananku sendiri." Ujarnya pada Fredian.


Saat mereka berdua masuk ke dalam ruangan Irna terkejut mendapati Alfred dan Rian sudah menunggu kedatangan mereka berdua.


"Ada apa ini? tumben kalian menungguku di ruanganku?" Tanya Fredian pada putranya dan Rian.


Itu adalah pertemuan Irna dengan Rian setelah saat terakhir mereka bertengkar. Karena merasa sedikit canggung Irna memilih masuk ke dalam kamar untuk menghindarinya.


Rian menyadari perubahan sikap Irna yang tiba-tiba berubah.


"Aku hanya mampir Papa, kebetulan papa Rian juga sedang berada di sini jadi kami ngobrol sebentar sementara menunggu kedatangan kalian."


Alfred memeluk Fredian lalu masuk ke dalam kamar Irna. Irna masih berada di dalam kamar mandi.


"Mama?" Mendengar suara Alfred Irna bergegas keluar dari bath up dan segera memakai baju mandinya.


Dia tersenyum menyambut kedatangan putra semata wayangnya itu. Alfred melangkah mendekat dan memeluk tubuh Irna.


"Ma, aku akan mengenalkan mama dengan seseorang."


"Apa itu calon menantuku?" Tanya Irna langsung bisa menebak kemana arah pembicaraan putranya itu.


"Iya, dia seorang ilmuwan wanita." Ujarnya pada Irna.


"Lalu bagaimana kamu akan menjelaskan kondisi mamamu ini sekarang?" Irna juga sedikit bingung karena sangat tidak mungkin dia mengakui Alfred putranya.


Irna bahkan akan terlihat seperti saingan cinta menantunya sendiri jika Alfred memaksa untuk memperkenalkan mereka berdua.


"Aku akan memperkenalkan mama sebagai temanku, bagaimana?" Tawar Alfred pada ibunya.


"Yah bolehlah, lalu bagaimana dengan papamu?" Tanya Irna lagi.


"Kalian terlihat hampir sebaya!" Irna kembali memijit pelipisnya karena tidak memiliki solusi apapun.


"Mama bilang saja papa suamimu! jadi aku akan memperkenalkan papa sebagai suami temanku. Hahahaha!" Alfred tidak bisa menahan tawanya melihat mamanya itu terkejut.


"Keluarga yang luar biasa!" Ujar Irna sambil menelan ludahnya sendiri.


"Siapa nama gadis yang telah meluluhkan hati putraku satu-satunya?" Tanya Irna sambil tersenyum menatap wajah malu-malu Alfred.


"Namanya Sandira Erlando." Ujarnya pada Irna.


"Dia putri dari keluarga Erlando?" Tanya Irna pada Alfred dengan sedikit terkejut. Sudah sangat lama sekali dia tidak mendengar nama keluarga itu lagi di telinganya.


"Kenapa? apa mama keberatan?" Tanya Alfred padanya.


"Tidak sama sekali. Mama merestui hubungan antara kalian." Irna buru-buru tersenyum melihat perubahan wajah putranya.


"Ya sudah aku akan kembali dulu, mama pasti lelah." Alfred mencium kening ibunya lalu keluar dari kamarnya.


"Bagaimana sudah selesai?" Tanya Fredian melihat putranya keluar dari dalam kamar Irna.


"Mama setuju pa!" Ujar pria muda itu dengan wajah cerah. Fredian melihat kebahagiaan terpancar dari wajah putra satu-satunya itu.


Rian tersenyum melihatnya, dia juga ikut merasa bahagia. Mereka bertiga kemudian keluar dari ruangan kerja Fredian.


Fredian masuk ke dalam kamar Irna gadis itu sudah terlelap. Fredian tersenyum sambil berjongkok di tepi tempat tidur melihat wajah Irna.


Irna merasakan kehadiran seseorang di dekatnya. Gadis itu kemudian membuka kelopak matanya seketika.


"Untuk apa kamu kemari?!" Sergahnya santai menatap pria di depannya itu.


"Kamu sudah bisa membedakanku dengan suamimu. Ini tidak seru lagi." Ujarnya sambil duduk di tepi tempat tidurnya.


"Duak!" Irna menendangnya dengan telapak kakinya hingga pria itu jatuh tersungkur di lantai.


"Hahaha! kamu bahkan menendangku jatuh dari tempat tidurmu!"


"Apa kamu pikir aku akan meraihmu? memelukmu? kamu lucu sekali! jangan terlalu banyak berharap!" Sergah Irna padanya.


"Apa kamu tidak ingin tahu di mana suamimu sekarang?!" Wilson mencengkeram dagu Irna dan membuatnya mendongak menatap wajahnya.


Mendadak Irna tercekat, dan tubuhnya terasa membeku mendengar ucapan pria vampir di depannya itu.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2